• Latest
Sudah 48 Tewas di Perang India vs Pakistan - 2025 05 11 07 14 13 | India | Potret Online

Sudah 48 Tewas di Perang India vs Pakistan

Mei 11, 2025
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Sudah 48 Tewas di Perang India vs Pakistan - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | India | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Sudah 48 Tewas di Perang India vs Pakistan - 2025 05 11 07 14 13 | India | Potret Online

Sudah 48 Tewas di Perang India vs Pakistan

Redaksi by Redaksi
Mei 11, 2025
in India, Konflik
Reading Time: 3 mins read
0
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Rosadi Jamani

Setelah menikmati sinetron dalam negeri, mulai ijazah Jokowi, Mega vs Netizen, nikahan Luna Maya, sekarang kita ke luar negeri lagi. Perang India vs Pakistan. Apa update terakhir perang negara serumpun itu? Siapkan kopinya, wak.

Sampai hari ini, setidaknya 48 jiwa melayang. Warga sipil di Jammu, India, dan Kashmir, Pakistan, menjadi korban dari ‘drama langit’ yang tak mereka pesan. Ratusan lainnya terluka, bukan oleh kata-kata tajam dari pidato politik, tapi oleh serpihan baja dan debu reruntuhan. Mereka menjadi statistik tragis dari konflik yang selalu dijual dengan jargon mulia, kedaulatan, keamanan nasional, dan tentu saja, tanda kutip besar “perdamaian yang terpaksa dibela dengan senjata.”

Di sisi India, pangkalan udara Pathankot dan Udhampur dilumat oleh rudal Pakistan. Tidak seperti iklan properti yang menjanjikan ‘udara segar dan tenang’, kedua tempat itu kini lebih mirip neraka dengan wifi. Sebagai balasannya, India mengirim ucapan ‘terima kasih’ berupa ledakan ke Pangkalan Udara Nur Khan, Mureed, dan Shorkot milik Pakistan. Belum cukup sampai di sana, malam-malam perbatasan kini dihiasi pemadaman listrik, sirene panjang-panjang, dan tentu saja, kecemasan massal yang tidak dijual di minimarket.

Sementara itu, Dewan Komando Nasional Pakistan (NCA) telah diaktifkan. Tidak, ini bukan sinyal bahwa mereka mau main film superhero, tapi bahwa mereka sedang memegang remote control paling mengerikan di planet ini, peluncur nuklir. Sebuah tombol kecil yang bisa membuat dunia kembali ke zaman batu, tanpa perlu asteroid atau Thanos. Amerika Serikat, G7, dan seluruh penjaga moralitas dunia pun langsung gigit jari. Mereka menyerukan ‘pengendalian maksimal’, sebuah frasa yang terdengar seperti nasihat orang tua kepada anak remaja yang pegang korek api di gudang bensin.

Donald Trump, entah kenapa masih presiden, menyatakan “keprihatinan mendalam.” Sebuah kalimat yang memiliki arti seluas samudra dan seakurat ramalan bintang. PBB lewat Antonio Guterres menawarkan diri sebagai mediator, walau semua tahu bahwa tawaran damai dari PBB kadang seperti sinyal internet di hutan Kalimantan, ada tapi tidak bisa diakses. China, sambil mengelus dagu dan menimbang kepentingannya, meminta agar kedua negara ‘menahan diri’ sambil tetap menolak segala bentuk terorisme. Rusia, seperti biasa, berdiri di tengah sambil bilang “ya udahlah,” tapi dalam bahasa yang lebih diplomatik.

Baca Juga

Sudah 48 Tewas di Perang India vs Pakistan - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | India | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
Sudah 48 Tewas di Perang India vs Pakistan - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | India | Potret Online

Menolak Perang, Menimbang Keadilan: Eropa di Antara Moralitas, Ketakutan Strategis, dan Pergeseran Tatanan Dunia

Maret 29, 2026
Sudah 48 Tewas di Perang India vs Pakistan - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | India | Potret Online

Iran dan Aceh: Pelajaran Kemandirian dan Visi Kolektif Masa Depan

Maret 16, 2026

Indonesia juga tidak tinggal diam. Ketua DPR Puan Maharani tampil di layar kaca, menyerukan agar PBB segera bertindak dan menawarkan diplomasi parlemen, karena kalau dunia mau damai, tentu solusinya bukan senjata, tapi rapat. Sangat Indonesia. Para tukang ngopi di Pontianak juga menyerukan damai. “Bagus diajak ngopi di Asiang, bisa damai tu India vs Pakistan tu.”

Di balik segala letupan dan diplomasi murahan, ini bukan cuma perang dua negara. Ini adalah epos kontemporer tentang ego, identitas, dan libido kekuasaan yang tak kunjung kenyang. Perang ini adalah puisi paling keras dari dunia yang sedang letih, letih dengan janji damai, letih dengan perjanjian yang dilanggar, letih dengan kata-kata yang akhirnya dikalahkan oleh tombol rudal dan algoritma target.

Di satu sisi, ini semua terdengar begitu epik, seperti kisah Mahabharata digital, dengan pemain utama bersenjata nuklir. Tapi jangan tertipu. Di balik semua kehebohan ini, ada tubuh-tubuh anak kecil yang tak sempat lari, ada ibu-ibu yang tak sempat menyelamatkan kompor, ada doa-doa yang tertelan ledakan. Tapi tentu saja, itu semua hanya latar belakang. Sebab di panggung utama, dunia sedang menunggu, siapa yang lebih dulu menekan tombol, dan siapa yang lebih dulu diliput CNN sambil terbakar.

Selamat datang di dunia 2025. Perangnya nyata, tapi kedamaiannya fiksi ilmiah.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 342x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 312x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234Tweet146
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi
Esai

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71
Artikel

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Next Post
Sudah 48 Tewas di Perang India vs Pakistan - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | India | Potret Online

Pendidikan Aceh: Antara Syariat, Modernitas, dan Tantangan Global

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com