POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home # Book Opinion

Rethinking God

Redaksi by Redaksi
Februari 25, 2026
in # Book Opinion, Bedah buku
0
Rethinking God - a383ab78 e3f0 4bc8 a819 de4ce8581824 | # Book Opinion | Potret Online


Rethinking God

Oleh ReO Fiksiwan

“Sudah saatnya [bagi Islam] untuk memikul, bersama dengan semua tradisi budaya besar lainnya dengan risiko modern dari pengetahuan ilmiah.” — Mohammed Arkoun(1928-2010), Rethinking Islam: Common Questions, Uncommon Answers(1994).

Baca Juga
  • Rethinking God - 2025 07 02 07 56 57 | # Book Opinion | Potret Online
    #Gerakan Menulis
    Sejarah Adalah Guru Kehidupan
    02 Jul 2025
  • Rethinking God - 1001317287_11zon | # Book Opinion | Potret Online
    Bedah buku
    Bedah Buku – Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition
    03 Mar 2026

Kemarin senja(24/2/26)  dalam Webinar #68 Esoterika, Dr. Budhy Munawar Rachman, dosen filsafat di Driyarkara dan Paramadina, bersama Dr. Ahmad Gaus AF, mengajar di Swiss German

University (SGU), Tangerang, Banten, meresensi buku terbaru karya Reiner Emyot Ointoe: Tuhan dan Senjakala Kebudayaan(2025). 

Baca Juga
  • fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b
    Esai
    Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai
    19 Apr 2026
  • 02
    Bedah buku
    Tak Kenal, Maka Tak Sesal
    22 Okt 2021

Diskusi ini membuka ruang refleksi kritis atas filsafat ontologi dan epistemologi ketuhanan, dengan pendekatan yang berbeda dari kedua pengampu.

Dr. Ahmad Gaus AF menyoroti tiga topik utama yang disajikan dalam buku, yang memberi perspektif fundamental tentang relasi antara Tuhan dan kebudayaan secara ontologis-epistemik. 

Baca Juga
  • Rethinking God - 4beae882 1b96 4998 9819 567c85b0cb07 | # Book Opinion | Potret Online
    Bedah buku
    Romansa Cinta — Membaca Luka, Literasi dan Peran Kemanusiaan 
    07 Jan 2026
  • ChatGPT Image 27 Mar 2026, 08.43.09
    # Ironi
    Pelayanan Akses Kesehatan di Nabire Provinsi Papua Tengah Masih Minim
    27 Mar 2026

Sementara itu, Dr. Budhy Munawar Rachman merumuskan sepuluh subtopik yang digelindingkan secara runtut dari 67 esai yang berkelindan dalam buku tersebut. 

Diskusi diawali dengan gugatan mendasar: apakah Tuhan dapat dinalar secara rasional, dan bagaimana ujung pemaknaannya dapat dicapai melalui filsafat.

Sebagaimana tertulis dalam sinopsis, buku Tuhan dan Senjakala Kebudayaan sendiri merupakan refleksi filosofis yang luas mengenai relasi antara Tuhan, rasionalitas, dan kebudayaan dalam konteks krisis modern. 

Reiner Ointoe memulai dengan pertanyaan ontologis dan epistemologis: apakah Tuhan dapat dipahami secara rasional, dan bagaimana manusia mengetahui serta memaknai keberadaan-Nya. 

Melalui dialog dengan tradisi filsafat Barat dan Islam—dari Plato, Aristoteles, Ibnu Sina, Al-Ghazali, hingga Kant dan Heidegger—ia menempatkan persoalan ketuhanan bukan sebagai isu dogmatis, melainkan sebagai problem filosofis yang terbuka dan kritis.

Salah satu sumbangan utama buku ini adalah pembacaan historis terhadap evolusi konsep Tuhan. 

Ointoe menunjukkan bahwa pemahaman manusia tentang Tuhan berkembang seiring dengan kesadaran moral, sosial, dan intelektual. 

Namun, perubahan historis ini tidak meniadakan dimensi transendensi, melainkan menegaskan bahwa yang berubah adalah horizon pemahaman manusia, bukan realitas ontologis itu sendiri. 

Dengan demikian, ia berusaha menghindari reduksionisme, baik yang bersifat sekularistik maupun fundamentalis.

Buku ini juga mengulas relasi antara sains dan agama. 

Melalui dialog dengan pemikir seperti Paul Davies, Francis Collins, dan para kritikus agama modern, Ointoe berargumen bahwa konflik antara sains dan iman lebih merupakan benturan epistemologis daripada pertentangan ontologis. 

Sains menjelaskan mekanisme dunia, sementara pertanyaan tentang Tuhan menyentuh dasar makna dan keberadaan. 

Dengan kerangka ini, ia menolak ateisme saintistik yang mereduksi Tuhan menjadi hipotesis empiris, sekaligus menolak teologi anti-rasional yang menutup diri dari kritik.

Tema “senjakala kebudayaan” menjadi metafora sentral dalam membaca kondisi modernitas. 

Ointoe melihat krisis global—baik moral, politik, maupun kultural—sebagai gejala kehilangan orientasi ontologis. 

Kebudayaan yang tercerabut dari fondasi makna transenden cenderung jatuh pada komodifikasi, relativisme ekstrem, dan fragmentasi identitas. 

Karena itu, buku ini mengusulkan perlunya pemulihan relasi antara Tuhan, rasionalitas, dan kebudayaan sebagai upaya menata kembali arah hidup manusia modern.

Secara keseluruhan, Tuhan dan Senjakala Kebudayaan bukan sekadar karya teologi atau kritik sosial, melainkan peta intelektual yang berusaha menjembatani metafisika klasik, kritik modern, dan krisis kontemporer. 

Ia mengajak pembaca untuk berpikir melampaui polarisasi antara iman dan akal, antara tradisi dan modernitas. 

Buku ini relevan sebagai bahan diskusi karena tidak menawarkan jawaban final, melainkan membuka ruang dialog reflektif tentang fondasi makna di tengah dunia yang semakin kompleks dan tidak pasti.

Previous Post

Bedah Buku – The Art of Thinking Clearly

Next Post

Khotbah Tiga Jelata

Next Post
Rethinking God - 1001302284_11zon | # Book Opinion | Potret Online

Khotbah Tiga Jelata

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah