Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Ketika saya menulis artikel berjudul “Ketika Saya Merasa Berdosa kepada Netizen”, tanggapan netizen terutama followers saya, luar biasa. Betapa mereka selama ini begitu perhatian dengan saya. Tak terasa mata saya berkaca-kaca. Di malam minggu ini saya ingin memberikan sedikit tips menulis untuk yang suka menulis. Kopi liberika selalu menemani tulisan ini.
Saat artikel itu meluncur di dunia maya, follower saya mendadak berubah jadi malaikat bersayap emoji. Mereka menuliskan kata-kata dukungan, nasihat, petuah, doa, semangat, bahkan ada yang mendoakan saya masuk surga VIP tanpa antrean. Saya membaca semua komentar itu sambil menggigil, bukan karena kedinginan, tapi karena getaran batin setara level gempa skala 9.0. Saya sampai mencari-cari di Google, “Apakah manusia bisa menangis sampai dehidrasi?” Karena saya hampir saja mengalaminya.
Mereka berkata, “Tulisanmu menyentuh jiwa kami.”
Mereka bilang, “Tulisanmu membukakan mata hati kami yang selama ini pakai kaca mata kuda.”
Mereka mengaku, “Dulu saya benci politik, sekarang cinta. Dulu saya tak suka voli, sekarang suka nonton voli!”
Seketika saya merasa menjadi dukun literasi. Menyentuh orang tanpa harus ketemu. Mengubah hidup tanpa harus menepuk pundak. Hanya lewat kata. Hanya lewat huruf. Hanya lewat sepotong tulisan yang lahir di antara keputusasaan dan sisa-sisa kafein.
Inilah momen ketika saya benar-benar sadar, kalau menulis itu bukan cuma tentang pamer kosa kata sakti mandraguna atau menumpuk teori seberat truk molen. Menulis itu adalah ritual suci membangun ikatan batin. Menulis itu adalah seni menjebak hati pembaca agar mereka merasa, “Woy, ini kayak cerita hidup gue banget!” Menulis itu membuat pembaca ketagihan seperti makan keripik satu bungkus yang katanya mau satu tapi akhirnya habis semua.
Tips sakti ini tidak berhenti di saya. Saya turunkan kepada seorang pendekar muda dari Bali, namanya M. Fawaid AL. Dia datang berguru, bertanya, meminta petuah, seperti murid Shaolin mencari jurus pamungkas. Saya ajarkan, tulislah setiap hari. Tidak usah tunggu inspirasi turun dari langit. Karena inspirasi itu pemalas. Ia baru datang kalau kita sudah menulis duluan.
📚 Artikel Terkait
Apa hasilnya? Dalam sekejap mata, bahkan lebih cepat dari pertumbuhan kecambah di gelas air, akunnya sekarang punya 8.540 followers. Delapan ribu lima ratus empat puluh manusia hidup, bukan akun robot, bukan bot Rusia. Ini angka yang bagi penulis pemula adalah mukjizat setara membelah lautan.
Saya selalu bilang ke murid-murid pelatihan saya, dengan suara bergetar seperti dalang wayang, “Kebahagiaan penulis bukan ketika bukunya mejeng di rak best seller, tapi saat tulisannya dibaca.” Dibaca betulan. Dibaca sambil meringis, sambil tertawa, sambil mikir, sambil ngomong sendiri, “Woy, ini gue banget!”
Tanda tulisan kita dibaca itu cuma satu, komentar. Komentar yang jujur, polos, brutal, lucu, lebay, semuanya adalah emas. Balaslah komentar itu! Walaupun hanya dengan emoji hati, walaupun hanya dengan “Tks”, walaupun sambil ngantuk-ngantuk di atas bantal. Karena itulah harga penghargaan kita kepada para pembaca. Mereka yang sudah rela membaca tulisan kita saat mereka bisa saja memilih scroll TikTok nonton orang jungkir balik.
Maka dari itu, saya berdiri, secara batiniah, mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi untuk kalian semua, para netizen, para pembaca, para jiwa-jiwa mulia yang membuat saya terus menulis. Terus berjuang di medan literasi. Kalianlah tenaga surya saya. Kalianlah alasan kenapa keyboard saya tidak pernah berdebu. Saya bersumpah, akan terus menulis, sampai jari-jari saya aus, sampai otak saya tinggal seperempat, bahkan kalau perlu, saya akan mengetik dengan hidung.
Karena selama masih ada satu orang saja yang mau membaca, maka tulisan ini… akan tetap hidup.
Selamat malam minggu untuk semua followers saya. Sambil nongkrong di kafe, warkop atau lagi mager di kamar tidur, bacalah tulisan ini. Saya jamin, ikatan batin kita akan selalu terhubung.
camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






