• Latest
Pujian Penebas Leher

Pujian Penebas Leher

Februari 19, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Pujian Penebas Leher

Akmal Nasery Basralby Akmal Nasery Basral
Februari 19, 2025
Reading Time: 3 mins read
Tags: Pujian
Pujian Penebas Leher
593
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

SKEMA
(Sketsa Masyarakat)


Akmal Nasery Basral*

Baca Juga

Konsistensi POTRET Dalam Merawat Literasi Anak Bangsa

Konsistensi POTRET Dalam Merawat Literasi Anak Bangsa

Januari 18, 2026
Mengintip Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi

Mengintip Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi

Januari 2, 2026
Tahun Baru yang Sunyi di Kampung

Tahun Baru yang Sunyi di Kampung

Januari 2, 2026

1/
Ketika seorang pemimpin yang baru berkuasa memuji setinggi langit pemimpin yang digantikannya, apa yang sebenarnya terjadi? Ada beberapa kemungkinan.

Pertama, kekaguman tulus atas pencapaian pemimpin sebelumnya. Kedua, ekspresi terima kasih atas warisan kepemimpinan yang memudahkan melanjutkan program selanjutnya. Ketiga, bentuk manipulasi sosial-psikologis atas kondisi—meminjam istilah psikolog Harriet Braiker—“kedangkalan pesona” ( superficial charm) yang diterima penerima pujian dan membuat pemberi pujian rikuh mengatakan yang sebenarnya sehingga memilih untuk mengatakan ‘apa yang ingin didengar’ oleh penerima pujian. Keempat, manipulasi psikologis bernuansa ekonomis-transaksional seperti ungkapan bahasa Inggris “ paying someone with a compliment” karena sang pemberi pujian mendapatkan jabatannya dengan bantuan dari orang yang dipujinya.

Penelitian masyhur tentang pujian yang dilakukan Naomi Grant, guru besar psikologi Mount Royal University, Kanada, pada 2010, menunjukkan bahwa 79 persen penerima pujian akan suka rela memberikan bantuan kepada pemberi pujian. Itu untuk konteks dunia pendidikan (baca: nonpolitik).

Bayangkan dunia politik yang penuh kepentingan tersembunyi dan terang-terangan untuk meraih kekuasaan, bisa dipastikan tingkat “kesukarelaan memberikan bantuan” akan lebih tinggi dari 79%. Maka akan terjadi hiperinflasi pujian saat para politisi saling memuji, sementara kondisi lapangan jauh panggang dari api. Tak sesuai kenyataan dengan manisnya pujian.

Gandrung terhadap pujian juga menunjukkan gejala grandiose narcissism , rasa cinta terhadap diri sendiri yang terlalu muluk, dengan melebih-lebihkan keberadaan, martabat, dan kontribusi seseorang yang sejatinya tidak sehebat dalam pujian.

Tersebab itu untuk urusan tanggung jawab pemimpin kepada publik, Santo Agustinus dari Hippo yang hidup di abad kelima Masehi pernah mengingatkan para penguasa dan pemuka agama bahwa, “Dalam melakukan apa yang seharusnya kita lakukan, kita tidak pantas mendapat pujian, karena itu adalah tugas kita.”

Dalam mahfuzat bahasa Arab ada ungkapan sejenis yang menyatakan “la syukran ‘ala wajib (لا شكر على واجب)” yang bermakna tak diperlukan terima kasih untuk sebuah kewajiban. Misalkan ada seseorang yang menyampaikan terima kasih kepada seorang pemimpin (bupati, gubernur, presiden atau CEO) atas kerja kerasnya melaksanakan tugas, maka sang pemimpin cukup menjawab “la syukran ‘ala wajib”. Don’t thank me, it’s my duty.

2/
Pujian orang tua terhadap anak mereka yang belajar dengan keras, atau pujian seorang atasan kepada anak buahnya yang mampu mencapai target kerja tertentu, bersifat organik seperti ketika seseorang mendapatkan makanan di kala lapar atau minuman ketika haus. Hasilnya muncul energi lanjutan untuk berbuat lebih baik lagi.

Namun pujian memiliki mata pedang tersembunyi jika digunakan sebagai manipulasi psikologis atau sekadar basa-basi sosial yang tak sesuai realita. Hasilnya akan muncul arogansi dan keyakinan semu dari penerima pujian tentang kehebatan dirinya. Ini yang sangat dikhawatirkan Nabi Muhammad ﷺ ( peace be upon him) terjadi pada umat manusia.

Maka ketika beliau ﷺ (pbuh) mendengar seorang sahabat memuji sahabat lain secara terbuka, komentarnya adalah “ Waihaka! Qata’ta ‘unuqa shahibika ”. Celaka! Engkau telah menebas leher kawanmu. (Shahihain, HR Bukhari #6061 dan HR Muslim #3000). Dalam hadits yang lain, Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk “melemparkan debu ke wajah orang yang suka memuji” (HR Muslim #3002).

Sifat dasar pujian itu adalah melenakan, memabukkan, membuat lalai. Apalagi pujian dalam aroma parfum kekuasaan. Maka, pemimpin yang baik dan mengerti hakikat kekuasaan (sementara) yang sedang dijabatnya tak akan umbar pujian. Pun pemimpin yang baru turun jabatan tak akan mudah bungah menerima pujian.

Mereka harus belajar, dan terus belajar, untuk mengatakan dengan tulus dan rendah hati. “ Don’t thank me, it’s my duty.” La syukran ‘ala wajib.

19 Februari 2025

*Penerima Anugerah Sastra Andalas 2022 kategori Sastrawan/Budayawan Nasional

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 355x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 314x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 265x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 259x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
KaburAjaDulu “Bila Perlu Tak Usah Pulang”

KaburAjaDulu "Bila Perlu Tak Usah Pulang"

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com