POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Tunjangan Profesi Guru (TPG) dan Penumpang Gelap di Dalamnya

Aswan NasutionOleh Aswan Nasution
March 6, 2026
Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Aswan Nasution


Katanya, ini kabar baik. Katanya, ini bentuk keberpihakan. Kabar bahwa Tunjangan Profesi Guru (TPG) akan cair setiap bulan disambut dengan gemuruh tepuk tangan di ruang-ruang rapat ber-AC. Reformasi sistem, ujar mereka dengan wajah tanpa dosa. Guru diminta bersyukur.

Guru diminta sujud syukur. Tapi mari kita bedah dengan akal sehat yang masih tersisa: di balik kata “cair bulanan” itu, ada sebuah jebakan Batman bernama “validasi data setiap bulan”.


Secara logika sederhana—logika yang seharusnya dimiliki oleh para pembuat kebijakan—gurunya masih orang yang sama. Sekolahnya tetap di situ, tidak pindah ke Mars. Jam mengajarnya tetap, sertifikasinya pun sah secara hukum. Tapi di mata sistem negara yang sok digital ini, guru dianggap sebagai makhluk yang identitasnya bisa berubah setiap tiga puluh hari.


Maka, setiap bulan, guru harus membuktikan ulang keabsahan dirinya. Mereka harus membuktikan bahwa mereka masih hidup, masih mengajar, masih menjadi manusia, dan—yang paling menyedihkan—masih layak menerima haknya sendiri.

📚 Artikel Terkait

Sapi Kurus, Harga Diri, dan Kedaulatan Ekonomi di Tengah Krisis

Aspirasi Emak-emak Indonesia Untuk Memperingati Hari Anti Islamophobia ke-3 pada 15 Maret 2025

EAA Kembali Coaching Calon Penerima Beasiswa S-2

Nasib Perempuan di Lokasi Tambang Blang Nisam

Hak, Saudara-saudara, bukan sedekah! Namun di negeri ini, hak seringkali harus mengemis pada sistem yang bebal. Jika data tidak valid? Maka hak itu seketika berubah menjadi harapan kosong. TPG ditunda, dan dapur pun berhenti mengepul.


Di titik inilah, sosok “Operator Sekolah” naik kasta. Mereka bukan lagi sekadar staf administrasi yang berkutat dengan papan tik. Mereka telah menjelma menjadi penjaga gerbang rezeki. Setiap bulan, ritualnya sama: sinkron Dapodik, cek Info GTK, melototi jam mengajar, berdoa agar server Kemendikbud tidak down atau “merah”. Satu kolom saja berwarna merah, maka satu sekolah bisa puasa sampai waktu yang tidak ditentukan.
Namun, di balik layar komputer yang berpendar itu, tercium aroma busuk yang dipelihara.


Ada operator sekolah yang mendadak merasa dirinya adalah tukang kelapa. Bedanya, yang ia peras bukan batok kelapa, melainkan keringat guru. Ada yang meminta secara terang-terangan dengan mematok harga “jasa validasi”. Ada pula yang main halus, pakai istilah TST—Tahu Sama Tahu. Seolah-olah validasi itu adalah ilmu gaib yang sulit setengah mati, padahal itu adalah tugas pokok mereka yang sudah digaji oleh negara!
Operator sekolah itu dibayar untuk memastikan data beres, bukan untuk menjadi lintah darat di lingkungan pendidikan. Mereka bukan tukang peras santan yang bekerja setiap hari menghancurkan daging kelapa untuk diambil sarinya. Mereka adalah pelayan administrasi! Tapi lihatlah kenyataannya: mereka berani memalak guru karena mereka merasa memegang “leher” nasib keuangan para pendidik.
Yang lebih menyedihkan lagi adalah mentalitas para guru kita. Banyak yang memberi karena takut. Takut dipersulit di masa depan, takut datanya sengaja dibuat “tidak valid” oleh sang operator. Lalu, untuk menenangkan hati yang dongkol, mereka menggunakan tameng agama: “Hitung-hitung sedekah, Pak. Berapalah yang kita kasih ke operator dibanding yang kita dapat.”
Inilah sesat pikir yang paling purba! Sedekah itu sukarela, bukan karena ancaman sistem. Memberi uang kepada petugas untuk melakukan tugas yang memang sudah menjadi kewajibannya itu bukan sedekah, itu pungli! Itu suap! Bagaimana mungkin seorang pendidik, yang setiap hari bicara tentang integritas di depan kelas, justru memelihara budaya “amplop bawah meja” hanya karena rasa takut yang tidak pada tempatnya?
Dan mari kita jujur: apakah operator itu berani bertindak sendirian? Saya meragukannya. Di dunia birokrasi yang hierarkis ini, mustahil seorang bawahan berani memungut upeti secara masif tanpa sepengetahuan atasannya. Kepala sekolah, pengawas, atau siapa pun di atas sana, pasti mengerti. Bisa jadi, uang kutipan itu mengalir ke atas, dibagi dua, atau menjadi “dana taktis” yang menghalalkan segala cara. Ini budaya apa yang sedang kita pelihara di institusi pendidikan? Kita sedang mengajarkan korupsi berjamaah di bawah atap sekolah!
Ironinya luar biasa. Guru terus-menerus dicekoki jargon: “Fokuslah mengajar, Pak. Fokuslah mendidik, Bu. Cerdaskan bangsa!” Tapi di saat yang sama, setiap bulan mereka dihantui kalimat sakti: “Pak, Bu… sudah cek Info GTK belum? Sudah ‘aman’ belum datanya?”
Pendidikan kita sedang sakit. Kita terjebak dalam lingkaran setan validasi yang tidak masuk akal dan pungutan liar yang dibungkus kata “ikhlas”. Guru tidak boleh dibiarkan menjadi sapi perah administratif. Jika negara memang berniat baik mencairkan TPG setiap bulan, buatlah sistem yang memanusiakan guru, bukan sistem yang justru membuka keran-keran korupsi kecil di tingkat sekolah.
Cukup sudah sandiwara “syukur” ini. Berikan hak mereka tanpa syarat yang mencekik, dan bersihkan sekolah dari para “tukang peras santan” yang bersembunyi di balik layar komputer. Karena jika guru sudah takut pada operatornya sendiri, lantas apa lagi yang tersisa dari martabat pendidikan kita?

Penulis :

Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa dipanggil “Ketua”. Apabila ingin menghubunginya bisa kirimkan ke emailnya aswannasution09@gmail.com.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 82x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 60x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Aswan Nasution

Aswan Nasution

Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa dipanggil “Ketua”. Apabila ingin menghubunginya bisa kirimkan ke emailnya aswannasution09@gmail.com.

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
148
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Tadarus - An-Nahl ayat 10

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00