Dengarkan Artikel
Oleh Yusriman, S. Hum,. M. Si.
Langit senja di Pasaman Barat mulai berubah warna. Jingga perlahan merayap di antara pucuk-pucuk kelapa yang berdiri tenang di halaman rumah tua itu. Angin membawa aroma tanah dan daun yang mengering, seolah ikut mengabarkan bahwa Ramadan hampir usai.
Di beranda rumah kayu yang mulai lapuk dimakan usia, Emak duduk termenung sambil memandang jalan kecil di depan rumah.
Sudah lama sekali ia menunggu.
Setiap sore, di kursi yang sama, dengan tatapan yang sama. Harapan yang sama.
“Mak, masuklah. Angin sudah mulai dingin,” suara Ayah terdengar pelan dari dalam rumah.
Emak hanya menggeleng. “Sebentar lagi, Yah. Siapa tahu hari ini Ucok pulang.”
Ayah terdiam. Ia tahu, kalimat itu sudah terlalu sering diucapkan. Setiap hari, menjelang Magrib, harapan itu selalu hidup kembali di hati Emak. Padahal sudah tiga tahun Ucok tidak pulang kampung.
Tiga tahun tanpa kabar yang pasti.
Ucok, anak tunggal mereka, merantau ke kota besar demi mencari kehidupan yang lebih baik. Awalnya, ia rajin mengirim kabar. Menelpon, mengirim uang, bahkan sesekali mengirim foto. Namun, semakin lama, kabar itu semakin jarang. Hingga akhirnya, benar-benar hilang.
Emak tidak pernah berhenti menunggu.
“Lebaran tahun ini, dia pasti pulang,” gumam Emak lirih.
Ayah menghela napas panjang. Ia tidak ingin mematahkan harapan itu, meski di dalam hatinya tersimpan kekhawatiran yang besar.
Di sudut kota yang jauh dari Pasaman Barat, Ucok duduk di bangku terminal. Tas ransel lusuh tergantung di bahunya. Wajahnya terlihat lelah, namun matanya menyimpan sesuatu yang berbeda kerinduan yang sudah terlalu lama ia pendam.
Ia memandang tiket di tangannya. Tujuannya jelas: pulang.
“Mak… Ayah…” bisiknya pelan.
Ucok mengingat betapa kerasnya hidup di rantau. Ia datang dengan mimpi besar, ingin mengubah nasib keluarga. Namun kenyataan tidak semudah yang ia bayangkan. Pekerjaan berganti-ganti, gaji pas-pasan, bahkan pernah beberapa hari ia hanya makan sekali.
Rasa malu membuatnya memilih diam. Ia tidak ingin orang tuanya tahu bahwa hidupnya tidak baik-baik saja. Ia ingin pulang dengan keberhasilan, bukan kegagalan.
Namun waktu terus berjalan. Tiga tahun berlalu, dan ia justru semakin jauh dari impian itu.
Hingga suatu malam, saat ia duduk sendirian di kamar kontrakan sempit, ia tersadar. Yang ia rindukan bukan keberhasilan, melainkan rumah.
Ia teringat wajah Emak, suara Ayah, dan suasana kampung yang hangat.
Air matanya jatuh.
“Sudah cukup,” katanya pada dirinya sendiri. “Aku harus pulang.”
Hari itu, Pasaman Barat terasa lebih ramai dari biasanya. Orang-orang mulai sibuk menyambut Lebaran. Anak-anak berlarian di jalan, ibu-ibu menyiapkan kue, dan para bapak membersihkan halaman.
Namun di rumah Emak, suasana tetap sama.
Sepi.
Emak sedang menyiapkan adonan kue di dapur. Tangannya bergerak pelan, tidak secepat dulu. Sesekali ia berhenti, menatap pintu seakan berharap seseorang akan masuk.
“Mak, istirahatlah dulu,” kata Ayah.
“Tidak apa-apa, Yah. Siapa tahu Ucok datang, kue ini bisa dia makan.”
Ayah tidak menjawab. Ia hanya memandang Emak dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Bus yang ditumpangi Ucok akhirnya memasuki wilayah Pasaman Barat. Jalanan yang dulu begitu ia kenal kini terasa berbeda, namun tetap membawa kehangatan yang sama.
Ucok menatap keluar jendela. Sawah terbentang luas, pohon kelapa berjajar rapi, dan rumah-rumah sederhana berdiri dengan damai.
Hatinya bergetar.
“Aku pulang, Mak…”
Setelah turun dari bus, Ucok berjalan kaki menuju rumahnya. Jalan kecil itu masih sama. Bahkan batu-batu di pinggir jalan masih terasa akrab di ingatannya.
Namun langkahnya tiba-tiba melambat.
Rasa takut muncul.
Bagaimana jika Emak dan Ayah marah? Bagaimana jika mereka kecewa?
Ucok menunduk. Dadanya terasa sesak.
Namun kemudian ia teringat satu hal Emak tidak pernah marah padanya.
Dengan langkah yang sedikit gemetar, ia melanjutkan perjalanan.
Senja kembali datang. Emak duduk di kursi berandanya seperti biasa. Matanya tetap tertuju pada jalan.
Angin bertiup pelan.
Tiba-tiba, dari kejauhan, terlihat sosok berjalan mendekat. Emak menyipitkan mata.
Langkahnya pelan, membawa tas di bahu.
Jantung Emak berdegup kencang.
“Yah…” panggilnya pelan. “Coba lihat itu…”
Ayah keluar dan memandang ke arah yang sama.
Sosok itu semakin dekat.
Wajahnya mulai terlihat.
Dan dalam sekejap, waktu seolah berhenti.
“Ucok…” bisik Emak.
Air matanya langsung mengalir.
Tanpa menunggu, Emak berdiri dan berjalan cepat bahkan hampir berlari menuju anaknya.
Ucok terdiam. Matanya juga mulai basah.
“Mak…” suaranya bergetar.
Emak langsung memeluknya erat.
“Ucok… Ucok pulang, Nak…” tangis Emak pecah.
Ucok tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya membalas pelukan itu, erat sekali, seolah tidak ingin melepaskannya lagi.
Ayah berdiri beberapa langkah di belakang. Matanya juga berkaca-kaca, namun ia tetap mencoba tegar.
“Kenapa lama sekali pulangnya, Cok…” katanya pelan.
Ucok menunduk. “Maaf, Yah… Ucok salah…”
Ayah mendekat, lalu menepuk bahu Ucok.
“Yang penting kau sudah pulang.”
Kalimat sederhana itu membuat tangis Ucok semakin deras.
Malam itu, rumah yang dulu sepi kini kembali hidup. Tawa kecil terdengar di sela-sela percakapan. Emak terus menyiapkan makanan, seolah tidak ingin berhenti melayani anaknya.
“Ini makan, Cok. Kurus kali kau sekarang,” kata Emak.
Ucok tersenyum kecil. “Rindu masakan Emak…”
Ayah duduk di sampingnya. “Bagaimana di rantau?”
Ucok terdiam sejenak.
“Tidak mudah, Yah… Ucok gagal…”
Emak langsung memegang tangan Ucok.
“Tidak ada gagal kalau kau masih mau pulang, Nak.”
Ucok menatap Emak. Matanya kembali basah.
“Aku malu, Mak… Makanya tidak pulang-pulang…”
Emak menggeleng.
“Rumah ini bukan tempat untuk orang berhasil saja. Ini tempat kau pulang, apa pun keadaanmu.”
Ucok menangis.
Tiga tahun beban di hatinya seakan luruh dalam satu malam.
Hari Lebaran pun tiba.
Suasana kampung begitu meriah. Takbir berkumandang, orang-orang saling bersalaman, dan aroma makanan khas memenuhi udara.
Ucok berjalan bersama Ayah menuju masjid. Banyak orang menyapanya.
“Ucok pulang!”
“Iya, akhirnya pulang juga!”
Ucok hanya tersenyum. Hatinya hangat.
Setelah salat, ia kembali ke rumah. Emak sudah menunggu di pintu.
Ucok langsung mencium tangan Emak.
“Maafkan Ucok, Mak…”
Emak memeluknya.
“Sudah, Nak. Yang penting kau di sini.”
Ucok menatap rumah itu. Rumah sederhana, tapi penuh cinta.
Ia sadar, kebahagiaan yang ia cari selama ini ternyata selalu ada di sini.
Sore itu, Emak kembali duduk di beranda.
Namun kali ini berbeda.
Ucok duduk di sampingnya.
“Mak masih suka duduk di sini?” tanya Ucok.
Emak tersenyum. “Iya. Dulu… Mak menunggumu di sini setiap hari.”
Ucok menunduk.
“Maaf ya, Mak…”
Emak mengelus kepala Ucok.
“Sekarang tidak perlu menunggu lagi.”
Ucok tersenyum, meski matanya kembali basah.
Langit senja kembali berwarna jingga.
Namun kali ini, tidak ada lagi rasa sepi.
Karena yang ditunggu telah pulang. Dan Lebaran itu menjadi yang paling berarti bagi Emak.
Biodata Penulis
Yusriman. Seorang alumni Magister Kajian Budaya, Pascasarjana, Universitas Andalas. Aktif dalam penulisan ilmiah dan sastra. Karya-karya beliau membludak di media cetak dan online.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini











