• Latest
Guru

Krisis Literasi: Ratusan Siswa SMP Tidak Bisa Membaca

April 18, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Krisis Literasi: Ratusan Siswa SMP Tidak Bisa Membaca

Redaksi by Redaksi
April 18, 2025
in # Ironi, #Pendidikan, Anak-anak, Artikel, Disdik Kota, Disdik Pidie, Generasi emas, Kualitas pendidikan, Kurikulum Merdeka, Literasi, Membaca, Mendikbud
Reading Time: 3 mins read
0
Guru
593
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh : Ririe Aiko

Berita yang sedang mencuat dari Kabupaten Buleleng, Bali, mengenai ratusan siswa SMP yang belum bisa membaca, seharusnya bukan lagi sekadar sorotan sesaat. Dari 34.062 siswa, 155 di antaranya tidak bisa membaca sama sekali, sementara 208 lainnya belum lancar. Angka ini tidak hanya memprihatinkan, tapi juga menjadi cermin buram dari wajah sistem pendidikan kita yang perlu dievaluasi ulang.

Sebagai seseorang yang juga bekerja menjadi pengajar privat, saya tidak terkejut dengan fenomena ini. Saya sendiri pernah mendampingi siswa kelas 2 SMP yang harus mulai belajar dari nol: mengenal huruf, mengeja kata, hingga bisa membaca kalimat sederhana. Butuh sekitar tiga bulan intensif hanya untuk menembus keterbatasan dasar ini. Kedengarannya ironis, namun inilah kenyataan yang selama ini tersembunyi di balik euforia kelulusan dan slogan “merdeka belajar.”

Fenomena ini sepatutnya mendorong kita untuk meninjau ulang sistem pendidikan sejak jenjang paling dasar. Mari kita lihat ke belakang, pada masa taman kanak-kanak. Kurikulum di TK diisi dengan agenda study tour, jalan-jalan, dan kegiatan rekreatif lainnya. Dalihnya, anak-anak usia dini belum siap belajar secara akademik, mereka tidak boleh dipaksa mengunyah buku-buku yang belum seharusnya, Karena katanya bisa merusak tumbuh kembang anak dan membuat mentalnya tertekan. Sehingga alih-alih belajar membaca, TK lebih sering dijadikan sebagai sarana dasar  sosialisasi bagi anak yang dipenuhi jadwal rekreasi yang cukup menguras anggaran. Akibatnya, anak-anak lulus dari TK tanpa bisa membaca. Namun, mereka dianggap “anak-anak bahagia” karena sering diajak wisata.

Ketika lulus TK, anak-anak ini masuk ke jenjang SD tanpa bekal membaca. Mayoritas hanya sedikit anak-anak yang masuk ke SD sudah lancar membaca. Namun tidak masalah karena katanya pintar itu ada waktunya, anak-anak tidak boleh dipaksa membaca. Ironisnya, buku-buku pelajaran kelas 1 SD sudah penuh dengan teks narasi panjang yang mengasumsikan anak sudah harus lancar membaca. Karena jika anak tidak bisa membaca di kelas 1 SD, bagaimana ia bisa memahami buku tematik yang tebalnya puluhan halaman?

Tapi tidak masalah karena kembali lagi pada narasi bahwa anak tidak boleh dipaksa membaca.

Namun akibatnya, setiap ujian tiba, guru harus membacakan soal untuk anak-anak yang belum bisa membaca. Fenomena ini berlangsung hingga kelas-kelas berikutnya, bahkan sampai kelulusan SD. Anak-anak yang belum lancar membaca ini tetap naik kelas, karena kurikulum merdeka tidak memperbolehkan anak-anak untuk tinggal kelas.

Naik kelas menjadi semacam formalitas, bukan hasil capaian, tidak ada intervensi yang sistematis. Mau bisa membaca atau tidak, siswa tetap naik kelas. Pada akhirnya, mereka sampai di jenjang SMP tanpa fondasi yang kokoh.

Kondisi ini bukan semata-mata kesalahan guru atau sekolah. Ini adalah gambaran dari sistem yang abai terhadap urgensi pendidikan dasar. Kurikulum disusun dengan asumsi ideal, namun pelaksanaannya di lapangan jauh dari harapan. Tidak semua sekolah memiliki SDM, waktu, dan metode untuk mengejar ketertinggalan siswa yang bahkan belum bisa mengeja.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Kita perlu evaluasi menyeluruh, bukan tambal sulam. Pendidikan usia dini harus dikembalikan pada esensi: membentuk kesiapan belajar, bukan hanya memberi pengalaman menyenangkan. SD harus memprioritaskan literasi dasar secara serius. Pemerintah, sekolah, guru, dan orang tua perlu bersinergi dengan arah yang sama: memastikan anak-anak benar-benar mampu membaca, bukan sekadar naik kelas. Karena membaca itu adalah ilmu wajib yang semua orang harus bisa, berbeda dengan matematika, yang tidak semua orang harus menguasai persamaan linear atau teknik aljabar.

Jika kita terus menutup mata, maka fenomena siswa SMP belajar huruf bukanlah kasus luar biasa, melainkan gejala sistemik yang akan terus terulang. Dan ketika itu terjadi, kita tidak lagi berbicara soal pendidikan, kita sedang menyaksikan kegagalan dalam membentuk generasi bangsa yang cerdas dan berdaya. 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 309x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 272x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 235x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 222x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 180x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Tags: Literasi
SummarizeShare237Tweet148
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Kehidupan pasca-bencana di desa_11zon
Artikel

Empat Bulan Setelah Air Bah itu Pergi

Maret 26, 2026
#Cerpen

Pergi dan Kembali

Maret 14, 2026
Bedah buku

Bedah Buku – Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition

Maret 3, 2026
Artikel

Bedah Buku – Kitab Kebijaksanaan Orang-Orang Gila (Uqalā’ al-Majānīn)

Maret 2, 2026
Next Post
“Walid nak Dewi, Boleh?”

"Walid nak Dewi, Boleh?"

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025
Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com