POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Puisi Essay

Selembar Mukena di Ujung Malam

Refleksi Spiritual dan Sosial di Bulan Ramadhan (7)

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
Maret 9, 2025
in Puisi Essay
0
Selembar Mukena di Ujung Malam - 94e8d667 4801 4d8a 83e0 289ce48469cf | Puisi Essay | Potret Online

Ilustrasi

Oleh Gunawan Trihantoro
Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah

Di sebuah mushala kecil di sudut kota,
seorang perempuan renta melipat mukena,
selembar kain putih yang telah kusam,
namun selalu basah oleh doa dan air mata.

Dulu, mukena itu hadiah dari suaminya,
seorang lelaki yang kini hanya ada dalam kenangan,
ia pergi di suatu Ramadhan bertahun silam,
meninggalkan rindu yang tak pernah usai.

Baca Juga
  • Selembar Mukena di Ujung Malam - 2025 08 20 23 30 43 | Puisi Essay | Potret Online
    Artikel
    Api di Dasar Sumur
    21 Agu 2025
  • Selembar Mukena di Ujung Malam - dc4ec531 cb4c 4fed aa6d 800af8673d74 | Puisi Essay | Potret Online
    Puisi Essay
    Takjil di Jalanan Sunyi
    06 Mar 2025

Setiap malam, di sepertiga yang sunyi,
ia berdiri di hadapan Ilahi,
tak meminta kekayaan, tak memohon umur panjang,
hanya sebuah harapan kecil:
agar di surga nanti, ia kembali bertemu.

Di luar, hujan gerimis menitik pelan,
seorang anak muda masuk ke mushala,
bajunya lusuh, tubuhnya lelah,
tapi matanya mencari tempat bersimpuh.

Baca Juga
  • Selembar Mukena di Ujung Malam - 74894ec2 9b84 4234 94e8 c0dd033fb1de | Puisi Essay | Potret Online
    POTRET Budaya
    Cut Nyak Dien: Nyala Perjuangan yang Abadi
    28 Jan 2025
  • Selembar Mukena di Ujung Malam - 2ad7f848 46bb 4d98 b947 a39461a61b8b 1 | Puisi Essay | Potret Online
    #Tenaga Medis
    Dokter Spesialis Selangkangan
    15 Apr 2025

Ia melihat perempuan renta itu,
tersenyum, lalu mendekat perlahan,
“Ibu, bolehkah saya sholat di sini?”
perempuan itu mengangguk,
dan kembali larut dalam tasbihnya.

Anak muda itu sujud lebih lama dari biasanya,
doanya terdengar lirih,
tentang ibu yang ia tinggalkan di kampung,
tentang ayah yang ia kecewakan,
tentang hidup yang keras di tanah rantau.

Baca Juga
  • Selembar Mukena di Ujung Malam - 2025 06 05 11 02 09 | Puisi Essay | Potret Online
    Puisi Essay
    Dunia Semakin Berisik, Semakin Sedikit Yang Terusik
    05 Jun 2025
  • 02
    Puisi Essay
    Perbatasan yang Merintih
    27 Jul 2025

Perempuan renta itu diam,
namun hatinya bergetar dalam keharuan,
di dalam kesendirian, ia menemukan kepedihan orang lain,
dan dalam kepedihan orang lain, ia menemukan dirinya.

Ketika adzan Subuh menggema,
ia bangkit, menatap anak muda itu,
lalu menyerahkan selembar mukena,
“Ini bukan milikku, ini hanya titipan,
pakailah, dan berdoalah untuk mereka yang kau rindukan.”

Anak muda itu menerima dengan tangan gemetar,
ia menatap mukena itu dengan mata berkaca,
lalu tersenyum,
untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

Di Ramadhan yang sunyi,
di mushala kecil yang sederhana,
dua jiwa bertemu dalam doa,
dan Tuhan menyaksikan,
bahwa kasih sayang-Nya selalu hadir di antara mereka.


Rumah Kayu Cepu, 7 Maret 2025.

Previous Post

Belajar Kejujuran di Sekolah?

Next Post

Benturan Peradaban Barat Dengan Agama Akan Membuat Islam Semakin Berjaya dan Berkembang Pesat di Masa Mendatang

Next Post
Selembar Mukena di Ujung Malam - 96702e2a 05af 4cbb 87f6 21959e7921a5 | Puisi Essay | Potret Online

Benturan Peradaban Barat Dengan Agama Akan Membuat Islam Semakin Berjaya dan Berkembang Pesat di Masa Mendatang

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah