POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home #Kontemplasi

Menyelami Pesan Buya Syafii Maarif (2)

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
April 25, 2025
in #Kontemplasi
0
Menyelami Pesan Buya Syafii Maarif (2) - IMG 20250424 WA0009 | #Kontemplasi | Potret Online

Toleransi sebagai Pilar Peradaban

Oleh Gunawan Trihantoro
(Sekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah)

“Sebuah bangsa dapat mengalami kehancuran bila toleransi sosial, agama, dan budaya tidak mantap,” begitu suara peringatan Buya Syafii yang tegas namun penuh kasih.

Baca Juga
  • Menyelami Pesan Buya Syafii Maarif (2) - IMG_6865 | #Kontemplasi | Potret Online
    # Ironi
    Joget di Gedung Terhormat, Rakyat Menangis di Kolong Jembatan
    23 Agu 2025
  • Takwa
    Artikel
    Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan
    01 Apr 2026

Kata-kata ini lahir dari kepekaan sejarah, pengalaman panjang, dan kecintaannya pada keutuhan Indonesia yang majemuk.

Buya menegaskan bahwa kehancuran suatu bangsa tak melulu datang dari ekonomi yang rapuh atau konflik kekuasaan, melainkan dari runtuhnya nilai-nilai toleransi.

Baca Juga
  • Menyelami Pesan Buya Syafii Maarif (2) - cf9783f3 f060 4def 9401 8d275b9bc1ab | #Kontemplasi | Potret Online
    Artikel
    Ketika Bahan Bakar Fosil Habis, Bukan Akhir Segalanya
    07 Apr 2026
  • Menyelami Pesan Buya Syafii Maarif (2) - IMG_9072 | #Kontemplasi | Potret Online
    # Ironi
    Ketika Orang Bodoh Jadi Ahli Negara
    21 Des 2025

Dalam toleransi, terkandung penghormatan pada perbedaan, pengakuan atas keberagaman, dan keinginan hidup berdampingan secara damai.

Indonesia adalah negara plural dengan ratusan etnis, bahasa, dan keyakinan; maka toleransi bukan sekadar pilihan, melainkan syarat utama keberlangsungan.

Baca Juga
  • IMG_1069
    Artikel
    Surga itu Hadiah untuk Jiwa atau Interpretasi Fantasi Lelaki?
    05 Mei 2026
  • 20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
    Artikel
    Antara Efek Jera dan Keadilan
    12 Apr 2026

Ketika toleransi goyah, celah-celah konflik akan terbuka lebar, dan api perpecahan bisa membakar sendi-sendi bangsa.

Buya paham benar bahwa sejarah dunia mencatat keruntuhan peradaban besar dimulai dari kegagalan hidup rukun di tengah perbedaan.

Maka, bagi Buya, toleransi bukan slogan, tapi fondasi moral yang harus dihidupi, dibela, dan dijaga dengan kebijaksanaan.

Ia selalu menolak segala bentuk ekstremisme yang memaksakan kebenaran tunggal dalam soal iman, budaya, atau pilihan hidup.

Sebaliknya, ia menyerukan agar ruang-ruang publik dipenuhi oleh percakapan, bukan permusuhan; oleh pengertian, bukan penghakiman.

Pesan Buya ini terasa begitu relevan di era media sosial yang sering kali memupuk polarisasi dan memperuncing perbedaan.

Ketika orang lebih mudah tersulut emosi daripada membuka ruang dialog, toleransi menjadi korban pertama yang terluka.

Padahal, seperti yang selalu Buya tekankan, keberagaman adalah anugerah, bukan ancaman; dan keragaman adalah kekayaan, bukan sumber permusuhan.

Dalam banyak forum, Buya mengajak umat beragama untuk membangun jembatan, bukan tembok pemisah; memperkuat empati, bukan membakar prasangka.

Ia melihat bahwa kekuatan sebuah bangsa terletak pada kemampuannya mengelola perbedaan secara dewasa dan beradab.

Toleransi dalam pandangan Buya bukan berarti menyamakan semua hal, tetapi menghargai perbedaan dengan sikap saling memahami dan tidak memaksakan.

Kematangan suatu masyarakat tercermin dari sejauh mana mereka mampu bersikap adil kepada yang berbeda.

Buya mengingatkan bahwa tanpa toleransi, demokrasi akan kehilangan jiwanya dan hukum akan kehilangan ruh keadilannya.

Kita menyaksikan bagaimana konflik sektarian, diskriminasi minoritas, dan intoleransi verbal dapat dengan mudah merusak ikatan sosial.

Oleh karena itu, Buya mengajak semua elemen bangsa—dari pemuka agama, tokoh adat, hingga kaum muda—untuk menjadi penjaga nilai-nilai toleransi.

Ia percaya bahwa masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh keseragaman, melainkan oleh kebesaran hati menerima keragaman.

Toleransi harus diajarkan sejak dini, dipraktikkan di ruang-ruang keluarga, sekolah, rumah ibadah, dan media.

Buya ingin bangsa ini menjadi rumah besar yang nyaman bagi semua, bukan milik segelintir kelompok yang mengklaim kebenaran sendiri.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu merayakan perbedaan sebagai kekuatan bersama dalam satu simpul persaudaraan.

Maka, menjaga toleransi adalah menjaga masa depan; melindungi toleransi adalah merawat kehidupan; menumbuhkan toleransi adalah membesarkan cinta.

Pesan Buya Syafii Maarif tentang toleransi adalah pelita di tengah zaman yang rawan disulut api kebencian dan politik identitas.

Ia tidak hanya berbicara, tapi menunjukkan dengan teladan, bahwa menjadi beragama secara benar adalah menjadi manusia yang memuliakan sesama.

Dari kata-kata beliau, kita belajar bahwa toleransi bukan kelemahan, melainkan kekuatan moral bangsa yang sejati.


Rumah Kayu Cepu, 25 April 2025

Previous Post

HABA Si PATok

Next Post

Guru Sandal Jepit

Next Post
Menyelami Pesan Buya Syafii Maarif (2) - 2025 04 25 08 39 08 | #Kontemplasi | Potret Online

Guru Sandal Jepit

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah