Dengarkan Artikel
Oleh Tabrani Yunis
Ada yang terasa asing dalam ingatan penulis dan juga dari ingatan banyak orang, termasuk orang-orang dari Manggeng, saat ini. Apalagi di kalangan muda yang mungkin sudah lupa akan pelajaran sejarah atau akar sejarah perjuangan bangsa. Kata itu adalah Kenegerian Manggeng.
Dua kata yang jarang didengar di era sekarang, karena alasan-alasan kurang informasi atau karena tidak banyak literatur yang menjelaskan tentang Kenegerian Manggeng. Maka tulisan ini menjadi bagian dari tulisan penulis sebelumnya. Ada dua tulisan yang sudah penulis publikasikan di Potretonline.com, yakni tulisan yang berjudul “ Menggali Informasi dan Literatur Tokoh dan Perwira Asal Manggeng di Masa Lalu, dan tulisan kedua, Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa”.
Tulisan ini dimaksudkan sebagai pemantik bagi generasi muda, khususnya para siswa untuk mengumpulkan informasi dan literatur mengenai Manggeng dalam kilasan sejarah, kerajaan dan para Raja serta Ule Balang yang pernah menjadi pemimpin dalam Kenegerian Manggeng.
Penulis sendiri sebagai putera kelahiran Manggeng lebih kurang 60 tahun lalu yang dilahirkan di kampung Kedai, Manggeng, merasa terpanggil untuk menulis dan mengulas tentang keberadaan Kenegerian Manggeng serta tokoh-tokoh asal Manggeng di masa lalu, sebagai bahan literatur bagi generasi muda asal Manggeng dan para pembaca di mana saja berada. Walau bukan sebagai pencatat sejarah yang sempurna. Namun, bisa sebagai wacana kontemporer dan pemantik.
Ya, pemantik agar menghapus atau paling kurang mengurangi rasa keasingan atau tidak adanya informasi mengenai Kenegerian Manggeng dalam ingatan atau dalam algoritma dunia maya.
Oleh sebab itu, penulis merasa penting mengisi keasingan itu dengan menginisiasi tulisan ini. Selain itu dengan menulis tulisan ini, penulis juga berusaha membaca dan mencari lebih jauh dan dalam mengenai sejarah Kenegerian Manggeng. Karena selama ini penulis hanya mengenal Manggeng dan tahu kalau Manggeng sebelum kemerdekaan dipimpin oleh raja. Di masa kecil penulis sekitar tahun 1970 an, penulis mengenal seorang raja Manggeng yang terakhir, yakni Teuku Raja Iskandar yang lebih dikenal dengan sebutan Teuku Raja Idi yang istananya tidak jauh dari rumah penulis. Namun, sebenarnya raja-raja di Kenegerian Manggeng bukanlah hanya Teuku Raja Iskadar, tetapi dalam catatan yang penulis dapatkan kemudian ada 10 raja, sejak raja pertama yakni Datok Besar atau Datok Besa.
Setelah menelusuri sejarah dan bertanya pada para tetua, penulis menemukan ada catatan sejarah bahwa Manggeng dahulu adalah sebuah kenegerian di bawah Kesultanan Aceh dan tercatat dalam peta lama sebagai Bandar Mankin.
Terus terang bahwa Bandar Mankin pun tak pernah penukis kenal, apalagi generasi sekarang yang telah meninggalkan pelajaran sejarah. Bandar Mankin, yang berada di Kenegerian Manggeng tercatat berada dalam penguasa lokal disebut uleebalang atau raja, yang berfungsi sebagai pemimpin wilayah, penghubung rakyat dengan Sultan, serta pengelola perdagangan pesisir. Sayangnya, nama-nama spesifik raja Manggeng jarang muncul dalam arsip resmi, berbeda dengan tokoh besar Kesultanan Aceh seperti Sultan Iskandar Muda.
Dengan demikian nama-nama raja atau uleebalang Manggeng tidak banyak terdokumentasi secara resmi dalam arsip kolonial maupun literatur populer. Dapat dikatakan bahwa sebagian besar informasi tentang mereka masih tersimpan dalam tradisi lisan dan catatan lokal. Padahal menurut catatan lokal, terdapat sejumlah tokoh dan perwira asal Manggeng yang berperan penting dalam sejarah Aceh, terutama dalam masa perlawanan terhadap kolonial Belanda, namun, nama-nama mereka banyak yang terlupakan oleh generasi muda dan belum terdokumentasi secara sistematis dalam literatur akademik.
Kendati nama-nama raja Manggeng belum terdokumentasi secara lengkap dalam sumber tertulis modern. Penulis mendapatkan sejumlah nama yang pernah menjadi raja di Manggeng. Hasil penelusuran penulis dari wawancara penulis denga almarhum Drs. Thamren Z, mantan kepala Perpustakaan wilayah Aceh, kala beliau masih hidup. Ke sepuluh raja tersebut adalah sebagai berikut.
1. Datuk Besa (r).
2. Datuk Muda
3.Datuk Cut Amat
4. Datuk Cut Dolah
5. Datuk Raja Geh
6. Teuku Sandang
7. Teuku Nana
8. Teuku Mamat
9. Teuku Kanda yang ditangkap oleh Daud Beureuh dan dibunuh dan ke 10 adalah Teuku Raja Idi
Ke sepuluh raja tersebut konon memegang peran menjaga hubungan dengan Kesultanan Aceh: Raja Manggeng tunduk pada Sultan Aceh dan menjadi bagian dari struktur kekuasaan. Para raja tersebut juga berperan mengatur perdagangan. Kala itu Manggeng dikenal sebagai bandar pesisir menjadi jalur perdagangan hasil bumi dan laut. Dalam bidang adat dan budaya, para raja juga menjaga adat dan budaya. Di sini, raja-raja Manggeng berperan dalam melestarikan hukum adat dan tradisi masyarakat.
Sebagai penguasa wilayah Kenegerian Manggeng, para raja juga menjalankan peran pertahanan wilayah. Dalam hal ini para raja ikut serta dalam perlawanan terhadap kolonialisme, meski nama-nama spesifik jarang tercatat.
Nah, mengingat masih terbatasnya informasi dan literatur mengenai Kenegerian Manggeng dan para raja atau ule balang yang memimpin , maka penting melibatkan para generasi Muda Manggeng atau sejarawan Aceh melakukan penelusuran Nama Raja Manggeng serta menyusun profil dan sejarah mereka.
Menggali nama-nama raja Manggeng penting untuk memperkuat identitas budaya Aceh Barat Daya. Untuk menggali informasi dan dokumentasi tentang raja-raja tersebut dapat dilakukan dengan cara mengumpulkan informasi yang masih tersimpan dalam cerita rakyat dan ingatan masyarakat setempat. Selain itu, dapat ditelusuri dari dokumentasi akademik. Maka, diperlukan penelitian lebih lanjut melalui arsip kolonial Belanda, manuskrip Aceh, dan wawancara dengan tetua adat.
Sehingga pengetahuan kita tidak hanya mengenal Kenegerian Manggeng yang terletak di Onderafdeeling Tapak Tuan saja, karena banyak sudut dalam sejarahnya yang perlu diungkap. Misalnya cikal-bakal penguasa Manggeng tersebut seperti seorang tokoh bernama Dato Besar. Lalu setelah Beliau yang digantikan oleh putra keduanya
bernama Teuku Cut Ajat, karena putra sulungnya menderita sakit dan tak sanggup
Kita juga perlu menggali informasi setelah beliau mangkat, seta yang menggantikannya adalah Teuku Dollah, anak putra sulung Dato Besar. Meskipun demikian, yang sesungguhnya berkuasa adalah T. Nya Assan, putra Cut Ajat. Uleebalang, selanjutnya adalah Teuku Geh, yang menerima pengesahan kedudukan dari pemerintah kolonial tanggal 23 Maret 1901. Yang menjadi uleebalang Manggeng berikutnya adalah Teuku Sandang. Karena suatu kesalahan, Teuku Sandang diasingkan ke Jakarta oleh pemerintah kolonial dan digantikan oleh Teuku Mamat. Teuku Kanda yang berhak menduduki jabatan sebagai uleebalang selanjutnya masih
kanak-kanak, sehingga Teuku Nana diangkat sebagai walinya.Pengesahannya dikeluarkan tanggal 19 Januari 1921. Setelah habis masa pengasingannya, Teuku Sandang dikembalikan ke Manggeng dan memerintah lagi sebagai uleebalang. Uleebalang berikutnya, Teuku Raja Iskandar tercatat menandatangani kontrak pada 17 Juni 1937. (Dari buku Ensiklopedi Kerajaan-kerajaan Nusantara Hikayat dan Sejarah )
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini









