HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    884 shares
    Share 354 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025

Jajak Pendapat #KaburAjaDulu

Februari 22, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    884 shares
    Share 354 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Tunjangan Profesi Guru (TPG) dan Penumpang Gelap di Dalamnya

Aswan Nasution by Aswan Nasution
Maret 6, 2026
in # Gaji Guru, #Profesi Guru, Artikel, Guru
Reading Time: 3 mins read
0
Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum
599
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Aswan Nasution


Katanya, ini kabar baik. Katanya, ini bentuk keberpihakan. Kabar bahwa Tunjangan Profesi Guru (TPG) akan cair setiap bulan disambut dengan gemuruh tepuk tangan di ruang-ruang rapat ber-AC. Reformasi sistem, ujar mereka dengan wajah tanpa dosa. Guru diminta bersyukur.

Baca Juga

632458c6-42bf-4adc-b9a7-5a84eb6eea5c

Physical Artificial Intelligence Geothermal dan Potensi Indonesia Menjadi Pemain Dunia

Maret 27, 2026
Lebaran di Kampung yang Sunyi

Kegaduhan dan Seni Mengalihkan Pandangan.

Maret 27, 2026
1001386795_11zon (1)

Kapal Induk “Gratis” Dari Italia?!

Maret 27, 2026

Guru diminta sujud syukur. Tapi mari kita bedah dengan akal sehat yang masih tersisa: di balik kata “cair bulanan” itu, ada sebuah jebakan Batman bernama “validasi data setiap bulan”.


Secara logika sederhana—logika yang seharusnya dimiliki oleh para pembuat kebijakan—gurunya masih orang yang sama. Sekolahnya tetap di situ, tidak pindah ke Mars. Jam mengajarnya tetap, sertifikasinya pun sah secara hukum. Tapi di mata sistem negara yang sok digital ini, guru dianggap sebagai makhluk yang identitasnya bisa berubah setiap tiga puluh hari.


Maka, setiap bulan, guru harus membuktikan ulang keabsahan dirinya. Mereka harus membuktikan bahwa mereka masih hidup, masih mengajar, masih menjadi manusia, dan—yang paling menyedihkan—masih layak menerima haknya sendiri.

ADVERTISEMENT

Hak, Saudara-saudara, bukan sedekah! Namun di negeri ini, hak seringkali harus mengemis pada sistem yang bebal. Jika data tidak valid? Maka hak itu seketika berubah menjadi harapan kosong. TPG ditunda, dan dapur pun berhenti mengepul.


Di titik inilah, sosok “Operator Sekolah” naik kasta. Mereka bukan lagi sekadar staf administrasi yang berkutat dengan papan tik. Mereka telah menjelma menjadi penjaga gerbang rezeki. Setiap bulan, ritualnya sama: sinkron Dapodik, cek Info GTK, melototi jam mengajar, berdoa agar server Kemendikbud tidak down atau “merah”. Satu kolom saja berwarna merah, maka satu sekolah bisa puasa sampai waktu yang tidak ditentukan.
Namun, di balik layar komputer yang berpendar itu, tercium aroma busuk yang dipelihara.


Ada operator sekolah yang mendadak merasa dirinya adalah tukang kelapa. Bedanya, yang ia peras bukan batok kelapa, melainkan keringat guru. Ada yang meminta secara terang-terangan dengan mematok harga “jasa validasi”. Ada pula yang main halus, pakai istilah TST—Tahu Sama Tahu. Seolah-olah validasi itu adalah ilmu gaib yang sulit setengah mati, padahal itu adalah tugas pokok mereka yang sudah digaji oleh negara!
Operator sekolah itu dibayar untuk memastikan data beres, bukan untuk menjadi lintah darat di lingkungan pendidikan. Mereka bukan tukang peras santan yang bekerja setiap hari menghancurkan daging kelapa untuk diambil sarinya. Mereka adalah pelayan administrasi! Tapi lihatlah kenyataannya: mereka berani memalak guru karena mereka merasa memegang “leher” nasib keuangan para pendidik.
Yang lebih menyedihkan lagi adalah mentalitas para guru kita. Banyak yang memberi karena takut. Takut dipersulit di masa depan, takut datanya sengaja dibuat “tidak valid” oleh sang operator. Lalu, untuk menenangkan hati yang dongkol, mereka menggunakan tameng agama: “Hitung-hitung sedekah, Pak. Berapalah yang kita kasih ke operator dibanding yang kita dapat.”
Inilah sesat pikir yang paling purba! Sedekah itu sukarela, bukan karena ancaman sistem. Memberi uang kepada petugas untuk melakukan tugas yang memang sudah menjadi kewajibannya itu bukan sedekah, itu pungli! Itu suap! Bagaimana mungkin seorang pendidik, yang setiap hari bicara tentang integritas di depan kelas, justru memelihara budaya “amplop bawah meja” hanya karena rasa takut yang tidak pada tempatnya?
Dan mari kita jujur: apakah operator itu berani bertindak sendirian? Saya meragukannya. Di dunia birokrasi yang hierarkis ini, mustahil seorang bawahan berani memungut upeti secara masif tanpa sepengetahuan atasannya. Kepala sekolah, pengawas, atau siapa pun di atas sana, pasti mengerti. Bisa jadi, uang kutipan itu mengalir ke atas, dibagi dua, atau menjadi “dana taktis” yang menghalalkan segala cara. Ini budaya apa yang sedang kita pelihara di institusi pendidikan? Kita sedang mengajarkan korupsi berjamaah di bawah atap sekolah!
Ironinya luar biasa. Guru terus-menerus dicekoki jargon: “Fokuslah mengajar, Pak. Fokuslah mendidik, Bu. Cerdaskan bangsa!” Tapi di saat yang sama, setiap bulan mereka dihantui kalimat sakti: “Pak, Bu… sudah cek Info GTK belum? Sudah ‘aman’ belum datanya?”
Pendidikan kita sedang sakit. Kita terjebak dalam lingkaran setan validasi yang tidak masuk akal dan pungutan liar yang dibungkus kata “ikhlas”. Guru tidak boleh dibiarkan menjadi sapi perah administratif. Jika negara memang berniat baik mencairkan TPG setiap bulan, buatlah sistem yang memanusiakan guru, bukan sistem yang justru membuka keran-keran korupsi kecil di tingkat sekolah.
Cukup sudah sandiwara “syukur” ini. Berikan hak mereka tanpa syarat yang mencekik, dan bersihkan sekolah dari para “tukang peras santan” yang bersembunyi di balik layar komputer. Karena jika guru sudah takut pada operatornya sendiri, lantas apa lagi yang tersisa dari martabat pendidikan kita?

Penulis :

Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa dipanggil “Ketua”. Apabila ingin menghubunginya bisa kirimkan ke emailnya aswannasution09@gmail.com.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 246x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 230x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 140x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 131x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare240
Aswan Nasution

Aswan Nasution

Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa dipanggil “Ketua”. Apabila ingin menghubunginya bisa kirimkan ke emailnya aswannasution09@gmail.com.

Baca Juga

IMG_0518
Sejarah

Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa

Maret 27, 2026
b25b943e-f0d2-47df-bd75-ad0c643a8322
# Ironi

Gara-gara Tahanan Rumah Gus Yaqut, Akhirnya KPK Minta Maaf

Maret 27, 2026
# Ironi

BENGKEL OPINI RAKyat

Maret 27, 2026
#Geopolitik

Rekonsiliasi Sunni–Syiah: Kunci Persatuan Umat Islam Menghadapi Ketimpangan Global

Maret 27, 2026
Next Post

Tadarus - An-Nahl ayat 10

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Tulisan

© 2026 potretonline.com