• Latest
Sumatera Menangis dan Kritik Ekologi - 267ff004 3b57 4c8b 8509 a9f52b8c9866 | #Korban Bencana | Potret Online

Sumatera Menangis dan Kritik Ekologi

Februari 26, 2026
Sumatera Menangis dan Kritik Ekologi - f1bdf4cf 9647 4450 9e5d 5fe8e2797b93 | #Korban Bencana | Potret Online

Perang Minyak Rebutan atau Sandiwara Transisi Energi?

April 8, 2026
Ilustrasi orang-orang dengan kepribadian berbeda yang terbagi antara logika dan emosi

MBTI: Tes Kepribadian Populer yang Belum Tentu Akurat

April 8, 2026
Ilustrasi seseorang merasa tertekan karena berusaha memenuhi harapan banyak orang sekaligus

People Pleaser: Saat Terlalu Baik Justru Menyakiti Diri Sendiri

April 8, 2026
IMG_0688

Barisan Orang-orang yang Tertipu

April 8, 2026
IMG_0686

Lara Ati Ing Zaman Edan : Mengapa Kita Semakin Susah Bahagia?

April 8, 2026
7444bf8c-d0bd-4369-bab2-d2108a21ec5d

Arqan Wira Rizqullah Winner Putera Pelajar Riau

April 8, 2026
K-pop fans immersed in digital devotion

Hubungan Parasosial Penggemar dengan Figur Publik: Fenomena K-Pop ENHYPEN

April 8, 2026
IMG_0683

Sisi Gelap Bermain Toponimi, Kala Pepatah Bertransformasi Menjadi Stereotip

April 8, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Rabu, April 8, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Sumatera Menangis dan Kritik Ekologi - 267ff004 3b57 4c8b 8509 a9f52b8c9866 | #Korban Bencana | Potret Online

Sumatera Menangis dan Kritik Ekologi

Redaksi by Redaksi
Februari 26, 2026
in #Korban Bencana, #Sumatera Utara, Aceh, Banjir bandang, Bencana, Kebencanaan, Sumatera Barat
Reading Time: 7 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
  • Pameran Lukisan Denny JA Menyambut Ramadhan

Jakarta, 26 Februari 2026

(Oleh Tim Redaksi Orbit Indonesia)

Menjelang waktu berbuka puasa di bulan Ramadhan, saya mengunjungi Galeri Lukisan Denny JA yang berlokasi di Padel District Ciputat.

Baca Juga:
  • Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata
  • Siapa Buat Laporan ke Prabowo, Pengungsi Tak Ada Lagi di Tenda?
  • Banjir Hidrometeorologi yang Menyisakan Kesengsaraan Panjang

Di ruang ini lebih dari seratus karya terpajang di dinding-dinding galeri. Di antaranya, terdapat 27 lukisan dalam serial Sumatra Menangis dan Kritik Ekologi.

Saya lama terdiam di depan satu karya yang paling mengguncang batin.

“Tangan Terakhir yang Meminta.”

Seorang anak lelaki terperangkap dalam pusaran air. Tangannya terulur ke langit, bukan sekadar meminta pertolongan. Ia seperti menuntut jawaban. Wajahnya bukan hanya wajah ketakutan, melainkan wajah generasi yang lahir dari kesalahan kita sendiri.

Di belakangnya, bayangan kota menjulang samar. Di sekelilingnya, puing kayu dan batang pohon mengambang. Air yang menelannya bukan air jernih kehidupan, melainkan lumpur keruh yang menyimpan jejak pembabatan dan kelalaian panjang.

Lukisan ini tidak hanya merekam tragedi seorang anak. Ia merekam kegagalan kolektif sebuah peradaban.

Bencana di Sumatra bukan sekadar takdir hujan. Ia adalah konsekuensi dari pilihan yang berulang.

-000-

Denny JA menyebut pendekatan ini sebagai Genre Lukisan Imajinasi Nusantara. Ia bukan sekadar gaya visual, melainkan sebuah sikap estetik dan moral dalam membaca zaman.

Genre Lukisan Imajinasi Nusantara yang ia bangun merupakan inovasi seni rupa digital yang memadukan realisme figur manusia, simbol budaya lokal, dan lanskap surealis, dengan bantuan kecerdasan buatan sebagai perangkat kreatif.

Namun teknologi di sini bukan pusat perhatian. Ia hanya jembatan. Yang utama tetaplah jiwa, tafsir, dan kegelisahan sosial yang ingin disampaikan.

Dalam genre ini, batik tidak hadir sebagai ornamen. Ia menjadi inti narasi visual. Motif yang dikenakan tokoh-tokohnya adalah simbol akar budaya, harmoni, dan spiritualitas lokal yang tetap bertahan di tengah arus modernitas yang keras.

Batik menjadi pernyataan bahwa identitas tidak boleh hanyut bersama banjir zaman. Ia menegaskan keberlanjutan memori, bahkan ketika lanskap di sekelilingnya retak.

Figur manusianya dilukis secara realistis dan proporsional. Tatapan mata, kerut wajah, posisi tubuh, semuanya mencerminkan emosi yang jujur dan kekuatan ekspresi yang dalam.

Manusia dalam lukisan-lukisan ini bukan simbol abstrak. Ia hadir sebagai subjek yang nyata, membawa beban sejarah, trauma, dan harapan.

Namun di belakang figur yang realistis itu, terbentang lanskap surealis. Latar belakangnya sering menyerupai dunia mimpi atau ruang batin yang terdistorsi. Air menjadi pusaran yang tak wajar. Langit terasa terlalu berat. Kota hadir sebagai siluet yang jauh dan tak peduli.

Surealisme di sini bukan permainan estetika, melainkan refleksi batin zaman dan dinamika sosial-politik yang mengguncang.

Imajinasi Nusantara lahir dari kontemplasi budaya tropis yang bertemu dengan teknologi digital.

Kecerdasan buatan digunakan untuk memperluas kemungkinan visual, mengeksplorasi tema-tema modern yang kompleks, dari trauma kolektif hingga era algoritma dan relasi manusia dengan gawai yang semakin intim.

Seperti tergambar dalam refleksi sebelumnya tentang kedekatan manusia dengan telepon genggam, teknologi bukan lagi sekadar alat, melainkan lingkungan hidup baru yang membentuk kesadaran.

Melalui pendekatan ini, karya-karya dalam genre Imajinasi Nusantara berupaya menangkap luka kolektif dengan kejujuran visual.

Ia juga secara halus menggugat estetika kolonial yang selama ini menempatkan simbol lokal sebagai pinggiran.

Dalam lukisan-lukisan ini, simbol Nusantara berdiri di pusat kanvas, sarat makna, dan berbicara dengan percaya diri.

Dengan demikian, Imajinasi Nusantara bukan sekadar teknik atau gaya. Ia adalah upaya membangun bahasa visual yang berakar pada identitas lokal, namun terbuka pada teknologi dan pergulatan global.

Ia menjadikan kanvas sebagai ruang dialog antara tradisi dan masa depan, antara ingatan dan kemungkinan, antara luka dan harapan.

-000-

Melalui 27 karya dalam serial ini, Denny JA memotret banjir, tanah longsor, hutan gundul, anak-anak yang duduk di atap rumah, ibu yang memeluk foto keluarga, ayah yang memanggul nenek tua di tengah air coklat.

Figur manusia digambarkan realistis, emosinya presisi, kerut wajahnya detail, air matanya jujur.

Namun lingkungannya selalu membawa unsur hiperbolik. Langit terasa terlalu berat. Air tampak terlalu luas. Akar pohon menyerupai luka terbuka. Seolah alam sendiri menjadi saksi sekaligus korban.

Kritikus seni rupa senior Agus Dermawan T menyebut Denny JA sebagai pelukis Indonesia pertama yang secara sadar memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membangun genre lukisannya sendiri.

-000-

Dalam sejarah seni Indonesia, teknologi selalu hadir, dari fotografi hingga digital printing. Namun Denny JA menjadikan kecerdasan buatan sebagai alat konseptual, bukan sekadar teknis.

Ia memanfaatkannya untuk membangun imajinasi kolektif tentang Nusantara yang terluka.

Ia tidak sekadar menciptakan gambar. Ia membangun karakter dan lanskap moral.

Dalam karya lain yang sempat mengundang diskusi luas, Denny JA menggambarkan Paus mencuci kaki rakyat Indonesia di ruang publik. Bukan di altar, melainkan di jalan raya.

Karya tersebut menjadi viral beriringan dengan kunjungan Paus Fransiskus ke Jakarta. Di pinggir jalan, mobil Paus berhenti. Paus membuka kaca mobil dan memberkati lukisan Denny JA itu. Peristiwa langka ini menjadi berita viral saat itu,

Lukisan itu memindahkan simbol agama ke ruang sosial dan menempatkan spiritualitas di tengah kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana serial Sumatra Menangis, karya tersebut bukan dokumentasi, melainkan tafsir sosial.

-000-

Dalam konteks global, pendekatan Denny JA mengingatkan pada Francisco Goya yang melukis kengerian perang, Edvard Munch yang memvisualkan kecemasan eksistensial, serta Frida Kahlo yang menjadikan tubuhnya kanvas penderitaan kolektif.

Perbedaannya terletak pada keberanian menggabungkan realisme manusia Indonesia dengan lanskap ekologis yang menjadi tokoh dramatis utama.

ADVERTISEMENT

Ia tidak melukis perang antar manusia. Ia melukis perang manusia melawan keserakahannya sendiri.

Ia menempatkan alam bukan sebagai latar, tetapi sebagai subjek yang bersuara.

-000-

Dalam suasana Ramadhan, pameran ini menjadi refleksi spiritual yang mendalam. Ramadhan adalah bulan menahan diri, menahan lapar, menahan amarah, menahan ego. Pertanyaannya menjadi lebih luas. Apakah kita juga sanggup menahan kerakusan ekologis.

“Tangan Terakhir yang Meminta” menjelma metafora doa dan peringatan sekaligus.

Anak itu mengangkat tangan bukan hanya untuk diselamatkan, tetapi untuk mengingatkan. Dalam tradisi Islam, tangan yang terangkat adalah simbol permohonan. Dalam lukisan ini, ia menjadi simbol tanggung jawab.

Baca Juga

Sumatera Menangis dan Kritik Ekologi - IMG_3472 | #Korban Bencana | Potret Online

Perempuan di Warung Kopi

April 8, 2026
IMG_0518

Aceh di Persimpangan

April 8, 2026
Sumatera Menangis dan Kritik Ekologi - 38a1ed71 84b6 44ab 9f7a a62e2a66e5e2 | #Korban Bencana | Potret Online

Warung Kopi Sebagai Ruang Belajar Publik

April 7, 2026

Sumatra menangis bukan hanya karena hujan. Ia menangis karena kita lupa.

Lupa bahwa hutan adalah benteng kehidupan.
Lupa bahwa sungai adalah urat nadi peradaban.
Lupa bahwa tanah bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan ruang hidup generasi.

Keistimewaan 27 lukisan ini tidak hanya terletak pada penggunaan teknologi atau kekuatan dramatisnya. Keistimewaannya terletak pada keberanian menjadikan ekologi sebagai pusat narasi seni rupa Indonesia kontemporer.

Bencana tidak lagi tampil sebagai dokumentasi jurnalistik. Ia diangkat menjadi refleksi peradaban.

Di tangan Denny JA, kecerdasan buatan bukan ancaman bagi seni. Ia menjadi alat untuk memperluas imajinasi moral dan memperdalam empati kolektif.

Sumatra dalam serial ini bukan lagi sekadar wilayah geografis. Ia menjadi tokoh utama yang menangis dan bersaksi.

-000-

Pameran “Sumatra Menangis dan Kritik Ekologi” berlangsung di Galeri Lukisan Denny JA, Padel District Ciputat, 1–30 Ramadhan 1447 H, pukul 10.00- 24.00 WIB, terbuka gratis untuk umum.

Selesai ramadhan serial lukisan Sumatra menangis dan kritik ekologi akan tetap dipajang di sana, mulai jam 6.00 – 24.00, hingga datang serial lukisan baru.

Di balik estetika kanvas, data menunjukkan Sumatra kehilangan jutaan hektare hutan; lukisan ini adalah alarm visual bahwa krisis iklim bukan lagi prediksi masa depan, melainkan luka menganga yang menuntut pertobatan.

Di hadapan lukisan itu, kita tidak hanya melihat seorang anak yang hampir tenggelam. Kita melihat diri kita sendiri yang masih berdiri di tepi pusaran.

Di ruang hening antara kanvas dan doa, kita menyadari: setiap garis banjir di dinding rumah adalah tanda tangan kita sendiri pada kontrak panjang pengkhianatan terhadap bumi yang mempercayai kita.

Kita masih memiliki waktu untuk memilih.

Ramadhan datang sebagai kesempatan.

Apakah tangan yang terangkat itu benar-benar akan menjadi tangan terakhir.

Ataukah kita memilih menjadi tangan yang menjawab sebelum pusaran itu membesar dan menelan sejarah kita sendiri.

(Redaksi Orbit Indonesia)

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/1KQdZK7B2M/?mibextid=wwXIfru

SummarizeShare234Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Related Posts

Sumatera Menangis dan Kritik Ekologi - f1bdf4cf 9647 4450 9e5d 5fe8e2797b93 | #Korban Bencana | Potret Online
Artikel

Perang Minyak Rebutan atau Sandiwara Transisi Energi?

April 8, 2026
Ilustrasi orang-orang dengan kepribadian berbeda yang terbagi antara logika dan emosi
Psikologi

MBTI: Tes Kepribadian Populer yang Belum Tentu Akurat

April 8, 2026
Ilustrasi seseorang merasa tertekan karena berusaha memenuhi harapan banyak orang sekaligus
Psikologi

People Pleaser: Saat Terlalu Baik Justru Menyakiti Diri Sendiri

April 8, 2026
IMG_0688
Artikel

Barisan Orang-orang yang Tertipu

April 8, 2026
Next Post
Sumatera Menangis dan Kritik Ekologi - 1001304309_11zon | #Korban Bencana | Potret Online

Terbuka untuk Dunia, Terluka oleh Dunia: Bahaya Media Sosial

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com