POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ibu yang Menjaga Api Kehormatan

Novita Sari YahyaOleh Novita Sari Yahya
February 20, 2026
Ibu yang Menjaga Api Kehormatan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Novita Sari Yahya

Langit senja di halaman rumah itu selalu tampak lebih tenang daripada hati penghuninya. Angin berembus pelan, membawa bau tanah basah, guyuran hujan yang turun semalam. Di beranda, seorang ibu duduk di kursi rotan, memandangi dua anak lelakinya yang sedang berbincang pelan.

“Apa benar kakek dulu ikut perang, Bu?” tanya Rafi, si sulung, sambil menatap wajah ibunya.

Ibunya tersenyum tipis. “Bukan perang seperti yang kamu lihat di film. Tapi iya, kakekmu pernah berada di masa sulit. Dia tentara mahasiswa.”

Adiknya, Arga, mendekat. “Kenapa jarang diceritakan?”

Ibu menarik napas panjang, seolah membuka lembaran lama yang disimpan rapi di dalam dada.

“Karena kisah itu bukan tentang kemenangan. Itu tentang pilihan, tentang keyakinan, dan tentang harga yang harus dibayar.”

Bertahun-tahun lalu, ayahnya yang kemudian menjadi kakek mereka pernah menceritakan satu peristiwa yang tak pernah hilang dari ingatan. Saat itu, ia menyerah sebagai tentara mahasiswa dalam pergolakan PRRI.

Di tengah kerumunan orang yang letih dan cemas, seorang ibu mendekatinya. Wajah perempuan itu pucat, tetapi matanya tajam penuh harap.

“Anak saya… kamu kenal? Dia satu kelompok denganmu,” tanyanya lirih.

Ayah terdiam beberapa detik. Dunia seakan berhenti berputar.

“Ibu…,” katanya akhirnya, “dia sudah gugur.”

Perempuan itu memejamkan mata. Namun tidak ada tangis yang pecah. Tidak ada jerit. Ia hanya mengangguk pelan.

“Kalau begitu, dia pergi untuk sesuatu yang dia yakini,” jawabnya.

Ayah selalu mengatakan, ketegaran ibu itu lebih kuat dari suara tembakan mana pun yang pernah ia dengar.

“Kenapa dia tidak menangis, Bu?” tanya Arga pelan.

Ibunya menatap jauh, seolah melihat bayangan masa lalu di udara senja.

“Karena ada keyakinan yang membuat hati seseorang lebih kuat dari rasa kehilangan,” jawabnya.

Rafi mengangguk pelan. “Apakah keyakinan itu masih ada sekarang?”

Ibu tersenyum, tetapi matanya sedikit berkabut. “Keyakinan selalu ada. Hanya saja, kadang manusia yang berubah.”

Di meja makan malam itu, percakapan berlanjut. Lampu kuning menggantung di atas meja kayu tua yang sudah menemani keluarga itu selama puluhan tahun.

“Kalian tahu,” kata ibu sambil menuangkan teh, “dulu keluarga kita sangat menghormati tokoh seperti Mohammad Natsir. Bukan karena kekuasaan, tapi karena keselarasan antara pikiran, ucapan, dan tindakan.”

Rafi mengaduk tehnya. “Sekarang rasanya sulit menemukan pemimpin seperti itu.”

Ibu tersenyum. “Mungkin bukan sulit. Mungkin kita yang terlalu jarang melihat dengan jernih.”

Arga menimpali, “Kalau suatu hari kami harus memilih, apa yang harus kami pegang?”

Ibu menatap kedua anaknya bergantian. “Pegang nurani kalian. Itu kompas paling jujur.”

Malam semakin larut. Hujan turun tipis, mengetuk genting seperti irama yang menenangkan.

📚 Artikel Terkait

PROFESOR DOKTOR PENYEBAR FITNAH?

Yuk, Kenali Hukum Taklifi dalam Islam!

Ramadan di Depan Mata, Strategi Disiapkan Sejak Sekarang

Sudah di Luar Nurul, Nenek 92 Tahun pun Disidang di Pengadilan

Rafi duduk di ruang tamu bersama ibunya. “Bu, Ibu pernah takut kehilangan kami?”

Ibu tertawa kecil. “Setiap ibu pasti takut. Tapi cinta bukan hanya soal menjaga agar kalian tetap dekat. Cinta juga tentang mendidik kalian supaya menjadi manusia yang benar.”

“Benar menurut siapa?”

“Menurut hati yang tidak kamu bohongi,” jawab ibu tegas.

Arga yang mendengar dari ambang pintu berkata, “Kalau suatu hari kami harus memilih antara aman atau benar?”

Ibu menatapnya dalam-dalam. “ memilih karena aman tanpa kebenaran hanya menunda penyesalan.”

Hari-hari berlalu, tetapi nasihat itu terus hidup dalam percakapan kecil di rumah mereka.

Suatu sore, Rafi pulang dengan wajah gelisah.

“Ada tawaran kerja, Bu. Gajinya besar sekali,” katanya.

“Lalu kenapa kamu tampak tidak senang?”

“Karena aku tahu perusahaan itu tidak jujur. Banyak proyek yang merugikan orang kecil.”

Ibu terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Kamu sudah tahu jawabannya, kan?”

Rafi mengangguk. “Aku menolak.”

Ibu tersenyum bangga. “Kadang keputusan paling berat justru yang membuat kita tetap utuh.”

Beberapa tahun kemudian, Arga juga menghadapi pilihan sulit.

“Bu, aku bisa naik jabatan lebih cepat,” katanya suatu malam. “Tapi aku diminta menutup mata terhadap sesuatu yang tidak benar.”

Ibu menatapnya dengan lembut. “Apa kamu bisa tidur nyenyak setelah itu?”

Arga menggeleng.

“Kalau begitu, kamu tidak kehilangan apa pun dengan menolak,” kata ibu.

Arga menarik napas lega. “Aku ingin hidup tanpa rasa malu.”

Ibu tersenyum. “Itu warisan paling berharga yang bisa kamu jaga.”

Suatu hari, mereka bertiga kembali duduk di beranda seperti dulu. Rambut ibu sudah mulai memutih, tetapi sorot matanya tetap hangat.

“Bu,” kata Rafi, “aku baru sadar, semua yang Ibu ajarkan sebenarnya sederhana.”

Ibu tertawa pelan. “Memang sederhana. Yang sulit itu melaksanakannya.”

Arga menambahkan, “Kami mungkin tidak akan pernah menghadapi perang seperti kakek. Tapi kami tetap punya perjuangan sendiri.”

Ibu mengangguk. “Setiap zaman punya medan ujiannya.”

“Dan Ibu selalu ingin kami tetap di sisi yang benar?”

Ibu menatap langit senja yang kembali berwarna keemasan.

“Ibu hanya ingin kalian hidup dengan kehormatan. Karena pada akhirnya, manusia tidak diingat dari seberapa banyak yang dia miliki, tapi dari seberapa jujur dia menjalani hidup.”

Angin berembus lembut, membawa suara anak-anak bermain dari kejauhan.

Rafi berkata pelan, “Bu, terima kasih sudah menjaga kami.”

Ibu menggeleng. “Bukan menjaga. Ibu hanya menyalakan api kecil. Kalianlah yang menjaganya tetap hidup.”

Arga tersenyum. “Api itu tidak akan padam.”

Ibu menatap kedua putranya dengan rasa tenang yang sulit dijelaskan.

Dalam hati, ia tahu dunia akan selalu berubah. Pemimpin datang dan pergi, zaman berganti, nilai diuji berkali-kali. Tetapi selama masih ada manusia yang memilih untuk tidak berkhianat pada nuraninya, harapan tidak akan pernah benar-benar hilang.

Senja turun perlahan. Dan di beranda rumah sederhana itu, seorang ibu merasa tugasnya tidak sia-sia: ia telah menanamkan sesuatu yang tidak bisa dibeli, tidak bisa dipaksa, dan tidak akan hilang oleh waktu yaitu kehormatan.

Profil Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Buku yang Diterbitkan:

  1. Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen
  2. Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
  3. Novita & Kebangsaan
  4. Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
  5. Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
  6. Self Love: Rumah Perlindungan Diri
  7. Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi
  8. Siluet Cinta, Pelangi Rindu
    Pemesanan Buku: 089520018812

Lagu Suara Perdamaian

Pencipta lagu : Gede Jerson
Berdasarkan puisi Novita sari yahya

o

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 105x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 86x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Novita Sari Yahya

Novita Sari Yahya

Novita sari yahya penulis dan peneliti yang bergabung di Filantropi kesehatan PKMK FKKMK UGM dan Filantropi Indone

Please login to join discussion
POTRET Budaya

Perjalanan Suci Sang Mentari

Oleh Tabrani YunisFebruary 20, 2026
#Gerakan Menulis

Produktif Menulis, Kala Puasa Ramadan

Oleh Tabrani YunisFebruary 19, 2026
#Anggaran Pendidikan

Kelas Afirmasi Masih Perlu

Oleh Tabrani YunisFebruary 18, 2026
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
77
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
203
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00