POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Melihat Perang Iran – Israel/AS Melalui Teori James C. Scott

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.SiOleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si
March 1, 2026
Melihat Perang Iran – Israel/AS Melalui Teori James C. Scott
🔊

Dengarkan Artikel

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh
Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh

Peran Israel dan Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran dapat dibaca secara tajam melalui dua karya James C. Scott—Weapons of the Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance (1985) dan The Art of Not Being Governed: An Anarchist History of Upland Southeast Asia (2009).

Meskipun kedua buku ini lahir dari studi antropologi pedesaan dan sejarah kawasan pegunungan Asia Tenggara, konsep-konsepnya menawarkan lensa yang sangat produktif untuk memahami bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana ia dipaksakan, dan bagaimana ia dihindari. Dalam konteks perang Iran–Israel/AS, teori Scott membantu melihat dinamika yang tidak tampak dalam analisis geopolitik konvensional: bagaimana negara kuat berupaya menutup ruang resistensi, dan bagaimana aktor yang ditekan menciptakan ruang-ruang alternatif untuk bertahan.

Israel/AS sebagai kekuatan hegemonik dan logika resistensi terselubung
Dalam Weapons of the Weak, Scott menunjukkan bahwa kekuasaan tidak hanya dilawan melalui pemberontakan terbuka, tetapi melalui bentuk-bentuk resistensi kecil, terselubung, dan berisiko rendah. Ia menulis bahwa kelompok lemah sering memilih “everyday forms of resistance” seperti disimulasi, sabotase kecil, atau kepatuhan pura-pura.


“Everyday forms of resistance… include foot-dragging, dissimulation, false compliance, pilfering, feigned ignorance, slander, arson, sabotage.”
— Weapons of the Weak, p. 29
Dan lebih jauh:
“The powerless are often obliged to adopt strategies that minimize the risks of open confrontation.”
— p. 32


Jika konsep ini dipindahkan ke konteks Timur Tengah, Israel dan AS tampil sebagai kekuatan dominan yang berupaya mengatur tatanan keamanan regional. Mereka memaksakan batasan terhadap program nuklir Iran, mengawasi pergerakan militernya, dan menargetkan jaringan proksi yang dianggap mengancam stabilitas kawasan.

Dalam struktur kekuasaan seperti ini, Iran tidak dapat selalu merespons secara frontal. Maka, ia mengembangkan bentuk-bentuk resistensi yang sangat mirip dengan apa yang digambarkan Scott: penggunaan milisi proksi, operasi siber, sabotase, dan diplomasi ambigu yang memungkinkan “kepatuhan pura-pura” terhadap tekanan internasional.


Israel dan AS, dalam kerangka ini, berperan sebagai aktor yang berusaha menutup celah-celah resistensi tersebut. Serangan presisi terhadap fasilitas militer Iran, operasi intelijen terhadap ilmuwan nuklir, dan tekanan diplomatik untuk transparansi adalah upaya untuk menghilangkan ruang bagi strategi “weapons of the weak” yang digunakan Iran.

📚 Artikel Terkait

Pendidikan Agama dan Paradoks Korupsi di Negeri Religius

Rintik Hujan

Memperkuat Identitas Bangsa Lewat Bahasa dan Sastra di Sekolah

BERJUTA SEPEDA DAN LINGKUNGAN

Dengan demikian, konflik ini dapat dipahami sebagai pertarungan antara kekuatan hegemonik yang ingin mempertahankan tatanan dan aktor yang berusaha menghindari dominasi melalui taktik-taktik terselubung.

Ruang tak tergovernansi dan jaringan proksi sebagai “Zomia modern”
Jika Weapons of the Weak menjelaskan dimensi mikro resistensi, The Art of Not Being Governed menawarkan kerangka makro tentang bagaimana kelompok-kelompok tertentu menghindari kontrol negara. Scott menggambarkan kawasan Zomia sebagai wilayah yang secara geografis dan politis memungkinkan masyarakatnya untuk “menghindari negara” alih-alih melawannya secara langsung. Ia menulis:
“State evasion rather than state confrontation.”


— The Art of Not Being Governed, p. x
Dan:
“The people of Zomia have chosen to be ungoverned… through mobility, dispersion, and avoidance.”
— p. 9
Dalam konteks Iran, konsep ini sangat relevan. Iran membangun jaringan proksi di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman—wilayah yang secara struktural lemah, terfragmentasi, atau berada dalam kondisi perang berkepanjangan.

Ruang-ruang ini berfungsi sebagai “Zomia modern”: wilayah yang sulit dijangkau oleh kekuasaan negara besar, tempat aktor non-negara dapat beroperasi dengan otonomi relatif. Scott menegaskan bahwa:
“Nonstate spaces are created by geography, but also by political choices.”
— p. 13


Iran secara sadar menciptakan dan memelihara ruang-ruang non-negara ini sebagai strategi untuk menghindari dominasi Israel/AS. Dengan memindahkan sebagian kekuatan militernya ke jaringan proksi, Iran mengurangi risiko konfrontasi langsung dan memperluas kedalaman strategisnya. Israel dan AS, sebaliknya, berupaya menutup ruang-ruang ini melalui serangan udara di Suriah, operasi intelijen di Irak, dan dukungan militer kepada negara-negara yang berupaya menahan pengaruh Iran.


Dalam kerangka Scott, Israel dan AS berperan sebagai negara sentral yang ingin memperluas kontrolnya ke wilayah-wilayah yang dianggap “tidak tergovernansi”, sementara Iran memanfaatkan ruang-ruang tersebut untuk mempertahankan otonomi dan memproyeksikan kekuatan tanpa harus menanggung biaya perang terbuka.

Kekuasaan, ruang, dan seni menghindari dominasi


Dua karya Scott ini, ketika dibaca bersama, mengungkapkan bahwa konflik Iran–Israel/AS bukan hanya soal misil, diplomasi, atau nuklir. Konflik ini adalah pertarungan tentang ruang—ruang fisik, ruang politik, dan ruang strategis. Israel dan AS berupaya mengatur, mengawasi, dan mengontrol ruang tersebut, sementara Iran berusaha menciptakan celah-celah di mana ia dapat bertahan dan memperluas pengaruhnya tanpa tunduk pada tatanan hegemonik.


Scott membantu melihat bahwa resistensi tidak selalu muncul dalam bentuk perang besar; ia muncul dalam bentuk jaringan proksi, operasi siber, diplomasi ambigu, dan pemanfaatan wilayah-wilayah yang sulit dijangkau oleh kekuasaan negara. Dalam perspektif ini, perang Iran–Israel/AS adalah contoh kontemporer dari dinamika klasik antara kekuasaan yang ingin memusat dan aktor yang berusaha menghindari pusat tersebut.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 78x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 75x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 75x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 71x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 58x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si

Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si., adalah seorang akademisi dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang antropologi, dengan fokus utama pada antropologi politik dan agama. Beliau saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, yang berlokasi di Lhokseumawe, Aceh. Selain mengajar, Dr. Al Chaidar juga aktif melakukan penelitian dan seringkali diundang sebagai narasumber atau pengamat untuk berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan konteks Aceh dan Indonesia secara luas. Kontribusinya dalam pengembangan ilmu antropologi dan pemahaman isu-isu kontemporer di Indonesia sangat signifikan melalui karya-karya ilmiah dan keterlibatannya dalam diskusi publik.

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
POTRET Budaya

Perjalanan Suci Sang Mentari

Oleh Tabrani YunisFebruary 20, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    169 shares
    Share 68 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    162 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
143
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
208
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
Wafatnya Khamenei: Senjakala Globalisasi dan Eskalasi Perang Dunia III yang Terfragmentasi

Puisi Tak Bisa Menghentikan Perang

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00