HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025
Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025
Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Kisah Hanifah

Redaksi by Redaksi
Februari 15, 2025
in Suara Siswa
Reading Time: 3 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel


Oleh Dwi Sutarjantono,

Baca Juga

No Content Available

Namanya Hanifah. Sederhana, seperti embun pagi yang turun tanpa suara, namun menyegarkan bumi yang kering. Tidak memiliki ejaan yang rumit seperti kebanyakan nama remaja seusianya. Wajahnya pun sederhana, tapi matanya tajam, bagaikan nyala obor di tengah malam gelap, memberi petunjuk ke mana arah kebenaran.

Di saat dunia pendidikan tenggelam dalam pusaran kebijakan yang tak tersentuh, Hanifah muncul sebagai riak kecil yang berani menantang arus. Siswi kelas 12 di SMAN 7 Cirebon ini mungkin tak pernah membayangkan bahwa langkah kecilnya akan bergema di seluruh negeri. Saat dihadapkan pada ketidakadilan, ia memilih berbicara. Bukan sekadar untuk dirinya sendiri, tetapi untuk kebenaran yang lebih besar.

Sebagai anak ASN penerima Program Indonesia Pintar (PIP), Hanifah seharusnya paham tata krama: diam, tunduk, menerima. Tapi Hanifah memilih sebaliknya. Mulut yang seharusnya terbungkam, justru membuka kenyataan yang tak ingin didengar banyak orang. Sebagian dari dana itu dipangkas oleh tangan-tangan yang mengatasnamakan partai politik, dengan dalih untuk “kelancaran” pencairan. Bagi banyak siswa, pemotongan ini dianggap sebagai takdir, seperti hujan yang turun tanpa bisa dicegah. Tapi tidak bagi Hanifah.

Ketika sebagian besar memilih tunduk, ia berdiri tegak. Suaranya yang lantang membelah kebisuan, seperti lonceng gereja yang berdentang di tengah malam, membangunkan mereka yang tertidur dalam kebungkaman. Ia mengungkap praktik curang ini kepada Gubernur Jawa Barat terpilih, Dedi Mulyadi. Hanifah tidak berbicara dengan amarah, tetapi dengan keteguhan hati yang tak tergoyahkan. Ia tahu bahwa diam berarti membiarkan ketidakadilan berakar semakin dalam. Dan keberaniannya pun tak sia-sia. Kata-katanya mengguncang banyak pihak dan menguak tabir kejanggalan dalam distribusi dana bantuan pendidikan.

Hanifah adalah bunga liar yang tak memilih tanah tempatnya tumbuh. Ia mekar di antara reruntuhan, menantang semak berduri yang ingin mencekiknya. Ia tidak meminta izin untuk mekar, tidak tunduk pada aturan yang hanya menguntungkan mereka yang rakus. Keberaniannya seperti burung kecil yang menantang angin topan, mengepakkan sayapnya di langit yang tak menjanjikan perlindungan. Tapi ia terus terbang, sebab menyerah bukan pilihannya. Namun, justru karena langka, anak-anak seperti Hanifah harus kita jaga. Mereka adalah percikan kecil yang, jika dibiarkan redup, akan hilang ditelan kerakusan sistem.

Berbicara kebenaran bukanlah perkara mudah. Ada harga yang harus dibayar. Pandangan sinis, tekanan dari mereka yang merasa terusik, bahkan ancaman yang mengintai di balik bayang-bayang. Tapi itulah risiko yang harus dihadapi oleh mereka yang memilih untuk tidak tinggal diam. Hanifah telah membuktikan bahwa keberanian lebih berharga daripada ketakutan.

Kisah Hanifah bukan sekadar tentang seorang gadis yang berani berbicara. Ini adalah refleksi dari realitas yang sering kita abaikan. Tentang bagaimana korupsi merayap seperti akar pohon tua, menggerogoti sistem yang seharusnya menopang masa depan generasi muda. Ia mengajarkan bahwa perubahan tidak selalu datang dari mereka yang memiliki kekuasaan, tetapi sering kali dari suara kecil yang cukup berani untuk didengar.

Di usia yang masih belia, Hanifah telah menjadi mercusuar keberanian. Ia mengingatkan kita bahwa setiap individu memiliki kekuatan untuk melawan ketidakadilan, bahwa kebenaran selalu layak diperjuangkan. Namun, keberanian seperti ini tidak boleh dibiarkan sendirian. Hanifah dan anak-anak sepertinya adalah nyala api kecil yang harus kita lindungi, agar tidak padam sebelum sempat menerangi dunia, agar tidak tenggelam sebelum sempat menyentuh langit. Sebab tanpa mereka, kita hanya akan terus hidup dalam sunyi yang menghamba pada kebobrokan.

Hanifah, namamu memang sederhana. Tapi keberanianmu tidak. Suaramu kecil, tapi menggema panjang. Pilihanmu sederhana, tapi berat: mengungkap kebenaran, meski dunia lebih nyaman dalam kebohongan.

(Dwi Sutarjantono, Penulis/Mind Programmer/Sekretaris Umum Satupena DKI)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 351x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 307x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 267x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 221x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 185x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Artikel

Hari Raya di Tengah Krisis Timur Tengah: Luka Aceh dan Kemiskinan yang Terabaikan

Maret 18, 2026
Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman
Artikel

Belajar Menabung dari Surah Yusuf: Iktibar di Tengah Ketidakpastian Global

Maret 18, 2026
Koperasi Merah Putih: Ketika Lilin Ekonomi Desa Ragu Menyala
Dinas Koperasi

Koperasi Merah Putih: Ketika Lilin Ekonomi Desa Ragu Menyala

Maret 18, 2026
Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh
Aceh

Pak Bisa Minta Tolong Mendorong Helikopter?

Maret 18, 2026
Next Post
Sarjana Dalam Gendongan

Mengajak Anak Menulis Traveling Notes

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com