HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    870 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    870 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Emak Mananti Lebaran

Redaksi by Redaksi
Maret 23, 2026
in #Cerpen, Cerpen
Reading Time: 5 mins read
0
Emak Mananti Lebaran
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Yusriman, S. Hum,. M. Si.


Langit senja di Pasaman Barat mulai berubah warna. Jingga perlahan merayap di antara pucuk-pucuk kelapa yang berdiri tenang di halaman rumah tua itu. Angin membawa aroma tanah dan daun yang mengering, seolah ikut mengabarkan bahwa Ramadan hampir usai.

Di beranda rumah kayu yang mulai lapuk dimakan usia, Emak duduk termenung sambil memandang jalan kecil di depan rumah.
Sudah lama sekali ia menunggu.
Setiap sore, di kursi yang sama, dengan tatapan yang sama. Harapan yang sama.
“Mak, masuklah. Angin sudah mulai dingin,” suara Ayah terdengar pelan dari dalam rumah.

Baca Juga

Aku Merindu

Maret 17, 2026
Tuhan di Bawah Telapak Kaki Ibu Pertiwi

Tuhan di Bawah Telapak Kaki Ibu Pertiwi

Maret 16, 2026

Pergi dan Kembali

Maret 14, 2026


Emak hanya menggeleng. “Sebentar lagi, Yah. Siapa tahu hari ini Ucok pulang.”
Ayah terdiam. Ia tahu, kalimat itu sudah terlalu sering diucapkan. Setiap hari, menjelang Magrib, harapan itu selalu hidup kembali di hati Emak. Padahal sudah tiga tahun Ucok tidak pulang kampung.


Tiga tahun tanpa kabar yang pasti.
Ucok, anak tunggal mereka, merantau ke kota besar demi mencari kehidupan yang lebih baik. Awalnya, ia rajin mengirim kabar. Menelpon, mengirim uang, bahkan sesekali mengirim foto. Namun, semakin lama, kabar itu semakin jarang. Hingga akhirnya, benar-benar hilang.


Emak tidak pernah berhenti menunggu.
“Lebaran tahun ini, dia pasti pulang,” gumam Emak lirih.
Ayah menghela napas panjang. Ia tidak ingin mematahkan harapan itu, meski di dalam hatinya tersimpan kekhawatiran yang besar.
Di sudut kota yang jauh dari Pasaman Barat, Ucok duduk di bangku terminal. Tas ransel lusuh tergantung di bahunya. Wajahnya terlihat lelah, namun matanya menyimpan sesuatu yang berbeda kerinduan yang sudah terlalu lama ia pendam.
Ia memandang tiket di tangannya. Tujuannya jelas: pulang.


“Mak… Ayah…” bisiknya pelan.
Ucok mengingat betapa kerasnya hidup di rantau. Ia datang dengan mimpi besar, ingin mengubah nasib keluarga. Namun kenyataan tidak semudah yang ia bayangkan. Pekerjaan berganti-ganti, gaji pas-pasan, bahkan pernah beberapa hari ia hanya makan sekali.


Rasa malu membuatnya memilih diam. Ia tidak ingin orang tuanya tahu bahwa hidupnya tidak baik-baik saja. Ia ingin pulang dengan keberhasilan, bukan kegagalan.
Namun waktu terus berjalan. Tiga tahun berlalu, dan ia justru semakin jauh dari impian itu.


Hingga suatu malam, saat ia duduk sendirian di kamar kontrakan sempit, ia tersadar. Yang ia rindukan bukan keberhasilan, melainkan rumah.
Ia teringat wajah Emak, suara Ayah, dan suasana kampung yang hangat.
Air matanya jatuh.
“Sudah cukup,” katanya pada dirinya sendiri. “Aku harus pulang.”


Hari itu, Pasaman Barat terasa lebih ramai dari biasanya. Orang-orang mulai sibuk menyambut Lebaran. Anak-anak berlarian di jalan, ibu-ibu menyiapkan kue, dan para bapak membersihkan halaman.
Namun di rumah Emak, suasana tetap sama.
Sepi.


Emak sedang menyiapkan adonan kue di dapur. Tangannya bergerak pelan, tidak secepat dulu. Sesekali ia berhenti, menatap pintu seakan berharap seseorang akan masuk.
“Mak, istirahatlah dulu,” kata Ayah.
“Tidak apa-apa, Yah. Siapa tahu Ucok datang, kue ini bisa dia makan.”


Ayah tidak menjawab. Ia hanya memandang Emak dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Bus yang ditumpangi Ucok akhirnya memasuki wilayah Pasaman Barat. Jalanan yang dulu begitu ia kenal kini terasa berbeda, namun tetap membawa kehangatan yang sama.
Ucok menatap keluar jendela. Sawah terbentang luas, pohon kelapa berjajar rapi, dan rumah-rumah sederhana berdiri dengan damai.
Hatinya bergetar.


“Aku pulang, Mak…”
Setelah turun dari bus, Ucok berjalan kaki menuju rumahnya. Jalan kecil itu masih sama. Bahkan batu-batu di pinggir jalan masih terasa akrab di ingatannya.
Namun langkahnya tiba-tiba melambat.
Rasa takut muncul.


Bagaimana jika Emak dan Ayah marah? Bagaimana jika mereka kecewa?
Ucok menunduk. Dadanya terasa sesak.
Namun kemudian ia teringat satu hal Emak tidak pernah marah padanya.


Dengan langkah yang sedikit gemetar, ia melanjutkan perjalanan.
Senja kembali datang. Emak duduk di kursi berandanya seperti biasa. Matanya tetap tertuju pada jalan.
Angin bertiup pelan.


Tiba-tiba, dari kejauhan, terlihat sosok berjalan mendekat. Emak menyipitkan mata.
Langkahnya pelan, membawa tas di bahu.
Jantung Emak berdegup kencang.
“Yah…” panggilnya pelan. “Coba lihat itu…”
Ayah keluar dan memandang ke arah yang sama.


Sosok itu semakin dekat.
Wajahnya mulai terlihat.
Dan dalam sekejap, waktu seolah berhenti.
“Ucok…” bisik Emak.
Air matanya langsung mengalir.
Tanpa menunggu, Emak berdiri dan berjalan cepat bahkan hampir berlari menuju anaknya.
Ucok terdiam. Matanya juga mulai basah.
“Mak…” suaranya bergetar.

ADVERTISEMENT


Emak langsung memeluknya erat.
“Ucok… Ucok pulang, Nak…” tangis Emak pecah.
Ucok tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya membalas pelukan itu, erat sekali, seolah tidak ingin melepaskannya lagi.
Ayah berdiri beberapa langkah di belakang. Matanya juga berkaca-kaca, namun ia tetap mencoba tegar.


“Kenapa lama sekali pulangnya, Cok…” katanya pelan.
Ucok menunduk. “Maaf, Yah… Ucok salah…”
Ayah mendekat, lalu menepuk bahu Ucok.
“Yang penting kau sudah pulang.”
Kalimat sederhana itu membuat tangis Ucok semakin deras.


Malam itu, rumah yang dulu sepi kini kembali hidup. Tawa kecil terdengar di sela-sela percakapan. Emak terus menyiapkan makanan, seolah tidak ingin berhenti melayani anaknya.
“Ini makan, Cok. Kurus kali kau sekarang,” kata Emak.


Ucok tersenyum kecil. “Rindu masakan Emak…”
Ayah duduk di sampingnya. “Bagaimana di rantau?”
Ucok terdiam sejenak.
“Tidak mudah, Yah… Ucok gagal…”
Emak langsung memegang tangan Ucok.
“Tidak ada gagal kalau kau masih mau pulang, Nak.”
Ucok menatap Emak. Matanya kembali basah.
“Aku malu, Mak… Makanya tidak pulang-pulang…”
Emak menggeleng.
“Rumah ini bukan tempat untuk orang berhasil saja. Ini tempat kau pulang, apa pun keadaanmu.”
Ucok menangis.
Tiga tahun beban di hatinya seakan luruh dalam satu malam.


Hari Lebaran pun tiba.
Suasana kampung begitu meriah. Takbir berkumandang, orang-orang saling bersalaman, dan aroma makanan khas memenuhi udara.
Ucok berjalan bersama Ayah menuju masjid. Banyak orang menyapanya.
“Ucok pulang!”
“Iya, akhirnya pulang juga!”
Ucok hanya tersenyum. Hatinya hangat.
Setelah salat, ia kembali ke rumah. Emak sudah menunggu di pintu.
Ucok langsung mencium tangan Emak.
“Maafkan Ucok, Mak…”
Emak memeluknya.


“Sudah, Nak. Yang penting kau di sini.”
Ucok menatap rumah itu. Rumah sederhana, tapi penuh cinta.
Ia sadar, kebahagiaan yang ia cari selama ini ternyata selalu ada di sini.
Sore itu, Emak kembali duduk di beranda.
Namun kali ini berbeda.
Ucok duduk di sampingnya.
“Mak masih suka duduk di sini?” tanya Ucok.
Emak tersenyum. “Iya. Dulu… Mak menunggumu di sini setiap hari.”
Ucok menunduk.


“Maaf ya, Mak…”
Emak mengelus kepala Ucok.
“Sekarang tidak perlu menunggu lagi.”
Ucok tersenyum, meski matanya kembali basah.
Langit senja kembali berwarna jingga.
Namun kali ini, tidak ada lagi rasa sepi.
Karena yang ditunggu telah pulang. Dan Lebaran itu menjadi yang paling berarti bagi Emak.


Biodata Penulis
Yusriman. Seorang alumni Magister Kajian Budaya, Pascasarjana, Universitas Andalas. Aktif dalam penulisan ilmiah dan sastra. Karya-karya beliau membludak di media cetak dan online.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 187x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 157x dibaca (7 hari)
Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh
Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh
17 Mar 2026 • 140x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 135x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

Membongkar Missile City 505, Kota Misil Bawah Tanah Iran
Artikel

Membongkar Missile City 505, Kota Misil Bawah Tanah Iran

Maret 23, 2026
Lebaran di Kampung yang Sunyi
Esai

Lebaran di Kampung yang Sunyi

Maret 23, 2026
Hari Raya Idul Fitri; Kemenangan Untuk Siapa?
#Idul Fitri

Hari Raya Idul Fitri; Kemenangan Untuk Siapa?

Maret 23, 2026
Cerita Perjalanan

Batu Gajah Hilang di Bate Iliek

Maret 23, 2026
Next Post
Membongkar Missile City 505, Kota Misil Bawah Tanah Iran

Membongkar Missile City 505, Kota Misil Bawah Tanah Iran

Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan
  • Login

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com