Dengarkan Artikel
Oleh: Nuriman Abdullah, M.Ed. Ph.D
Dosen UIN Sultanah Nahrasiah Lhokseumawe
Di balik bahasa formal tentang pemerataan beban mengajar dan semangat kolegalitas, tersembunyi realitas pahit bahwa distribusi mata kuliah telah menjadi ajang perebutan honorium yang dibungkus dengan jubah idealisme akademik. Inilah wajah buram di beberapa perguruan tinggi yang jarang dibicarakan, namun praktiknya berlangsung setiap semester.
Di permukaan, kolegalitas tampil sebagai nilai luhur. Namun di balik meja rapat, kolegalitas telah bermetamorfosis. Mata kuliah yang otomatis menghasilkan honorium besar, menjadi rebutan. Sementara mata kuliah yang secara finansial tidak menguntungkan, justru menjadi “wilayah buangan” yang diberikan kepada dosen yang tidak punya pengaruh.
Ironisnya, semua ini dilakukan dengan senyuman dan jabat tangan. Politik kolegalitas yang sesungguhnya adalah politik dagang sapi kau beri aku mata kuliah strategis, aku dukung kebijakanmu di rapat senat. Kau dapat jatah besar semester ini, semester depan giliranku. Transaksi ini berlangsung halus, tanpa surat kontrak, namun lebih mengikat daripada dokumen formal mana pun.
Ketika dosen tertentu mendapatkan mata kuliah dengan honor besar bertahun-tahun, itu disebut “kontinuitas pengajaran”. Ketika dosen lain hanya mendapat mata kuliah pengantar dengan honor kecil, itu disebut “kaderisasi” atau “penyegaran”.
Idealisme juga dipakai untuk membungkam kritik. Dosen yang berani mempertanyakan ketimpangan distribusi akan dituduh “tidak punya semangat pengabdian”, atau “mengganggu harmoni kolegial”.
Dalam iklim seperti ini, keberanian berbicara tentang keadilan honorium dianggap sebagai dosa akademik. Padahal, di balik tuduhan itu, tersembunyi kepentingan ekonomi segelintir orang yang mempertahankan status quo.
Tidak ada dosen yang hidup dari udara. Honorium mengajar adalah bagian penting dari penghasilan. Ketika distribusi mata kuliah tidak adil, yang terjadi adalah ketimpangan ekonomi di antara para pengajar. Ada dosen yang hidup berkecukupan dari honor per semester, sementara yang lain harus pontang-panting mencari tambahan di luar kampus untuk meningkatkan kenerja.
Dosen yang dekat dengan pimpinan menikmati “zona nyaman” dengan mata kuliah andalan yang tidak pernah berpindah tangan. Sementara dosen yang kritis justru dipaksa menjadi “guru keliling” dengan mata kuliah yang berpindah-pindah, tanpa kesempatan membangun kedalaman di bidang tertentu.
Yang lebih memprihatinkan, pertimbangan honorium seringkali mengalahkan pertimbangan kompetensi. Seorang dosen dengan kepakaran di bidang tertentu bisa saja tidak kebagian mata kuliah yang sesuai karena mata kuliah itu sudah “dikuasai” oleh kelompok tertentu selama bertahun-tahun.
Sebaliknya, dosen yang tidak memiliki kompetensi di suatu bidang bisa terus mengampunya karena “sudah biasa” dan tentu saja karena honoriumnya tidak ingin dilepaskan.
Politik kolegalitas yang berorientasi honorium menciptakan dampak ganda yang menghancurkan. Dari sisi akademik, mahasiswa menjadi korban karena tidak mendapatkan pengajar terbaik di bidangnya. Kualitas pembelajaran menurun, penguasaan materi dangkal, dan pada akhirnya kompetensi lulusan terdegradasi.
Dari sisi ekonomi, praktik ini menciptakan ketidakadilan struktural di kalangan dosen. Mereka yang seharusnya fokus mengembangkan diri justru disibukkan dengan urusan mencari mata kuliah tambahan di luar. Kesenjangan ekonomi memicu iri hati, merusak solidaritas, dan mengubah hubungan kolegial menjadi hubungan transaksional.
Kesimpulan
Kolegalitas tanpa keadilan hanyalah kolusi yang dibalut kesopanan. Idealisme tanpa keberpihakan pada kesejahteraan adalah kemunafikan kelas menengah. Perguruan tinggi tidak bisa terus mempertahankan praktik distribusi mata kuliah yang timpang dengan dalih nilai-nilai luhur, sementara di belakangnya terjadi perebutan honorium yang tidak sehat.
Integritas akademik dan keadilan honorium adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Jika dosen diperlakukan tidak adil secara ekonomi, bagaimana mungkin mereka dapat mengajar dengan penuh idealisme? Jika distribusi mata kuliah didasarkan pada kedekatan, bagaimana mungkin kualitas akademik dapat dipertahankan?
Oleh sebab itu, sudah waktunya membuka tabir politik kolegalitas yang selama ini menyelimuti distribusi mata kuliah. Biarkan cahaya transparansi masuk, agar yang tersisa hanya kompetensi dan keadilan bukan kepentingan dan kemunafikan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini









