HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025
Kabar Redaksi

Tema Lomba Menulis Bulan Februari

Februari 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Tema Lomba Menulis Maret 2025

Maret 22, 2025
Kabar Redaksi

Tema Lomba Menulis Bulan Februari

Februari 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    883 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Sumatera Menangis dan Kritik Ekologi

Redaksi by Redaksi
Februari 26, 2026
in #Korban Bencana, #Sumatera Utara, Aceh, Banjir bandang, Bencana, Kebencanaan, Sumatera Barat
Reading Time: 7 mins read
0
Sumatera Menangis dan Kritik Ekologi
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

  • Pameran Lukisan Denny JA Menyambut Ramadhan

Jakarta, 26 Februari 2026

(Oleh Tim Redaksi Orbit Indonesia)

Baca Juga

Menyusun Buku Antologi Relawan Bencana Banjir dan Longsor Di Tengah Bencana Hidrometeorologi Aceh

Pak Bisa Minta Tolong Mendorong Helikopter?

Maret 18, 2026
Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Lailatul Qadar Dalam Fenomenologi Cahaya

Maret 17, 2026
Negara yang Mendidik dan atau Negara yang Menghukum

Koeli Kontrak (Contractarbeider)

Maret 17, 2026

Menjelang waktu berbuka puasa di bulan Ramadhan, saya mengunjungi Galeri Lukisan Denny JA yang berlokasi di Padel District Ciputat.

Di ruang ini lebih dari seratus karya terpajang di dinding-dinding galeri. Di antaranya, terdapat 27 lukisan dalam serial Sumatra Menangis dan Kritik Ekologi.

Saya lama terdiam di depan satu karya yang paling mengguncang batin.

“Tangan Terakhir yang Meminta.”

Seorang anak lelaki terperangkap dalam pusaran air. Tangannya terulur ke langit, bukan sekadar meminta pertolongan. Ia seperti menuntut jawaban. Wajahnya bukan hanya wajah ketakutan, melainkan wajah generasi yang lahir dari kesalahan kita sendiri.

Di belakangnya, bayangan kota menjulang samar. Di sekelilingnya, puing kayu dan batang pohon mengambang. Air yang menelannya bukan air jernih kehidupan, melainkan lumpur keruh yang menyimpan jejak pembabatan dan kelalaian panjang.

Lukisan ini tidak hanya merekam tragedi seorang anak. Ia merekam kegagalan kolektif sebuah peradaban.

Bencana di Sumatra bukan sekadar takdir hujan. Ia adalah konsekuensi dari pilihan yang berulang.

-000-

Denny JA menyebut pendekatan ini sebagai Genre Lukisan Imajinasi Nusantara. Ia bukan sekadar gaya visual, melainkan sebuah sikap estetik dan moral dalam membaca zaman.

Genre Lukisan Imajinasi Nusantara yang ia bangun merupakan inovasi seni rupa digital yang memadukan realisme figur manusia, simbol budaya lokal, dan lanskap surealis, dengan bantuan kecerdasan buatan sebagai perangkat kreatif.

Namun teknologi di sini bukan pusat perhatian. Ia hanya jembatan. Yang utama tetaplah jiwa, tafsir, dan kegelisahan sosial yang ingin disampaikan.

ADVERTISEMENT

Dalam genre ini, batik tidak hadir sebagai ornamen. Ia menjadi inti narasi visual. Motif yang dikenakan tokoh-tokohnya adalah simbol akar budaya, harmoni, dan spiritualitas lokal yang tetap bertahan di tengah arus modernitas yang keras.

Batik menjadi pernyataan bahwa identitas tidak boleh hanyut bersama banjir zaman. Ia menegaskan keberlanjutan memori, bahkan ketika lanskap di sekelilingnya retak.

Figur manusianya dilukis secara realistis dan proporsional. Tatapan mata, kerut wajah, posisi tubuh, semuanya mencerminkan emosi yang jujur dan kekuatan ekspresi yang dalam.

Manusia dalam lukisan-lukisan ini bukan simbol abstrak. Ia hadir sebagai subjek yang nyata, membawa beban sejarah, trauma, dan harapan.

Namun di belakang figur yang realistis itu, terbentang lanskap surealis. Latar belakangnya sering menyerupai dunia mimpi atau ruang batin yang terdistorsi. Air menjadi pusaran yang tak wajar. Langit terasa terlalu berat. Kota hadir sebagai siluet yang jauh dan tak peduli.

Surealisme di sini bukan permainan estetika, melainkan refleksi batin zaman dan dinamika sosial-politik yang mengguncang.

Imajinasi Nusantara lahir dari kontemplasi budaya tropis yang bertemu dengan teknologi digital.

Kecerdasan buatan digunakan untuk memperluas kemungkinan visual, mengeksplorasi tema-tema modern yang kompleks, dari trauma kolektif hingga era algoritma dan relasi manusia dengan gawai yang semakin intim.

Seperti tergambar dalam refleksi sebelumnya tentang kedekatan manusia dengan telepon genggam, teknologi bukan lagi sekadar alat, melainkan lingkungan hidup baru yang membentuk kesadaran.

Melalui pendekatan ini, karya-karya dalam genre Imajinasi Nusantara berupaya menangkap luka kolektif dengan kejujuran visual.

Ia juga secara halus menggugat estetika kolonial yang selama ini menempatkan simbol lokal sebagai pinggiran.

Dalam lukisan-lukisan ini, simbol Nusantara berdiri di pusat kanvas, sarat makna, dan berbicara dengan percaya diri.

Dengan demikian, Imajinasi Nusantara bukan sekadar teknik atau gaya. Ia adalah upaya membangun bahasa visual yang berakar pada identitas lokal, namun terbuka pada teknologi dan pergulatan global.

Ia menjadikan kanvas sebagai ruang dialog antara tradisi dan masa depan, antara ingatan dan kemungkinan, antara luka dan harapan.

-000-

Melalui 27 karya dalam serial ini, Denny JA memotret banjir, tanah longsor, hutan gundul, anak-anak yang duduk di atap rumah, ibu yang memeluk foto keluarga, ayah yang memanggul nenek tua di tengah air coklat.

Figur manusia digambarkan realistis, emosinya presisi, kerut wajahnya detail, air matanya jujur.

Namun lingkungannya selalu membawa unsur hiperbolik. Langit terasa terlalu berat. Air tampak terlalu luas. Akar pohon menyerupai luka terbuka. Seolah alam sendiri menjadi saksi sekaligus korban.

Kritikus seni rupa senior Agus Dermawan T menyebut Denny JA sebagai pelukis Indonesia pertama yang secara sadar memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membangun genre lukisannya sendiri.

-000-

Dalam sejarah seni Indonesia, teknologi selalu hadir, dari fotografi hingga digital printing. Namun Denny JA menjadikan kecerdasan buatan sebagai alat konseptual, bukan sekadar teknis.

Ia memanfaatkannya untuk membangun imajinasi kolektif tentang Nusantara yang terluka.

Ia tidak sekadar menciptakan gambar. Ia membangun karakter dan lanskap moral.

Dalam karya lain yang sempat mengundang diskusi luas, Denny JA menggambarkan Paus mencuci kaki rakyat Indonesia di ruang publik. Bukan di altar, melainkan di jalan raya.

Karya tersebut menjadi viral beriringan dengan kunjungan Paus Fransiskus ke Jakarta. Di pinggir jalan, mobil Paus berhenti. Paus membuka kaca mobil dan memberkati lukisan Denny JA itu. Peristiwa langka ini menjadi berita viral saat itu,

Lukisan itu memindahkan simbol agama ke ruang sosial dan menempatkan spiritualitas di tengah kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana serial Sumatra Menangis, karya tersebut bukan dokumentasi, melainkan tafsir sosial.

-000-

Dalam konteks global, pendekatan Denny JA mengingatkan pada Francisco Goya yang melukis kengerian perang, Edvard Munch yang memvisualkan kecemasan eksistensial, serta Frida Kahlo yang menjadikan tubuhnya kanvas penderitaan kolektif.

Perbedaannya terletak pada keberanian menggabungkan realisme manusia Indonesia dengan lanskap ekologis yang menjadi tokoh dramatis utama.

Ia tidak melukis perang antar manusia. Ia melukis perang manusia melawan keserakahannya sendiri.

Ia menempatkan alam bukan sebagai latar, tetapi sebagai subjek yang bersuara.

-000-

Dalam suasana Ramadhan, pameran ini menjadi refleksi spiritual yang mendalam. Ramadhan adalah bulan menahan diri, menahan lapar, menahan amarah, menahan ego. Pertanyaannya menjadi lebih luas. Apakah kita juga sanggup menahan kerakusan ekologis.

“Tangan Terakhir yang Meminta” menjelma metafora doa dan peringatan sekaligus.

Anak itu mengangkat tangan bukan hanya untuk diselamatkan, tetapi untuk mengingatkan. Dalam tradisi Islam, tangan yang terangkat adalah simbol permohonan. Dalam lukisan ini, ia menjadi simbol tanggung jawab.

Sumatra menangis bukan hanya karena hujan. Ia menangis karena kita lupa.

Lupa bahwa hutan adalah benteng kehidupan.
Lupa bahwa sungai adalah urat nadi peradaban.
Lupa bahwa tanah bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan ruang hidup generasi.

Keistimewaan 27 lukisan ini tidak hanya terletak pada penggunaan teknologi atau kekuatan dramatisnya. Keistimewaannya terletak pada keberanian menjadikan ekologi sebagai pusat narasi seni rupa Indonesia kontemporer.

Bencana tidak lagi tampil sebagai dokumentasi jurnalistik. Ia diangkat menjadi refleksi peradaban.

Di tangan Denny JA, kecerdasan buatan bukan ancaman bagi seni. Ia menjadi alat untuk memperluas imajinasi moral dan memperdalam empati kolektif.

Sumatra dalam serial ini bukan lagi sekadar wilayah geografis. Ia menjadi tokoh utama yang menangis dan bersaksi.

-000-

Pameran “Sumatra Menangis dan Kritik Ekologi” berlangsung di Galeri Lukisan Denny JA, Padel District Ciputat, 1–30 Ramadhan 1447 H, pukul 10.00- 24.00 WIB, terbuka gratis untuk umum.

Selesai ramadhan serial lukisan Sumatra menangis dan kritik ekologi akan tetap dipajang di sana, mulai jam 6.00 – 24.00, hingga datang serial lukisan baru.

Di balik estetika kanvas, data menunjukkan Sumatra kehilangan jutaan hektare hutan; lukisan ini adalah alarm visual bahwa krisis iklim bukan lagi prediksi masa depan, melainkan luka menganga yang menuntut pertobatan.

Di hadapan lukisan itu, kita tidak hanya melihat seorang anak yang hampir tenggelam. Kita melihat diri kita sendiri yang masih berdiri di tepi pusaran.

Di ruang hening antara kanvas dan doa, kita menyadari: setiap garis banjir di dinding rumah adalah tanda tangan kita sendiri pada kontrak panjang pengkhianatan terhadap bumi yang mempercayai kita.

Kita masih memiliki waktu untuk memilih.

Ramadhan datang sebagai kesempatan.

Apakah tangan yang terangkat itu benar-benar akan menjadi tangan terakhir.

Ataukah kita memilih menjadi tangan yang menjawab sebelum pusaran itu membesar dan menelan sejarah kita sendiri.

(Redaksi Orbit Indonesia)

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/1KQdZK7B2M/?mibextid=wwXIfru

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 308x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 272x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 229x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 178x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

​TEOLOGI LIMBAH
Puisi

​TEOLOGI LIMBAH

Maret 19, 2026
Artikel

Hari Raya di Tengah Krisis Timur Tengah: Luka Aceh dan Kemiskinan yang Terabaikan

Maret 18, 2026
Kecanggihan Teknologi pada Zaman Nabi Daud dan Nabi Sulaiman
Artikel

Belajar Menabung dari Surah Yusuf: Iktibar di Tengah Ketidakpastian Global

Maret 18, 2026
Koperasi Merah Putih: Ketika Lilin Ekonomi Desa Ragu Menyala
Dinas Koperasi

Koperasi Merah Putih: Ketika Lilin Ekonomi Desa Ragu Menyala

Maret 18, 2026
Next Post

Terbuka untuk Dunia, Terluka oleh Dunia: Bahaya Media Sosial

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com