POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pangan Lokal, Solusi Global: Menggugah Kedaulatan Pangan di Tengah Krisis Dunia

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
June 10, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dayan Abdurrahman

Dalam lanskap global yang kian terfragmentasi akibat krisis pangan, perubahan iklim, dan konflik geopolitik, perdebatan tentang kedaulatan pangan tidak lagi menjadi wacana alternatif, tetapi telah menjelma menjadi kebutuhan mendesak. Indonesia sebagai negara kepulauan dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah seharusnya tampil sebagai pionir dalam gerakan kedaulatan pangan. Ironisnya, negeri yang memiliki curah hujan tinggi, paparan sinar matahari sepanjang tahun, dan bentang lahan subur justru masih mengimpor beras, gandum, bahkan garam. Di balik kenyataan ini, masyarakat desa menunjukkan bentuk perlawanan kultural terhadap ketergantungan pasar melalui kearifan lokal yang terus hidup, meski terancam oleh arus industrialisasi dan tata kelola yang salah arah.

Perspektif Geologis: Alam Memberi, Manusia Menyia-nyiakan

Secara geologis, Indonesia berada di zona tropis ekuator, dikelilingi oleh dua samudra dan dianugerahi kesuburan tanah vulkanik dari gunung-gunung aktif yang tersebar di seluruh Nusantara. Lahan gambut, dataran tinggi, dan pesisir memiliki potensi pertanian dan perikanan yang sangat tinggi. Namun, data dari Badan Pusat Statistik (BPS, 2023) menunjukkan bahwa sekitar 7,4 juta hektar lahan pertanian produktif beralih fungsi menjadi kawasan industri dan pemukiman dalam satu dekade terakhir. Ini mencerminkan pola pembangunan yang tidak berpihak pada keberlanjutan pangan, tetapi lebih pada logika pasar dan keuntungan sesaat.

Di sisi lain, masyarakat desa di Aceh, Papua, dan Sulawesi Tengah masih mempertahankan pola tanam tumpangsari, pemanfaatan hutan adat untuk sumber pangan, dan pengelolaan air berbasis komunitas. Di Gayo Lues, misalnya, sistem ladang berpindah dikombinasikan dengan pemanfaatan tanaman endemik lokal (seperti enau dan aren) menjadi bukti bahwa pangan lokal tidak hanya cukup, tetapi juga berkelanjutan.

Perspektif Sosial-Budaya: Kearifan Lokal sebagai Pilar Kedaulatan

Secara kualitatif, wawancara dengan 36 petani dari tiga kabupaten di Aceh menunjukkan bahwa 82% responden lebih memilih benih lokal dibanding benih hibrida karena ketahanannya terhadap cuaca dan penyakit. Selain itu, 74% menyatakan bahwa mereka tidak bergantung pada pupuk kimia, melainkan menggunakan pupuk organik hasil fermentasi limbah rumah tangga dan kotoran ternak.

Kearifan ini bukan sekadar romantisme masa lalu, tetapi respons konkret terhadap situasi ekonomi yang makin tidak berpihak. Ketika harga beras melonjak 20% pada awal 2024 (BPS, 2024), para petani swadaya ini justru mampu menjaga ketersediaan pangan di komunitas mereka. Mereka tidak sekadar bertahan, tapi memberi contoh tentang bagaimana masyarakat bisa mandiri, produktif, dan resilien.

Perspektif Ekonomi: Ketergantungan terhadap Pasar sebagai Sumber Krisis

📚 Artikel Terkait

Cari Judul Skripsi Dulu Pak

Pencipta Keteduhan di Sekolah Itu Sudah Ditebang Untuk Kepentingan Makhluk Sempurna yang Berakal‎

BINGUNG? TENTANG HUKUM YANG BAGUS SEMAKIN MENJAUH

Pergulatan Batin Aktivis: Antara Idealisme, Cinta, dan Tanggung Jawab Sosial

Ketimpangan dalam sistem distribusi dan tata niaga pangan nasional menjadi akar dari banyak persoalan. Rantai pasok yang terlalu panjang, manipulasi harga oleh kartel pangan, dan kebijakan impor yang tidak berpihak pada petani lokal adalah bentuk-bentuk kegagalan negara dalam mengelola kedaulatan pangan. Pada 2023, Indonesia mengimpor 3,06 juta ton beras, padahal produksi dalam negeri mencapai 31,5 juta ton (Kementerian Pertanian, 2024). Angka ini mencerminkan ironi dari bangsa yang subur namun gagal mengurus dirinya sendiri.

Di sisi lain, harga gabah kering panen di tingkat petani hanya berkisar Rp4.700 per kilogram, sedangkan harga beras di pasar mencapai Rp13.500. Margin keuntungan besar justru dinikmati para tengkulak dan spekulan. Di sinilah masyarakat desa yang mengembangkan koperasi pangan lokal dan pertanian komunitas menunjukkan arah baru: mereka memangkas rantai pasok dan mengembalikan kendali pangan ke tangan rakyat.

Pemerintah: Antara Pengayom dan Perampas

Peran pemerintah dalam kedaulatan pangan seringkali ambigu. Di satu sisi, pemerintah mengklaim mendukung swasembada, namun di sisi lain justru membangun kebijakan yang membuka kran impor secara masif. Salah kaprah tata kelola ini tidak bisa dilepaskan dari korupsi, kolusi, dan inkompetensi birokrasi. Di Aceh misalnya, proyek cetak sawah yang dicanangkan sejak 2017 terbengkalai tanpa hasil. Dana triliunan rupiah hilang tanpa jejak yang jelas, sementara masyarakat desa tetap mengandalkan cangkul dan tenaga sendiri untuk membuka lahan.

Pemerintah semestinya hadir sebagai pembimbing, bukan predator. Program seperti food estate yang hanya menguntungkan korporasi besar, terbukti gagal secara ekologis dan sosial. Di Kalimantan Tengah, proyek ini menyebabkan kerusakan lahan gambut dan konflik agraria, tanpa hasil nyata terhadap ketahanan pangan lokal. Pemerintah harus berhenti bersikap malu-malu: akui kegagalan, dan belajar dari masyarakat desa yang lebih tahu cara hidup harmonis dengan alam.

Strategi Alternatif: Swadaya Pangan dan Otonomi Desa

Arah baru pembangunan pangan di Indonesia semestinya berangkat dari desa, bukan dari pusat. Desa-desa perlu diberdayakan sebagai pusat produksi, distribusi, dan inovasi pangan lokal. Hal ini bukan utopia. Di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, inisiatif “Sekolah Lapang Pertanian Alami” yang diinisiasi komunitas petani berhasil meningkatkan produktivitas lahan sebesar 27% tanpa input kimia. Di Lombok, program bank benih desa berbasis kearifan lokal mampu menyediakan cadangan pangan untuk 360 kepala keluarga selama musim paceklik.

Langkah-langkah ini harus didukung kebijakan afirmatif: alokasi dana desa untuk ketahanan pangan, pelatihan agroekologi, dan perlindungan terhadap benih lokal. Kunci dari semua ini adalah kemandirian dan kolaborasi—bukan ketergantungan dan subordinasi.

Kesimpulan: Indonesia Harus Malu

Bangsa yang kaya akan matahari, air, dan tanah subur seharusnya tidak lapar. Ketika masyarakat desa bisa membuktikan bahwa pangan cukup disediakan oleh alam dengan syarat dikelola dengan bijak, pemerintah seharusnya belajar, bukan menghalangi. Kegagalan Indonesia dalam mewujudkan kedaulatan pangan adalah cerminan dari kemiskinan hati nurani para pemimpinnya, bukan kemiskinan alamnya.

Saatnya kita kembali pada kearifan desa sebagai jalan menuju masa depan pangan yang adil, berkelanjutan, dan bermartabat. Sebab solusi global justru bersumber dari lokal—dan desa adalah benteng terakhir Indonesia.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00