POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Miss Management dan Mental Inlander: Resep Cepat Kehancuran Negara dalam Cengkeraman Kapitalisme Global

RedaksiOleh Redaksi
May 20, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dayan Abdurrahman

Peneliti independen

Di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi ekonomi internasional, banyak negara berkembang—terutama di kawasan Asia, Afrika, dan Amerika Latin—terjebak dalam perangkap utang yang mengikat erat seperti rantai tak kasatmata. Bantuan luar negeri, investasi asing, dan proyek-proyek pembangunan yang didanai lembaga-lembaga donor global kerap kali dijajakan sebagai jalan keluar dari krisis, namun nyatanya seringkali menjadi pintu masuk bagi penguasaan negara secara diam-diam. Ini bukan sekadar narasi konspiratif, melainkan kenyataan yang terjadi secara sistemik dan terstruktur.

Modus Penguasaan Negara: Di Balik Kedok Bantuan

Negara donor dan badan internasional seperti IMF, World Bank, maupun negara adidaya kerap menggunakan instrumen bantuan sebagai alat kontrol. Negara-negara berkembang yang lemah dalam tata kelola dan mengalami defisit fiskal dijadikan target. Bantuan diberikan dengan syarat-syarat ketat: liberalisasi ekonomi, privatisasi sektor strategis, dan deregulasi sistem keuangan. Alih-alih memperkuat negara penerima, langkah ini justru mengikis kedaulatan ekonomi dan politiknya.

Misalnya, ketika suatu negara gagal membayar utang luar negerinya, aset-aset vital seperti pelabuhan, tambang, jalur kereta, bahkan tanah produktif disita dan dikuasai oleh perusahaan asing. Hal ini terjadi di Sri Lanka ketika pelabuhan Hambantota diserahkan kepada Cina selama 99 tahun akibat ketidakmampuan membayar utang. Skenario serupa juga dialami oleh beberapa negara di Afrika yang “dipaksa” menandatangani kontrak-kontrak jangka panjang yang menguntungkan negara donor dan memperlemah kontrol nasional.

Dosa-Dosa Penguasa: Dari Salah Kelola ke Pengkhianatan Kedaulatan

Namun penguasaan asing tidak mungkin terjadi tanpa andil dari penguasa di negara yang bersangkutan. Di sinilah dosa-dosa elite pemerintahan menjadi krusial untuk dibedah.

Pertama, miss management atau salah urus negara sering menjadi pangkal kehancuran. Proyek pembangunan bernilai triliunan dikerjakan tanpa perencanaan matang, hanya untuk mengejar pencitraan politik. Korupsi, kolusi, dan nepotisme menyerap anggaran hingga hanya sebagian kecil yang benar-benar menyentuh rakyat. Pinjaman luar negeri dihamburkan, sementara pengembalian cicilan dibiarkan menumpuk menjadi bom waktu.

Kedua, para penguasa memiliki mental inlander, yakni inferioritas budaya dan ketundukan politik terhadap kekuatan luar. Mereka dengan mudah tunduk pada syarat-syarat merugikan demi mendapatkan “akses” ke pasar internasional atau pujian dari negara donor. Bahkan dalam banyak kasus, mereka menggadaikan kekayaan bangsa hanya demi memperoleh dukungan politik dan perlindungan dari kekuasaan internasional.

Ketiga, mereka tidak berakhlak dan kehilangan integritas sebagai pemimpin bangsa. Kebijakan mereka tidak lagi berpihak kepada kepentingan rakyat, melainkan kepada kelompok elit yang terafiliasi dengan kekuatan global. Mereka menciptakan sistem hukum dan birokrasi yang melanggengkan ketimpangan dan memperkuat oligarki.

📚 Artikel Terkait

Menyuarakan Solusi SDGs di International Youth Exchange and Conference (IYEC)

Menutup Pintu Dunia di Tanah Bencana

BIARKAN CEMARA MENDESAU

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Peran Sipil: Membangun Kembali Kedaulatan dari Reruntuhan

Lantas, apa yang bisa dilakukan rakyat? Masyarakat sipil memiliki tanggung jawab historis dan moral untuk mengambil alih kembali kedaulatan yang dirampas. Langkah pertama adalah membangun kesadaran kolektif. Rakyat harus memahami bahwa kehancuran negara bukanlah takdir, melainkan akibat dari keputusan elite yang salah arah.

Langkah selanjutnya adalah menuntut transparansi dan akuntabilitas. Rakyat melalui gerakan sosial, media independen, dan organisasi masyarakat sipil harus menekan pemerintah untuk membuka semua kontrak utang luar negeri dan perjanjian dagang yang berdampak pada kedaulatan negara.

Ketiga, rakyat harus aktif dalam proses demokrasi, tidak hanya pada pemilu, tetapi dalam pengawasan kebijakan publik sehari-hari. Pendidikan politik harus diperluas, terutama di kalangan generasi muda, agar tidak mudah terbuai oleh narasi populisme atau janji-janji kosong.

Apakah Rezim Layak Dihukum?

Pertanyaan kritis berikutnya adalah: apakah rezim yang menyebabkan kehancuran ekonomi dan menyerahkan kedaulatan negara berhak dihukum, bahkan dengan hukuman mati? Secara hukum internasional, pengkhianatan terhadap negara termasuk dalam kategori pelanggaran berat. Namun, penerapan hukuman mati perlu melalui proses hukum yang sah, adil, dan berbasis bukti konkret, bukan dorongan emosi atau balas dendam.

Yang lebih utama dari hukuman adalah pemulihan sistem keadilan. Para pelaku harus diadili di pengadilan yang independen, dan rakyat harus diberi akses penuh untuk mengikuti proses tersebut secara transparan. Ini penting untuk membangun kembali kepercayaan publik terhadap sistem hukum dan demokrasi.

Mewujudkan Demokrasi Substantif

Demokrasi bukan hanya tentang memilih pemimpin, tapi juga tentang membangun sistem pemerintahan yang jujur, akuntabel, dan berpihak kepada rakyat. Untuk itu, demokrasi harus dibersihkan dari pengaruh uang dan kekuasaan asing. Ini membutuhkan reformasi sistemik: dari pembenahan partai politik, pembatasan dana kampanye, hingga perlindungan terhadap media dan kebebasan berpendapat.

Kedaulatan bukanlah benda mati yang bisa digadaikan, tetapi ruh hidup yang harus terus diperjuangkan.

Negara yang ingin bangkit dari reruntuhan tidak bisa terus bergantung pada “bantuan” luar. Ia harus berdiri di atas kaki sendiri—melalui penguatan kapasitas nasional, pemulihan kepercayaan publik, dan penghapusan ketergantungan terhadap kekuatan global yang hanya berpura-pura menjadi dermawan.

Jika tidak, negara itu akan terus terjerumus dalam lingkaran ketergantungan, kehancuran, dan akhirnya kehilangan jati diri sebagai bangsa yang merdeka.


*Penulis peneliti independen, isu sosial budaya

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

BENGKEL OPINI RAKyat

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00