• Latest
Perempuan dalam Buaian Pinjol

Perempuan dalam Buaian Pinjol

Februari 12, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Perempuan dalam Buaian Pinjol

Redaksiby Redaksi
Februari 12, 2025
Reading Time: 4 mins read
Tags: #Puisi#Puisi EssayPerempuan
Perempuan dalam Buaian Pinjol
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Mila Muzakkar (Puisi Esai ini mengangkat kisah perempuan yang mengalami depresi hingga bunuh diri karena menjadi korban pinjaman online/pinjol) Malam itu, lampu kamarnya redup,seredup harapannya menjemput hari esok.Bola matanya tak beranjak dari layar ponselnya,Di sana terpampang jelas angka Rp. 15.000.000 Jemari-jemarinya bergetar, nafasnya sesak.Nita, perempuan berusia tiga puluh tahun, terus memandangi ponselnya.Ia tak merasa […]

Oleh Mila Muzakkar

(Puisi Esai ini mengangkat kisah perempuan yang mengalami depresi hingga bunuh diri karena menjadi korban pinjaman online/pinjol)


Malam itu, lampu kamarnya redup,
seredup harapannya menjemput hari esok.
Bola matanya tak beranjak dari layar ponselnya,
Di sana terpampang jelas angka Rp. 15.000.000

Jemari-jemarinya bergetar, nafasnya sesak.
Nita, perempuan berusia tiga puluh tahun, terus memandangi ponselnya.
Ia tak merasa berhutang, namun kini tagihan datang padanya.

“Sayang, maafkan Abang. Bulan lalu, Abang pinjam uang Rp. 15.000.000 di aplikasi pinjol. Kamu bantu cariin uang untuk bayar utang ini, ya!” Ia membuka kembali pesan Whatsapp dari Sultan, suaminya.

Di balik jendela kamar, ia menatap langit hitam,
daun-daun kering beterbangan tertiup angin kencang.

Suaminya, tak kunjung pulang,
Ia ingin segera menanyakan perihal utang yang tak diketahuinya.
Malam itu, Nita tak bisa tidur.


Esoknya, lelaki yang ia nantikan baru menampakkan batang hidungnya.
Aroma khas tuak tercium dari mulutnya,
matanya merah, tubuhnya sempoyongan.

“Abang habis minum ya?” dengan kelembutannya, sang istri memapah suaminya duduk di kursi rotan.

Matanya sepat, laki-laki itu, menggenggam tangan istrinya.
“Maafkan Abang ya, dek,” suaranya bergetar. “Abang ikut judi online untuk kamu dan anak-anak. Tapi Abang kalah.”

Nita melepas genggaman tangan suaminya, “Ya Tuhan, Abang kenapa main judi sih? Abang narik ojol tiap hari aja, kita sudah bisa makan.”

Lelaki itu meraih lagi tangan istrinya, wajahnya memelas, “sekarang Abang nggak bisa narik lagi. Motornya ditarik sama kantor. Bantu Abang ya cari pinjaman.”

Langit seperti runtuh tepat di hadapan perempuan itu.
Hatinya kembali redup,
suaminya yang dulu adalah tumpuan,
Kini menghadiahinya dengan tumpukan beban hutang.


Hari-hari, ia mendengar ketukan pintu,
para penagih datang dengan lembaran kertas utang.

Nita harus menghadapinya, menanggungnya bersama kedua anak kecilnya.
Sementara suaminya, melepas beban di udara.

Di dapur, hanya tersisa seliter beras dan dua butir telur.
Token listrik pun sekarat.

Perempuan itu membisu, tak berdaya,
sejak kecil ia dididik hanya mengurus dapur, sumur, dan kasur.
Sebab akan ada laki-laki yang mengurusnya, menyiapkan semua kebutuhannya, katanya.

Nyanyian-nyanyian burung itu kini terbang menguap di udara,
Ia hanya mitos-mitos belaka yang terus diwariskan.
Nyatanya, perempuan itu harus berpijak di kakinya sendiri,
menatap dunia yang penuh tuntutan budaya patriarki.


Nita menggenggam ponselnya,
menenggalamkan diri, berharap melupakan masalahnya sejenak.

Di sana, ia temukan dunia yang menjanjikan,
janji kebebasan, kemenangan, dalam hitungan detik.
Aneka iklan pinjol berkejar-kejaran.
“Mungkin ini solusinya, pinjol,” batinnya.

Jemari-jemarinya mulai mengembara,
menggengam janji-janji surga.
Tombol-tombol angka ia pencet, dua ratus ribu, lima ratus ribu, hingga jutaan.

Janji itu terpenuhi, ia temukan solusi,
nafasnya tersambung dari bantuan pinjol.
Ia, suami, dan anak-anaknya bisa menyantap hidangan di meja.

Berhari-hari perempuan itu menghabiskan waktu di layar ponselnya,
Jari-jarinya terus menari di lembah aplikasi pinjol.
Tali harapan hidup ia gantungkan di sana,
tanpa ia sadari, angka-angka pinjamannya berlipat ganda.

Baca Juga

76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
5de97004-0731-46d3-b7a2-38575dadc077

Serangkai Puisi Putri Nanda Roswati

Maret 28, 2026
ADVERTISEMENT

Matahari mulai mengintip,
sinarnya membawa janji kebahagiaan.
Namun sebelum siang tiba, langit berubah kelam, menghapus semua harapan yang baru terbit.

Ketukan pintu kembali berulang,
kali ini lebih keras, lebih kejam.
para penagih datang membawa lembaran bukti utang.
Teriakan tetangga mendengung keras,
ancaman nyawa dari algojo-algojo pemilik aplikasi pinjol menderu kencang.

Ia berusaha tenang,
namun kecaman dan ancaman yang datang lebih tajam dari pisau belati.
Pertahanannya jebol, perempuan itu menyerah.

Di luar, hujan begitu deras,
sederas air mata Sultan dan kedua anaknya.
Di antara panci dan beras,
perempuan yang sehari-hari mengurus dapur, sumur, dan kasur, kini terbujur kaku.
Di tangannya, tampak sebotol racun tikus.

Nita, tak lagi perlu menghadapi para penagih-penagih itu.
Buaian aplikasi pinjol memaksanya mengambil jalan pembebasan yang tak seharusnya ia pilih.

Depok, 12 Februari 2025

Catatan
(1) Berdasarkan data OJK, dari jumlah outstanding pinjaman perseorangan per September 2023, 50% lebih pelaku pinjol adalah perempuan.
(2) https://regional.kompas.com/read/2023/02/15/062234378/terlilit-pinjol-perempuan-di-kabupaten-bogor-bunuh-diri?page=all
(3) https://www.metrotvnews.com/read/kj2Cn3x3-1-keluarga-bunuh-diri-diduga-akibat-terlilit-pinjol-ini-respons-menteri-pppa

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 255x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Harapan Rakyat Jelata untuk Gubernur Baru Aceh

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com