POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

INDISCHE PARTIJ

Aswan NasutionOleh Aswan Nasution
March 5, 2026
Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Aswan Nasution

Mereka tidak membawa senapan. Mereka membawa ide. Dan ide, di negeri jajahan, selalu dianggap lebih berbahaya dari mesiu. Tahun 1912, saat banyak orang masih percaya Belanda bisa “dibujuk halus”, tiga orang ini memilih jalan yang membuat pemerintah kolonial gelisah: menyebut kemerdekaan dengan terang. Bukan nanti. Bukan samar. Sekarang.

Nama partainya: Indische Partij.

Itu saja sudah membuat telinga kolonial panas.

Awal abad ke-20, Hindia Belanda sedang belajar menjadi modern. Sekolah dibuka. Kaum pribumi diberi kesempatan terbatas. Politik Etis dipromosikan sebagai bukti kemurahan hati. Tapi kemurahan hati yang diukur dengan penggaris penguasa selalu menyisakan batas. Pendidikan melahirkan kaum terpelajar. Kaum terpelajar melahirkan kesadaran. Dan kesadaran melahirkan kemarahan.

Di tengah suasana itu, lahirlah figur keras kepala bernama Tjipto Mangoenkoesoemo. Dokter lulusan STOVIA. Pernah berjasa mengatasi wabah pes di Malang. Pemerintah kolonial hendak memberinya penghargaan. Ia menolak. Bukan karena tak butuh medali. Tapi karena ia tahu, penghargaan bisa menjadi tali.

Ia mundur dari jabatan dokter pemerintah. Masuk ke dunia pergerakan. Sempat di Boedi Oetomo. Lalu keluar. Terlalu hati-hati, mungkin. Ia ingin yang lebih tegas.

Ia tidak sendirian. Ada Soewardi Soerjaningrat—yang kelak dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara. Ada pula Ernest Douwes Dekker—Indo-Eropa yang memilih berpihak pada tanah yang ia pijak. Tiga orang. Tiga latar berbeda. Satu kesimpulan: Hindia bukan milik Den Haag.

Indische Partij lahir dengan gagasan sederhana tapi radikal: Hindia untuk semua yang mengakui Hindia sebagai tanah airnya. Tidak peduli ras. Tidak peduli warna kulit. Ini bukan nasionalisme sempit. Ini nasionalisme inklusif. Dan justru karena itu ia berbahaya.

Partai ini tidak bermain simbol. Ia langsung menyebut tujuan: kemerdekaan. Di saat organisasi lain masih berhitung, mereka sudah memutuskan. Terlalu cepat? Mungkin. Tapi sejarah sering bergerak karena mereka yang dianggap terlalu cepat.

Perlawanan mereka bersenjata kata. Melalui surat kabar De Express. Di sana, tulisan-tulisan pedas terbit rutin. Hingga satu artikel meledak seperti granat: “Als Ik Een Nederlander was”. Andai Aku Seorang Belanda. Ditulis oleh Soewardi.

Tulisan itu mempertanyakan perayaan kemerdekaan Belanda dari Prancis yang hendak didanai dari kantong rakyat Hindia. Logikanya sederhana: bagaimana mungkin bangsa yang merdeka merayakan kemerdekaannya dengan memungut uang dari bangsa yang belum merdeka?

Sederhana. Tapi mematikan.

Kolonial tidak suka ditertawakan. Apalagi dipermalukan dengan logika. Tiga serangkai ini dibuang ke Belanda. Tanpa pengadilan panjang. Tanpa debat terbuka. Karena di negeri jajahan, hukum seringkali adalah kepanjangan tangan rasa takut.

📚 Artikel Terkait

MENGKLAIM TAKDIR

Sajak – Sajak Ina Nur Fazlina

2025,Tahun Emas Musik Klasik Indonesia

BENGKEL OPINI RAKyat

Indische Partij akhirnya dibubarkan. Resmi. Administratif. Legal. Tapi ide tidak pernah tunduk pada stempel pembubaran.

Tjipto kembali ke Jawa karena sakit. Ia masuk Volksraad. Dewan Rakyat versi kolonial. Banyak yang berharap ia akan melunak. Ia tidak. Ia membela petani. Mendukung pemogokan buruh di Polanharjo. Ia bersuara tentang ketimpangan.

Hasilnya? Dibuang lagi. Ke Banda Neira. Empat belas tahun. Empat belas tahun adalah waktu yang cukup untuk membuat orang menyerah. Tapi tidak untuknya.

Di Banda, ia merenung. Ia tetap marah. Tapi marahnya terpelihara. Ia melihat dunia berubah. Fasisme tumbuh di Eropa. Jepang datang dengan propaganda Asia Raya. Banyak tokoh memilih bekerja sama. Tjipto menolak. Ia lebih khawatir pada fasisme daripada kolonialisme yang sudah ia kenal wajahnya.

Ia mendukung Gerakan Anti Fasis. Tubuhnya melemah. Tapi pikirannya tidak.

Ia wafat 1943. Ia tidak menyaksikan Proklamasi 1945. Tapi tanpa orang-orang seperti dia, mungkin mental merdeka tidak pernah matang. Tahun 1964, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Namanya diabadikan menjadi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo di Jakarta.

Kita mengenal rumah sakitnya. Tidak selalu mengenal keberaniannya.

Mengapa Indische Partij begitu terkenal dalam sejarah? Karena ia partai politik pertama yang secara tegas menuntut kemerdekaan penuh. Bukan otonomi. Bukan perbaikan kecil. Kemerdekaan. Kata yang waktu itu terasa seperti dosa.

Dan mengapa ia terasa seperti catatan kaki dalam ingatan publik hari ini? Mungkin karena ia kalah secara struktur. Mungkin karena ia terlalu dini. Atau mungkin karena kita lebih nyaman merayakan hasil, bukan proses yang penuh risiko.

Indische Partij mengajarkan satu hal penting: perubahan besar selalu dimulai dari keberanian menyebut sesuatu apa adanya. Mereka menyebut penjajahan sebagai penjajahan. Mereka menyebut kemerdekaan sebagai hak. Tanpa embel-embel.

Hari ini kita hidup di negeri merdeka. Tapi pertanyaan yang dulu mereka ajukan masih relevan: apakah kita berani menyebut ketidakadilan sebagai ketidakadilan? Atau kita kembali sopan berlebihan demi kenyamanan?

Sejarah bukan museum. Ia cermin. Dan Indische Partij adalah salah satu pantulan paling jernih tentang keberanian intelektual. Ia lahir dari kemarahan yang terdidik. Ia dibubarkan karena terlalu terang. Ia dikenang karena terlalu jujur.

Mereka mungkin terlalu cepat untuk zamannya. Tapi tanpa yang terlalu cepat, waktu tidak pernah bergerak.

Dan kemerdekaan, pada akhirnya, memang tidak pernah lahir dari kesabaran yang pasif. Ia lahir dari orang-orang yang berani berkata: cukup.

Indische Partij mungkin dibubarkan pada 1912. Tetapi gagasannya tidak pernah dibubarkan. Ia menjadi fondasi mental bagi politik kebangsaan Indonesia. Untuk pertama kalinya, kemerdekaan tidak lagi dibisikkan dalam forum terbatas. Ia diumumkan sebagai hak politik rakyat. Itu lompatan besar. Dari organisasi kultural menuju perjuangan politik yang terang dan terbuka.

Langkah yang dirintis Tjipto dan kawan-kawan adalah keberanian memindahkan pusat perjuangan: dari keluhan menjadi tuntutan. Dari etika sopan kepada kolonial menjadi keberpihakan tegas kepada rakyat. Mereka meletakkan dasar bahwa politik bukan alat mencari posisi, tetapi alat memperjuangkan martabat manusia. Kemerdekaan dipahami bukan sekadar lepas dari Belanda, melainkan hak menentukan nasib sendiri.

Warisan itu terasa dalam pergerakan-pergerakan berikutnya. Partai-partai nasional tumbuh dengan kesadaran bahwa rakyat adalah subjek, bukan objek kekuasaan. Bahasa “hak” menggantikan bahasa “belas kasihan.” Itulah sumbangan terbesar Indische Partij.

Perjuangan mereka tulus. Tanpa jaminan menang. Tanpa kepastian dihargai. Mereka bekerja untuk masa depan yang mungkin tak sempat mereka saksikan. Dan kemerdekaan 1945, dalam banyak hal, berdiri di atas keberanian awal itu—keberanian menyebut kemerdekaan sebagai milik rakyat, bukan hadiah penguasa.


Penulis :
Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa di panggil “Ketua”.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 79x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 64x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 57x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Aswan Nasution

Aswan Nasution

Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa dipanggil “Ketua”. Apabila ingin menghubunginya bisa kirimkan ke emailnya aswannasution09@gmail.com.

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
148
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Gara-gara Ucapan Bahlil, Terjadi Panic Buying BBM di Aceh

Gara-gara Ucapan Bahlil, Terjadi Panic Buying BBM di Aceh

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00