HABA Mangat

Kabar Redaksi

Tema Lomba Menulis Bulan Februari

Februari 2, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Kabar Redaksi

Tema Lomba Menulis Bulan Februari

Februari 2, 2025

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Sekolah Korban Bencana Ekologis

Tabrani Yunis by Tabrani Yunis
Maret 16, 2026
in #Korban Bencana, Anak-anak, Artikel, Bencana, Dinas Pendidikan Aceh, Kebencanaan, Mitigasi bencana, pendidikan Aceh, Sekolah
Reading Time: 4 mins read
0
Sekolah Korban Bencana Ekologis
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Tabrani Yunis

Bencana ekologis yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada November 2025 tercatat sebagai salah satu bencana paling dahsyat dalam sejarah kawasan ini. Banjir bandang dan longsor yang menerjang 18 kabupaten dan kota di Aceh bukan hanya merusak rumah dan harta benda, tetapi juga merenggut ribuan nyawa. Data BNPB per Januari 2026 menunjukkan lebih dari 1.189–1.204 orang meninggal dunia, ratusan orang hilang, dan lebih dari 113.000 warga masih mengungsi akibat rumah yang rusak berat. Wilayah Aceh Utara menjadi salah satu daerah yang paling parah terdampak.

Baca Juga

Malioboro Yang Rapi, Tapi Hampa

Maret 16, 2026
Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Maret 16, 2026

Iran dan Aceh: Pelajaran Kemandirian dan Visi Kolektif Masa Depan

Maret 16, 2026

Angka korban yang begitu besar membuat kita semua berduka. Namun, di balik kehilangan jiwa dan harta benda, ada satu aspek yang sering luput dari perhatian yani kerusakan fasilitas pendidikan yang merupakan rumah kedua bagi anak- anak yang sedang membangun masa depan.

Ya, sangatlah benar bahwa sekolah adalah rumah kedua bagi anak-anak. Ketika rumah mereka hancur diterjang bencana, sekolah seharusnya menjadi tempat perlindungan dan harapan, namun sedihnya  gelombang banjir bandang  yang terjadi di akhir tahu. 2025 itu telah menghancurkan banyak sekolah di Aceh. 

Gedung-gedung sekolah roboh, ruang kelas penuh lumpur, buku-buku dan peralatan belajar hanyut terbawa arus. Laboratorium, perpustakaan, hingga ruang guru tidak lagi bisa digunakan. Bahkan, ada sekolah yang hilang sama sekali karena tanah longsor menelan bangunannya.

Kerusakan ini terjadi di semua jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, SD, SMP, hingga SMA. Bahkan sejumlah perguruan tinggi juga tak lepas dan bebas dari dampak banjir bandang tersebut. Dengan peristiwa itu, secara simultan membuat sistem pengelolaan pendidikan terganggu/ Apalagi kantor dinas pendidikan di beberapa daerah ikut terdampak. Akibatnya, proses belajar mengajar terhenti total.

Tak dapat dimungkiri bahwa  kerusakan sekolah membawa dampak yang sangat serius bagi anak-anak dan masyarakat. Bebarapa dampaknya dapat kita identifikasi dengan mudah dan cepat. Beberapa dampak tersebut adalah, sebagai berikut. Pertama, terhentinya proses belajar mengajar disebabkan oleh anak-anak kehilangan ruang belajar yang aman dan nyaman. Kedua, terjadi apa yang kita sebut dengan  trauma psikologis: Banyak siswa mengalami ketakutan dan kehilangan semangat belajar karena bencana tersebut. Ke tiga, hal yang tidak kita inginkan adalah bertambahnya angka putus sekolah. Sebagian anak terpaksa berhenti sekolah karena harus membantu keluarga di pengungsian dan sebagainya.

Ke empat, hilangnya sekolah berarti hilangnya sarana pembinaan karakter. Dikatakan demikian karena sebagaimana kita ketahui dan sadari bersama bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar akademik, tetapi juga tempat anak-anak dibina nilai moral, sosial, dan spiritual.

Ke lima,  banjir bandang itu bukan saja telah  menimbulkan ketimpangan kehidupan masyarakat korban, tetapi juga menimbulkan ketimpangan pendidikan/ Anak-anak di daerah terdampak akan tertinggal jauh dibandingkan dengan daerah lain yang tidak terkena bencana.

Ke enam, ancaman paling besar juga anak-anak korban bencana ekologis ini menjadi lost generation, akibat hilangnya akses pendidikan. Ke tujuh, dalam konteks Indonesia yang konon sedang membangun anak-anak generasi emas di tahun 2045, anak-anak korban bencana ini akan ikut menghambat proses percepatan pencapaian upaya mewujudkan Indonesia emas

Oleh sebab itu, kondisi buruk ini tidak boleh dilalaikan apalagi dibiarkan dan dilupakan mereka hidup tanpa kepastian untuk memperoleh pendidikan yang layak dan sebanding dengan anak-anak di luar kawasan bencana ekologis ini. Semua pihak, terutama pemerintah pusat harus dengan serius dan sepenuh hati membantu sektor pendidikan tersedia kembali dengan baik.

Untuk itu pemerintah harus punya prioritas pemulihan pendidikan, agar anak-anak bisa segera kembali bersekolah dan menikmati pendidikan seperti sebelum bencana. Ada beberapa hal yang harus diprioritaskan di antaranya. Pertama, pembangunan sekolah darurat. Tenda belajar, ruang kelas sementara, atau bangunan modular harus segera didirikan agar anak-anak tidak kehilangan momentum belajar. Kedua, penyediaan buku dan alat belajar. Di sini, sangat diperlukan bantuan berupa buku, seragam, alat tulis, dan perlengkapan sekolah sangat penting untuk memulihkan semangat belajar. Ke tiga, agar proses belajar bisa berjalan baik, diperlukan pendampingan psikososial dengan mengoptimalkan peran guru, relawan, dan psikolog perlu mendampingi anak-anak agar trauma tidak menghambat proses belajar. Ke empat, mendesak dilakukan rehabilitasi fasilitas pendidikan permanen.

Oleh sebab itu, pemerintah perlu menggalang kerja sama dengan masyarakat dan lembaga donor agar segera membangun kembali sekolah dengan desain yang lebih tahan bencana.

Ke lima, tentu sangat dibutuhkan penguatan sistem pendidikan berbasis darurat. Aceh dan daerah rawan bencana lainnya perlu memiliki kurikulum dan sistem pendidikan yang siap menghadapi kondisi darurat, sehingga anak-anak tetap bisa belajar meski dalam situasi krisis.

Ke enam, untuk menjamin kesinambungan pendidikan anak-anak di daerah bencana, pemerintah dan pihak-pihak yang concern terhadap anak, harus memperbanyak program beasiswa dan bantuan pendidikan lainnya, karena umumnya orangtua kehilangan mata pencaharian usai dilanda bencana. Ini sangat berbahaya bagi masa depan pendidikan anak di wilayah bencana.

Maka, pemulihan fasilitas pendidikan harus menjadi prioritas utama pasca bencana ekologis. Dengan langkah cepat, terarah, dan penuh empati, kita bisa memastikan bahwa anak-anak korban bencana tetap memiliki masa depan yang cerah melalui pendidikan. Semoga

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 256x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 236x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 188x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 160x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 131x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Baca Juga

#Ekonomi

Malioboro Yang Rapi, Tapi Hampa

Maret 16, 2026
Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa
#Perempuan Hebat

Perempuan Indonesia Zamrud Khatulistiwa

Maret 16, 2026
# Ironi

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 16, 2026
Tuhan di Bawah Telapak Kaki Ibu Pertiwi
#Cerpen

Tuhan di Bawah Telapak Kaki Ibu Pertiwi

Maret 16, 2026
Next Post

Malioboro Yang Rapi, Tapi Hampa

Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com