• Latest
3dd3c24e-a526-48d2-a6d6-ae83d9158322

Untuk Akhiri Perang, Amerika Ngajukan 15 Syarat, Iran Cuma Lima Tuntutan

Maret 26, 2026

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Untuk Akhiri Perang, Amerika Ngajukan 15 Syarat, Iran Cuma Lima Tuntutan

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Maret 26, 2026
in #Perang, #Perang Dagang, Amerika, Iran
Reading Time: 3 mins read
0
3dd3c24e-a526-48d2-a6d6-ae83d9158322
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rosadi Jamani

Kita kembali menengok perang Iran vs Israel-AS. Walau masih saling ngebom, tak peduli mau korban jiwa berapa, tapi ada secercah harapan mau damai. Amerika sebagai kepala geng, ngajukan ke Iran 15 syarat. Iran tak mau kalah, ngajukan lima tuntutan. Apa saja itu? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Kisah ini bermula setelah perang meledak sejak 28 Februari 2026. Amerika dan Israel melancarkan serangan besar ke Iran. Dari situ, konflik bukan mereda, tapi malah naik level seperti game yang sudah masuk mode “hardcore tanpa checkpoint”.

Lalu masuklah babak diplomasi. Seharusnya, adem. Tapi, malah terasa seperti debat kusir di grup keluarga. Amerika mengajukan 15 syarat untuk menghentikan perang. Salah satu yang paling utama adalah Iran harus menghentikan pengayaan uranium. Ini seperti minta tukang gorengan berhenti menggoreng, tapi tetap disuruh jualan. Belum cukup, Iran juga diminta menyerahkan seluruh uranium yang sudah diperkaya karena dianggap berpotensi jadi senjata nuklir. Konsepnya, “Kami percaya kamu, tapi tolong kosongkan semua isi rumahmu dulu.”

Kemudian Amerika juga menuntut akses tanpa hambatan di Selat Hormuz. Ini bukan selat biasa, ini jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Kalau selat ini macet, efeknya bukan cuma antrean kapal, tapi dunia ikut panik karena harga energi bisa melonjak seperti harga cabai saat emak-emak panik belanja. Memang sebelumnya Iran sempat melakukan blokade yang mengganggu pengiriman dan bikin pasar global deg-degan.

Sebagai imbalannya, Amerika menjanjikan penghapusan seluruh sanksi dan bantuan pengembangan energi nuklir sipil, termasuk di fasilitas Bushehr. Ini bagian paling filosofis sekaligus absurd. “Kami khawatir kamu bikin nuklir buat perang, jadi kami bantu kamu bikin nuklir… tapi yang baik-baik ya.” Ini seperti melarang orang makan pedas sambil nyuapin sambal.

Sementara itu, Iran tidak mau kalah dalam lomba absurditas ini. Mereka menolak proposal tersebut dan mengajukan lima tuntutan versi mereka sendiri. Secara jumlah memang cuma lima, tapi isinya seperti lima bab undang-undang yang bikin kepala cenat-cenut.

Iran meminta jaminan tegas. Perang tidak akan terjadi lagi di masa depan. Kedengarannya masuk akal, tapi di dunia perang, janji seperti ini sering kali cuma formalitas dengan masa berlaku “selama belum marah lagi”. Lalu mereka ingin pengaturan baru di Selat Hormuz yang secara efektif menempatkan kawasan itu di bawah kendali penuh mereka. Yang satu minta bebas lewat, yang satu bilang, “Ini rumah saya.” Dunia cuma bisa lihat sambil mikir, ini lagi negosiasi atau rebutan parkiran?

Tidak berhenti di situ, Iran juga menuntut penutupan pangkalan militer Amerika di seluruh Timur Tengah. Ini bukan sekadar “silakan pulang”, tapi “sekalian bongkar semua dan jangan balik lagi.” Sebagai penutup yang dramatis, Iran meminta kompensasi finansial besar atas kerusakan selama perang. Karena kalau sudah porak-poranda, minimal dompet jangan ikut hancur.

Di titik ini, filsafat perang berubah total. Ini bukan lagi soal siapa menang atau kalah, tapi siapa yang paling tahan mempertahankan tuntutan paling tidak masuk akal. Amerika dengan 15 poinnya, Iran dengan lima tuntutannya. Keduanya berdiri seperti dua orang keras kepala yang sama-sama bilang, “Aku mau damai, tapi kamu duluan yang jadi manusia ideal versiku.”

Sementara itu, perang tetap berjalan. Kapal-kapal masih tegang di Selat Hormuz, dunia masih was-was soal energi, dan harga-harga global ikut naik turun seperti emosi netizen.

Akhirnya, dunia sadar satu hal penting. Perdamaian itu memang mahal. Tapi, dalam kasus ini, yang mahal bukan prosesnya, melainkan egonya. Selama ego masih jadi mata uang utama, perang ini akan terus berjalan. Ya, seperti sinetron panjang yang tidak pernah kehabisan konflik, hanya kehabisan logika.

“Cuma saya tak yakin kalau Trump ngajak berunding. Saat ia nyerang, mereka sedang berunding dengan Iran ketika itu, Bang.”

“Itu sebabnya Iran ngajukan syarat sangat berat. Tapi, sama-sama berat sih, wak.” Ups

Foto Ai hanya ilustrasi

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

Share234SendTweet146Share
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Next Post
87dee712-0548-433f-a26d-23c41a9e9f00

Revolusi Iran 1979: Beberapa Pelajaran Terbaik 

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com