Dengarkan Artikel
Oleh Maimunzir
Di tengah keterbatasan pascabanjir, semangat kebersamaan justru tumbuh subur di Desa Seneubok Saboh, Kecamatan Pante Bidari, Aceh Timur: Berbekal dana pas-pasan, para ibu rumah tangga di desa ini membuktikan bahwa niat baik, kekompakan, dan manajemen sederhana mampu melahirkan kebahagiaan bersama.
Menjelang waktu berbuka, Meunasah desa dipenuhi aroma masakan rumahan. Lauk sederhana, namun istimewa tersaji rapi—hasil gotong royong para ibu yang sejak pagi saling berbagi tugas. Ada yang menyiapkan bumbu, ada yang memasak, dan ada pula yang mengatur penyajian.
Semua dikerjakan dengan satu tujuan: menghadirkan senyum bagi warga yang terdampak banjir.
“Niat awal kami hanya ingin berbuka puasa bersama masyarakat yang terkena musibah banjir, agar masyarakat menjadi gembira dan semakin kompak,” ujar Ibu Sri, salah satu penggerak kegiatan.
📚 Artikel Terkait
Keinginan itu, kata dia, lahir dari empati dan kepedulian bersama, lalu diwujudkan lewat kerja keras dan saling percaya.
Kegiatan buka puasa bersama ini bukan sekadar perjamuan. Ia menjadi ruang pemulihan sosial—tempat warga saling menguatkan, berbagi cerita, dan merajut kembali harapan. Dukungan rekan-rekan serta kontribusi kecil dari banyak pihak menjadi bukti bahwa solidaritas tak selalu membutuhkan biaya besar.
Di Kecamatan Pante Bidari, kisah dari Seneubok Saboh mengingatkan bahwa kekuatan komunitas terletak pada kebersamaan. Ketika niat tulus bertemu dengan pengelolaan yang baik, hal sederhana pun menjelma menjadi momen yang indah dan bermakna—terutama di bulan suci Ramadan.
Bagi warga Kabupaten Aceh Timur, kebersamaan ini adalah pesan harapan: tak ada yang mustahil jika dikerjakan bersama.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





