POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Rethinking God

RedaksiOleh Redaksi
February 25, 2026
Rethinking God
🔊

Dengarkan Artikel


Rethinking God

Oleh ReO Fiksiwan

“Sudah saatnya [bagi Islam] untuk memikul, bersama dengan semua tradisi budaya besar lainnya dengan risiko modern dari pengetahuan ilmiah.” — Mohammed Arkoun(1928-2010), Rethinking Islam: Common Questions, Uncommon Answers(1994).

Kemarin senja(24/2/26)  dalam Webinar #68 Esoterika, Dr. Budhy Munawar Rachman, dosen filsafat di Driyarkara dan Paramadina, bersama Dr. Ahmad Gaus AF, mengajar di Swiss German

University (SGU), Tangerang, Banten, meresensi buku terbaru karya Reiner Emyot Ointoe: Tuhan dan Senjakala Kebudayaan(2025). 

Diskusi ini membuka ruang refleksi kritis atas filsafat ontologi dan epistemologi ketuhanan, dengan pendekatan yang berbeda dari kedua pengampu.

Dr. Ahmad Gaus AF menyoroti tiga topik utama yang disajikan dalam buku, yang memberi perspektif fundamental tentang relasi antara Tuhan dan kebudayaan secara ontologis-epistemik. 

Sementara itu, Dr. Budhy Munawar Rachman merumuskan sepuluh subtopik yang digelindingkan secara runtut dari 67 esai yang berkelindan dalam buku tersebut. 

Diskusi diawali dengan gugatan mendasar: apakah Tuhan dapat dinalar secara rasional, dan bagaimana ujung pemaknaannya dapat dicapai melalui filsafat.

Sebagaimana tertulis dalam sinopsis, buku Tuhan dan Senjakala Kebudayaan sendiri merupakan refleksi filosofis yang luas mengenai relasi antara Tuhan, rasionalitas, dan kebudayaan dalam konteks krisis modern. 

Reiner Ointoe memulai dengan pertanyaan ontologis dan epistemologis: apakah Tuhan dapat dipahami secara rasional, dan bagaimana manusia mengetahui serta memaknai keberadaan-Nya. 

Melalui dialog dengan tradisi filsafat Barat dan Islam—dari Plato, Aristoteles, Ibnu Sina, Al-Ghazali, hingga Kant dan Heidegger—ia menempatkan persoalan ketuhanan bukan sebagai isu dogmatis, melainkan sebagai problem filosofis yang terbuka dan kritis.

📚 Artikel Terkait

🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

DOA UNTUK SAHABAT

Ketika Sang Muazzin dan Juara Pidato Telah Pergi untuk Selamanya

LAILATUL QADAR (LQ) 1

Salah satu sumbangan utama buku ini adalah pembacaan historis terhadap evolusi konsep Tuhan. 

Ointoe menunjukkan bahwa pemahaman manusia tentang Tuhan berkembang seiring dengan kesadaran moral, sosial, dan intelektual. 

Namun, perubahan historis ini tidak meniadakan dimensi transendensi, melainkan menegaskan bahwa yang berubah adalah horizon pemahaman manusia, bukan realitas ontologis itu sendiri. 

Dengan demikian, ia berusaha menghindari reduksionisme, baik yang bersifat sekularistik maupun fundamentalis.

Buku ini juga mengulas relasi antara sains dan agama. 

Melalui dialog dengan pemikir seperti Paul Davies, Francis Collins, dan para kritikus agama modern, Ointoe berargumen bahwa konflik antara sains dan iman lebih merupakan benturan epistemologis daripada pertentangan ontologis. 

Sains menjelaskan mekanisme dunia, sementara pertanyaan tentang Tuhan menyentuh dasar makna dan keberadaan. 

Dengan kerangka ini, ia menolak ateisme saintistik yang mereduksi Tuhan menjadi hipotesis empiris, sekaligus menolak teologi anti-rasional yang menutup diri dari kritik.

Tema “senjakala kebudayaan” menjadi metafora sentral dalam membaca kondisi modernitas. 

Ointoe melihat krisis global—baik moral, politik, maupun kultural—sebagai gejala kehilangan orientasi ontologis. 

Kebudayaan yang tercerabut dari fondasi makna transenden cenderung jatuh pada komodifikasi, relativisme ekstrem, dan fragmentasi identitas. 

Karena itu, buku ini mengusulkan perlunya pemulihan relasi antara Tuhan, rasionalitas, dan kebudayaan sebagai upaya menata kembali arah hidup manusia modern.

Secara keseluruhan, Tuhan dan Senjakala Kebudayaan bukan sekadar karya teologi atau kritik sosial, melainkan peta intelektual yang berusaha menjembatani metafisika klasik, kritik modern, dan krisis kontemporer. 

Ia mengajak pembaca untuk berpikir melampaui polarisasi antara iman dan akal, antara tradisi dan modernitas. 

Buku ini relevan sebagai bahan diskusi karena tidak menawarkan jawaban final, melainkan membuka ruang dialog reflektif tentang fondasi makna di tengah dunia yang semakin kompleks dan tidak pasti.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 87x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 79x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 69x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
POTRET Budaya

Perjalanan Suci Sang Mentari

Oleh Tabrani YunisFebruary 20, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    169 shares
    Share 68 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    162 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
136
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
206
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Khotbah Tiga Jelata

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00