POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ketika Brain Rot Menggerus Kreatifitas Anak Muda

RedaksiOleh Redaksi
April 19, 2025
Tags: Literasi
Ketika Brain Rot Menggerus Kreatifitas Anak Muda
🔊

Dengarkan Artikel


“Mari Kembali Ke Buku”

Oleh : Ririe Aiko


Sumber Ilustrasi: lptui.co.id

Pernahkah kita merasa otak seperti ‘kosong’ setelah berjam-jam menatap layar ponsel? Seolah-olah isi kepala hanya diisi potongan lagu viral, lelucon absurd, atau potret kehidupan orang lain yang sebenarnya tak kita kenal. Fenomena ini bukan sekadar lelah digital biasa. Ini adalah gejala brain rot, kondisi di mana otak terlalu sering dimanjakan oleh konten ringan sehingga kehilangan ketajaman berpikir.

Istilah brain rot kini akrab di kalangan anak muda, digunakan untuk menggambarkan kondisi saat seseorang merasa “bodoh mendadak” setelah kebanyakan mengonsumsi hiburan digital. Meski terdengar lucu, kondisi ini punya dampak serius terhadap daya pikir dan produktivitas generasi muda. Ketika layar menggantikan buku, dan konten singkat menggantikan esai panjang, kemampuan fokus pun ikut memudar.

Kita hidup di tengah budaya instan, di mana informasi dikemas cepat, dangkal, dan penuh distraksi. Akibatnya, membaca buku menjadi terasa berat. Menulis pun dianggap membosankan. Padahal, kedua aktivitas ini adalah fondasi penting untuk menjaga kesehatan otak dan mempertajam kreativitas. Tanpa keduanya, daya pikir bisa tumpul, dan potensi intelektual pun terhambat.

📚 Artikel Terkait

 Menelusuri Jejak Ulama Nusantara Rentang Waktu 1800-1850 M. 

Cahaya Cinta

Ayo Ikut Rasulullah Jadi Seorang Entrepreneur

DLHK3Banda Aceh Ajak Masyarakat Jaga PJU

Membaca bukan hanya kegiatan mengisi waktu luang, melainkan bentuk asupan nutrisi bagi pikiran. Buku mengajak kita menelusuri gagasan, memahami emosi, dan melihat dunia dari berbagai perspektif. Ia menantang otak untuk fokus, menganalisis, dan berpikir kritis, hal yang nyaris hilang dalam budaya scrolling tanpa jeda.

Menulis pun demikian. Menulis mengharuskan kita memilah ide, menyusun logika, dan merangkai kata-kata dengan kesadaran penuh. Ia adalah latihan mental yang melibatkan perasaan, nalar, dan imajinasi secara bersamaan. Bagi anak muda, menulis bukan hanya ekspresi, tapi juga proses menempa cara berpikir yang jernih dan sistematis. Menulis bisa menjadi ruang aman untuk berdialog dengan diri sendiri, sekaligus tempat tumbuhnya gagasan-gagasan besar yang mungkin tak akan muncul di sela-sela swipe konten viral.

Kebiasaan membaca dan menulis adalah bentuk investasi jangka panjang yang seharusnya kembali dibudayakan. Di tengah arus digital yang deras dan sering kali melelahkan, membaca dan menulis adalah pelampung yang bisa menyelamatkan daya pikir kita dari stagnasi intelektual.

Sudah saatnya kita menyeimbangkan konsumsi digital dengan kebiasaan yang lebih sehat secara kognitif. Mengganti satu jam scrolling dengan membaca, atau menuliskan satu paragraf refleksi setiap hari, bisa menjadi langkah kecil yang berdampak besar.

Brain rot bukan takdir generasi digital. Ia adalah alarm yang mengingatkan kita untuk kembali menyuburkan kreativitas, memperkaya isi kepala, dan merawat daya pikir. Karena pada akhirnya, masa depan bukan ditentukan oleh seberapa cepat jempolmu bergerak di layar, tapi oleh seberapa tajam isi pikiranmu saat dunia menantang untuk berpikir lebih dalam.

Generasi muda memiliki potensi besar untuk membawa perubahan, tapi potensi itu perlu dipupuk dengan kebiasaan yang menyehatkan pikiran. Dunia digital boleh jadi ladang peluang, namun tanpa kesadaran dalam memilah konsumsi konten, kita bisa terjebak dalam arus hiburan dangkal yang mengikis kepekaan intelektual. Otak yang lapar tak akan kenyang oleh joged viral atau tren singkat, ia butuh asupan yang bermanfaat seperti pengetahuan, refleksi, dan ruang untuk berpikir dalam.

Membaca dan menulis bukan sekadar kegiatan kuno yang ditinggalkan zaman. Justru di era digital ini, dua aktivitas itu menjadi bentuk perlawanan paling penting untuk menjaga jernihnya nalar dan suburnya imajinasi. Anak muda perlu kembali menjadikan buku sebagai sahabat, dan tulisan sebagai senjata. Karena masa depan tidak dibangun dari joget-joget viral, melainkan dari ide-ide jernih yang lahir di tengah kesunyian halaman demi halaman yang dibaca dan direnungkan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Tags: Literasi
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Suara Sejumlah Purnawirawan TNI Jelas dan Tegas Mengikutsertakan Jerit Pilu Hati Rakyat

Suara Sejumlah Purnawirawan TNI Jelas dan Tegas Mengikutsertakan Jerit Pilu Hati Rakyat

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00