POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Badai di Bawah Pohon Pecan

Gunawan TrihantoroOleh Gunawan Trihantoro
March 26, 2025
Badai di Bawah Pohon Pecan
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh Gunawan Trihantoro


Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah

Langit kelabu menggantung seperti kain kafan. Angin menerpa jendela, membawa gemuruh yang terdengar seperti tawa setan.

Aku menatap kalender di dinding, tanggal merah Idulfitri menjulur seperti lidah api. Jam dinding berdetak bak peluru yang siap menghujam jantung.

Anak-anakku tertawa di ruang tamu, suara mereka merambat di udara lembab. Aku mengepalkan tangan, kuku menghunjam telapak hingga nyaris berdarah.

“Baju baru… uang siap…” gumamku pada cermin retak di kamar. Bayanganku terbelah dua, satu menjerit, satu lagi menangis.

Istriku menyentuh bahuku. Tangannya hangat, tapi aku menggigil. “Kita bisa bikin ketupat dari beras sisa,” bisiknya. Aku membanting sendok kayu, pecahan suaranya seperti letusan granat.

Di gudang, koper tua berdebu menatapku. Tikus menggerogoti tali pengikatnya, mudik hanyalah dongeng sebelum tidur. Makam Bapak pasti sudah ditumbuhi ilalang, kuburanku sendiri yang tak terjamah.

Malam itu, hujan mengguyur atap seng. Aku berlutut di bawah pohon pecan, akarnya menjalar seperti tangan hantu. “Tuhan, ambil saja nyawaku sebelum pagi tiba,” rintihku. Daun pecan berbisik, “kau lebih kuat dari badai”.

Pukul tiga dini hari, lampu kamar anak-anak masih menyala. Kulihat Silvi, si bungsu, melipat kertas menjadi burung-burung kecil. “Ini untuk simbah, Yah,” katanya. Kertas-kertas itu berdesir seperti sayap malaikat yang patah.

Aku membuka laci besi berkarat, paspor, surat nikah, sepucuk surat dari Ibu yang belum terbuka. Tulisannya samar, “Jangan pulang, nak. Ibu di sini sudah damai”. Air mataku menetes di atas kata damai, mengaburkannya jadi noda abu-abu.

📚 Artikel Terkait

Pendidikan Pada Sebuah Persimpangan: Antara Teknologi dan Kemanusiaan

Banjir Lumpur, Karena Tidak Bersyukur?

Ketika Kemampuan Memahami Bacaan Masih Rendah

Air Mata Laut Ibu

Di pasar subuh, aku berdiri di depan lapak bunga kamboja. Wanginya mengingatkanku pada dupa di makam Bapak. Pedagang menawarkan setangkai mawar plastik. “Ini tahan lama,” katanya. Kupeluk erat, durinya menusuk tulang selangka.

Istriku menjahit taplak meja berlubang dengan benang biru. Jahitannya berkelok seperti sungai yang mencari laut. “Lihat, kita punya lautan sendiri,” katanya. Aku menelan getir, lautan kami berisi air mata dan asap kompor.

Anak-anak berkumpul di teras, menyanyikan lagu tentang bulan sabit. Suara mereka menyatu dengan deru angin. Tiba-tiba, hujan berhenti. Seekor kupu-kupu kuning hinggap di rambut Silvi, sayapnya mengibarkan cahaya.

Aku merobek kemeja lamaku, mengguntingnya menjadi saputangan kecil. Tangan ini gemetar, tapi jarum menari sendiri. Lima saputangan, satu untuk setiap anak. Di sudutnya, kusulam inisial mereka dengan benang merah.

“Ini baju baru kita,” kataku saat sarapan. Mereka tertawa, melilitkan kain di leher seperti syal. Rina, si sulung, berbisik, “Yah, kita nggak butuh mall.” Nasi di piringku mengembang menjadi gunung yang tak bisa kudaki.

Telepon berdering. Suara Ibu pecah oleh sambungan yang buruk. “Jangan… pulang…” desisnya. Di belakangnya, kudengar adzan Subuh, suaranya seperti berasal dari dalam sumur.

Aku memetik daun pecan, meremasnya hingga hancur. Getahnya menggumpal di telapak tangan, lengket seperti darah yang mengering. Istriku mendekapku dari belakang. Nafasnya di leherku: “Kita sudah menang.”

Malam terakhir sebelum Idulfitri, anak-anak tidur berpelukan di kasur tipis. Kukelilingi mereka dengan kelambu bekas, kainnya bolong-bolong seperti rasi bintang. Aku berjaga, menghitung detak jam dinding yang kini terdengar seperti detak jantung.

Saat fajar, langit masih abu-abu. Tapi di ujung timur, ada semburat jingga. Aku menyiapkan lima amplop cokelat, di dalamnya, kertas burung Silvi dan selembar daun pecan. Uang saku yang tak terlihat.

“Maafkan Bapak,” kataku saat sungkem. Mereka tertawa, mencium tanganku yang masih berbau getah. “Kita ziarah virtual, Yah,” kata Rina, membuka peta digital makam Bapak. Layar hp berkedip, nama Bapak muncul di antara pixel-pixel hijau.

Pohon pecan bergoyang. Daunnya berjatuhan seperti konfeti. Aku tak tahu apakah ini kemenangan atau gencatan senjata. Tapi hari ini, kami makan ketupat dengan sambal buatan istri, pedasnya membakar lidah, tapi kami tersenyum.

Badai telah berlalu. Atau mungkin hanya berpindah ke dalam dada kami. Tapi selama pohon pecan masih berakar, angin takkan mampu mencabut kami dari tanah ini.


Rumah Kayu Cepu, 25 Maret 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 138x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 98x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Nias 2005: Mengukir Sejarah, Menyelamatkan Arsip

Nias 2005: Mengukir Sejarah, Menyelamatkan Arsip

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00