POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home # Ironi

Nestapa Lebaran, Antrean yang Tak Mau Usai

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Maret 21, 2026
in # Ironi
0
Nestapa Lebaran, Antrean yang Tak Mau Usai - 4f401b5b 2735 4eaa ba75 9811e936899d | # Ironi | Potret Online

Oleh Rosadi Jamani

Hari pertama Lebaran. Hari yang mestinya dipenuhi aroma opor, gema takbir yang masih tersisa di dinding rumah, dan pelukan keluarga yang menghangatkan dada. Tapi di ruang tamu, di antara kue kering yang mulai melempem dan sirup yang terlalu manis, obrolan justru pahit, antrean BBM.

Topik yang sama. Lagi. Lagi. Seolah-olah kita tidak benar-benar merayakan hari kemenangan, melainkan sedang menghadiri rapat darurat nasional yang tak pernah diundang secara resmi.

Baca Juga
  • Nestapa Lebaran, Antrean yang Tak Mau Usai - 2025 05 04 07 18 20 | # Ironi | Potret Online
    # Ironi
    Hari Kebebasan Pers di Tengah “Matinya Jurnalisme”
    04 Mei 2025
  • Nestapa Lebaran, Antrean yang Tak Mau Usai - 2025 04 28 18 57 48 | # Ironi | Potret Online
    # Ironi
    🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH
    30 Apr 2025

Saat keluar rumah menuju tempat mertua, harapan saya sederhana, jalanan lengang, hati tenang. Tapi realitas menampar pelan, lalu menampar lagi dengan lebih keras. Tiga SPBU saya lewati: Dansen, Kota Baru, dan simpang Jalan Teuku Umar di Pontianak. Semuanya masih ramai. Antrean tetap ada. Memang tidak sepanjang kemarin yang seperti ular raksasa kelaparan, tapi cukup panjang untuk membuat kesabaran manusia modern runtuh satu per satu.

Minyaknya ada, katanya. Tapi antreannya tetap seperti dosa yang tak kunjung diampuni.

Baca Juga
  • Nestapa Lebaran, Antrean yang Tak Mau Usai - 2025 06 03 16 46 49 | # Ironi | Potret Online
    # Ironi
    BENGKEL OPINI RAKyat
    12 Jun 2025
  • Nestapa Lebaran, Antrean yang Tak Mau Usai - IMG_3855 scaled | # Ironi | Potret Online
    # Ironi
    🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH
    25 Mei 2025

Ironisnya, ini bukan di pelosok negeri yang harus ditempuh dengan perahu kayu dan doa panjang. Ini ibu kota provinsi. Kota yang mestinya jadi wajah peradaban, bukan potret penderitaan yang diulang-ulang seperti sinetron azab.

Lebaran pun berubah makna. Bukan lagi soal mudik, tapi soal keberanian. Banyak warga memilih tidak pulang kampung. Bukan karena tak rindu, tapi karena takut. Takut bukan pada macet, bukan pula pada biaya, tapi pada horor antrean BBM di kampung halaman. Sebuah ketakutan baru yang tidak ada dalam cerita-cerita urban legend.

Baca Juga
  • 01
    # Ironi
    🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH
    16 Apr 2025
  • Nestapa Lebaran, Antrean yang Tak Mau Usai - IMG_7115 | # Ironi | Potret Online
    # Ironi
    Ketidakjujuran Dalam Sistem Pendidikan dan Budaya Feodalisme Melahirkan oportunisme, Kemunafikan dan Korupsi di Indonesia
    09 Sep 2025

Nuan bayangkan! Seseorang lebih rela menahan rindu kepada orang tua dari menghadapi antrean bensin. Ini bukan lagi masalah logistik. Ini sudah masuk wilayah tragedi psikologis.

Di sisi lain, suara pemerintah daerah dan Pertamina tetap tenang, teduh, dan nyaris suci, “Stok aman, jangan panic buying.” Kalimat itu diulang-ulang, seperti zikir tengah malam yang diharapkan mampu menenangkan jiwa yang gelisah.

Tapi entah kenapa, zikir itu tak pernah sampai ke hati rakyat yang berdiri berjam-jam di bawah matahari, menunggu giliran yang terasa seperti janji politik, datangnya lama, kadang tidak datang sama sekali.

Jika memang stok aman, kenapa antrean tetap panjang?

Jika memang semua terkendali, kenapa warga harus berjibaku seperti sedang berebut air di musim kemarau panjang?

Jika semuanya baik-baik saja, kenapa rasanya tidak ada yang benar-benar baik?

Mungkin masalahnya bukan pada stok. Mungkin masalahnya adalah distribusi yang pincang, sistem yang gagap, atau koordinasi yang seperti permainan estafet tanpa pelari terakhir. Atau mungkin, lebih menyakitkan lagi, ini semua adalah hal yang dianggap “wajar”.

Di situlah letak tragedinya.

Ketika sesuatu yang tidak normal mulai diterima sebagai keseharian, maka kita tidak hanya kehilangan kenyamanan, tapi juga kehilangan kepekaan.

Seorang warga pernah berkata dengan nada getir, “Coba yang bilang stok aman itu ikut antre juga, biar tahu sakitnya.” Kalimat sederhana, tapi mengandung luka yang dalam. Luka karena merasa tidak didengar. Luka karena realitas yang dialami berbeda jauh dari narasi yang disampaikan.

Lebaran tahun ini akhirnya bukan tentang kemenangan melawan hawa nafsu. Tapi tentang kekalahan menghadapi sistem yang tak kunjung beres.

Kita menang melawan lapar dan dahaga selama Ramadan, tapi kalah melawan antrean di hari raya.

Pertanyaan itu terus menggantung di udara, seperti asap knalpot yang tak pernah benar-benar hilang, kenapa ini terjadi?

Lebih menyakitkan lagi, sampai kapan?

Selamat Hari Raya Idulfitri 1447H. Mohon maaf lahir dan batin. Salam Koptagul.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

camanewak

jurnalismeyangmenyapa

JYM

Previous Post

Budaya Kekerasan dalam Masyarakat Modern.

Next Post

Membaca Bahasa Alam dalam Nalar Ekologis 

Next Post
Nestapa Lebaran, Antrean yang Tak Mau Usai - IMG_0355 | # Ironi | Potret Online

Membaca Bahasa Alam dalam Nalar Ekologis 

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah