• Latest
Ketika Syariat Jadi Alat Politik: Pelajaran dari NTB untuk Membaca Krisis Iran–Israel–AS - Image 500f493e402ee897084f8fbb0232fc11 | #Perang | Potret Online

Ketika Syariat Jadi Alat Politik: Pelajaran dari NTB untuk Membaca Krisis Iran–Israel–AS

Maret 1, 2026

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Ketika Syariat Jadi Alat Politik: Pelajaran dari NTB untuk Membaca Krisis Iran–Israel–AS

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si by Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
Maret 1, 2026
in #Perang, Agama, Amerika, Iran, Israel, Syariat Islam
Reading Time: 3 mins read
0
Ketika Syariat Jadi Alat Politik: Pelajaran dari NTB untuk Membaca Krisis Iran–Israel–AS - Image 500f493e402ee897084f8fbb0232fc11 | #Perang | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh

Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh

Ketegangan Iran–Israel–Amerika Serikat yang kembali memuncak sejak awal 2024 membuat dunia bertanya-tanya: mengapa agama begitu mudah berubah menjadi bahan bakar konflik geopolitik? Mengapa simbol-simbol keagamaan dapat memicu eskalasi militer, memobilisasi massa, dan mengubah arah kebijakan negara?

Untuk memahami dinamika besar itu, kita sebenarnya bisa belajar dari pengalaman Indonesia sendiri—khususnya dari bagaimana perda syariah muncul dan berkembang di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada awal era Reformasi.

Walaupun konteksnya berbeda jauh, pola dasarnya serupa: agama bukan hanya soal iman, tetapi juga alat politik, identitas, dan legitimasi kekuasaan.

Penelitian tentang NTB pada 1999–2004 menunjukkan bahwa gelombang perda syariah tidak lahir dari aspirasi keagamaan semata. Ada tiga faktor utama yang mendorongnya:(1) Kapitalisasi simbol-simbol Islam oleh elite politik lokal. (2) Desentralisasi yang membuka ruang kompetisi baru setelah tumbangnya Orde Baru. (3) Strategi partai-partai Islam dalam memobilisasi dukungan melalui pesantren dan jaringan keagamaan.

Syariat menjadi bahasa politik—cara untuk menunjukkan moralitas, menegaskan identitas, dan mengklaim legitimasi. Dalam situasi transisi politik, ketika masyarakat haus akan kepastian moral, isu syariat menjadi alat yang sangat efektif untuk meraih dukungan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa agama dapat berubah menjadi komoditas politik ketika negara berada dalam kondisi rapuh atau mengalami perubahan besar.

Jika kita melihat eskalasi Iran–Israel–AS hari ini, pola yang sama terlihat jelas. Iran menggunakan simbol-simbol keagamaan untuk membingkai konflik sebagai “perlawanan suci” terhadap dominasi Barat dan Israel. Narasi ini bukan hanya untuk konsumsi luar negeri, tetapi juga untuk mengonsolidasikan dukungan domestik, meredam kritik internal, dan memperkuat legitimasi rezim.

Israel memadukan identitas nasional dan religius dalam membenarkan kebijakan militernya, terutama ketika menghadapi ancaman dari Iran dan kelompok-kelompok yang didukungnya.AS sering membingkai keterlibatannya sebagai bagian dari “misi moral” menjaga stabilitas global, meski kepentingan strategis dan ekonomi juga sangat dominan.

Dalam ketiga kasus ini, agama bukan hanya keyakinan—ia adalah alat mobilisasi politik dan militer. Pengalaman NTB menunjukkan bahwa ketika negara mengalami transisi atau ketidakpastian, politik identitas menjadi sangat menarik bagi elite maupun masyarakat. Hal yang sama terjadi di Timur Tengah, yaitu kekosongan otoritas, perang proksi, fragmentasi politik, dan ketidakpuasan ekonomi menciptakan ruang bagi kelompok-kelompok yang menggunakan agama sebagai alat mobilisasi.

Agama menjadi simbol identitas, alat legitimasi, dan senjata politik. Mengapa Pelajaran NTB Relevan untuk Indonesia Hari Ini? Krisis Iran–Israel–AS menunjukkan bahwa ketika agama dijadikan alat politik, eskalasi bisa cepat dan sulit dikendalikan. Pengalaman NTB memberi tiga pelajaran penting: (1) Agama mudah dipolitisasi ketika negara lemah. Setelah Reformasi, lemahnya institusi negara membuka ruang bagi elite lokal untuk memanfaatkan isu syariat demi keuntungan elektoral. (2) Politik identitas dapat menggerus pluralisme. Perda syariah di NTB menunjukkan bagaimana kebijakan berbasis identitas dapat mengabaikan kelompok minoritas dan merusak kohesi sosial. (3)Demokrasi tanpa kontrol dapat memperkuat ekstremisme. Desentralisasi yang tidak diimbangi pengawasan membuat politik identitas berkembang tanpa batas.

Dalam konteks global yang semakin terpolarisasi, Indonesia perlu waspada agar agama tidak kembali menjadi komoditas politik yang memecah belah. Eskalasi Iran–Israel–AS berpotensi mengguncang ekonomi global, memicu ketegangan sektarian, dan memengaruhi dinamika politik domestik di banyak negara, termasuk Indonesia. Dalam situasi seperti ini, politik identitas bisa kembali menguat, terutama menjelang pemilu atau ketika ketidakpuasan ekonomi meningkat.

Pelajaran dari NTB mengingatkan kita bahwa agama dapat menjadi alat politik yang sangat efektif, tetapi juga sangat berbahaya jika tidak dikendalikan, dan dapat mengancam fondasi pluralisme Indonesia.

Share234SendTweet146Share
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si., adalah seorang akademisi dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang antropologi, dengan fokus utama pada antropologi politik dan agama. Beliau saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, yang berlokasi di Lhokseumawe, Aceh. Selain mengajar, Dr. Al Chaidar juga aktif melakukan penelitian dan seringkali diundang sebagai narasumber atau pengamat untuk berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan konteks Aceh dan Indonesia secara luas. Kontribusinya dalam pengembangan ilmu antropologi dan pemahaman isu-isu kontemporer di Indonesia sangat signifikan melalui karya-karya ilmiah dan keterlibatannya dalam diskusi publik.

Next Post

Tertibkan Monopoli Pasar Ritel

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com