• Latest
Mobil Handphone - IMG_4186 | #Madiun | Potret Online

Mobil Handphone

April 20, 2025
IMG_0573

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Mobil Handphone - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | #Madiun | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Mobil Handphone - IMG_4186 | #Madiun | Potret Online

Mobil Handphone

Dahlan Iskan by Dahlan Iskan
April 20, 2025
in #Madiun, Blora, Catatan Perjalanan, Cerita Perjalanan, Jalan-Jalan, Surabaya
Reading Time: 5 mins read
0
591
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook


Oleh: Dahlan Iskan

Minggu 20-04-2025

(BYD Denza bersama anggota Senam Dahlan Iskan)

Sepulang dari Pulau Moyo Lebaran lalu itu saya hampir tiap hari ke dekat Pacet, kaki gunung Penanggungan. Sendirian. Pakai mobil listrik. Kang Sahidin masih Lebaran di Sukabumi Selatan.

Agar perjalanan wira-wiri itu lebih bermanfaat, saya ingin berlomba dengan diri saya sendiri: ingin mencapai rekor penghematan pemakaian baterai mobil listrik. Hari berikutnya harus lebih hemat dari hari sebelumnya. Dari hari ke hari bersaing. Dengan diri sendiri.

Toh hari-hari itu lalu-lintas sepi. Tidak ada truk di jalan raya. Santai. Mobil bisa sepenuhnya dalam kendali manusia yang mengemudikannya. Apalagi hari-hari itu saya tidak dalam keadaan terburu-buru.

Separo jalan Surabaya-Pacet itu datar. Sekitar 30 km. Setelah itu sedikit menanjak, 20 km. Total 50 km. Itu kalau tidak lewat jalan tol.

Pada hari-hari normal saya selalu lewat jalan tol. Dari Surabaya. Exit-nya Mojokerto. Lalu lewat bypass sebelum lewat jalan kabupaten. Jaraknya 15 km lebih jauh tapi bisa lebih cepat. Itu karena tidak perlu melewati daerah padat industri di Mojosari. Terlalu banyak truk di kawasan itu.

Di hari keenam saya mencapai rekor: hanya menghabiskan 6 persen baterai –dari full 465 km. Itu saat turun dari Pacet ke Surabaya.

Rekor berangkatnya: 9 persen. Memang begitu. Berangkat lebih boros dari pulang. Berangkatnya menanjak, pulangnya menurun.

Kunci penghematan terbesar adalah: cara kaki menginjak pedal ”gas”. Semakin sedikit menekan pedal gas itu semakin hemat. Semakin halus dalam menambah kecepatan juga semakin hemat.

Saya semakin tahu diri: gaya menyetir saya harus berubah. Tidak boleh ”kasar”. Tidak boleh lakukan kejut-kejut dalam menambah kecepatan. Tidak boleh melakukan gerakan menyalip secara spontan.

Kian saya memperhatikan itu kian hemat pemakaian listriknya.

Sebenarnya saya tidak perlu memikirkan itu. Waini tidak perlu ada kekhawatiran kehabisan listrik. Di rumah saya ada instalasi charging. Di gubuk dekat Pacet itu juga ada. Bahkan waini di setiap rest area sudah ada colokan mobil listrik. Dari PLN. Atau dari Astra. Kadang ada dua-duanya. Beda dengan dulu.

Tapi tetap menarik untuk terus mendalami cara hidup baru dengan mobil listrik. Saya bertekad tiap hari harus lebih hemat. Dan ternyata bisa.

Mungkin lomba dengan diri sendiri itu sudah menjadi bagian dari jiwa saya: suka bersaing. Termasuk dengan diri sendiri.

Baca Juga

96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026
8ebfa6ab-7ef6-4c91-be8a-443b7a9d1588

Ramadan, Rindu dan Gema Takbir di Negeri Seribu Menara

Maret 26, 2026

Dulu, sewaktu Pak Iskan sakit keras, saya juga bersaing dengan diri sendiri. Pak Iskan sakit di rumah adik saya di kompleks Perumnas Madiun. Tiap hari saya harus setir mobil sendirian dari Surabaya ke Madiun. Masih pakai Jaguar bensin.

Tiap hari saya baru bisa berangkat pukul 12.00 malam. Yakni setelah Jawa Pos siap masuk ke percetakan. Di hari pertama saya catat: jarak itu perlu saya tempuh berapa lama. Tiga jam. Belum ada jalan tol.

Maka di hari kedua saya bertekad untuk bisa lebih cepat. Pun di hari ketiga dan seterusnya. Dengan bersaing seperti itu saya tidak merasa bosan di perjalanan. Juga bisa menahan kantuk.

Setelah lebih seminggu akhirnya saya mencapai rekor tercepat: 2,5 jam. Lalu 2 jam 20 menit. Selesai. Ayah saya meninggal dunia.

Membandingkan mobil bensin dan listrik punya kelebihan masing-masing. Pun kelemahannya. Tapi untuk keperluan menambah kecepatan, mobil listrik menang jauh. Apalagi kalau untuk menyalip kendaraan lain. Joss.

Jumat kemarin saya harus ke Lasem. Ada acara ulang tahun dewa yang menjaga klenteng di Lasem. Saya menggunakannya untuk tes mobil listrik yang baru: Denza. Yang penjualannya sudah lebih laris dari Alphard.

Menurut buku, kapasitas listrik Denza bisa untuk 600 km. Jarak Surabaya-Lasem sekitar 200 km. Berarti P/P 400 km. Mestinya cukup.

Persoalannya: hari itu Denza, grup BYD, diisi enam orang. Itu ikut menentukan boros-tidaknya listrik. Kian berat beban kian boros.

Begitu sampai di Lasem, Kang Sahidin lihat grafik pemakaian listrik: baru terpakai 44 persen. Berarti aman. Pulangnya akan perlu sekitar 44 persen juga.

Tidak. Kami memutuskan pulang ke Surabaya lewat jalur lain: Randublatung-Ngawi. Bupati Blora yang masih muda bertekad menjebol isolasi Randublatung. Caranya: membangun jalan dari Randublatung ke tol Ngawi. Orang Blora bisa ke Solo lebih cepat lewat Ngawi.

Jalan tembus itu berhasil dibangun. Ia terpilih lagi. Saya ingin merasakan jalan itu. Lewat pukul 00.00 kami berada di jalur itu. Lewat tengah hutan milik UGM. Para mahasiswa fakultas kehutanan UGM melakukan penelitian di situ.

Yang berat dalam membangun jalan tembus itu adalah: harus membangun jembatan untuk melintasi Bengawan Solo. Posisinya dekat museum manusia purba, Trinil.

Jarak yang harus kami tempuh lebih jauh. Maka begitu masuk tol Ngawi Kang Sahidin ngebut. Agar jangan sampai tiba di Surabaya setelah subuh. Pagi itu harus tetap olahraga.

Ngebut itu punya konsekuensinya: pemakaian listriknya lebih boros.

Maka begitu sampai Mojokerto baterainya tinggal 5 persen. Sudah muncul tanda harus segera charging. Warna di dashboard sudah merah.

Ada satu rest area lagi di dekat Mojokerto. Tapi kami berdiskusi: mampir charging atau lanjut Surabaya. Sisa jarak tempuh masih 50 km lagi.

Lanjut!

Sampai Sepanjang tinggal tiga persen. Kang Sahidin memperlambat kecepatan. Sampai di bundaran Waru tinggal 2 persen. Kami nekat. Que serra serra.

Akhirnya sampai di rumah: masih tetap 2 persen: pukul 03.00. Berarti hanya akan tidur dua jam untuk bangun berolahraga.

ADVERTISEMENT

Sewaktu pakai Tesla, kami pernah dalam posisi kritis. Sampai di Krian baterai tersisa tinggal bisa jalan 15 km lagi. Sampai Sepanjang: 0 km. Kami panik. Jalan terus. Pelan-pelan. Masih 10 km lagi. Entah apa yang akan terjadi.

Meski sudah 0 km ternyata masih bisa sampai rumah.

Baterai mobil listrik rupanya berbeda dengan baterai handphone.(Dahlan Iskan)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 352x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 352x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 317x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 266x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 212x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236Tweet148
Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

Baca Juga

IMG_0573
Sejarah

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi
Esai

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
Next Post
Mobil Handphone - IMG 20250420 WA0011 | #Madiun | Potret Online

PPDB, SPMB dan Pendidikan Berkeadilan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com