HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Januari 16, 2026

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    869 shares
    Share 348 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Generasi Joget: Hilang Eksistensi Manusia di Era Digital? Antara Ekspresi, Identitas, dan Tantangan Zaman. 

Dr. (Cand) Kaipal Wahyudi, S.j., S.Hum., M.Ag. by Dr. (Cand) Kaipal Wahyudi, S.j., S.Hum., M.Ag.
Februari 25, 2026
in Generasi emas, Generasi Milenial, Generasi Y, Lomba Menulis POTRET, POTRET Budaya
Reading Time: 5 mins read
0
591
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Dr. (Cand) Kaipal Wahyudi, S.J., S.Hum., M.Ag.
Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. 

Baca Juga

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Maret 14, 2026
Benarkah Bangsa Aceh Malas Menulis?

Benarkah Bangsa Aceh Malas Menulis?

Maret 10, 2026

Di zaman ketika jempol bergerak lebih cepat daripada perenungan, dan layar ponsel lebih sering menyala dibanding kesadaran batin, generasi joget tampil sebagai simbol paling kasat mata dari kebudayaan digital kontemporer. Dalam hitungan detik, gerakan sederhana yang direkam di ruang privat mampu melintasi batas geografis dan mengumpulkan jutaan tontonan. Di ruang virtual seperti TikTok, Instagram, dan YouTube, joget bukan sekadar tarian; ia menjadi bahasa eksistensi, sebuah deklarasi sunyi yang berteriak: aku ada, maka aku ingin terlihat.

Fenomena ini memperlihatkan wajah baru era digital yang serba cepat. Di satu sisi, ia menjadi ruang ekspresi kreatif, perayaan kebahagiaan, sekaligus peluang ekonomi. Banyak anak muda membangun personal branding, memperoleh penghasilan dari endorsement, live streaming, hingga monetisasi konten. Namun, di sisi lain, ruang ini juga menyimpan jebakan. Arus media yang tanpa batas dapat memicu kecanduan, tekanan psikologis, perbandingan sosial, bahkan erosi nilai moral ketika batas etika semakin kabur. Eksistensi perlahan diukur melalui metrik visibilitas like, view, share, dan followers, sehingga harga diri berisiko bergantung pada angka, bukan pada kedalaman karakter dan integritas diri.

Kita hidup dalam zaman ketika keberadaan tidak cukup dijalani secara privat; ia harus dipertontonkan. Eksistensi mengalami pergeseran ontologis: dari sesuatu yang inheren menjadi sesuatu yang performatif. Jika pada masa lalu manusia hidup sangat sederhana dan apa adanya, kini ia merasa perlu dilihat agar diakui, bernilai dan haus akan validasi semu. Validasi sosial berubah menjadi dampak psikologis. Notifikasi menjadi denyut eksistensial. Transformasi ini bukan sekadar tren budaya populer, melainkan perubahan cara manusia memahami dirinya di era sekarang.

Fenomena ini dapat dianalisis melalui kerangka kecanduan media digital dan internet yang dikembangkan dalam studi psikologi media. Konsep Internet Use Disorder (IUD) dan Social Media Addiction menunjukkan bahwa penggunaan media digital yang intensif dapat menyebabkan pola interaksi kecanduan: dorongan untuk selalu online, kesulitan mengontrol waktu penggunaan, dan dampak psikologis negatif ketika akses terhambat. 

Dalam pengamatan penulis di berbagai ruang publik di Banda Aceh sepanjang 2023–2026, fenomena joget digital tidak lagi sekadar hiburan. Ia telah menjadi arena pembentukan identitas sosial bagi generasi muda. Beberapa generasi muda dan mudi mengakui bahwa keterlibatan dalam tren TikTok menghadirkan rasa percaya diri yang tidak selalu mereka temukan dalam ruangformal. Ketika konten mereka ditonton ribuan orang, muncul perasaan “didengar” dan “dilihat” yakni sebuah bentuk pengakuan di media sosial.

Dalam hal ini, data We Are Social & Meltwater Digital 2024 menunjukkan bahwa pengguna TikTok di Indonesia telah melampaui 126 juta akun aktif, didominasi usia 16–24 tahun. Angka ini menegaskan bahwa generasi muda hidup dalam lanskap visibilitas yang sangat intens, di mana eksistensi kerap diukur melalui keterlihatan dan respons publik. Di Aceh, yang memiliki norma religius dan budaya kuat, dinamika ini menjadi semakin kompleks. Ekspresi diri di ruang digital tidak berdiri sendiri, melainkan terus bernegosiasi dengan nilai-nilai lokal dan etika sosial.

Penelitian akademik memperdalam kegelisahan ini. Cunningham, Hudson, dan Harkness (2021) dalam Clinical Psychological Science menemukan hubungan signifikan antara penggunaan media sosial intensif dan meningkatnya gejala depresi pada remaja dan generasi muda. Hal serupa dikemukakan Keles, McCrae, dan Grealish (2020) dalam International Journal of Adolescence and Youth, yang menunjukkan korelasi antara paparan media sosial berlebihan dapat membawa kecemasan, gangguan tidur, dan masalah kesehatan mental. Studi besar oleh Kuss & Griffiths (2017) dalam International Journal of Environmental Research and Public Health juga menjelaskan bahwa penggunaan media sosial secara intensif tidak hanya memicu kecemasan, depresi, dan gangguan tidur, tetapi juga memengaruhi persepsi diri serta kualitas hubungan sosial. Angka-angka ini bukan sekadar statistik; mereka mencerminkan kegamangan generasi yang tumbuh di bawah sorotan layar yang konstan.

Dalam perspektif Islam, fenomena ini menawarkan horizon berbeda. Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia adalah khalifah dan makhluk yang dimuliakan. Nilai manusia tidak ditentukan oleh sorotan publik, melainkan oleh ketakwaan dan integritas niat baiknya. Penelitian dalam Journal of Religion and Health(2021–2023) menunjukkan bahwa praktik spiritual berkorelasi dengan ketahanan psikologis generasi muda Muslim. Abu-Raiya dkk. (2022) dalam Psychology of Religion and Spiritualitymenemukan bahwa religiositas intrinsik berfungsi sebagai pelindung terhadap dampak negatif perbandingan sosial digital.

Dan dalam ajaran Islam sejak awal mengingatkan bahaya riya, hasrat halus untuk dipuji manusia, yang dalam tradisi tasawuf dipahami sebagai penyakit batin yang merusak kemurnian niat. Di era digital, riya tidak lagi hadir dalam bentuk konvensional, melainkan bertransformasi mengikuti logika algoritma. Karena itu, konsep muraqabah dan muhasabah menjadi sangat relevan. Muraqabah menanamkan kesadaran bahwa Tuhan Maha Melihat setiap perbuatan manusia, dan Muhasabah mengajak refleksi sebelum menekan tombol “unggah”: untuk siapa ekspresi ini dihadirkan, orientasi batin apa yang melandasinya, serta apa manfaat dan dampaknya. Generasi joget pada akhirnya bukan sekadar berhadapan dengan tarian atau tren, melainkan dengan arah niat dan kesadaran diri di tengah arus atensi digital.

Dalam kajian Islam, tubuh adalah amanah yang wajib dijaga, termasuk kehormatan dan auratnya. Ia tidak boleh di biasakanmenjadi sekadar medium pencari perhatian. Menjaga kehormatan dan rasa malu bukan hanya etika sosial, melainkan kewajiban yang di perintahkan oleh agama. Maka Solusinya adalah penguatan literasi digital yang kritis: memahami algoritma, monetisasi yang bijak, serta dampak psikologis akibat perbandingan sosial. Pendidikan karakter, etika digital, dan penguatan ketahanan spiritual-moral harus diintegrasikan. Sekolah, kampus, dan lembaga pendidikan perlu mengajarkan etika bermedia. Orang tua hadir sebagai pendamping reflektif, pengontrol, dan pembimbing yang menanamkan kebijaksanaan serta kesadaran etis dan spiritual pada sang anak.

Pada akhirnya, persoalan hilangnya eksistensi manusia bukan tentang joget itu sendiri, melainkan tentang orientasi makna: apakah kita hidup sekadar untuk dilihat dan dihitung oleh metrik, atau untuk memberi arti dan manfaat kepada sesama? Eksistensi manusia tidak pernah hilang karena bersumber dari penciptaan Ilahi; yang terancam adalah kesadaran eksistensial bahwa hidup memiliki tujuan melampaui visibilitas di dunia. Ketika spiritual menjadi pedoman orientasi kehidupan, ruang digital dapat menjadi ladang amal jariyah sekaligus sumber rezeki yang beretika, di mana setiap konten yang bermanfaat bagi orang lain juga bernilai baik di sisi Tuhan. Tujuan akhirnya jelas: agar kehadiran di dunia maya tidak berhenti pada eksistensi semu, tetapi menjelma agar kemanfaatan nyata bagi sesama dan bernilai ibadah di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.

ADVERTISEMENT

Daftar Pustaka

1. Abu-Raiya, H., Pargament, K.I., & Mahoney, A. (2022). Religiosity as a protective factor against negative effects of social comparison in digital media. Psychology of Religion and Spirituality, 14(3), 250–263.

2. Cunningham, S., Hudson, C., & Harkness, E. (2021). Social media use and depressive symptoms in adolescents: A longitudinal study. Clinical Psychological Science, 9(4), 678–692.

3. Keles, B., McCrae, N., & Grealish, A. (2020). A systematic review: The influence of social media on depression, anxiety and psychological distress in adolescents. International Journal of Adolescence and Youth, 25(1), 79–93.

4. Kuss, D. J., & Griffiths, M. D. (2017). Social networking sites and addiction: Ten lessons learned. International Journal of Environmental Research and Public Health, 14(3), 311.

5. We Are Social & Meltwater Digital. (2024). Digital 2024: Indonesia.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 308x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 282x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 234x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 199x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 160x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Tags: Lomba Menulis
SummarizeShare236
Dr. (Cand) Kaipal Wahyudi, S.j., S.Hum., M.Ag.

Dr. (Cand) Kaipal Wahyudi, S.j., S.Hum., M.Ag.

Mahasiswa Program Doktor (S3) Studi Islam, Pascasarjana, UIN Ar-Raniry Banda Aceh.

Baca Juga

Artikel

Ketika Solidaritas Retak di Tengah Bencana

Desember 11, 2025
Artikel

Krisis Ekologi Merambat Menjadi Krisis Ekonomi dan Krisis Sosial

Desember 9, 2025
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Desember 5, 2025
Next Post
Dinamika Gerakan Mahasiswa, Represi Negara, dan Kebebasan Akademik di Indonesia

Dinamika Gerakan Mahasiswa, Represi Negara, dan Kebebasan Akademik di Indonesia

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com