POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Puisi Essay

Ar-Razi: Lentera di Tengah Gelombang

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
Maret 27, 2025
in Puisi Essay, ulama
0
Ar-Razi: Lentera di Tengah Gelombang - b0519428 f980 46ab 93ad fabfedf829fe | Puisi Essay | Potret Online

Cahaya Ilmuwan Muslim, Warisan yang Abadi (5)


Oleh Gunawan Trihantoro

Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi atau dikenali sebagai Rhazes di dunia barat merupakan salah seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864 – 930. Ia lahir di Rayy, Teheran pada tahun 251 H./865 dan wafat pada tahun 313 H/925. Ar-Razi sejak muda telah mempelajari filsafat, kimia, matematika dan kesastraan. Dalam bidang kedokteran, ia berguru kepada Hunayn bin Ishaq di Baghdad. Sekembalinya ke Teheran, ia dipercaya untuk memimpin sebuah rumah sakit di Rayy. Selanjutnya ia juga memimpin Rumah Sakit Muqtadari di Baghdad. [1]

Ar-Razi: Lentera di Tengah Gelombang - b611fd0e ce11 4667 87c7 81a87c62c406 | Puisi Essay | Potret Online
Baca Juga
#Ulama Nusantara
Apa yang Dilakukan KH Zulfa Mustofa 16 Hari Menjadi Pj Ketua PBNU?
28 Des 2025
Selengkapnya


Di Rayy, kota yang terbakar matahari,
seorang anak menatap langit dengan mata haus,
Muhammad bin Zakariya, darah dan nama yang kelak menggema
melintasi lorong-lorong waktu.

Ayahnya, sang penenun kain, berbisik,
“Ilmu, Nak, adalah benang emas yang takkan pernah putus.”

Ar-Razi: Lentera di Tengah Gelombang - 94b60796 d087 433d 9cd5 92637384fc71 | Puisi Essay | Potret Online
Baca Juga
POTRET Budaya
Jejak Perempuan di Palagan Nusantara (1)
23 Jan 2025
Selengkapnya

Tapi dunia abad ke-9 bukan tempat yang ramah bagi rasa ingin tahu.
Perpustakaan adalah benteng yang dijaga dogma,
sedangkan tubuh manusia, seperti kitab yang dikunci rapat.
Ar-Razi memilih pisau bedah sebagai kunci,
mengiris tabir keangkuhan, mencari jawaban
di balik denyut nadi dan demam yang membara.

-000-

Ar-Razi: Lentera di Tengah Gelombang - 2025 08 10 18 30 10 | Puisi Essay | Potret Online
Baca Juga
Puisi Essay
Merayakan Kemerdekaan Daripada yang Mana Daripada Siapa Nyang Merdeka
10 Agu 2025
Selengkapnya

“Mengapa kau habiskan waktu untuk kotoran manusia?”
tanya seorang ulama, menunjuk tabung urine di tangannya.
Ar-Razi tersenyum,
“Dalam warna kuning ini ada peta penyakit,
lebih jujur daripada kata-kata para bijak.”

Baghdad, 900 Masehi.
Di Baitul Hikmah yang megah, ia menumpahkan racikan
dari kamar besi alkimia,
merubah raksa menjadi obat,
kegelapan menjadi diagnosis.

“Cacar bukan kutukan,” serunya,
“tapi musuh yang bisa dikenali,
dicegah dengan jarum dan kesabaran.”

Suatu malam, saat lilin meleleh di atas meja kayu,
ia menulis di Al-Hawi,
“Kebenaran adalah anak yatim,
tapi kebodohan punya banyak bapak.”

-000-

Para filsuf mengepungnya,
“Kau terlalu memuja akal, Ar-Razi!
Di mana iman?”
Dia menunjuk seorang ibu yang menangis
memeluk anaknya yang kejang,

“Tuhan memberiku akal
untuk menghentikan air mata ini,
bukan berdebat tentang surga
sementara bumi merintih.”

Di rumah sakit Muqtadiri,
ia menggiring revolusi,
tempat tidur pasien diatur menghadap matahari,
luka dicuci dengan air mawar,
dan kegilaan diobati dengan musik,
bukan rantai.

“Jiwa yang sakit,” katanya,
“adalah luka yang bisa dibedah
dengan melodi.”

-000-

925 Masehi. Mata itu akhirnya buta,
tapi pikirannya tetap membara seperti alkimia.
Sebelum wafat, ia berbisik pada muridnya:
“Catat ini,
penyakit menular lewat udara,
logam bisa menjadi obat,
dan langit,
langit selalu lebih luas
dari kitab mana pun.”

Kini, 12 abad kemudian,
dunia masih minum dari sumurnya,
Kimia modern yang lahir dari retortanya,
Psikoterapi dalam gendangnya yang merdu,
Etika kedokteran yang ia tulis dengan darah
dan air mawar.

Di laboratorium-laboratorium mutakhir,
suaranya masih berdesir,
“Ragu-ragulah,
karena keraguan adalah jalan
menuju cahaya.”



Rumah Kayu Cepu, 25 Maret 2025

CATATAN:
[1] Puisi esai ini ditulis dengan inspirasi dari biografi Ar Razi di https://id.wikipedia.org/wiki/Muhammad_bin_Zakariya_ar-Razi.
Abu Bakar Muhammad bin Zakariya ar-Razi (865-925 M), dikenal di Barat sebagai Rhazes, adalah polymath Persia yang menjadi pionir dalam:
a. Kedokteran: Karya Al-Hawi (Ensiklopedia Medis) menjadi rujukan Eropa selama berabad-abad. Ia membedakan cacar dan campur, serta memperkenalkan metode observasi klinis.
b. Kimia: Mengklasifikasi zat kimia menjadi mineral, nabati, dan hewani. Menemukan asam sulfat dan alkohol.
c. Filsafat: Menolak dogma, mendorong metode skeptisisme empiris.
d. Psikologi: Perintis terapi musik untuk gangguan mental.

Pemikirannya memengaruhi Ibnu Sina, Roger Bacon, hingga Renaissance Eropa. Kini, namanya diabadikan di kawah bulan “Rhazes” dan penghargaan medis internasional.

“Dia adalah Galileo-nya dunia Islam,
yang berani mengatakan,
‘Lihatlah, kebenaran ada di ujung pisau bedahmu,
bukan di ujung pedang.'”

  • From “The Physician’s Ode” (2023)
Previous Post

Kedaulatan Rakyat Tersangkut Di Pagar Laut

Next Post

Juwita yang Pergi dalam Sunyi

Next Post
Ar-Razi: Lentera di Tengah Gelombang - 0ab2f45f f06d 4637 be12 47010ef4d7bf | Puisi Essay | Potret Online

Juwita yang Pergi dalam Sunyi

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah