• Latest
Dewi Sartika: Lentera Priangan yang Tak Padam

Dewi Sartika: Lentera Priangan yang Tak Padam

Februari 1, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Dewi Sartika: Lentera Priangan yang Tak Padam

Jejak Perempuan di Palagan Nusantara

Gunawan Trihantoroby Gunawan Trihantoro
Februari 1, 2025
Reading Time: 2 mins read
Dewi Sartika: Lentera Priangan yang Tak Padam
591
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 

Oleh Gunawan Trihantoro
(Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah)

Seorang perempuan muda menjadi salah satu kontributor untuk suatu komisi tentang perbaikan derajat perempuan pada 1912. Melalui esainya, ia mengkritik kolotnya pandangan kaum feodal Sunda terhadap perempuan. Ia juga menyinggung pentingnya pendidikan bagi perempuan. [1]
***

Di tanah Parahyangan yang sarat harmoni,
Berdiri seorang perempuan melawan arus tradisi.
Ia bukan sekadar nama di lembar sejarah,
Namun jiwa yang menyala dalam gelapnya waktu.

Dewi Sartika, sang putri dari bumi Sunda,
Tumbuh dalam bayang adat yang melilit.
Di balik senyumnya yang teduh,
Ada impian yang melangit,
Untuk kaum perempuan yang terpasung,
Dalam sunyi tanpa pengetahuan.

Ayahnya, Raden Rangga Somanagara,
Seorang priyayi dengan jiwa merdeka.
Namun rintangan datang kala tirani menguasa,
Kehilangan ayah tak memadamkan bara.
Dari ibunya, Raden Ayu Rajapermas,
Ia belajar ketangguhan wanita Priangan,
Yang memeluk kearifan namun melawan kebisuan.

Di rumah pamannya, ia menempa diri,
Bukan sekadar menjadi bunga penghias.
Namun menjadi lentera yang bercahaya,
Menggapai impian bagi mereka yang terlupa.
Ia belajar menulis, membaca, dan bicara,
Dalam bahasa ibu dan bahasa penjajah.
Baginya, ilmu adalah senjata,
Untuk memecah rantai ketidaktahuan.

-000-

Pada 16 Januari 1904,
Di bawah langit Bandung yang megah,
Berdirilah Sakola Istri, harapan bagi kaum hawa.
Bukan sekadar ruang untuk belajar,
Namun tempat bagi perempuan Priangan,
Membuka mata dan hati,
Menggenggam masa depan yang tak hanya jadi bayang.

Dewi Sartika mengajarkan kehidupan,
Bukan hanya dalam wujud aksara,
Namun bagaimana bertahan di tengah badai.
Menganyam keterampilan,
Membentuk karakter dalam etika luhur,
Menolak tunduk pada adat yang kolot.

Baca Juga

8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026

“Perempuan harus berdiri sejajar,”
Ucapnya di tengah hembusan angin malam.
“Karena cahaya tak pernah memilih,
Siapa yang pantas untuk disinari.”

Namun jalan yang ia tempuh tak pernah mudah,
Cercaan datang dari adat yang terluka.
Bagaimana mungkin seorang perempuan,
Menentang garis leluhur yang sakral?

Namun Dewi Sartika tahu,
Cahaya tak bisa dipadamkan oleh bayangan.
Ia berdiri teguh, berani, dan yakin,
Bahwa masa depan harus diperjuangkan,
Meski tangan harus terluka memegang obor.

-000-

Di bawah langit Sunda yang biru,
Ada luka yang menggantung di hati.
Poligami yang diterima adat,
Bagi Dewi Sartika adalah duri.
Bagaimana mungkin cinta menjadi belenggu,
Yang membagi hati tanpa pengertian?

Namun ia tak hanya diam,
Ia lawan melalui kata dan tindakan.
“Perempuan bukan pelengkap kehidupan,”
Katanya pada mereka yang tuli.
“Namun adalah jiwa yang setara,
Dengan hak untuk bermimpi dan memilih.”

Di tengah badai patriarki,
Ia membawa payung keberanian.
Bagi Dewi Sartika,
Perempuan harus mampu berjalan,
Bukan di belakang, namun di sisi,
Menatap dunia dengan mata terbuka.

-000-

Dewi Sartika tak pernah berhenti,
Hingga akhir hayatnya di Tasikmalaya,
Ia adalah lentera yang terus menyala.
Meskipun tubuhnya terkubur dalam tanah,
Namun jiwanya hidup dalam langkah perempuan Priangan,
Yang melangkah ke depan tanpa gentar.

Kini, namanya menjadi cerita,
Dari bibir ke bibir, dari buku ke buku.
Ia adalah simbol bahwa perempuan,
Bisa menjadi penentu perubahan.
***

ADVERTISEMENT

Rumah Kayu Cepu, 27 Januari 2025

CATATAN:
[1] Puisi esai ini diinspirasi dari kisah Dewi Sartika, pelopor pendidikan bagi perempuan di tanah Sunda, dengan mendirikan Sakola Istri pada 16 Januari 1904.
https://tirto.id/dewi-sartika-pendidik-dari-priangan-melawan-adat-kolot-poligami-cH1v

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Pisau Bermata Dua itu Bernama “AI”

Pisau Bermata Dua itu Bernama “AI”

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com