• Latest
Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

March 14, 2026
Melihat Perang Iran – Israel/AS Melalui Teori James C. Scott

Belajar dari Geopolitik Timur Tengah: Apa Pelajaran bagi Negara Berkembang?

March 14, 2026

Tadarus – Surah Yunus Ayat 57

March 13, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital

March 13, 2026
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

March 13, 2026
Pelukan Bangga Seorang Ibu

Pelukan Bangga Seorang Ibu

March 13, 2026

Apa Kata Dunia?

March 13, 2026
Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat: Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

Antara Gold, Glory, dan Suara Rakyat: Merenungkan Keadaban Dunia dari Pengalaman Sehari-hari

March 13, 2026

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

March 13, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Fileski Walidha Tanjung by Fileski Walidha Tanjung
March 14, 2026
in Budaya, Esai, POTRET Budaya
0
Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Fileski Walidha Tanjung 

Jumat 13 Maret 2026, selepas tarawih, udara di Padepokan Kuncoro Hadi terasa lebih jernih dari biasanya. Barangkali karena percakapan tentang seni selalu menyisakan ruang keheningan yang panjang, semacam jeda untuk merenungkan hidup.

Baca Juga

Pelukan Bangga Seorang Ibu

Pelukan Bangga Seorang Ibu

March 13, 2026
Lurah Jepang di Meulaboh

Lurah Jepang di Meulaboh

March 10, 2026
Benarkah Bangsa Aceh Malas Menulis?

Benarkah Bangsa Aceh Malas Menulis?

March 10, 2026

Diskusi budaya bertajuk “Menafsir Cahaya: Dialog Sastra, Musik, dan Seni Rupa” sejatinya dirancang untuk membicarakan tiga disiplin seni sekaligus. Namun, ketidakhadiran Dwi Kartika Rahayu yang harus mempersiapkan pameran lukisan di Jakarta membuat forum malam itu hanya berputar pada sastra dan musik.

Ironisnya, justru dalam keterbatasan itulah percakapan menjadi semakin intens, seolah cahaya pemikiran menemukan jalannya sendiri.

Saya hadir sebagai penyair, berbicara dari sudut pandang puisi. Nuris Udzma memantik perspektif musikalitas, Titus Tri Wibowo menyodorkan pembacaan budaya kontemporer, sementara Panji Kuncoro Hadi, akademisi dari Universitas PGRI Madiun sekaligus tuan rumah, mengawal diskusi hingga menjelang sahur.

Percakapan yang dimulai dari sastra lokal Madiun itu kemudian merambat pada satu pertanyaan mendasar: bagaimana seni membentuk kepekaan batin manusia di tengah dunia yang semakin gaduh oleh kepastian-kepastian semu.

Dalam satu titik perbincangan, Panji Kuncoro Hadi menyampaikan refleksi yang terasa sederhana, namun mengandung kedalaman. Ia mengatakan bahwa diskusi budaya di luar ruang kelas adalah cara masyarakat menebus keterbatasan sistem pendidikan formal.

“Kampus memberi kerangka, tetapi ruang kebudayaan memberi jiwa,” ujarnya. Pernyataan itu seperti mengafirmasi pandangan Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan sejati adalah proses memerdekakan manusia. Seni, dalam konteks ini, bukan sekadar objek apresiasi, melainkan jalan sunyi untuk melatih kebijaksanaan.

Kita hidup dalam zaman yang memuja kecepatan, namun lupa pada kedalaman. Diskusi seni yang mulai marak di Madiun beberapa waktu terakhir adalah gejala kultural yang menarik. Ia bukan sekadar tren, melainkan tanda bahwa masyarakat mulai mencari ruang alternatif untuk berpikir kritis tanpa harus menjadi reaktif.

Di sini, seni bekerja sebagai penjernih emosi. Ia melatih manusia untuk merasakan sebelum menilai, memahami sebelum menghakimi. Seperti dikatakan filsuf Yunani Socrates, “Kebijaksanaan sejati adalah menyadari bahwa kita tidak mengetahui apa-apa.” Dalam kerendahan hati epistemologis itulah dialog budaya menemukan maknanya.

Nuris Udzma dalam kesempatan itu menegaskan bahwa musik adalah bahasa yang mampu menembus sekat-sekat logika. Ia percaya kolaborasi antara musik dan sastra akan membuka kemungkinan baru dalam ekspresi artistik. “Nada adalah puisi yang dilafalkan oleh waktu,” katanya.

Gagasan ini sejalan dengan pandangan Friedrich Nietzsche yang menyebut bahwa tanpa musik, hidup akan menjadi sebuah kesalahan. Musikalisasi puisi, penulisan puisi yang terinspirasi dari komposisi instrumental, bahkan kemungkinan menghadirkan musikalisasi esai, sebagaimana digagas Panji, menunjukkan bahwa kreativitas tidak pernah mengenal batas selain imajinasi manusia itu sendiri.

Dalam diskusi tersebut, saya sempat menunjukkan tiga buku puisi saya: Melukis Peristiwa, Diksi Emas, dan Epistemologi Moksa Para Naga. Ketiganya memiliki karakter yang berbeda. Melukis Peristiwa lahir dari pengalaman jurnalistik dan telah banyak dimuat di koran nasional maupun regional. Diksi Emas berorientasi pada panggung, pada kelisanan yang komunikatif. Sementara Epistemologi Moksa Para Naga adalah eksperimen bahasa yang mungkin membuat pembaca awam merasa ini puisi rumit yang bahasanya terlalu tinggi. Jika ketiganya dipertanyakan mana yang paling benar, maka pertanyaan itu sesungguhnya telah keliru sejak awal. Sebab puisi, sebagaimana kebudayaan, adalah medan kemungkinan.

Di sinilah Titus Tri Wibowo menyampaikan pandangan yang menarik. Ia mengatakan bahwa budaya kontemporer menuntut keberanian untuk merayakan pluralitas makna. “Keseragaman adalah ilusi yang diciptakan oleh ketakutan,” tuturnya. Pernyataan ini mengingatkan kita pada pemikiran José Ortega y Gasset yang menilai bahwa manusia modern sering terjebak dalam mentalitas massa, yaitu kecenderungan menganggap satu perspektif sebagai kebenaran tunggal. Padahal seni justru lahir dari keberagaman tafsir.

Fenomena pemaksaan tafsir dalam memahami puisi di ruang kelas menjadi contoh konkret bagaimana hegemoni kebenaran dapat tumbuh tanpa disadari. Mahasiswa seringkali menganggap bahwa puisi yang benar adalah puisi yang sesuai dengan modul atau buku paket. Mereka lupa bahwa karya-karya WS Rendra, Sapardi Djoko Damono, dan Wiji Thukul masing-masing menawarkan horizon estetika yang berbeda. Ketika ruang diskusi di luar kampus tidak tumbuh, kesalahpahaman itu diwariskan secara turun-temurun. Ilmu berhenti pada hipotesis sementara, tetapi diperlakukan sebagai kebenaran final.

Padahal, sebagaimana diingatkan oleh Al-Ghazali, pengetahuan sejati lahir dari keraguan yang jujur. Selama sesuatu masih berada dalam ranah keyakinan, kita wajib menyisakan kemungkinan salah. Kesadaran ini akan mencegah insan seni menjadi jumawa, apalagi diktator kultural yang merasa tafsirnya paling mutlak. Seni sejati adalah ruang di mana perbedaan diperlakukan sebagai rahmat. Ia seperti palet warna yang baru menemukan keindahannya ketika berbaur dalam komposisi yang beragam.

Diskusi malam itu akhirnya mengajarkan satu hal yang mungkin tidak diajarkan oleh kurikulum mana pun: kedewasaan berpikir. Bahwa kebenaran dalam seni tidak berdiri sendiri, melainkan hadir dalam relasi antar perspektif. Bahwa kepekaan hati bukan hasil dari nasihat moralistik, melainkan buah dari pengalaman estetis yang terus diasah. Seni mengajarkan manusia untuk tidak tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan, karena setiap makna selalu memiliki bayangan yang belum sempat kita lihat.

Menjelang sahur, percakapan mulai mereda. Namun cahaya pemikiran justru terasa semakin terang. Saya menyadari bahwa diskusi budaya bukan sekadar forum intelektual, melainkan peristiwa eksistensial. Ia menuntun kita untuk bertanya kembali tentang hakikat memahami. Apakah selama ini kita benar-benar mendengarkan, atau hanya menunggu giliran untuk berbicara. Apakah kita mencari kebenaran, atau sekadar mencari pembenaran.

Barangkali hidup, seperti puisi, tidak pernah memiliki tafsir yang selesai. Ia selalu terbuka bagi keberanian untuk meragukan, menghayati, dan menafsir ulang. Jika demikian, pertanyaan yang tersisa bagi kita bukan lagi mana perspektif yang paling benar, melainkan sejauh mana kita berani merawat kerendahan hati intelektual dalam setiap perjumpaan dengan perbedaan. Sebab mungkin, justru di situlah cahaya yang sesungguhnya sedang menunggu untuk dipahami. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 164x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 157x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 102x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 93x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 80x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Fileski Walidha Tanjung

Fileski Walidha Tanjung

Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media nasional. Beberapa buku karya terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Interludium kapibara.

Baca Juga

Melihat Perang Iran – Israel/AS Melalui Teori James C. Scott
Amerika

Belajar dari Geopolitik Timur Tengah: Apa Pelajaran bagi Negara Berkembang?

March 14, 2026
Islam

Tadarus – Surah Yunus Ayat 57

March 13, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029
#Doa di Bulan Ramadan

Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital

March 13, 2026
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
#Ijazah

Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?

March 13, 2026
Next Post
Melihat Perang Iran – Israel/AS Melalui Teori James C. Scott

Belajar dari Geopolitik Timur Tengah: Apa Pelajaran bagi Negara Berkembang?

Please login to join discussion
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com