POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Menyikapi Tarif Resiprokal Trump dan Kemungkinan Menjadikan Indonesia Pasar Bebas

Malika Dwi AnaOleh Malika Dwi Ana
April 10, 2025
Tags: Donald TrumpEkonomiPolitikPrabowo
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Malika D. Ana

Kalau kita bicara soal Indonesia sebagai pasar dengan liberalisme ekonomi terbesar sepanjang sejarah, itu mungkin sedikit berlebihan, tapi ada benarnya kalau kita lihat dinamika terkini di bawah Prabowo, dan pastinya bakal bikin almarhum Soemitro Djojohadikusumo, ekonom legendaris dan ayah Prabowo, tersenyum bangga sambil tepuk tangan dari alam sana.

Prabowo, dengan pendekatan pragmatisnya menghadapi tarif resiprokal Trump, memang menunjukkan jiwa liberalisme ekonomi yang adaptif; yakni membuka dialog dengan AS, mendorong diversifikasi pasar ke Afrika, Amerika Latin, dan Asia Selatan, plus memperkuat ASEAN sebagai bantalan. Ini bukan liberalisme klasik ala Adam Smith yang murni pasar bebas tanpa campur tangan, tapi lebih ke liberalisme “terpimpin”; pasar terbuka, tapi dengan sentuhan strategi nasionalis untuk jaga stabilitas. Soemitro, yang dulu getol soal industrialisasi dan ekonomi terarah, mungkin bakal bilang, “That’s my boy!”

Di dalam negeri, deregulasi dan hilirisasi yang digaungkan Prabowo juga punya aroma liberal; antara lain memberikan karpet merah buat investor, mengurangi birokrasi yang panjang dan berbelit. Itu dianggap hambatan, tapi tetap berusaha menjaga konsumsi domestik agar roda ekonomi muter.

Pasar Indonesia jadi makin “seksi” buat dunia dengan ekspor digenjot, impor dikendalikan, dan daya saing industri dipoles. Jika ini sukses, akan bisa menjadi legacy ekonomi terbesar Prabowo, dan tepuk tangan buat Soemitro bakal makin kenceng. Tapi ya, tantangannya besar, karena eksekusinya harus cepat, dan Trump nggak bakal dengan mudah ngasih diskon.

Ya kita lihat saja, pasar bakal bilang apa.Jika kita tarik benang merah dari kebijakan Prabowo “menjadikan Indonesia hanya sebagai pasar,” ada resiko nyata yang bisa merugikan rakyat jika eksekusinya pincang atau visinya cuma jangka pendek. Tapi, dari apa yang terlihat sejauh ini, Prabowo nggak sepenuhnya mau Indonesia cuma jadi “pasar” pasif atau hanya menjadi tempat barang impor masuk dan lokal cuma jadi penutup. Strateginya lebih kompleks, meski memang ada celah yang bisa bikin rakyat gigit jari jika nggak hati-hati.

📚 Artikel Terkait

Tiga Guru MAS Darul’Ulum Hadiri Refresmen Fasilitator Provinsi di Jakarta

Berkacalah

SRMA 18 Blora dan Semangat Baru Literasi Anak Negeri

22 Tahun Tak Terhenti: Majalah POTRET sebagai Inspirasi Media Lokal

Pertama, diversifikasi ekspor dan diplomasi dengan AS menunjukkan Prabowo nggak mau Indonesia cuma jadi sasaran empuk tarif Trump atau pasar konsumsi negara lain. Dia mencoba membuka peluang baru supaya produk Indonesia dari tekstil sampai furnitur tetap laku di luar, bukan malah tenggelam di dalam negeri karena banjir impor murah. Tapi, kalau negosiasi gagal dan pasar baru nggak cukup kuat, Indonesia bisa saja kejebak: ekspor anjlok, impor naik, neraca perdagangan defisit, dan rakyat yang kerja di sektor ekspor misalnya buruh tekstil, bakal kena PHK massal. Itu jelas merugikan banget.

Kedua, soal deregulasi dan hilirisasi, ini bisa jadi pedang bermata dua. Disatu sisi, daya saing industri naik, investor masuk, lapangan kerja bertambah, sehingga rakyat senang. Tapi, kalau deregulasi kebablasan tanpa pengawasan ketat, bisa-bisa pasar domestik malah dikuasai pemain asing, industri lokal kalah saing, dan keuntungan lari ke luar. Hilirisasi juga bagus buat tambah nilai produk mentah kayak nikel atau sawit, tapi kalau cuma jadi “pasar” bahan baku murah buat ekspor tanpa berusaha membangun industri menengah yang kuat, rakyat hanya akan mendapatkan remah-remahnya: upah rendah, lingkungan rusak, keuntungan hanya dinikmati segelintir elit.

Terakhir, penguatan konsumsi domestik lewat program seperti Makan Bergizi Gratis memang bisa jadi tameng: rakyat punya daya beli, ekonomi lokal hidup. Tapi, kalau ini nggak dibarengi proteksi buat UMKM dan industri kecil dari gempuran impor, Indonesia bisa jadi “pasar” beneran, cuma jadi konsumsi barang luar, lalu produksi lokal mati. Rakyat yang nggak punya akses ke manfaat program ini, misalnya petani kecil atau pedagang tradisional, bakal makin terjepit.

Jadi, merugikan atau tidaknya tergantung eksekusi. Kalau Prabowo berhasil menjaga keseimbangan antara buka pasar dan melindungi rakyat, ini bisa jadi lompatan besar ekonomi. Tapi kalau cuma jadi pasar terbuka tanpa benteng…rakyat, khususnya yang di bawah, hanya akan jadi penonton dan obyek, bukan subyek pemain. Belum lagi inflasi atau ketimpangan yang bisa mengemuka kalau salah langkah. Kita lihat aja, bola ada di tangan Prabowo sekarang.

Ngeri soalnya jika skenario terburuk itu kejadian. Bayangkan saja: ekspor ambruk, industri lokal mati suri, impor membanjir, dan lapangan kerja menyusut, rakyat kecil yang pertama kena getahnya. Buruh nganggur, petani nggak bisa jual hasil panen karena kalah saing sama barang impor murah, UMKM tutup, dan daya beli rontok. Ketimpangan bisa makin lebar, harga-harga naik gara-gara defisit perdagangan, dan program pemerintah yang tadinya menjadi harapan…seperti Makan Bergizi Gratis…bisa payah jika anggaran negara jebol. Belum lagi dampak sosialnya: protes, demo, keresahan, atau bahkan chaos kecil-kecilan gak bisa diabaikan.Tapi, kengerian ini sih masih di ranah kemungkinan, bukan kepastian. Prabowo punya tim ekonomi yang nggak main-main macam Airlangga, Sri Mulyani, dan lainnya…dan pengalaman dia sebagai tentara mungkin bikin dia lebih taktis ketimbang hanya pasrah. Diplomasi dengan AS, diversifikasi pasar, dan hilirisasi bisa menjadi benteng, asal bukan cuma wacana. Yang bikin deg-degan adalah kecepatan dan ketepatan eksekusinya, apalagi Trump nggak bakal nunggu lama buat memberikan tekanan. Kalau salah langkah atau lambat, ya, siap-siap aja buat ngerasain horornya skakmat. Semoga saja gak sampe ke situ, ngeri beneran soalnya!Lalu bagaimana dengan Pasal 33 UUD 1945 asli sebelum amandemen? Pasal 33 UUD 1945 asli memang punya semangat yang kuat banget soal ekonomi untuk rakyat: “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan” (ayat 1), “Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara” (ayat 2), dan “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat” (ayat 3). Intinya, ekonomi harus berpihak pada rakyat, bukan cuma segelintir elit atau pihak asing, dan negara punya peran besar buat ngatur ini.Nah, kalau dibilang kebijakan Prabowo—terutama soal respons tarif Trump, deregulasi, atau hilirisasi—bisa “mengkhianati” pasal ini “dengan terang benderang,” ada sudut pandang yang bisa dimengerti. Misalnya, kalau deregulasi kebablasan dan pasar dibuka lelet(lambat) atau lambretta tanpa benteng yang kuat, maka cabang produksi penting atau sumber daya alam bisa jatuh ke tangan asing atau korporasi besar, dan bukan “dikuasai negara” seperti yang dimaksud Pasal 33 ayat 2. Hilirisasi nikel, misalnya, meski niatnya buat tambah nilai, tapi kalau cuma jadi komoditas ekspor murah buat industri luar, dan rakyat lokal cuma dapat sampah residu, polusi plus upah minim, itu jelas nyimpang dari tujuan “kemakmuran rakyat” di ayat 3 tersebut.Terus, diversifikasi pasar dan diplomasi sama AS, meski strategis, bisa dilihat sebagai tanda Indonesia “terpaksa” ngalah sama tekanan global, bukan ngatur ekonomi berdasar “usaha bersama” atau “kekeluargaan” seperti dimaksud ayat 1. Kalau akhirnya rakyat kecil; petani, buruh, UMKM cuma jadi penutup di pasar bebas tanpa perlindungan nyata, maka semangat Pasal 33 yang pro-rakyat bisa terasa dikhianati habis-habisan. Apalagi kalau konsumsi domestik digenjot tapi produksi lokal malah tenggelam, itu makin jauh dari cita-cita ekonomi yang berdaulat.Tapi, di sisi lain, Prabowo mungkin berarguemen bahwa langkah-langkah ini justru adalah cara “modern” buat mewujudkan Pasal 33 di tengah dunia yang sudah global. Negosiasi sama Trump, hilirisasi, atau program makan gratis bisa dia bilang sebagai upaya untuk “kemakmuran rakyat” versi 2025, bukan versi 1945. Cuma, kalau eksekusinya lelet atau salah arah, dan rakyat cuma jadi penonton sementara asing atau elit panen untung…ya, sulit menolak kesan bahwa pasal suci ini dilupakan. Secara terang benderang? Mungkin iya, kalau bukti di lapangan akhirnya cuma menunjukkan rakyat makin terjepit dan sulit berkelit dimasa sulit. Kita pantau aja, faktanya bakal bicara sendiri.(Mda)Kopi_kir sendirilah!*Malawu_OmahKopi, 10042025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Tags: Donald TrumpEkonomiPolitikPrabowo
Malika Dwi Ana

Malika Dwi Ana

Penulis dan editor sekaligus pengamat sosial politik

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

SI BUTA DARI GUA SAMPAH

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00