POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Sebuah Upaya Mengembalikan Hati ke Pusat Peradaban

RedaksiOleh Redaksi
February 21, 2026
Sebuah Upaya Mengembalikan Hati ke Pusat Peradaban
🔊

Dengarkan Artikel

Sebuah Upaya Mengembalikan Hati ke Pusat Peradaban

oleh Fileski Walidha Tanjung 

Perbincangan saya dengan seseorang yang saya sebut kang mas ustad bermula dari satu pertanyaan sederhana: apa kegelisahan terbesar hari ini? Ia tidak menjawab dengan data statistik, tidak pula dengan teori konspirasi. Ia menjawab dengan lirih, “Hati manusia sedang retak.” Retak itu tidak terdengar, tetapi terasa. Ia menjalar dari ruang keluarga, ke ruang kelas, hingga ke ruang-ruang kekuasaan. Kita hidup dalam zaman yang tampak maju secara teknologi, namun menyusut secara batin. Hubungan antarmanusia terasa seperti protokol: sopan, tetapi kosong; formal, tetapi tanpa simpati.

Fenomena ini bukan sekadar keluhan moral. Ia memiliki akar filosofis dan sosiologis. Erich Fromm pernah mengingatkan dalam To Have or To Be? bahwa manusia modern terjebak dalam orientasi “memiliki” alih-alih “menjadi”. Ia menulis, “Jika aku adalah apa yang aku miliki, dan apa yang aku miliki hilang, siapakah aku?” Pertanyaan itu menggetarkan. Ketika nilai diri ditentukan oleh kepemilikan material, maka relasi antar manusia berubah menjadi transaksi. Orang tidak lagi hadir sebagai jiwa, tetapi sebagai fungsi.

Orientasi materialistik yang berlebihan, sebagaimana juga dikritik oleh Max Weber dalam analisisnya tentang rasionalitas modern, melahirkan “sangkar besi” rasionalitas instrumental. Segala sesuatu diukur oleh efisiensi dan keuntungan, termasuk hubungan antarmanusia. Dalam keluarga, suami dan istri lebih intim dengan layar telepon genggam daripada dengan tatapan mata satu sama lain. Anak dan orang tua duduk dalam satu ruang, tetapi terpisah oleh dunia yang tak kasatmata. Di sekolah, guru dan murid terjebak dalam kurikulum administratif; relasi pedagogis kehilangan sentuhan kehangatan. Pendidikan menjadi distribusi informasi, bukan transmisi kebijaksanaan.

Padahal Aristoteles dalam Etika Nikomakea menegaskan bahwa tujuan hidup manusia adalah eudaimonia, kebahagiaan yang bermakna, yang hanya tercapai melalui kebajikan dan relasi yang baik. “Manusia adalah makhluk yang secara kodrati hidup dalam polis,” tulisnya. Polis di sini bukan sekadar negara, melainkan ruang kebersamaan yang hidup. Tanpa kebersamaan yang berlandaskan kebajikan, manusia kehilangan konteks untuk bertumbuh.

Keretakan hati ini juga terasa dalam relasi antara rakyat dan pemerintah. Ada jarak emosional yang menganga. Rakyat merasa tidak memiliki ikatan batin dengan pemimpinnya. Ketika kepercayaan menguap, daya juang pun melemah. Bahasa pemimpin terdengar formal dan legalistik, tetapi kehilangan daya sentuh. Ia terdengar seperti pernyataan pers, bukan seperti suara nurani.

Dalam tradisi klasik Islam, Al-Farabi menyebut pemimpin ideal sebagai al-ra’is al-fadil, pemimpin utama yang memimpin bukan hanya dengan regulasi, tetapi dengan kebijaksanaan dan keteladanan moral. Kekuasaan tidak sekadar administrasi, melainkan amanah etis. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menegaskan bahwa kekuasaan yang bertahan adalah kekuasaan yang bertumpu pada asabiyyah, solidaritas sosial yang hidup. Tanpa solidaritas, negara akan rapuh oleh kerakusan internalnya sendiri.

📚 Artikel Terkait

BENGKEL OPINI RAKyat

‎Menulis Itu Mudah, Semudah Bernafas, Semudah Ngentut  

Monitoring Data Covid dan Zonasi, Kecamatan Meuraxa Bentuk Posko PPKM

Percakapan Sunyi di Ambang Kekuasaan

Hubungan yang adil antara penguasa dan rakyat bukanlah relasi paternalistik, melainkan relasi partisipatif. Rakyat pada dasarnya siap menanggung kesulitan, asalkan kesulitan itu dipikul bersama. Sejarah menunjukkan bahwa masyarakat sanggup bertahan dalam krisis ketika merasakan keadilan distribusi beban. Ketimpangan yang ekstrem bukan hanya masalah ekonomi, melainkan masalah psikologis dan moral. Ketika pejabat yang mengatur regulasi hidup dalam kemewahan yang kontras dengan rakyat pembayar pajak, yang terkoyak bukan hanya rasa keadilan, tetapi juga rasa memiliki terhadap negara.

Montesquieu pernah menulis, “Ketika kebajikan hilang, republik runtuh.” Kebajikan di sini bukan moralitas privat semata, melainkan integritas publik. Kerakusan dan keserakahan adalah racun sistemik. Ia merusak kepercayaan, memicu sinisme, dan melahirkan budaya saling curiga. Dalam masyarakat yang dipenuhi kecurigaan, kolaborasi menjadi mustahil.

Kang mas ustad sempat mengatakan, bahwa manusia sejatinya diciptakan untuk menjadi rahmat bagi sekitarnya. Kalimat itu sederhana, tetapi mengandung visi antropologis yang kuat. Manusia bukan pusat eksploitasi, melainkan pusat pemeliharaan. Dalam kerangka ini, kebahagiaan tidak ditemukan dalam akumulasi, tetapi dalam kontribusi. Viktor Frankl, seorang psikiater eksistensialis, pernah berkata, “Kebahagiaan tidak dapat dikejar; ia harus muncul sebagai efek samping dari dedikasi kepada tujuan yang lebih besar dari diri sendiri.” Ketika hidup hanya berputar pada kepentingan diri, ruang batin menyempit. Namun ketika hidup diarahkan untuk memberi makna bagi yang lain, jiwa menemukan keluasan.

Maka, krisis yang kita hadapi bukan semata krisis ekonomi atau politik, melainkan krisis makna. Kita membutuhkan rekonstruksi mental kolektif. Diskusi-diskusi publik harus dihidupkan kembali, bukan sebagai forum formalitas, tetapi sebagai ruang perjumpaan gagasan dan hati. Masyarakat perlu duduk bersama, mendengar, dan saling mengakui kerentanan. Tanpa dialog, prasangka tumbuh liar. Tanpa perjumpaan, empati mengering.

Dalam konteks kontemporer yang dibanjiri media sosial, keberanian untuk kembali pada percakapan tatap muka menjadi tindakan nyata yang signifikan. Kita perlu membangun kembali budaya saling memberi rasa aman dan nyaman dalam hidup bersama. Rasa aman bukan hanya soal keamanan fisik, tetapi keamanan psikologis: merasa dihargai, didengar, dan diperlakukan adil.

Kritik terhadap materialisme bukan berarti menolak kemajuan ekonomi. Ia adalah seruan untuk menempatkan materi pada posisi yang proporsional. Ekonomi harus menjadi sarana, bukan tujuan akhir. Negara harus menjadi ruang pelayanan, bukan panggung pamer kekuasaan. Keluarga harus menjadi sekolah kasih sayang, bukan sekadar tempat tinggal bersama. Sekolah harus menjadi taman jiwa, bukan pabrik nilai angka.

Pertanyaan yang tersisa bagi kita adalah: beranikah kita memulai dari diri sendiri? Apakah kita masih sanggup menatap mata orang terdekat tanpa terganggu notifikasi? Apakah pemimpin berani berbicara dengan bahasa yang jujur, bukan sekadar bahasa aman secara politik? Apakah rakyat bersedia membangun solidaritas, bukan hanya mengeluh dalam sunyi?

Mengembalikan hati ke pusat peradaban bukan proyek romantik, melainkan kebutuhan mendesak. Tanpa hati yang hidup, sistem secanggih apapun akan kehilangan ruh. Jika benar manusia diciptakan untuk menjadi rahmat, maka setiap tindakan kita seharusnya menambah cahaya, bukan mempertebal gelap. Mungkin di tengah dunia yang riuh oleh angka dan ambisi, revolusi paling sunyi namun paling dahsyat adalah revolusi hati. Dan barangkali, dari sanalah peradaban yang lebih adil dan penuh kasih dapat kembali tumbuh. (*)

Fileski Walidha Tanjung adalah penulis dan pendidik kelahiran Madiun 1988. Aktif menulis esai, puisi, cerpen di berbagai media nasional. Masuk profil Undagi dari Balai Bahasa Jawa Timur tahun 2026.  

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 111x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 69x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
POTRET Budaya

Perjalanan Suci Sang Mentari

Oleh Tabrani YunisFebruary 20, 2026
#Gerakan Menulis

Produktif Menulis, Kala Puasa Ramadan

Oleh Tabrani YunisFebruary 19, 2026
#Anggaran Pendidikan

Kelas Afirmasi Masih Perlu

Oleh Tabrani YunisFebruary 18, 2026
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
78
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
203
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Mengintip Perkembangan Kebun Kurma di Indonesia

Mengintip Perkembangan Kebun Kurma di Indonesia

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00