Selasa, April 14, 2026

Dari Mimbar ke Mesin Negara

Dari Mimbar ke Mesin Negara - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Artikel | Potret Online
Ilustrasi: Dari Mimbar ke Mesin Negara

Mengapa Pendidikan Islam Harus Melahirkan Penggerak Sistem

Oleh: Dayan Abdurrahman

Kita mungkin sedang hidup dalam salah satu ironi terbesar dalam sejarah umat: semakin religius secara simbolik, tetapi belum sepenuhnya berdaulat secara sistemik. Di Aceh, masjid penuh, ceramah hidup, dan pesantren berkembang. Namun di luar itu, kita masih menyaksikan persoalan yang berulang—ketimpangan pendidikan, lemahnya tata kelola, dan ketergantungan ekonomi yang belum terputus. Pertanyaannya tidak lagi sederhana: apakah kita kurang agama, atau kita belum tahu bagaimana menjadikan agama bekerja dalam sistem?

Selama ini, agama lebih banyak hadir sebagai kompas moral, bukan sebagai mesin penggerak. Kita diajarkan kejujuran, tetapi sistem belum sepenuhnya memberi ruang bagi orang jujur untuk bertahan. Kita diajarkan keadilan, tetapi mekanisme keadilan belum sepenuhnya berpihak. Di sinilah letak persoalan yang sering luput: agama diajarkan sebagai etika personal, bukan sebagai arsitektur sosial.

Padahal, dalam Al-Qur’an, manusia tidak hanya diperintahkan untuk beribadah, tetapi juga untuk memakmurkan bumi. Memakmurkan berarti mengelola, dan mengelola berarti memahami sistem—dari kebijakan publik hingga struktur ekonomi. Tanpa itu, agama hanya berhenti sebagai niat baik, bukan kekuatan yang mengubah realitas.

Masalah ini diperparah oleh dualisme pendidikan yang masih kita pelihara. Pesantren membentuk manusia dengan kedalaman spiritual, tetapi sering kali tidak mengantarkan mereka ke ruang-ruang kekuasaan dan kebijakan. Sebaliknya, universitas modern melahirkan profesional yang menguasai sistem, tetapi tidak selalu memiliki akar nilai yang kuat. Akibatnya, kita seperti memiliki dua dunia yang tidak saling berbicara—yang satu menjaga moral, yang lain mengelola negara.

Ibarat sebuah tubuh, kita memiliki jantung yang kuat tetapi sistem saraf yang tidak terkoordinasi. Energi ada, tetapi arah tidak jelas. Niat baik melimpah, tetapi eksekusi sering kali tersendat.

Di tengah kondisi ini, menarik melihat bagaimana Iran membangun model yang berbeda. Terlepas dari berbagai kritik terhadap sistem politiknya, ada satu hal yang patut dicermati secara objektif: mereka berusaha mengintegrasikan agama dengan kekuasaan dan pengetahuan. Ulama tidak hanya berdiri di mimbar, tetapi juga duduk di meja strategi. Mereka tidak hanya berbicara tentang halal dan haram, tetapi juga tentang teknologi, pertahanan, dan kedaulatan.

Hasilnya bukan sekadar simbol. Di bawah tekanan global dari Amerika Serikat dan Israel, negara tersebut tetap bertahan, bahkan berkembang di sektor-sektor strategis. Ini menunjukkan satu hal penting: ketika nilai bertemu dengan sistem, lahirlah daya tahan.

Namun pelajaran dari sana bukan untuk ditiru mentah-mentah, melainkan untuk dipahami esensinya. Kekuatan tidak lahir hanya dari keyakinan, tetapi dari kemampuan mengorganisasi keyakinan itu menjadi struktur yang bekerja.

Di sinilah pendidikan menjadi medan paling menentukan. Selama pendidikan Islam masih memisahkan antara “agama” dan “dunia”, maka hasilnya akan selalu timpang. Kita akan terus melahirkan orang baik yang tidak berdaya dalam sistem, dan orang berdaya yang tidak sepenuhnya dibimbing oleh nilai.

Yang kita butuhkan adalah generasi baru: manusia yang ketika berbicara tentang fiqh juga memahami anggaran negara, yang ketika membahas keadilan juga mampu merancang kebijakan, yang ketika memimpin tidak hanya cerdas secara teknis tetapi juga jernih secara moral.

Aceh memiliki peluang historis untuk memulai lompatan ini. Dengan identitas keislaman yang kuat dan tradisi pendidikan yang hidup, Aceh bisa menjadi laboratorium bagi model pendidikan Islam integratif—yang tidak hanya melahirkan penjaga iman, tetapi juga pengelola sistem.

Bayangkan seorang lulusan yang mampu membaca kitab klasik sekaligus membaca data statistik, yang mampu berdakwah di mimbar sekaligus merancang kebijakan di ruang pemerintahan. Inilah tipe manusia yang dibutuhkan di era modern: bukan sekadar alim, bukan sekadar pintar, tetapi mampu menghubungkan keduanya.

Pada akhirnya, peradaban tidak dibangun hanya oleh niat baik, tetapi oleh kemampuan mengubah niat itu menjadi sistem yang bekerja. Dan sistem tidak akan berubah jika tidak ada manusia yang mampu memahaminya sekaligus mengendalikannya.

Jika pendidikan Islam berhasil melahirkan generasi seperti itu, maka dakwah tidak lagi berhenti sebagai suara. Ia akan menjadi struktur. Ia akan hadir dalam kebijakan yang adil, dalam ekonomi yang berkeadilan, dan dalam negara yang benar-benar mencerminkan nilai-nilai yang selama ini kita yakini.

Di titik itulah, agama tidak lagi sekadar diyakini.
Ia menjadi kekuatan yang menggerakkan sejarah.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist