HABA Mangat

Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    868 shares
    Share 347 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168

HABA Mangat

Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025

Tema Lomba Menulis Bulan Oktober 2025

Oktober 7, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    882 shares
    Share 353 Tweet 221
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    868 shares
    Share 347 Tweet 217
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    670 shares
    Share 268 Tweet 168
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Sebuah Upaya Mengembalikan Hati ke Pusat Peradaban

Fileski Walidha Tanjung by Fileski Walidha Tanjung
Februari 21, 2026
in Artikel, Esai, Peradaban
Reading Time: 4 mins read
0
Sebuah Upaya Mengembalikan Hati ke Pusat Peradaban
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
🔊

Dengarkan Artikel

Sebuah Upaya Mengembalikan Hati ke Pusat Peradaban

Oleh Fileski Walidha Tanjung 

Baca Juga

Presiden Pedofil?

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Madiun Dialog Budaya: Menafsir Cahaya yang Tak Pernah Berdiri Sendiri 

Maret 14, 2026
Pendidikan Hukum Pemilu dan Penataan Ulang Demokrasi Menuju Pemilu 2029

Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital

Maret 13, 2026

Perbincangan saya dengan seseorang yang saya sebut kang mas ustad bermula dari satu pertanyaan sederhana: apa kegelisahan terbesar hari ini? Ia tidak menjawab dengan data statistik, tidak pula dengan teori konspirasi. Ia menjawab dengan lirih, “Hati manusia sedang retak.” Retak itu tidak terdengar, tetapi terasa. Ia menjalar dari ruang keluarga, ke ruang kelas, hingga ke ruang-ruang kekuasaan. Kita hidup dalam zaman yang tampak maju secara teknologi, namun menyusut secara batin. Hubungan antarmanusia terasa seperti protokol: sopan, tetapi kosong; formal, tetapi tanpa simpati.

Fenomena ini bukan sekadar keluhan moral. Ia memiliki akar filosofis dan sosiologis. Erich Fromm pernah mengingatkan dalam To Have or To Be? bahwa manusia modern terjebak dalam orientasi “memiliki” alih-alih “menjadi”. Ia menulis, “Jika aku adalah apa yang aku miliki, dan apa yang aku miliki hilang, siapakah aku?” Pertanyaan itu menggetarkan. Ketika nilai diri ditentukan oleh kepemilikan material, maka relasi antar manusia berubah menjadi transaksi. Orang tidak lagi hadir sebagai jiwa, tetapi sebagai fungsi.

Orientasi materialistik yang berlebihan, sebagaimana juga dikritik oleh Max Weber dalam analisisnya tentang rasionalitas modern, melahirkan “sangkar besi” rasionalitas instrumental. Segala sesuatu diukur oleh efisiensi dan keuntungan, termasuk hubungan antarmanusia. Dalam keluarga, suami dan istri lebih intim dengan layar telepon genggam daripada dengan tatapan mata satu sama lain. Anak dan orang tua duduk dalam satu ruang, tetapi terpisah oleh dunia yang tak kasatmata. Di sekolah, guru dan murid terjebak dalam kurikulum administratif; relasi pedagogis kehilangan sentuhan kehangatan. Pendidikan menjadi distribusi informasi, bukan transmisi kebijaksanaan.

Padahal Aristoteles dalam Etika Nikomakea menegaskan bahwa tujuan hidup manusia adalah eudaimonia, kebahagiaan yang bermakna, yang hanya tercapai melalui kebajikan dan relasi yang baik. “Manusia adalah makhluk yang secara kodrati hidup dalam polis,” tulisnya. Polis di sini bukan sekadar negara, melainkan ruang kebersamaan yang hidup. Tanpa kebersamaan yang berlandaskan kebajikan, manusia kehilangan konteks untuk bertumbuh.

Keretakan hati ini juga terasa dalam relasi antara rakyat dan pemerintah. Ada jarak emosional yang menganga. Rakyat merasa tidak memiliki ikatan batin dengan pemimpinnya. Ketika kepercayaan menguap, daya juang pun melemah. Bahasa pemimpin terdengar formal dan legalistik, tetapi kehilangan daya sentuh. Ia terdengar seperti pernyataan pers, bukan seperti suara nurani.

Dalam tradisi klasik Islam, Al-Farabi menyebut pemimpin ideal sebagai al-ra’is al-fadil, pemimpin utama yang memimpin bukan hanya dengan regulasi, tetapi dengan kebijaksanaan dan keteladanan moral. Kekuasaan tidak sekadar administrasi, melainkan amanah etis. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menegaskan bahwa kekuasaan yang bertahan adalah kekuasaan yang bertumpu pada asabiyyah, solidaritas sosial yang hidup. Tanpa solidaritas, negara akan rapuh oleh kerakusan internalnya sendiri.

Hubungan yang adil antara penguasa dan rakyat bukanlah relasi paternalistik, melainkan relasi partisipatif. Rakyat pada dasarnya siap menanggung kesulitan, asalkan kesulitan itu dipikul bersama. Sejarah menunjukkan bahwa masyarakat sanggup bertahan dalam krisis ketika merasakan keadilan distribusi beban. Ketimpangan yang ekstrem bukan hanya masalah ekonomi, melainkan masalah psikologis dan moral. Ketika pejabat yang mengatur regulasi hidup dalam kemewahan yang kontras dengan rakyat pembayar pajak, yang terkoyak bukan hanya rasa keadilan, tetapi juga rasa memiliki terhadap negara.

Montesquieu pernah menulis, “Ketika kebajikan hilang, republik runtuh.” Kebajikan di sini bukan moralitas privat semata, melainkan integritas publik. Kerakusan dan keserakahan adalah racun sistemik. Ia merusak kepercayaan, memicu sinisme, dan melahirkan budaya saling curiga. Dalam masyarakat yang dipenuhi kecurigaan, kolaborasi menjadi mustahil.

Kang mas ustad sempat mengatakan, bahwa manusia sejatinya diciptakan untuk menjadi rahmat bagi sekitarnya. Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung visi antropologis yang kuat. Manusia bukan pusat eksploitasi, melainkan pusat pemeliharaan. Dalam kerangka ini, kebahagiaan tidak ditemukan dalam akumulasi, tetapi dalam kontribusi. Viktor Frankl, seorang psikiater eksistensialis, pernah berkata, “Kebahagiaan tidak dapat dikejar; ia harus muncul sebagai efek samping dari dedikasi kepada tujuan yang lebih besar dari diri sendiri.” Ketika hidup hanya berputar pada kepentingan diri, ruang batin menyempit. Namun ketika hidup diarahkan untuk memberi makna bagi yang lain, jiwa menemukan keluasan.

Maka, krisis yang kita hadapi bukan semata krisis ekonomi atau politik, melainkan krisis makna. Kita membutuhkan rekonstruksi mental kolektif. Diskusi-diskusi publik harus dihidupkan kembali, bukan sebagai forum formalitas, tetapi sebagai ruang perjumpaan gagasan dan hati. Masyarakat perlu duduk bersama, mendengar, dan saling mengakui kerentanan. Tanpa dialog, prasangka tumbuh liar. Tanpa perjumpaan, empati mengering.

Dalam konteks kontemporer yang dibanjiri media sosial, keberanian untuk kembali pada percakapan tatap muka menjadi tindakan nyata yang signifikan. Kita perlu membangun kembali budaya saling memberi rasa aman dan nyaman dalam hidup bersama. Rasa aman bukan hanya soal keamanan fisik, tetapi keamanan psikologis: merasa dihargai, didengar, dan diperlakukan adil.

Kritik terhadap materialisme bukan berarti menolak kemajuan ekonomi. Ia adalah seruan untuk menempatkan materi pada posisi yang proporsional. Ekonomi harus menjadi sarana, bukan tujuan akhir. Negara harus menjadi ruang pelayanan, bukan panggung pamer kekuasaan. Keluarga harus menjadi sekolah kasih sayang, bukan sekadar tempat tinggal bersama. Sekolah harus menjadi taman jiwa, bukan pabrik nilai angka.

Pertanyaan yang tersisa bagi kita adalah: beranikah kita memulai dari diri sendiri? Apakah kita masih sanggup menatap mata orang terdekat tanpa terganggu notifikasi? Apakah pemimpin berani berbicara dengan bahasa yang jujur, bukan sekadar bahasa aman secara politik? Apakah rakyat bersedia membangun solidaritas, bukan hanya mengeluh dalam sunyi?

Mengembalikan hati ke pusat peradaban bukan proyek romantik, melainkan kebutuhan mendesak. Tanpa hati yang hidup, sistem secanggih apapun akan kehilangan ruh. Jika benar manusia diciptakan untuk menjadi rahmat, maka setiap tindakan kita seharusnya menambah cahaya, bukan mempertebal gelap. Mungkin di tengah dunia yang riuh oleh angka dan ambisi, revolusi paling sunyi namun paling dahsyat adalah revolusi hati. Dan barangkali, dari sanalah peradaban yang lebih adil dan penuh kasih dapat kembali tumbuh. (*)

Fileski Walidha Tanjung adalah penulis dan pendidik kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis esai, puisi, cerpen di berbagai media nasional. Masuk profil Undagi dari Balai Bahasa Jawa Timur tahun 2026.  

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
Genosida Palestina: Membongkar Kolonialisme Modern Israel
12 Mar 2026 • 185x dibaca (7 hari)
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
Antara Sajadah dan Layar: Menjaga Makna Ramadan di Era Digital
13 Mar 2026 • 120x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 103x dibaca (7 hari)
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
Tersisa Roy Suryo dan dr Tifa, Apakah akan Ikut Rismon Juga?
13 Mar 2026 • 88x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare234
Fileski Walidha Tanjung

Fileski Walidha Tanjung

Fileski Walidha Tanjung adalah penulis kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis puisi, cerpen, esai di berbagai media nasional. Beberapa buku karya terbaru; Melukis Peristiwa, Luka yang Dijahit Doa, Interludium kapibara.

Baca Juga

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun
Dinas Pendidikan Aceh

Mengelola Pendidikan Ala Keledai?

Maret 15, 2026
POTRET Budaya

Di Bawah Langit yang Sama: Takjil Ramadan, Paskah, dan Taut Persaudaraan

Maret 14, 2026
Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong
#Korban Bencana

Air Mata Kemanusiaan di Tanah Rencong

Maret 14, 2026
Presiden Pedofil?
Artikel

Presiden Pedofil?

Maret 14, 2026
Next Post
Mengintip Perkembangan Kebun Kurma di Indonesia

Mengintip Perkembangan Kebun Kurma di Indonesia

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Disclaimer
  • Al-Qur’an
  • Tentang Kami
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Kirim Tulisan
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST

© 2026 potretonline.com