HABA Mangat

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    870 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Pemenang Lomba Menulis – Edisi Agustus 2025

September 10, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    870 shares
    Share 348 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Kavling Surga Harga Grosir

Syarifudin Brutu by Syarifudin Brutu
Maret 2, 2026
in # Koruptor, #Moralitas, Esai, Korupsi, Uang
Reading Time: 4 mins read
0
Kavling Surga Harga Grosir
591
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Syarifudin Brutu

Di sebuah sudut masjid yang remang setelah salat Isya, sebuah kotak kaca—penjara suci bagi para filantrop—menjadi panggung bagi drama paling getir abad ini. Di dalamnya, aroma apek keringat kuli bangunan bercampur dengan wangi parfum prancis yang menempel pada kertas-kertas merah yang kaku.

Baca Juga

Lebaran di Kampung yang Sunyi

Lebaran di Kampung yang Sunyi

Maret 23, 2026
Cerita di Balik OTT: Mengapa Korupsi Kepala Daerah Terus Terjadi?

Cerita di Balik OTT: Mengapa Korupsi Kepala Daerah Terus Terjadi?

Maret 20, 2026
Buka Bersama HVM Mengubah Cara Saya Membaca Sejarah

Buka Bersama HVM Mengubah Cara Saya Membaca Sejarah

Maret 19, 2026

​”Geser sedikit, dasar kumal,” desis selembar seratus ribu yang masih berbau tinta tajam dan aroma maskulin mahal. Tubuhnya masih licin, tanpa lipatan, seolah baru saja keluar dari rahim mesin ATM eksklusif di lobi hotel berbintang.

​Si dua ribu rupiah, yang tubuhnya sudah tipis seperti kerupuk dan penuh selotip di bagian pinggang, hanya mendongak lemas. “Maaf, Tuan Merah. Kotak ini memang sempit kalau hati yang mengisinya terlalu besar kepala.”

​Si Merah mendengus, merapikan serat kertasnya yang angkuh. “Kalian harusnya sujud syukur aku mau masuk ke kotak pengap ini. Aku ini ‘uang operasional’ tingkat tinggi. Tadi malam saja, aku masih berada di antara belahan payudara seorang primadona di diskotik ‘Lembah Dosa’. Rasanya hangat, wangi alkohol, dan penuh gairah. Tapi pagi ini, si Bos—si Pejabat yang perutnya lebih buncit dari anggaran daerah itu—melemparku ke sini setelah dia mandi wajib.”

​Seekor sepuluh ribu yang warnanya sudah memudar karena terlalu sering dicuci dalam saku celana buruh pelabuhan, menyahut dengan suara serak. “Ke diskotik? Lalu apa urusanmu dengan rumah Tuhan ini?”

ADVERTISEMENT

​Si Merah tertawa, sebuah tawa yang terdengar seperti gesekan kertas mahal. “Itu dia intinya! Si Bos itu baru saja menandatangani proyek fiktif kemarin siang. Dia merasa sedikit ‘berdosa’ karena tadi malam memakai uang rakyat untuk membayar desahan wanita penghibur. Jadi, dia mengirimku ke sini sebagai DP untuk kavling di surga. Dia pikir, dengan memasukkanku ke lubang sempit ini, Tuhan akan tutup mata pada laporan pertanggungjawaban palsunya di meja kantor.”

​”Oh, jadi kamu itu surat sogokan?” tanya si lima ribu yang sudah lecek luar biasa, hasil dari kembalian tukang sayur. “Kami di sini masuk dengan doa tulus agar anak pemilik kami bisa makan es krim besok pagi. Tapi kamu? Kamu masuk ke sini seperti pengacara yang mencoba menyuap Hakim Agung.”

​”Tepat!” seru si Merah bangga. “Si Bos itu menganggap Tuhan seperti oknum jaksa. Masukkan saja beberapa lembar ‘uang damai’ ke kotak amal, maka semua dosa korupsi, perzinahan, dan air mata rakyat yang diperasnya akan terhapus dalam sekali denting logam. Dia ingin menyogok Tuhan agar tidak menanyakan dari mana asalku.”

​Suasana di dalam kotak itu mendadak hening. Dari balik kaca, terlihat bayangan si Pejabat yang tadi memasukkan si Merah. Ia masih bersimpuh di barisan depan, memegang tasbih dengan gerakan mekanis, sementara otaknya mungkin sedang menghitung persentase kickback untuk proyek jalan raya yang aspalnya setipis kulit bawang.

​”Lucu ya,” gumam si dua ribu. “Dia memberikan uang yang bukan miliknya, kepada Dzat yang memiliki segalanya, dengan harapan Dzat itu bisa dibeli oleh potongan kertas yang dicetak manusia. Apakah dia tidak sadar kalau di sini, kamu tidak lebih dari sekadar sampah berwarna merah?”

​Si Merah mulai merasa gerah. Aroma parfum mahal yang menempel padanya perlahan kalah oleh bau pesing tipis dan aroma kemiskinan yang jujur dari kawan-kawannya.

​”Dia pikir,” lanjut si Merah dengan nada sarkas yang tajam, “surga itu seperti kursi jabatan. Bisa didapat dengan ‘mahar’ yang tepat. Dia tadi berbisik saat memasukkanku: ‘Ya Tuhan, lancarkan proyekku, hapus dosaku.’ Bayangkan! Dia ingin menukar uang hasil rampokan dengan pengampunan abadi. Benar-benar negosiasi paling tidak tahu diri yang pernah aku dengar.”

​”Kasihan si Bos itu,” sahut si sepuluh ribu. “Dia tidak tahu kalau Tuhan tidak butuh uang untuk membangun kerajaan-Nya. Dia hanya butuh tangan yang bersih, bukan tangan yang bau amis keringat orang lain lalu dibasuh dengan sabun mewah.”

​Malam semakin larut. Masjid itu sepi. Di dalam kotak, si Merah yang sombong itu kini mulai layu. Ia menyadari satu hal yang mengerikan: meski nilainya paling besar, ia adalah yang paling hina di antara tumpukan kertas itu. Ia adalah bukti kejahatan yang mencoba dibungkus dengan jubah kesalehan.

​Ia adalah uang suap yang dikirim ke alamat yang salah. Sebab, di hadapan Sang Pemilik Semesta, nilai selembar kertas tidak diukur dari angka nol yang berderet, melainkan dari sisa air mata yang tidak ikut tercurah saat uang itu didapatkan.

​”Besok,” bisik si dua ribu sebelum terlelap, “ketika pengurus masjid membuka kotak ini, kamu mungkin akan digunakan untuk membangun menara masjid yang megah. Tapi ingat, menara yang dibangun dengan uang haram hanyalahmonumen untuk kesombongan manusia yang merasa bisa mengakali Tuhannya.”

​Si Merah tidak menjawab. Ia hanya terdiam, merasa kaku, dan mulai merindukan kehangatan diskotik—tempat yang setidaknya jauh lebih jujur mengakui dosa daripada sebuah kotak amal yang dipenuhi uang sogokan untuk Sang Pencipta.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 185x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 157x dibaca (7 hari)
Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh
Pergeseran Pusat Gravitasi Dunia: Membaca Konflik Iran–Israel dan Implikasinya bagi Strategi Geopolitik Indonesia serta Masa Depan Aceh
17 Mar 2026 • 140x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 135x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236
Syarifudin Brutu

Syarifudin Brutu

Syarifudin Brutu, akrab disapa Syarif, merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Syiah Kuala. Saat ini ia menetap di Banda Aceh dan aktif membagikan karya serta pemikirannya melalui akun Instagram @aksara_arunika. Untuk kepentingan korespondensi, ia dapat disapa melalui WhatsApp di 085763055727 atau email Syarifbrutu1@gmail.com.

Baca Juga

Emak Mananti Lebaran
#Cerpen

Emak Mananti Lebaran

Maret 23, 2026
Lebaran di Kampung yang Sunyi
Esai

Lebaran di Kampung yang Sunyi

Maret 23, 2026
Hari Raya Idul Fitri; Kemenangan Untuk Siapa?
#Idul Fitri

Hari Raya Idul Fitri; Kemenangan Untuk Siapa?

Maret 23, 2026
Cerita Perjalanan

Batu Gajah Hilang di Bate Iliek

Maret 23, 2026
Next Post
Tadarus Buku Epistemologi Moksa Para Naga di Tengah Dunia yang Kian Retak

Tadarus Buku Epistemologi Moksa Para Naga di Tengah Dunia yang Kian Retak

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Tulisan
  • Login

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com