Dengarkan Artikel
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh
Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh
Peran Israel dan Amerika Serikat dalam konflik dengan Iran dapat dibaca secara tajam melalui dua karya James C. Scott—Weapons of the Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance (1985) dan The Art of Not Being Governed: An Anarchist History of Upland Southeast Asia (2009).
Meskipun kedua buku ini lahir dari studi antropologi pedesaan dan sejarah kawasan pegunungan Asia Tenggara, konsep-konsepnya menawarkan lensa yang sangat produktif untuk memahami bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana ia dipaksakan, dan bagaimana ia dihindari. Dalam konteks perang Iran–Israel/AS, teori Scott membantu melihat dinamika yang tidak tampak dalam analisis geopolitik konvensional: bagaimana negara kuat berupaya menutup ruang resistensi, dan bagaimana aktor yang ditekan menciptakan ruang-ruang alternatif untuk bertahan.
Israel/AS sebagai kekuatan hegemonik dan logika resistensi terselubung
Dalam Weapons of the Weak, Scott menunjukkan bahwa kekuasaan tidak hanya dilawan melalui pemberontakan terbuka, tetapi melalui bentuk-bentuk resistensi kecil, terselubung, dan berisiko rendah. Ia menulis bahwa kelompok lemah sering memilih “everyday forms of resistance” seperti disimulasi, sabotase kecil, atau kepatuhan pura-pura.
“Everyday forms of resistance… include foot-dragging, dissimulation, false compliance, pilfering, feigned ignorance, slander, arson, sabotage.”
— Weapons of the Weak, p. 29
Dan lebih jauh:
“The powerless are often obliged to adopt strategies that minimize the risks of open confrontation.”
— p. 32
Jika konsep ini dipindahkan ke konteks Timur Tengah, Israel dan AS tampil sebagai kekuatan dominan yang berupaya mengatur tatanan keamanan regional. Mereka memaksakan batasan terhadap program nuklir Iran, mengawasi pergerakan militernya, dan menargetkan jaringan proksi yang dianggap mengancam stabilitas kawasan.
Dalam struktur kekuasaan seperti ini, Iran tidak dapat selalu merespons secara frontal. Maka, ia mengembangkan bentuk-bentuk resistensi yang sangat mirip dengan apa yang digambarkan Scott: penggunaan milisi proksi, operasi siber, sabotase, dan diplomasi ambigu yang memungkinkan “kepatuhan pura-pura” terhadap tekanan internasional.
Israel dan AS, dalam kerangka ini, berperan sebagai aktor yang berusaha menutup celah-celah resistensi tersebut. Serangan presisi terhadap fasilitas militer Iran, operasi intelijen terhadap ilmuwan nuklir, dan tekanan diplomatik untuk transparansi adalah upaya untuk menghilangkan ruang bagi strategi “weapons of the weak” yang digunakan Iran.
📚 Artikel Terkait
Dengan demikian, konflik ini dapat dipahami sebagai pertarungan antara kekuatan hegemonik yang ingin mempertahankan tatanan dan aktor yang berusaha menghindari dominasi melalui taktik-taktik terselubung.
Ruang tak tergovernansi dan jaringan proksi sebagai “Zomia modern”
Jika Weapons of the Weak menjelaskan dimensi mikro resistensi, The Art of Not Being Governed menawarkan kerangka makro tentang bagaimana kelompok-kelompok tertentu menghindari kontrol negara. Scott menggambarkan kawasan Zomia sebagai wilayah yang secara geografis dan politis memungkinkan masyarakatnya untuk “menghindari negara” alih-alih melawannya secara langsung. Ia menulis:
“State evasion rather than state confrontation.”
— The Art of Not Being Governed, p. x
Dan:
“The people of Zomia have chosen to be ungoverned… through mobility, dispersion, and avoidance.”
— p. 9
Dalam konteks Iran, konsep ini sangat relevan. Iran membangun jaringan proksi di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman—wilayah yang secara struktural lemah, terfragmentasi, atau berada dalam kondisi perang berkepanjangan.
Ruang-ruang ini berfungsi sebagai “Zomia modern”: wilayah yang sulit dijangkau oleh kekuasaan negara besar, tempat aktor non-negara dapat beroperasi dengan otonomi relatif. Scott menegaskan bahwa:
“Nonstate spaces are created by geography, but also by political choices.”
— p. 13
Iran secara sadar menciptakan dan memelihara ruang-ruang non-negara ini sebagai strategi untuk menghindari dominasi Israel/AS. Dengan memindahkan sebagian kekuatan militernya ke jaringan proksi, Iran mengurangi risiko konfrontasi langsung dan memperluas kedalaman strategisnya. Israel dan AS, sebaliknya, berupaya menutup ruang-ruang ini melalui serangan udara di Suriah, operasi intelijen di Irak, dan dukungan militer kepada negara-negara yang berupaya menahan pengaruh Iran.
Dalam kerangka Scott, Israel dan AS berperan sebagai negara sentral yang ingin memperluas kontrolnya ke wilayah-wilayah yang dianggap “tidak tergovernansi”, sementara Iran memanfaatkan ruang-ruang tersebut untuk mempertahankan otonomi dan memproyeksikan kekuatan tanpa harus menanggung biaya perang terbuka.
Kekuasaan, ruang, dan seni menghindari dominasi
Dua karya Scott ini, ketika dibaca bersama, mengungkapkan bahwa konflik Iran–Israel/AS bukan hanya soal misil, diplomasi, atau nuklir. Konflik ini adalah pertarungan tentang ruang—ruang fisik, ruang politik, dan ruang strategis. Israel dan AS berupaya mengatur, mengawasi, dan mengontrol ruang tersebut, sementara Iran berusaha menciptakan celah-celah di mana ia dapat bertahan dan memperluas pengaruhnya tanpa tunduk pada tatanan hegemonik.
Scott membantu melihat bahwa resistensi tidak selalu muncul dalam bentuk perang besar; ia muncul dalam bentuk jaringan proksi, operasi siber, diplomasi ambigu, dan pemanfaatan wilayah-wilayah yang sulit dijangkau oleh kekuasaan negara. Dalam perspektif ini, perang Iran–Israel/AS adalah contoh kontemporer dari dinamika klasik antara kekuasaan yang ingin memusat dan aktor yang berusaha menghindari pusat tersebut.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






