• Latest
Badai di Bawah Pohon Pecan - 1eaa15b5 5049 46ed 8ecc 1f9d138c85ba | Puisi Essay | Potret Online

Badai di Bawah Pohon Pecan

Maret 26, 2025
Badai di Bawah Pohon Pecan - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Puisi Essay | Potret Online

Geopolitik Empati: Bagaimana Kekuasaan Menentukan Siapa yang Boleh Menderita

April 1, 2026
IMG_0573

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Romantisme Secangkir Kopi

Romantisme Secangkir Kopi 

April 1, 2026
di ujung Magrib

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Badai di Bawah Pohon Pecan - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Puisi Essay | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 1, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Badai di Bawah Pohon Pecan - 1eaa15b5 5049 46ed 8ecc 1f9d138c85ba | Puisi Essay | Potret Online

Badai di Bawah Pohon Pecan

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
Maret 26, 2025
in Puisi Essay
Reading Time: 3 mins read
0
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook


Oleh Gunawan Trihantoro


Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah

Langit kelabu menggantung seperti kain kafan. Angin menerpa jendela, membawa gemuruh yang terdengar seperti tawa setan.

Aku menatap kalender di dinding, tanggal merah Idulfitri menjulur seperti lidah api. Jam dinding berdetak bak peluru yang siap menghujam jantung.

Anak-anakku tertawa di ruang tamu, suara mereka merambat di udara lembab. Aku mengepalkan tangan, kuku menghunjam telapak hingga nyaris berdarah.

“Baju baru… uang siap…” gumamku pada cermin retak di kamar. Bayanganku terbelah dua, satu menjerit, satu lagi menangis.

Istriku menyentuh bahuku. Tangannya hangat, tapi aku menggigil. “Kita bisa bikin ketupat dari beras sisa,” bisiknya. Aku membanting sendok kayu, pecahan suaranya seperti letusan granat.

Baca Juga

a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
Badai di Bawah Pohon Pecan - 8f8c9d08 898d 4718 b745 08d640c03203 | Puisi Essay | Potret Online

Di Antara Takbir dan Keranda

Maret 23, 2026
Badai di Bawah Pohon Pecan - 63b4d1d1 d0e6 4ea7 9676 925e97dc1219 | Puisi Essay | Potret Online

Siapa yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Maret 14, 2026

Di gudang, koper tua berdebu menatapku. Tikus menggerogoti tali pengikatnya, mudik hanyalah dongeng sebelum tidur. Makam Bapak pasti sudah ditumbuhi ilalang, kuburanku sendiri yang tak terjamah.

Malam itu, hujan mengguyur atap seng. Aku berlutut di bawah pohon pecan, akarnya menjalar seperti tangan hantu. “Tuhan, ambil saja nyawaku sebelum pagi tiba,” rintihku. Daun pecan berbisik, “kau lebih kuat dari badai”.

Pukul tiga dini hari, lampu kamar anak-anak masih menyala. Kulihat Silvi, si bungsu, melipat kertas menjadi burung-burung kecil. “Ini untuk simbah, Yah,” katanya. Kertas-kertas itu berdesir seperti sayap malaikat yang patah.

Aku membuka laci besi berkarat, paspor, surat nikah, sepucuk surat dari Ibu yang belum terbuka. Tulisannya samar, “Jangan pulang, nak. Ibu di sini sudah damai”. Air mataku menetes di atas kata damai, mengaburkannya jadi noda abu-abu.

Di pasar subuh, aku berdiri di depan lapak bunga kamboja. Wanginya mengingatkanku pada dupa di makam Bapak. Pedagang menawarkan setangkai mawar plastik. “Ini tahan lama,” katanya. Kupeluk erat, durinya menusuk tulang selangka.

Istriku menjahit taplak meja berlubang dengan benang biru. Jahitannya berkelok seperti sungai yang mencari laut. “Lihat, kita punya lautan sendiri,” katanya. Aku menelan getir, lautan kami berisi air mata dan asap kompor.

Anak-anak berkumpul di teras, menyanyikan lagu tentang bulan sabit. Suara mereka menyatu dengan deru angin. Tiba-tiba, hujan berhenti. Seekor kupu-kupu kuning hinggap di rambut Silvi, sayapnya mengibarkan cahaya.

Aku merobek kemeja lamaku, mengguntingnya menjadi saputangan kecil. Tangan ini gemetar, tapi jarum menari sendiri. Lima saputangan, satu untuk setiap anak. Di sudutnya, kusulam inisial mereka dengan benang merah.

“Ini baju baru kita,” kataku saat sarapan. Mereka tertawa, melilitkan kain di leher seperti syal. Rina, si sulung, berbisik, “Yah, kita nggak butuh mall.” Nasi di piringku mengembang menjadi gunung yang tak bisa kudaki.

Telepon berdering. Suara Ibu pecah oleh sambungan yang buruk. “Jangan… pulang…” desisnya. Di belakangnya, kudengar adzan Subuh, suaranya seperti berasal dari dalam sumur.

Aku memetik daun pecan, meremasnya hingga hancur. Getahnya menggumpal di telapak tangan, lengket seperti darah yang mengering. Istriku mendekapku dari belakang. Nafasnya di leherku: “Kita sudah menang.”

Malam terakhir sebelum Idulfitri, anak-anak tidur berpelukan di kasur tipis. Kukelilingi mereka dengan kelambu bekas, kainnya bolong-bolong seperti rasi bintang. Aku berjaga, menghitung detak jam dinding yang kini terdengar seperti detak jantung.

Saat fajar, langit masih abu-abu. Tapi di ujung timur, ada semburat jingga. Aku menyiapkan lima amplop cokelat, di dalamnya, kertas burung Silvi dan selembar daun pecan. Uang saku yang tak terlihat.

“Maafkan Bapak,” kataku saat sungkem. Mereka tertawa, mencium tanganku yang masih berbau getah. “Kita ziarah virtual, Yah,” kata Rina, membuka peta digital makam Bapak. Layar hp berkedip, nama Bapak muncul di antara pixel-pixel hijau.

ADVERTISEMENT

Pohon pecan bergoyang. Daunnya berjatuhan seperti konfeti. Aku tak tahu apakah ini kemenangan atau gencatan senjata. Tapi hari ini, kami makan ketupat dengan sambal buatan istri, pedasnya membakar lidah, tapi kami tersenyum.

Badai telah berlalu. Atau mungkin hanya berpindah ke dalam dada kami. Tapi selama pohon pecan masih berakar, angin takkan mampu mencabut kami dari tanah ini.


Rumah Kayu Cepu, 25 Maret 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 361x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 358x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 320x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 268x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 215x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro

Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Baca Juga

Badai di Bawah Pohon Pecan - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Puisi Essay | Potret Online
Artikel

Geopolitik Empati: Bagaimana Kekuasaan Menentukan Siapa yang Boleh Menderita

April 1, 2026
IMG_0573
Sejarah

Jejak Darah di Terbangan (Bagian Kedua): Para Tawanan, Hukuman Gantung, dan Pulangnya Sang Ulee Balang

April 1, 2026
feb80617-be76-419c-9e6f-22ef823bed1a
#Amerika

Trump Akan Tarik Pasukan, Tanda Amerika Kalah Perang Lawan Iran

April 1, 2026
Takwa
Artikel

Membumikan Nilai Takwa Pascaramadan

April 1, 2026
Next Post
Badai di Bawah Pohon Pecan - ca7c39f0 08e0 40fa 86ce cbce73f8f0e6 | Puisi Essay | Potret Online

Nias 2005: Mengukir Sejarah, Menyelamatkan Arsip

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com