Dengarkan Artikel
Catatan Kecil
Oleh Yani Andoko
Skandal dari Ruang Rapat DPRD
Jumat siang itu, ruang rapat Komisi D DPRD Kota Semarang mendadak riuh. Bukan karena adu argumen soal anggaran, melainkan karena satu patah kata yang meluncur dari mulut seorang anggota dewan terpandang. “Pak Sekda, saya mohon jangan baper dulu, ini hanya koreksi kecil,” ucapnya dengan santai di tengah pembahasan RAPBD.
Beberapa staf yang duduk di belakang saling berpandangan, menahan tawa. Sekretaris Daerah yang dituju hanya tersenyum tipis. Rekaman rapat itu kemudian viral di TikTok dan ditonton 2,3 juta kali dalam tiga hari.
Seorang profesor linguistik dari Universitas Indonesia, Dr. Reni Apriani, M.Hum., ikut mengomentari video itu di akun Twitternya. Ia menulis: “Ini bukan sekadar lucu-lucuan. Ini adalah momen bersejarah ketika bahasa pinggiran resmi memasuki ruang kuasa. Bahasa gaul telah lulus ujian akulturasi.” Cuitannya diretweet 12 ribu kali.
Peristiwa kecil di ruang rapat itu sebenarnya adalah metafora sempurna dari apa yang sedang terjadi pada bahasa Indonesia hari ini. Bahasa yang dulu hanya hidup di warung kopi, di kolom komentar TikTok, dan di grup WhatsApp remaja, kini telah bermigrasi bukan sebagai tamu, tapi sebagai tuan rumah.
Mari kita mulai dengan sebuah fakta yang mungkin membuat kening para pengawal bahasa berkerut. Pada bulan Agustus 2022, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa mengumumkan 4.268 entri baru dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Di antara kata-kata formal seperti “kripto” dan “daring”, ada beberapa nama yang “nakal”. Baper, mager, pansos, julid, woles, dan bahkan kepo yang merupakan serapan dari bahasa Hokkien resmi tercatat sebagai bagian dari bahasa Indonesia.
Seorang redaktur KBBI yang enggan disebut namanya bercerita kepada saya via sambungan telepon, “Kami sempat debat panas soal kata anjing. Banyak anak muda menggunakannya sebagai ekspresi, bukan makian. Tapi kami memutuskan untuk wait and see. Yang jelas, masuknya kata-kata ini bukan karena kami longgar, tapi karena frekuensi penggunaannya di publik sudah tidak terbendung.”
Data dari Pusat Data dan Teknologi Informasi Kemdikbudristek menunjukkan bahwa pencarian kata “baper” di laman KBBI daring mencapai 1,2 juta kali sepanjang 2023. Angka ini mengalahkan pencarian kata “demokrasi” (870 ribu) dan “Pancasila” (650 ribu). Ironis? Mungkin. Tapi angka tak pernah berbohong. Rakyat lebih sering mencari tahu arti kata yang mereka ucapkan sehari-hari dari pada kata-kata agung yang hanya terdengar setiap 17 Agustus.
Fenomena ini sebenarnya punya akar sejarah yang panjang. Dalam disertasinya di Universitas Leiden tahun 2018, linguis Belanda Bernard Arps menulis bahwa bahasa Indonesia memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki bahasa Melayu di Malaysia atau Brunei. “Bahasa Indonesia sejak awal dirancang sebagai bahasa pergaulan, bukan bahasa etnis,” tulisnya. “Inilah mengapa ia lentur dan mudah menyerap pengaruh dari bawah.”
Lentur. Itu kata kuncinya. Bandingkan dengan bahasa Malaysia yang kaku dan dijaga ketat oleh Dewan Bahasa dan Pustaka. Ketika anak muda Kuala Lumpur mulai menggunakan kata “syok” dan “gempak” secara liar, lembaga bahasa segera turun tangan dengan aturan penggunaan. Sementara di Indonesia, Kementerian Pendidikan justru mengadakan sayembara menciptakan istilah gaul setiap tahun.
Lalu Kepala Badan Bahasa, Prof. E. Aminudin Aziz, dalam sebuah wawancara dengan CNN Indonesia pada Februari 2024, menjelaskan filosofi di balik kelonggaran ini. “Kami tidak punya polisi bahasa. Biarkan masyarakat bermain-main dengan bahasanya. Nanti akan terjadi seleksi alam. Kata yang kuat akan bertahan, yang lemah akan mati sendiri.”
Seleksi alam itu nyata. Coba ingat-ingat, masihkah anda mendengar kata “alay” atau “lebay” seintensif dulu? Atau “cie” yang sempat merajai komentar media sosial? Mereka tidak hilang, tapi frekuensinya menurun, digantikan oleh generasi baru: “cringe”, “salting”, “red flag”, “green flag”. Bahasa bergerak seperti pasar saham naik turun mengikuti selera pasar.
Dan ditambah lagi ketika iklan berbicara seperti remaja
Jika ada satu institusi yang paling jeli membaca pergerakan lidah rakyat, itu adalah para pengiklan. Mereka bukan ahli bahasa, tapi mereka ahli membaca uang.
Pada awal tahun 2024, sebuah merek mi instan terkenal meluncurkan iklan televisi yang seluruh dialognya menggunakan bahasa gaul. Tidak ada satu pun kalimat baku. “Lu pada mager masak? Tinggal seduh, auto makan, gak pake ribet!” teriak seorang aktris muda di layar kaca. Iklan itu menjadi perbincangan hangat di Twitter.
Banyak yang memuji, tak sedikit yang mengkritik. Tapi yang tak terbantahkan: penjualan mi instan itu naik 23 persen di kuartal pertama 2024.
Fenomena serupa terjadi di dunia perbankan. Aplikasi mobile banking milik bank BUMN terbesar di Indonesia tiba-tiba mengubah gaya notifikasinya. Jika dulu pengguna mendapat notifikasi formal : “Transaksi Anda telah berhasil”, kini berbunyi: “Yay! Transfer saldo ke Bapak Joko sukses, nih! Cek mutasi, ya.” Seorang VP Digital Marketing bank tersebut mengakui dalam sebuah podcast bahwa perubahan gaya bahasa ini meningkatkan frekuensi pembukaan aplikasi hingga 40 persen. “Anak muda lebih suka aplikasi yang ngobrol, bukan sekadar memberi perintah,” katanya.
Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Dr. Arie Sujito, menyebut fenomena ini sebagai “kapitalisasi bahasa gaul”. “Modal besar masuk ke pasar bahasa. Mereka membeli kata-kata yang sedang viral, mengemasnya, dan menjualnya kembali dalam bentuk iklan. Bahasa yang awalnya lahir dari perlawanan terhadap formalitas, akhirnya dikomodifikasi oleh kapitalisme,” ujarnya dalam sebuah diskusi daring.
📚 Artikel Terkait
Dan Ketika Guru dan Polisi Ikut “Santuy”
Perubahan paling radikal justru terjadi di institusi-institusi yang selama ini dianggap sebagai benteng terakhir bahasa baku : sekolah dan kepolisian.
Seorang guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 5 Bandung, Ika Nurhayati (45), bercerita tentang pengalamannya mengajar di kelas. “Dulu saya marah kalau murid pakai kata gaul di tugas. Sekarang saya bedakan. Kalau di esai formal, saya potong nilai. Tapi kalau di diskusi kelas, saya biarkan. Malah kadang saya pakai juga untuk memancing mereka bicara.”
Strategi Ika ternyata efektif. Ketika ia mulai menyelipkan kata “santuy” dan “gaskeun” di sela-sela penjelasan tentang struktur kalimat, murid-muridnya justru lebih antusias.
“Mereka kaget. ‘Bu Ika kekinian banget, ah,’ gitu celetuk mereka. Dari situ, mereka jadi lebih berani bertanya.”
Di sisi lain, Kepolisian Daerah Jawa Timur meluncurkan kampanye lalu lintas dengan tagar #SafetySantuy pada tahun 2023. Spanduk-spanduk di jalan raya bertuliskan: “Safety dulu, santuy kemudian. Jangan ugal-ugalan, lur!” Respons warganet sangat positif. Sebuah unggahan Instagram tentang kampanye ini mendapat 150 ribu likes dan ribuan komentar dukungan.
Komisaris Besar Polisi Dwi Jatmiko, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Bidang Humas Polda Jatim, mengakui bahwa pemilihan diksi ini adalah keputusan sadar. “Kami ingin pesan keselamatan sampai ke anak muda. Bahasa formal sudah tidak mempan. Mereka hanya mendengar, tidak meresapi. Dengan bahasa mereka sendiri, pesan kami masuk ke hati.”
Namun, di balik euforia dan tawa yang diundang oleh bahasa gaul, ada bisik-bisik gelisah yang tak boleh diabaikan.
Dr. Gita Widya Lestari, psikolinguis dari Universitas Airlangga, melakukan penelitian kecil pada awal 2024 terhadap 200 mahasiswa baru di kampusnya. Ia meminta mereka menulis surat lamaran kerja imajiner dalam waktu 30 menit. Hasilnya mengkhawatirkan. Sebanyak 78 persen responden mencampuradukkan bahasa formal dan bahasa gaul dalam satu paragraf. Frasa seperti “Saya sangat antusias untuk bergabung, soalnya perusahaan ini keren banget” atau “Saya memiliki pengalaman organisasi, pokoknya gas pol!” muncul puluhan kali.
“Otak mereka sudah terkondisi untuk selalu memilih jalan tercepat. Bahasa gaul itu instan, dekat, dan nyaman. Bahasa formal itu jauh dan butuh usaha. Ketika diburu waktu, otak akan memilih yang instan,” jelas Gita kepada saya.
Fenomena ini diperparah oleh fakta bahwa anak muda Indonesia adalah salah satu konsumen media sosial terbanyak di dunia. Data We Are Social edisi Januari 2024 mencatat rata-rata orang Indonesia menghabiskan 3 jam 14 menit setiap hari hanya untuk media sosial. Di ruang digital itu, bahasa formal hampir tidak pernah muncul. Yang ada hanya obrolan cepat, singkatan, dan emoji.
Seorang redaktur surat kabar nasional yang enggan disebut namanya mengeluh kepada saya, “Kami kesulitan mencari penulis muda yang bisa menulis feature panjang dengan gaya bahasa yang indah. Mereka pintar menulis thread Twitter yang lucu, tapi ketika disuruh menulis esai 500 kata tentang budaya, mereka blank. Kosakata mereka dangkal, struktur kalimat mereka acak-acakan.”
Sebenarnya, yang terjadi hari ini adalah perang sunyi antara dua kebutuhan: kebutuhan akan kecepatan dan kebutuhan akan kedalaman. Bahasa gaul lahir dari kebutuhan akan kecepatan. Ia adalah jalan pintas untuk menyampaikan emosi dan situasi kompleks dalam satu atau dua suku kata.
Mager (malas gerak), misalnya, mampu merangkum kondisi psikologis dan fisik yang sebenarnya membutuhkan satu kalimat panjang untuk menjelaskannya.
Namun, seperti kata filsuf Ludwig Wittgenstein, “Batas bahasaku adalah batas duniaku.” Semakin sedikit kosa kata yang kita kuasai, semakin sempit pula dunia yang bisa kita pahami. Seorang anak yang hanya tahu kata baper untuk semua jenis perasaan mungkin akan kesulitan membedakan antara sedih, kecewa, sakit hati, melankolis, atau terharu. Semuanya dicampur jadi satu dalam kata baper. Padahal, setiap emosi itu punya warna dan nuansa yang berbeda.
Prof. Abdul Chaer, linguis senior yang bukunya Sosiolinguistik: Perkenalan Awal telah menjadi rujukan mahasiswa sastra selama tiga dekade, pernah berujar dalam sebuah seminar: “Bahasa itu seperti pisau. Ia bisa digunakan untuk memotong, mengukir, atau menusuk. Tergantung siapa yang memegang. Bahasa gaul itu pisau lipat kecil praktis, mudah dibawa. Tapi untuk mengukir ukiran yang rumit, Anda butuh pisau yang lebih tajam dan lebih besar. Itulah bahasa baku.”
Masalahnya, hari ini generasi muda hanya terbiasa memegang pisau lipat kecil. Mereka lupa bahwa pisau besar masih tersimpan di laci, menunggu untuk digunakan.
Kemenangan yang Pahit
Pada Oktober 2023, sebuah peristiwa simbolis terjadi di Jakarta. Badan Bahasa meluncurkan aplikasi “Kawan Bahasa” , sebuah platform interaktif yang dirancang untuk membantu masyarakat belajar bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Dalam acara peluncurannya, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim justru menggunakan bahasa gaul dalam sambutannya. “Ayo, kita gas terus! Jangan mau jadi generasi yang mager belajar bahasa!”
Hadirin tertawa. Tepuk tangan menggelegar. Namun, beberapa linguis yang hadir di ruangan itu hanya tersenyum kecut. Ironi itu tak luput dari perhatian mereka. Seorang pejabat tinggi yang bertugas menjaga bahasa baku justru menggunakan bahasa yang ingin ia “luruskan” untuk menyampaikan pesannya.
Inilah dilema terbesar kita.
Di satu sisi, kita ingin bahasa Indonesia tetap anggun, baku, dan bermartabat. Di sisi lain, kita juga ingin terhubung dengan generasi muda yang hanya mau mendengar jika kita berbicara dalam bahasa mereka. Dan dalam tarik-ulur ini, yang kalah sering kali adalah bahasa baku itu sendiri.
Seorang penyair besar Indonesia, Sapardi Djoko Damono, pernah berkata dalam sebuah wawancara di tahun 2019, beberapa bulan sebelum wafat: “Bahasa itu seperti sungai. Ia mengalir, berkelok, kadang meluap, kadang surut. Tapi ia akan selalu menemukan jalannya sendiri menuju laut.”
Ketika kata baper dan mager masuk ke dalam rapat DPRD, ketika santuy terpampang di spanduk polisi, ketika anjir menjadi judul berita di portal online terkemuka, sebenarnya bahasa Indonesia sedang menunjukkan salah satu sifat tertuanya : kelenturan. Bahasa yang lahir dari sumpah pemuda ini memang dirancang untuk menjadi bahasa pergaulan lintas suku. Dan pergaulan selalu cair, selalu berubah, selalu menemukan bentuk baru.
Namun, di tengah semua kecairan itu, kita perlu mengingat satu hal sederhana yang diajarkan para penjaga bahasa di masa lalu: rumah. Bahasa baku adalah rumah kita. Tempat kita pulang ketika kita perlu bicara dengan sopan, ketika kita perlu menulis surat resmi, ketika kita perlu mengungkapkan sesuatu yang rumit dengan presisi.
Bahasa gaul adalah taman bermain di depan rumah. Kita bisa berlarian, berteriak, tertawa lepas di sana. Tapi ketika malam tiba dan kita lelah, kita pulang ke rumah. Kita mandi. Kita berganti pakaian bersih. Kita bicara dengan bahasa yang santun.
Fenomena masuknya bahasa gaul ke ruang publik sebenarnya bukan ancaman, selama kita masih ingat jalan pulang. Masalahnya, semakin banyak anak muda yang terlalu asyik bermain di taman hingga lupa bahwa rumah itu ada. Mereka tidur di ayunan, makan di tanah, dan mengira taman adalah seluruh dunia.
Pada akhirnya, yang kita butuhkan bukanlah memagari taman atau mengunci rumah. Yang kita butuhkan adalah generasi yang tahu kapan harus berlari di rumput, dan kapan harus duduk tenang di teras. Generasi yang fasih dalam dua dunia : dunia cepat yang penuh tawa, dan dunia dalam yang penuh makna.
Sebab bahasa, seperti halnya hidup, bukan soal memilih satu dan membuang yang lain. Bahasa adalah soal keseimbangan. Dan keseimbangan, seperti kata orang bijak, adalah tempat di mana dua hal yang berlawanan bisa berdampingan tanpa saling memusnahkan.
Di ruang rapat DPRD, kata baper mungkin akan terus terdengar. Di buku pelajaran sekolah, kata demokrasi akan tetap diajarkan. Keduanya punya tempat. Keduanya punya waktu. Tugas kita bukan menjadi polisi bahasa yang menangkap kata-kata nakal. Tugas kita adalah memastikan tidak ada generasi yang hanya mengenal satu, dan melupakan yang lain.
Batu, 6 Desember 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






