POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ngopi dan Logos: Catatan Santai dari Pinggir Meja Kayu

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
May 19, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Dayan Abdurrahman

Pemerhati Pendidikan dan Isu-Isu Kuliner

Hari Minggu di Banda Aceh bukan sekadar waktu melepas lelah, melainkan momen mengendapkan pikiran, merenungi makna, dan menikmati aroma kopi yang lebih jujur dari politik nasional. Saya, Dayan Abdurrahman, warga biasa dari Kajhu, kawasan yang saban hari dilintasi oleh mobil-mobil bersih dan mulus di jalan tol baru. Tapi lucunya, meski tol itu membelah sawah kami, saya belum sekalipun pernah melewatinya. Saya lebih suka jalur kampung—yang banyak senyuman, ayam berkeliaran, dan becak yang bunyinya khas.

Tinggal tak jauh dari Darussalam—daerah pelajar, penuh dengan semangat dan kadang juga debat kusir mahasiswa—membuat saya sering duduk di warung kopi sambil menyaksikan kehidupan berlarian. Tak jauh dari situ, laut menatap saya dengan diam. Laut yang dulu menggulung dan merenggut, kini kembali tenang. Tapi setiap kali saya duduk di pinggirannya, tsunami itu kembali hadir, bukan sebagai teror, tapi pengingat bahwa hidup bisa berubah dalam satu tarikan ombak.


Pagi ini saya menyempatkan waktu ke Ulee Lheue. Bukan untuk selfie, bukan juga demi konten TikTok, melainkan untuk membiarkan pikiran saya berlayar. Duduk di bawah pohon kelapa yang tidak terlalu tinggi, saya melihat dua anak muda sedang membaca buku tentang perubahan iklim. Hati saya senang. Ternyata tidak semua generasi Z terjebak dalam dunia virtual.

Sebelum pulang, saya singgah di warung makan di pinggir jalan. Disambut aroma kuah beulangong ikan paya yang menggoda iman. Ada juga ayam penyet dengan sambal hijau yang rasanya bisa membuat seseorang jatuh cinta, lalu sadar bahwa dia hanya bisa mencintai dalam diam. Begitu kuat cita rasa, sampai lidah kita ingin berunding.

Sebagai penggemar kuliner, saya percaya bahwa makanan bukan sekadar untuk kenyang. Ia adalah jendela kebudayaan. Makanan membawa memori, menyatukan manusia, dan kadang—menyembuhkan luka. Di Banda Aceh, makanan selalu hadir dalam ritual sosial, dari peusijuek sampai kenduri. Mungkin karena itulah, orang Aceh lebih gampang akrab saat makan.

📚 Artikel Terkait

MKKS SMA Provinsi Aceh Salurkan Bantuan Korban Banjir di Aceh Selatan

Mengapa Harus Membenci?

Hidup Sehat, Tanpa Rokok, Lebih Baik

MENUMBUHKAN MOTIVASI PADA SISWA


Tapi bukan hanya makan yang penting. Kita juga perlu mencerna realitas. Sebuah riset kecil yang saya buat pada awal tahun menunjukkan bahwa hanya 37% pemuda Banda Aceh yang aktif dalam komunitas sosial, padahal potensi mereka sangat tinggi. Persentase perempuan dan laki-laki pun kini sudah mulai seimbang dalam dunia pendidikan, tetapi partisipasi publik masih cenderung didominasi laki-laki. Ini pekerjaan rumah kita bersama. Karena pendidikan bukan hanya soal nilai ujian, tapi kemampuan hadir dalam masyarakat.

Saya sering bilang ke anak saya, “Kalau kamu ingin dikenal dunia, kenali dulu lorong rumahmu.” Jadi pemimpin itu bukan soal pidato bahasa Inggris di forum internasional. Itu bagus, tapi lebih penting adalah bisa bantu angkat galah warga sebelah, atau menyapa nenek-nenek yang jual pucuk ubi. Dunia akan percaya pada orang yang dipercaya oleh kampungnya.


Ada satu hal lagi yang ingin saya bagikan. Beberapa hari lalu, saya mendengar kabar seorang tokoh muda Aceh diundang ke forum pemuda ASEAN. Hebat, pikir saya. Tapi lebih hebat lagi kalau ia tetap menyapa gurunya di kampung, menyempatkan diri pulang ke meunasah dan tidak canggung makan dengan tangan di atas daun pisang.

Saya kira, dunia butuh duta-duta yang bukan hanya fasih berbahasa, tapi juga berakar. Yang kalau bicara tentang perubahan iklim, dia tahu bagaimana nelayan di Lambaro harus memindah jadwal melaut karena arus berubah. Yang kalau bicara soal ekonomi digital, dia tetap sadar bahwa masih ada ibu-ibu di kampung yang jualan pakai catatan utang dari tahun kemarin.


Dan akhirnya, tulisan ini saya tutup dengan satu pepatah dari Almarhum Nek Amat, tetangga saya di Kaju:
“Hidup ini bukan lomba cepat-cepat, tapi lomba siapa yang paling banyak ditunggu kehadirannya.”

Jadi, untuk para sahabat sarjana, cendekiawan, dan pemikir yang sedang beristirahat hari ini, izinkan saya katakan: santailah sejenak. Nikmati ayam penyet dan segelas kopi sanger di bawah langit Banda Aceh. Karena dalam istirahat itu, kita seringkali menemukan jawaban yang tidak hadir saat kita sibuk berlari.

Selamat menikmati hari Minggu. Tetaplah cerdas, tapi jangan kehilangan rasa. Tetaplah kritis, tapi jangan lupa senyum. Karena dunia ini terlalu luas untuk kita tanggapi dengan dahi yang terus mengernyit.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 140x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 128x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 92x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
165
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Fenomena Polisemi dalam Gerimis Pagi ini

Fenomena Polisemi dalam Gerimis Pagi ini

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00