Tidak Semua Anak Menjadi Berita: Bias Media Barat di Gaza, Iran, dan Ukraina
Ketika kematian anak-anak Ukraina mendominasi berita utama, anak-anak yang dibunuh di Palestina dan Iran tetap menjadi ”korban” tanpa nama dalam dinamika geopolitik.
Oleh Teuku Johar Gunawan*
Setelah Hamdalah dan Shalawat, mari kita memikirkan sejenak tentang bias yang terjadi di media Barat dan pangekornya selama ini sebagai kenyataan pahit yang ada – yang kadang kita telan begitu saja ketika membaca berita.
Tahukah kita bahwa untuk setiap anak yang tewas di Ukraina, media berita besar Barat menyebut kata “anak-anak” lebih dari 16 kali per anak — namun untuk setiap anak yang tewas di Gaza(In syaa Allah mereka syahid), kata “anak-anak” disebut kurang dari sekali per anak, menurut analisis terhadap peliputan tahun 2024.[1]
Perbedaan ini menunjukkan lebih dari sekadar pilihan editorial: hal ini mengungkap adanya hierarki visibilitas di mana penderitaan tertentu dipersonifikasikan secara mendalam, sementara penderitaan lainnya direduksi menjadi angka-angka yang hanya kelihatan dari kejauhan.
Hierarki ini tidak berhenti hanya di Gaza.
Pada awal 2026, AS dan Zionist Israel menyerang wilayah Iran secara illegal, termasuk permukiman sipil dan sekolah-sekolah, membunuh anak-anak yang tak berdosa sebagaimana didokumentasikan oleh berbagai kelompok hak asasi manusia dan jurnalis.
Namun, sebagian besar liputan media Barat yang muncul setelahnya lebih berfokus pada strategi geopolitik daripada dampak kemanusiaan yang mengerikan yang ditimbulkan serangan-serangan tersebut terhadap anak-anak.
Wajah-wajah di Balik Angka-angka
Di Gaza, anak-anak termasuk yang paling terdampak. Menurut UN (United Nation, PBB) Special Rapporteur Fransesca Albanese dalam dokumen press briefing berjudul “Gaza: This is the Shame of Our Time”, pada September tahun 2025, menyebutkan bahwa warga Palestina yang telah pasti dibunuh adalah 65 ribu dan lebih dari 75% adalah anak-anak dan wanita.[2]
Berarti sampai itu minimal ada 48 ribu 750 anak-anak dan wanita yang dibunuh dalam genosida dan serangan yang tak henti-hentinya oleh Zionist Israel yang menghancurkan sekolah, rumah sakit, dan layanan dasar yang menjadi tumpuan keluarga. Dan masih terus berlanjut.
Di tengah genosida ini, muncul kisah-kisah pribadi: anak-anak yang dengan pilu memeluk mainan yang robek di antara puing-puing, rumah-rumah yang lenyap, dan teman sekelas yang hilang selamanya. Namun, gambar dan nama-nama semacam itu — yang dulu menjadi inti dari jurnalisme yang menggugah — kini sangat jarang muncul di berita utama media Barat. Salah satu kisah perorangan yang paling mengharukan adalah kisah Raghad al Assar.
Raghad al-Assar adalah seorang gadis Palestina berusia 12 tahun asal Newerat di Gaza tengah yang dinyatakan meninggal dan disemayamkan di kamar mayat selama delapan jam setelah serangan udara Zionist Israel menghantam rumahnya pada 8 Juni 2024.
Ia ditemukan masih hidup ketika seorang pria yang sedang mencari putranya melihat jari-jarinya bergerak di atas meja pendingin mayat; sebelumnya, ia telah berada dalam keadaan koma selama dua minggu sebelum akhirnya sadar. Ia selamat dari serangan udara yang menghancurkan rumahnya, namun ia kehilangan 2 saudara perempuannya yang dibunuh oleh Zionist dalam serangan tersebut.
Kakaknya kondisinya lebih buruk, dia tidak bisa melihat dengan sebelah matanya, terbakar, luka yang parah dan dalam.[3]
Trauma yang dialaminya — dan trauma yang dialami banyak orang lainnya — menggambarkan apa yang tidak dapat disampaikan oleh angka-angka semata: realitas manusiawi yang sesungguhnya di balik “jumlah korban”.
Dan kata casualty adalah kata yang oleh media sering digunakan untuk memperhalus keadaan sebenarnya (euphemism) bahwa seolah-olah mereka ini adalah hanya “korban sampingan” bukan menjadi target pembunuhan yang disengaja. Dan itu adalah bias yang selama ini tetap dipelihara oleh media Barat utamanya meskipun euphemism sejenis itu telah lama juga dikritik Haig Bosmajian seorang Profesor dan penulis dalam bukunya The languange of Oppression (1974).
Dari Gaza hingga Iran: Kekerasan Tanpa Wajah Manusia
Pada 28 Februari 2026, sebuah serangan udara illegal Amerika dan Zionist Israel secara biadab dengan sengaja menghantam Sekolah Putri Shajareh Tayyebeh di Minab, Iran, yang dipenuhi siswi-siswi berusia sekolah dasar.
Setidaknya hampir 175 anak-anak siswi sekolah dasar tewas dalam serangan illegal tersebut, dan banyak yang terluka saat para keluarga bergegas dan berusaha menyelamatkan putri-putri dan teman sekelas mereka.[4,5,6]
Video dan laporan yang dibagikan oleh para orang tua yang berusaha mencari anak-anak yang mungkin selamat di antara puing-puing menggambarkan upaya pencarian yang mengharukan dan kepedihan hati para orangtua untuk menemukan anak-anak mereka yang tak pernah kembali lagi pulang ke rumah.[5]
Aksi serangan illegal dan biadab tersebut oleh Zionist dan Amerika — yang dikecam oleh UNESCO sebagai “grave violation of humanitarian law” ataupun pelanggaran berat hukum kemanusian — telah mengubah sebuah tempat belajar menjadi tempat kematian massal.[7]
Namun ketika angka anak-anak yang dibunuh dalam serangan illegal itu disebutkan, laporan tersebut tidak mencantumkan nama-nama dan kisah pribadi anak-anak tersebut, yang biasanya menjadi bagian tak terpisahkan dari liputan konflik-konflik lainnya.
Bahasa yang Memengaruhi Persepsi
Bahasa itu penting. Ketika kekuatan militer yang digunakan oleh Amerika dan Zionist dan sekutu-sekutu Barat mengakibatkan jiwa melayang di kalangan sipil, pemberitaan media sering kali menggunakan istilah-istilah seperti precision strikes (serangan presisi), defensive action (tindakan defensif), atau collateral victim (korban sampingan), atau military campaign (kampanye militer) alih-alih perang illegal.
Hal ini ditujukan untuk menyisipkan pembenaran hukum ke dalam kalimat-kalimat yang terdengar seolah netral. Sementara itu, tindakan yang dilakukan oleh negara-negara yang dianggap sebagai musuh (misal Palestina dan Iran) digambarkan sebagai “agresi” atau “kekejaman” [8] — bahkan ketika mereka melakukannya sebagai pembalasan (retaliation) dan pembelaan diri terhadap kejahatan Zionist, Amerika dan sekutunya
Asimetri ini tidak hanya menggambarkan peristiwa; ia juga membentuk perspektif terhadap peristiwa tersebut, sehingga memengaruhi persepsi publik mengenai legalitas dan legitimasi.
Menghapus Tanggung Jawab Melalui Tata Bahasa
Bias dapat tersembunyi dalam tata bahasa itu sendiri. Judul berita seperti “rudal menghantam sekolah” sangat berbeda dengan “Iran meluncurkan rudal.” Jika kejahatan itu dilakukan oleh Amerika dan Zionist maka judul “rudal menghantam sekolah” menghilangkan unsur pelaku (Amerika dan Zionist) dan yang tampak “bersalah” adalah rudalnya; sementara jika Iran yang meluncurkan rudal, maka judul yang kedua “Iran meluncurkan rudal” jelas menyebutkan pelakunya (Iran). Dan jelas ini adalah unsur kesengajaan dalam media.
Beberapa jurnalis telah mengakui adanya norma editorial internal yang memengaruhi cara anak-anak yang dibunuh di Gaza — dan di Iran — digambarkan, dengan menggunakan kalimat pasif dan meminimalkan narasi pribadi dibandingkan dengan perang-perang lainnya.[8, 9]
Hukum tidak membedakan antara warga sipil
Berdasarkan hukum kemanusiaan internasional, warga sipil — terutama perempuan dan anak-anak — harus dilindungi.Serangan terhadap sekolah, rumah sakit, dan tempat tinggal dilarang keras dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. Namun, liputan media sering kali tidak memberikan sorotan yang seimbang. Ketika negara-negara adidaya terlibat, penggunaan bahasa yang mengaburkan peran pelaku dan meremehkan penderitaan individu digunakan untuk dapat mengurangi kemarahan publik pertanggungjawaban.
Dan itu adalah bias terstruktur.
Harga dari Empati Selektif
Jika seorang anak Ukraina tewas, dunia sering kali diberi tahu namanya.
Jika seorang anak Palestina tewas, mereka sering kali hanya menjadi angka statistik.
Jika seorang anak Iran tewas dalam serangan terhadap sekolah, kisahnya hampir tidak pernah menjadi berita utama.
Hierarki visibilitas ini tidak hanya membentuk narasi, tetapi juga empati dan tindakan geopolitik.
Jurnalisme mengklaim misi universal untuk meminta pertanggungjawaban pihak yang berkuasa dan menyuarakan aspirasi mereka yang tidak memiliki suara yang berjuang melawan ketidakadilan.
Namun, ketika liputan media Barat secara konsisten hanya mencerminkan narasi negara Amerika, Zionist, sekutunya atau memihak negara-negara yang dipersepsikan “negara adi daya” atau narasi “ras lebih mulia” atau “kita kulit putih dan mereka kulit berwarna”— dengan melunakkan bahasa dan nada (euphemism), menyembunyikan penderitaan, dan mengabaikan penderitaan pihak yang dipandang “rendah” atau yang mereka kuasai — maka jelas misi tersebut telah tercemar.
Ada anak-anak yang terlihat. Ada pula yang hanya dihitung.Semestinya dalam konteks ini visibilitas adalah langkah pertama menuju keadilan.
Catatan kaki / Sumber
1. The Nation, Media Bias in Coverage of Gaza, Ukraine, and Global Conflicts, 2024.
2. UN, Gaza: This is the Shame of Our Time, 25 September 2025— Press Briefing oleh Special Rapporteur Francesca Albanese.
3. Al Jazeera, 12-Year-Old Gaza Survivor Recounts Her Story of Trauma and Loss,13 November 2025.
4. Democracy Now, Who Bombed Girls’ School in Iran? Reporter Nilo Tabrizy on What We Know About Massacre, 175 Killed, 4 Maret 2026.
5. The Guardian, Parents Describe Worst Day as School Bombed in Minab, Iran, 28 March 2026.
6. The Guardian, AI got blame for the Iran school bombing. The truth is far more worrying, 26 Maret 2026.
7. UN News, Deadly bombing of Iran primary school ‘a grave violation of humanitarian law’: UNESCO , 1 Maret 2026.
8. Aljazeera Institute, Muqeet Mohammed Shah, Missiles Made of Words: How Western Media Narratives Shapes the Iran-Israel-US Conflict, 14 Maret 2026 &
9. Aljazeera Institute , Monitoring of Journalistic Malpractices in Gaza Coverage, 11 Agustus 2025
*Penulis adalah peminat Lingkungan, Sosial/Kemanusiaan, Pendidikan dan isu-isu International; seorang Independent Researcher di bidang Microalgae dan CO2 Biofixation; guest speaker di bidang Project Management; memiliki pengalamanindustri selama 21 tahun di bidang energi migas national dan international; background pendidikan Chemical Engineering danDoktor di bidang Environmental Science; pemegang berbagai sertifikat keahlian. Saat ini sedang dalam proses penulisan buku mengenai salah satu bahasa programming dan aplikasinya.



























Diskusi