Dengarkan Artikel
Oleh Don Zakiyamani
Suatu hari bersama Bara ngobrolin soal mantannya. Sambil menghadirkan rezeki, Bara cerita soal mantannya yang kini masih bersarang di hatinya. Ia bercerita soal peluang besar yang lenyap karena ketidakberanian.
Ya, seperti pinalti yang tidak gol. Bukan karena penjaga gawang hebat namun bola melambung ke udara mencari bintang di siang hari.
Berdasarkan ingatan Bara, ia dan Afna sejatinya punya peluang bersama. Menikah dan punya anak 11 orang barangkali, seperti kisah-kisah romansa di novel, cerpen, TV, maupun mitologi Yunani.
Namun kisahnya tak begitu, meski sempat dekat dengan Afna, ia malah ditinggal kawin.Tidak ada yang salah, semua lumrah dalam dunia.kenyataan. Tidak semua mimpi menjadi kenyataan, tidak semua kenyataan diawali mimpi.
Pastinya, Bara begitu bahagia ketika menceritakan kisah orang yang dicintai. Malam itu, ia bercerita seolah-olah ada Afna di depan kami. Begitulah psikologis manusia yang masih mencintai meski ia pasti membantah.
Faktanya, setiap kali membicarakan Afna, akan tampak wajah Bara yang ceria. Senyum sesekali sebagai tanda sedang mengingat kisah-kisah romantis di masa lalu. Sesekali nada menyesal hadir, suaranya agak lirih, hening, wajah penuh penyesalan.
Sebenarnya kisah ini banyak terjadi dan biasa saja. Kenangan bersama mantan itu patut dikenang atau dibuang, itu pilihan. Setiap orang punya konsep berbeda soal mantan.
Pastinya, mantan adalah seseorang yang berkontribusi dalam kisah hidup kita. Entah itu baik atau tidak menurut kita, ia hadir atas izin Yang Maha Kuasa. Tentu distempel oleh kita pula. Sehingga tak perlu menyesali sesuatu yang pernah kita nikmati.
Jangan hanya melihat ending yang tak indah, senyumin saja hasil akhir. Karena sebuah akhir adalah awal dari yang akan kita jalani. Syukur saja. Itu lebih berguna bagi kesehatan jiwa dan badan. Dengan demikian, pikiran jernih melihat ke depan.
Bila pikiran jernih, air yang keruh sekalipun dapat dijadikan air bersih sebagaimana PDAM lakukan selama ini. Namun bila pikiran keruh, air mineral sekalipun enggan kita minum hingga datang penyakit ginjal dan penyakit badaniah lainnya.
Bara kembali menarik nafas, sebatang rokok kretek di tangan. Ia seolah sedang membuka folder Afna, ada beberapa file menarik di dalamnya. Misalnya file saat karokean di sebuah hotel mewah. Afna menyanyikan sebuah lagu yang seolah tanda bahwa ia terlalu lama menunggu di halte harapan.
Bara kembali menarik nafas. Kembali nada penyesalan hadir. Barangkali begitu mendalam. Namun bak pepatah mengatakan; ‘dalamnya lautan dapat diukur dalamnya hati manusia siapa yang tahu’. Saya tak ingin berspekulasi soal hati Bara malam itu.
Namun demikian, rasa lelah seharian mengais rezeki seolah lenyap. Bara semangat bercerita soal mantan yang paling berkesan itu. Sebelumnya Bara juga bercerita soal mantannya yang masih menghubungi. Bahkan saat si mantan sudah hamil, sontak Bara marah pada mantannya sembari memberi nasehat.
“Jangan lagi hubungi saya, belajarlah mencintai suamimu”, ucap Bara dengan nada tegas. “Sudah biasa makan bakso, kok mie bangladesh terasa kurang pas”, begitu alasan mantan pada Bara. Namun Bara berkata; ” makan saja mie bangladesh, syukuri yang ada”, tegas Bara.
Episode ini berakhir malam itu, ucap Bara kepada saya sambil tersenyum. Ya, Bara tampak sadar, si mantan sudah milik pria lain. Ia tak ingin mengambil kesempatan di saat mantan datang penuh penyesalan.
Meski bubur tetap dapat dimakan dengan berbagai varian, Bara lebih memilih nasi ketimbang nasi yang sudah menjadi bubur. Kehidupan memang penuh dinamika. Menikmati dinamika butuh rasa syukur. Tidak perlu sedu-sedan yang bisa bikin edan. Toh hidup ini singkat, mengapa harus disia-siakan dengan penyesalan yang tiada akhir.
Sejatinya sedih dan senang levelnya sama, sebuah rasa yang tidak abadi. Silakan senang tapi jangan terlalu, silakan sedih secukupnya. Keduanya akan berganti, cepat maupun lambat.
Seorang ibu yang melahirkan anak, di awalnya penuh rasa sakit namun begitu si bayi lahir, ibu pun senang. Padahal, baru saja ibu mempertaruhkan nyawanya.
Lihatlah mereka yang begitu senang saat menang pilkada, dan begitu sedih saat kalah. Sebentar saja, hal itu akan berganti. Meski kalah, ia akan merasakan senang. Bisa fokus dengan istri dan anak sambil ngopi di manapun.
Pemenang, meski senang, akan diatur jadwal. Ia kehilangan kebebasan. Anak-istri bisa lebih sedih karena sulit ketemu dan becanda dengan ayah mereka.
Demikian pula dengan mantan Bara. Awalnya begitu senang menikah, ternyata harapan tak sesuai kenyataan. Ia pun bersedih. Sementara Bara malah sebaliknya. Lebih bahagia setelah berpisah dari mantannya itu.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini




