Dengarkan Artikel
Oleh: Syarifudin Brutu
Di sebuah sudut masjid yang remang setelah salat Isya, sebuah kotak kaca—penjara suci bagi para filantrop—menjadi panggung bagi drama paling getir abad ini. Di dalamnya, aroma apek keringat kuli bangunan bercampur dengan wangi parfum prancis yang menempel pada kertas-kertas merah yang kaku.
”Geser sedikit, dasar kumal,” desis selembar seratus ribu yang masih berbau tinta tajam dan aroma maskulin mahal. Tubuhnya masih licin, tanpa lipatan, seolah baru saja keluar dari rahim mesin ATM eksklusif di lobi hotel berbintang.
Si dua ribu rupiah, yang tubuhnya sudah tipis seperti kerupuk dan penuh selotip di bagian pinggang, hanya mendongak lemas. “Maaf, Tuan Merah. Kotak ini memang sempit kalau hati yang mengisinya terlalu besar kepala.”
Si Merah mendengus, merapikan serat kertasnya yang angkuh. “Kalian harusnya sujud syukur aku mau masuk ke kotak pengap ini. Aku ini ‘uang operasional’ tingkat tinggi. Tadi malam saja, aku masih berada di antara belahan payudara seorang primadona di diskotik ‘Lembah Dosa’. Rasanya hangat, wangi alkohol, dan penuh gairah. Tapi pagi ini, si Bos—si Pejabat yang perutnya lebih buncit dari anggaran daerah itu—melemparku ke sini setelah dia mandi wajib.”
Seekor sepuluh ribu yang warnanya sudah memudar karena terlalu sering dicuci dalam saku celana buruh pelabuhan, menyahut dengan suara serak. “Ke diskotik? Lalu apa urusanmu dengan rumah Tuhan ini?”
Si Merah tertawa, sebuah tawa yang terdengar seperti gesekan kertas mahal. “Itu dia intinya! Si Bos itu baru saja menandatangani proyek fiktif kemarin siang. Dia merasa sedikit ‘berdosa’ karena tadi malam memakai uang rakyat untuk membayar desahan wanita penghibur. Jadi, dia mengirimku ke sini sebagai DP untuk kavling di surga. Dia pikir, dengan memasukkanku ke lubang sempit ini, Tuhan akan tutup mata pada laporan pertanggungjawaban palsunya di meja kantor.”
”Oh, jadi kamu itu surat sogokan?” tanya si lima ribu yang sudah lecek luar biasa, hasil dari kembalian tukang sayur. “Kami di sini masuk dengan doa tulus agar anak pemilik kami bisa makan es krim besok pagi. Tapi kamu? Kamu masuk ke sini seperti pengacara yang mencoba menyuap Hakim Agung.”
📚 Artikel Terkait
”Tepat!” seru si Merah bangga. “Si Bos itu menganggap Tuhan seperti oknum jaksa. Masukkan saja beberapa lembar ‘uang damai’ ke kotak amal, maka semua dosa korupsi, perzinahan, dan air mata rakyat yang diperasnya akan terhapus dalam sekali denting logam. Dia ingin menyogok Tuhan agar tidak menanyakan dari mana asalku.”
Suasana di dalam kotak itu mendadak hening. Dari balik kaca, terlihat bayangan si Pejabat yang tadi memasukkan si Merah. Ia masih bersimpuh di barisan depan, memegang tasbih dengan gerakan mekanis, sementara otaknya mungkin sedang menghitung persentase kickback untuk proyek jalan raya yang aspalnya setipis kulit bawang.
”Lucu ya,” gumam si dua ribu. “Dia memberikan uang yang bukan miliknya, kepada Dzat yang memiliki segalanya, dengan harapan Dzat itu bisa dibeli oleh potongan kertas yang dicetak manusia. Apakah dia tidak sadar kalau di sini, kamu tidak lebih dari sekadar sampah berwarna merah?”
Si Merah mulai merasa gerah. Aroma parfum mahal yang menempel padanya perlahan kalah oleh bau pesing tipis dan aroma kemiskinan yang jujur dari kawan-kawannya.
”Dia pikir,” lanjut si Merah dengan nada sarkas yang tajam, “surga itu seperti kursi jabatan. Bisa didapat dengan ‘mahar’ yang tepat. Dia tadi berbisik saat memasukkanku: ‘Ya Tuhan, lancarkan proyekku, hapus dosaku.’ Bayangkan! Dia ingin menukar uang hasil rampokan dengan pengampunan abadi. Benar-benar negosiasi paling tidak tahu diri yang pernah aku dengar.”
”Kasihan si Bos itu,” sahut si sepuluh ribu. “Dia tidak tahu kalau Tuhan tidak butuh uang untuk membangun kerajaan-Nya. Dia hanya butuh tangan yang bersih, bukan tangan yang bau amis keringat orang lain lalu dibasuh dengan sabun mewah.”
Malam semakin larut. Masjid itu sepi. Di dalam kotak, si Merah yang sombong itu kini mulai layu. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: meski nilainya paling besar, ia adalah yang paling hina di antara tumpukan kertas itu. Ia adalah bukti kejahatan yang mencoba dibungkus dengan jubah kesalehan.
Ia adalah uang suap yang dikirim ke alamat yang salah. Sebab, di hadapan Sang Pemilik Semesta, nilai selembar kertas tidak diukur dari angka nol yang berderet, melainkan dari sisa air mata yang tidak ikut tercurah saat uang itu didapatkan.
”Besok,” bisik si dua ribu sebelum terlelap, “ketika pengurus masjid membuka kotak ini, kamu mungkin akan digunakan untuk membangun menara masjid yang megah. Tapi ingat, menara yang dibangun dengan uang haram hanyalahmonumen untuk kesombongan manusia yang merasa bisa mengakali Tuhannya.”
Si Merah tidak menjawab. Ia hanya terdiam, merasa kaku, dan mulai merindukan kehangatan diskotik—tempat yang setidaknya jauh lebih jujur mengakui dosa daripada sebuah kotak amal yang dipenuhi uang sogokan untuk Sang Pencipta.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





