Oleh Ayu Syahrini
A pasih yang terpikirkan ketika kita mendengar kata “rumah??” Apa benar rumah itu selalu menjadi tempat paling aman? Atau itu cuma harapan yang enggak semua orang punya?
Buat sebagian orang, rumah adalah tempat yang paling aman, tempat bercerita. Berbagi kebahagiaan dan kesedihan. Semua itu bisa dirasakan bagi setiap orang yang memiliki tempat pulang yang aman.
Adakalanya, buat sebagian orang, mungkin kata rumah itu terdengar asing. Menakutkan, di mana mereka harus berhadapan dengan suasana yang tidak menyenangkan, akibat konflik keluarga. Atau ketika seorang anak harus mendengar pertengkaran orang tuanya, tempat yang seharusnya menjadi tempat pulang justru menjadi tempat yang asing, bahkan tidak sehat secara emosional. Hal inilah yang sering kita dengar dengan istilah “broken home”.
Istilah broken home biasanya digunakan untuk menggambarkan kondisi keluarga yang tidak harmonis dan bahagia. Hal ini terjadi akibat perceraian, yang menyebabkan dampak signifikan bagi perkembangan anak usia 5-6 tahun, di mana pada usia ini merupakan masa emas bagi perkembangan mereka (Muttaqin, 2019).
Broken home ini sering kali terjadi bukan hanya karena faktor perceraian saja, tapi juga ada beberapa faktor lainnya, seperti kecemburuan terhadap pasangan, dan masalah ekonomi.
Menurut Willis (2015), ada dua aspek yang terlihat dari terjadinya broken home: keluarga yang tidak utuh akibat salah satu orang tua meninggal atau bercerai, dan anak yang kedua orang tuanya tidak bercerai tetapi hubungan keluarganya tidak memiliki kasih sayang atau sering terjadi pertengkaran.
Ada sebagian keluarga yang masih utuh secara fisik, tapi hubungan yang terjadi tidak lagi harmonis, malah menjadi hubungan yang kaku karena kurang komunikasi atau hubungan yang dingin secara emosional.
Dalam kondisi ini, biasanya yang rentan terkena dampaknya adalah anak-anak usia dini, di mana mereka masih labil secara emosional. Meskipun orang tuanya masih tinggal bersama, mereka tidak merasakan keutuhan.
Usia dini adalah masa yang sangat krusial dalam perkembangan anak, karena pada masa ini anak sedang mengalami proses bagaimana cara mereka melihat dunia, di mana kepribadian dan emosi sedang terbentuk. Jadi lingkungan keluarga merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan anak. Jika anak tidak mendapatkan lingkungan keluarga yang stabil, maka akan menimbulkan dampak yang sangat dalam secara psikologis.
Urie Bronfenbrenner, seorang tokoh psikologi, juga menjelaskan dalam Ecological Systems Theory bahwa microsystem yang paling berpengaruh dalam perkembangan anak adalah keluarga. Jika lingkungan ini tidak stabil, maka ini akan berdampak bagi perkembangan anak.
Hal seperti inilah yang sering terjadi, tanpa disadari, bisa menyebabkan trauma yang cukup dalam terhadap perkembangan si anak, seperti penurunan aktivitas sosial, kurangnya rasa percaya diri, dan peningkatan aktivitas fisik yang tinggi.
Dampak broken home tidak hanya terdapat pada anak-anak, tetapi juga pada orang dewasa, yang mengakibatkan penurunan aktivitas belajar karena kurangnya perhatian yang didapatkan dari keluarganya (Gintulangi W, 2018). Dampak lainnya juga dapat menimbulkan perilaku agresif, yaitu suatu tindakan kekerasan yang dilakukan secara langsung maupun tidak langsung.
Anak yang mengalami broken home sering kali menunjukkan perilaku gejala emosional yang berbeda, seperti kecemasan, depresi, dan perilaku agresif (Martha Lila, 2013). Mereka mungkin mengalami situasi yang sulit untuk mengekspresikan emosi mereka dengan cara yang sehat, sehingga membuat mereka sulit berinteraksi secara sosial dan akademis.
Keadaan seperti ini juga sangat berdampak pada perkembangan kognitif anak, dan dapat mengganggu kemampuan anak untuk membangun hubungan positif dengan orang lain.
Kenapa kasus broken home pada anak sangat penting untuk kita perhatikan? Alasannya yaitu, bagi anak usia dini, keluarga merupakan “dunia pertama anak”. Di usia dini, pemikiran anak masih terlalu labil untuk memahami konflik yang terjadi, berbeda dengan orang dewasa yang sudah memiliki pemahaman konflik secara kompleks.
Pada akhirnya, anak tidak benar-benar memahami konflik yang terjadi, mereka hanya merasakannya. Tanpa tahu alasan yang jelas, mereka menangkap ketegangan, ketakutan, bahkan rasa kehilangan. Dari situlah perlahan muncul perasaan tidak aman dalam diri mereka.
Di tahap inilah peran orang tua sangat penting terhadap perkembangan anak. Peran orang tua tentunya sangat krusial dalam perkembangan emosional anak. Orang tua tetap bisa memberikan dukungan kepada anak meskipun mereka telah bercerai atau mengalami konflik.
Mungkin anak belum bisa memahami apa yang terjadi, tetapi mereka bisa merasakan kehangatan yang ada dan hadir di sekitar mereka. Bagaimana cara orang tuanya berbicara, mengarahkan, mendengarkan, dan menunjukkan perhatian kepada mereka. Itu semua dapat membentuk emosi anak.
Ketika mereka melihat dan merasakan peran dan cara bagaimana orang tuanya tetap hadir untuk memberi ketenangan dan rasa aman, walaupun keadaan tidak stabil, hal itu setidaknya bisa mengobati rasa sakit atau trauma yang anak rasakan.
Jika anak berada dalam keadaan yang penuh ketegangan tanpa kehangatan, mereka bisa terus-menerus merasa sendirian, bukan karena mereka lemah, tetapi karena pada usia itu anak masih terlalu labil dan membutuhkan tempat yang aman secara psikis maupun fisik.
Meski begitu, tidak semua anak yang tumbuh dalam keluarga broken home memiliki sikap negatif dan terus tumbuh dengan luka itu selamanya. Ada juga sebagian dari mereka justru tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, belajar menjadi kuat, memahami orang lain, peka terhadap lingkungan sekitar, dan belajar menghormati sebuah hubungan.
Pelan-pelan, anak juga bisa belajar bahwa apa yang terjadi di keluarganya bukan sepenuhnya salah mereka. Mereka tetap punya kesempatan untuk tumbuh, mengenal diri, dan membangun cara pandang yang lebih sehat tentang hubungan.
Pada akhirnya, broken home bukan cuma soal keluarga yang tidak utuh, tapi tentang bagaimana anak merasakan dan memaknai semua yang terjadi di sekitarnya. Anak mungkin tidak bisa memilih dilahirkan di keluarga seperti apa, tapi mereka tetap punya kesempatan untuk tumbuh dengan baik, asal ada yang mau memahami, mendengarkan, dan menemani mereka.
Masa lalu memang tidak bisa kita ubah, tapi cara seseorang untuk melangkah ke depan masih bisa dibentuk. Dan setiap anak, dalam kondisi apa pun, tetap punya harapan untuk baik-baik saja.



























Diskusi