Dengarkan Artikel
Di era ketika informasi bergerak lebih cepat daripada nalar, ketika opini lebih viral daripada kebenaran, dan ketika emosi sering mendahului verifikasi, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: Apakah kita benar-benar berpikir?Atau hanya bereaksi?
Kali ini kita akan membedah sebuah buku klasik dalam dunia filsafat dan logika: An Introduction to Logic karya Irving M. Copi. Buku ini bukan sekadar teks akademik. Ia adalah latihan disiplin berpikir. Sebuah panduan untuk membedakan mana argumen, mana asumsi, mana kesimpulan dan mana manipulasi.
Di ruang digital Indonesia hari ini, kita menyaksikan debat publik yang sering berubah menjadi serangan pribadi. Anda bicara soal integritas kampus, karena Anda tidak selesai kuliah, pasti Anda akan diserang dengan kalimat, misalnya, “ah kamu kan tidak lulus perguruan tinggi ngapain cerita soal integritas kampus”.
Kita juga sering melihat informasi yang dibagikan tanpa diuji. Berapa banyak hoaks dianggap kebenaran. Kita hidup dalam algoritma yang memperkuat keyakinan kita sendiri. Dalam kondisi seperti itu, logika bukan lagi kemewahan intelektual. Ia menjadi kebutuhan sosial.
📚 Artikel Terkait
Buku ini mengajarkan sesuatu yang sederhana namun mendasar: Sebuah argumen tidak dinilai dari siapa yang mengucapkannya, tetapi dari bagaimana ia disusun. Dalam episode ini, kita akan membahas:
- Apa itu argumen yang valid
- Bagaimana mengenali cacat logika
- Mengapa kesalahan berpikir bisa berdampak sosial
- Dan bagaimana logika dapat menjadi fondasi demokrasi yang sehat
Ini bukan pembahasan yang kering. Ini adalah upaya mengembalikan martabat berpikir di tengah kebisingan digital. Karena mungkin masalah terbesar masyarakat kita hari ini bukan kurangnya informasi melainkan kurangnya disiplin dalam menalar.
Selamat mendengarkan sambil ngopi karena ini butuh perenungan tidak cukup telinga. Mari kita berpikir, sebelum berbicara.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





