POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kavling Surga Harga Grosir

RedaksiOleh Redaksi
March 2, 2026
Kavling Surga Harga Grosir
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Syarifudin Brutu

Di sebuah sudut masjid yang remang setelah salat Isya, sebuah kotak kaca—penjara suci bagi para filantrop—menjadi panggung bagi drama paling getir abad ini. Di dalamnya, aroma apek keringat kuli bangunan bercampur dengan wangi parfum prancis yang menempel pada kertas-kertas merah yang kaku.

​”Geser sedikit, dasar kumal,” desis selembar seratus ribu yang masih berbau tinta tajam dan aroma maskulin mahal. Tubuhnya masih licin, tanpa lipatan, seolah baru saja keluar dari rahim mesin ATM eksklusif di lobi hotel berbintang.

​Si dua ribu rupiah, yang tubuhnya sudah tipis seperti kerupuk dan penuh selotip di bagian pinggang, hanya mendongak lemas. “Maaf, Tuan Merah. Kotak ini memang sempit kalau hati yang mengisinya terlalu besar kepala.”

​Si Merah mendengus, merapikan serat kertasnya yang angkuh. “Kalian harusnya sujud syukur aku mau masuk ke kotak pengap ini. Aku ini ‘uang operasional’ tingkat tinggi. Tadi malam saja, aku masih berada di antara belahan payudara seorang primadona di diskotik ‘Lembah Dosa’. Rasanya hangat, wangi alkohol, dan penuh gairah. Tapi pagi ini, si Bos—si Pejabat yang perutnya lebih buncit dari anggaran daerah itu—melemparku ke sini setelah dia mandi wajib.”

​Seekor sepuluh ribu yang warnanya sudah memudar karena terlalu sering dicuci dalam saku celana buruh pelabuhan, menyahut dengan suara serak. “Ke diskotik? Lalu apa urusanmu dengan rumah Tuhan ini?”

​Si Merah tertawa, sebuah tawa yang terdengar seperti gesekan kertas mahal. “Itu dia intinya! Si Bos itu baru saja menandatangani proyek fiktif kemarin siang. Dia merasa sedikit ‘berdosa’ karena tadi malam memakai uang rakyat untuk membayar desahan wanita penghibur. Jadi, dia mengirimku ke sini sebagai DP untuk kavling di surga. Dia pikir, dengan memasukkanku ke lubang sempit ini, Tuhan akan tutup mata pada laporan pertanggungjawaban palsunya di meja kantor.”

​”Oh, jadi kamu itu surat sogokan?” tanya si lima ribu yang sudah lecek luar biasa, hasil dari kembalian tukang sayur. “Kami di sini masuk dengan doa tulus agar anak pemilik kami bisa makan es krim besok pagi. Tapi kamu? Kamu masuk ke sini seperti pengacara yang mencoba menyuap Hakim Agung.”

📚 Artikel Terkait

Buku Harian Yang Hilang

Mengajarkan Anak Menjadi Manusia Seutuhnya

Kisah Nurwani: Usia Bukan Penghalang untuk Belajar

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

​”Tepat!” seru si Merah bangga. “Si Bos itu menganggap Tuhan seperti oknum jaksa. Masukkan saja beberapa lembar ‘uang damai’ ke kotak amal, maka semua dosa korupsi, perzinahan, dan air mata rakyat yang diperasnya akan terhapus dalam sekali denting logam. Dia ingin menyogok Tuhan agar tidak menanyakan dari mana asalku.”

​Suasana di dalam kotak itu mendadak hening. Dari balik kaca, terlihat bayangan si Pejabat yang tadi memasukkan si Merah. Ia masih bersimpuh di barisan depan, memegang tasbih dengan gerakan mekanis, sementara otaknya mungkin sedang menghitung persentase kickback untuk proyek jalan raya yang aspalnya setipis kulit bawang.

​”Lucu ya,” gumam si dua ribu. “Dia memberikan uang yang bukan miliknya, kepada Dzat yang memiliki segalanya, dengan harapan Dzat itu bisa dibeli oleh potongan kertas yang dicetak manusia. Apakah dia tidak sadar kalau di sini, kamu tidak lebih dari sekadar sampah berwarna merah?”

​Si Merah mulai merasa gerah. Aroma parfum mahal yang menempel padanya perlahan kalah oleh bau pesing tipis dan aroma kemiskinan yang jujur dari kawan-kawannya.

​”Dia pikir,” lanjut si Merah dengan nada sarkas yang tajam, “surga itu seperti kursi jabatan. Bisa didapat dengan ‘mahar’ yang tepat. Dia tadi berbisik saat memasukkanku: ‘Ya Tuhan, lancarkan proyekku, hapus dosaku.’ Bayangkan! Dia ingin menukar uang hasil rampokan dengan pengampunan abadi. Benar-benar negosiasi paling tidak tahu diri yang pernah aku dengar.”

​”Kasihan si Bos itu,” sahut si sepuluh ribu. “Dia tidak tahu kalau Tuhan tidak butuh uang untuk membangun kerajaan-Nya. Dia hanya butuh tangan yang bersih, bukan tangan yang bau amis keringat orang lain lalu dibasuh dengan sabun mewah.”

​Malam semakin larut. Masjid itu sepi. Di dalam kotak, si Merah yang sombong itu kini mulai layu. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: meski nilainya paling besar, ia adalah yang paling hina di antara tumpukan kertas itu. Ia adalah bukti kejahatan yang mencoba dibungkus dengan jubah kesalehan.

​Ia adalah uang suap yang dikirim ke alamat yang salah. Sebab, di hadapan Sang Pemilik Semesta, nilai selembar kertas tidak diukur dari angka nol yang berderet, melainkan dari sisa air mata yang tidak ikut tercurah saat uang itu didapatkan.

​”Besok,” bisik si dua ribu sebelum terlelap, “ketika pengurus masjid membuka kotak ini, kamu mungkin akan digunakan untuk membangun menara masjid yang megah. Tapi ingat, menara yang dibangun dengan uang haram hanyalahmonumen untuk kesombongan manusia yang merasa bisa mengakali Tuhannya.”

​Si Merah tidak menjawab. Ia hanya terdiam, merasa kaku, dan mulai merindukan kehangatan diskotik—tempat yang setidaknya jauh lebih jujur mengakui dosa daripada sebuah kotak amal yang dipenuhi uang sogokan untuk Sang Pencipta.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 67x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 57x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 53x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
POTRET Budaya

Perjalanan Suci Sang Mentari

Oleh Tabrani YunisFebruary 20, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    169 shares
    Share 68 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
145
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
208
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00