Dengarkan Artikel
Oleh: Novita Sari Yahya
Langit senja di halaman rumah itu selalu tampak lebih tenang daripada hati penghuninya. Angin berembus pelan, membawa bau tanah basah, guyuran hujan yang turun semalam. Di beranda, seorang ibu duduk di kursi rotan, memandangi dua anak lelakinya yang sedang berbincang pelan.
“Apa benar kakek dulu ikut perang, Bu?” tanya Rafi, si sulung, sambil menatap wajah ibunya.
Ibunya tersenyum tipis. “Bukan perang seperti yang kamu lihat di film. Tapi iya, kakekmu pernah berada di masa sulit. Dia tentara mahasiswa.”
Adiknya, Arga, mendekat. “Kenapa jarang diceritakan?”
Ibu menarik napas panjang, seolah membuka lembaran lama yang disimpan rapi di dalam dada.
“Karena kisah itu bukan tentang kemenangan. Itu tentang pilihan, tentang keyakinan, dan tentang harga yang harus dibayar.”
Bertahun-tahun lalu, ayahnya yang kemudian menjadi kakek mereka pernah menceritakan satu peristiwa yang tak pernah hilang dari ingatan. Saat itu, ia menyerah sebagai tentara mahasiswa dalam pergolakan PRRI.
Di tengah kerumunan orang yang letih dan cemas, seorang ibu mendekatinya. Wajah perempuan itu pucat, tetapi matanya tajam penuh harap.
“Anak saya… kamu kenal? Dia satu kelompok denganmu,” tanyanya lirih.
Ayah terdiam beberapa detik. Dunia seakan berhenti berputar.
“Ibu…,” katanya akhirnya, “dia sudah gugur.”
Perempuan itu memejamkan mata. Namun tidak ada tangis yang pecah. Tidak ada jerit. Ia hanya mengangguk pelan.
“Kalau begitu, dia pergi untuk sesuatu yang dia yakini,” jawabnya.
Ayah selalu mengatakan, ketegaran ibu itu lebih kuat dari suara tembakan mana pun yang pernah ia dengar.
“Kenapa dia tidak menangis, Bu?” tanya Arga pelan.
Ibunya menatap jauh, seolah melihat bayangan masa lalu di udara senja.
“Karena ada keyakinan yang membuat hati seseorang lebih kuat dari rasa kehilangan,” jawabnya.
Rafi mengangguk pelan. “Apakah keyakinan itu masih ada sekarang?”
Ibu tersenyum, tetapi matanya sedikit berkabut. “Keyakinan selalu ada. Hanya saja, kadang manusia yang berubah.”
Di meja makan malam itu, percakapan berlanjut. Lampu kuning menggantung di atas meja kayu tua yang sudah menemani keluarga itu selama puluhan tahun.
“Kalian tahu,” kata ibu sambil menuangkan teh, “dulu keluarga kita sangat menghormati tokoh seperti Mohammad Natsir. Bukan karena kekuasaan, tapi karena keselarasan antara pikiran, ucapan, dan tindakan.”
Rafi mengaduk tehnya. “Sekarang rasanya sulit menemukan pemimpin seperti itu.”
Ibu tersenyum. “Mungkin bukan sulit. Mungkin kita yang terlalu jarang melihat dengan jernih.”
Arga menimpali, “Kalau suatu hari kami harus memilih, apa yang harus kami pegang?”
Ibu menatap kedua anaknya bergantian. “Pegang nurani kalian. Itu kompas paling jujur.”
Malam semakin larut. Hujan turun tipis, mengetuk genting seperti irama yang menenangkan.
📚 Artikel Terkait
Rafi duduk di ruang tamu bersama ibunya. “Bu, Ibu pernah takut kehilangan kami?”
Ibu tertawa kecil. “Setiap ibu pasti takut. Tapi cinta bukan hanya soal menjaga agar kalian tetap dekat. Cinta juga tentang mendidik kalian supaya menjadi manusia yang benar.”
“Benar menurut siapa?”
“Menurut hati yang tidak kamu bohongi,” jawab ibu tegas.
Arga yang mendengar dari ambang pintu berkata, “Kalau suatu hari kami harus memilih antara aman atau benar?”
Ibu menatapnya dalam-dalam. “ memilih karena aman tanpa kebenaran hanya menunda penyesalan.”
Hari-hari berlalu, tetapi nasihat itu terus hidup dalam percakapan kecil di rumah mereka.
Suatu sore, Rafi pulang dengan wajah gelisah.
“Ada tawaran kerja, Bu. Gajinya besar sekali,” katanya.
“Lalu kenapa kamu tampak tidak senang?”
“Karena aku tahu perusahaan itu tidak jujur. Banyak proyek yang merugikan orang kecil.”
Ibu terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Kamu sudah tahu jawabannya, kan?”
Rafi mengangguk. “Aku menolak.”
Ibu tersenyum bangga. “Kadang keputusan paling berat justru yang membuat kita tetap utuh.”
Beberapa tahun kemudian, Arga juga menghadapi pilihan sulit.
“Bu, aku bisa naik jabatan lebih cepat,” katanya suatu malam. “Tapi aku diminta menutup mata terhadap sesuatu yang tidak benar.”
Ibu menatapnya dengan lembut. “Apa kamu bisa tidur nyenyak setelah itu?”
Arga menggeleng.
“Kalau begitu, kamu tidak kehilangan apa pun dengan menolak,” kata ibu.
Arga menarik napas lega. “Aku ingin hidup tanpa rasa malu.”
Ibu tersenyum. “Itu warisan paling berharga yang bisa kamu jaga.”
Suatu hari, mereka bertiga kembali duduk di beranda seperti dulu. Rambut ibu sudah mulai memutih, tetapi sorot matanya tetap hangat.
“Bu,” kata Rafi, “aku baru sadar, semua yang Ibu ajarkan sebenarnya sederhana.”
Ibu tertawa pelan. “Memang sederhana. Yang sulit itu melaksanakannya.”
Arga menambahkan, “Kami mungkin tidak akan pernah menghadapi perang seperti kakek. Tapi kami tetap punya perjuangan sendiri.”
Ibu mengangguk. “Setiap zaman punya medan ujiannya.”
“Dan Ibu selalu ingin kami tetap di sisi yang benar?”
Ibu menatap langit senja yang kembali berwarna keemasan.
“Ibu hanya ingin kalian hidup dengan kehormatan. Karena pada akhirnya, manusia tidak diingat dari seberapa banyak yang dia miliki, tapi dari seberapa jujur dia menjalani hidup.”
Angin berembus lembut, membawa suara anak-anak bermain dari kejauhan.
Rafi berkata pelan, “Bu, terima kasih sudah menjaga kami.”
Ibu menggeleng. “Bukan menjaga. Ibu hanya menyalakan api kecil. Kalianlah yang menjaganya tetap hidup.”
Arga tersenyum. “Api itu tidak akan padam.”
Ibu menatap kedua putranya dengan rasa tenang yang sulit dijelaskan.
Dalam hati, ia tahu dunia akan selalu berubah. Pemimpin datang dan pergi, zaman berganti, nilai diuji berkali-kali. Tetapi selama masih ada manusia yang memilih untuk tidak berkhianat pada nuraninya, harapan tidak akan pernah benar-benar hilang.
Senja turun perlahan. Dan di beranda rumah sederhana itu, seorang ibu merasa tugasnya tidak sia-sia: ia telah menanamkan sesuatu yang tidak bisa dibeli, tidak bisa dipaksa, dan tidak akan hilang oleh waktu yaitu kehormatan.
Profil Novita Sari Yahya
Penulis dan Peneliti
Buku yang Diterbitkan:
- Romansa Cinta Antologi 23 Cerpen
- Padusi: Alam Takambang Jadi Guru
- Novita & Kebangsaan
- Ibu Bangsa, Wajah Bangsa
- Perempuan Indonesia, Zamrud Khatulistiwa
- Self Love: Rumah Perlindungan Diri
- Makna di Setiap Rasa: Antologi Puisi
- Siluet Cinta, Pelangi Rindu
Pemesanan Buku: 089520018812
Lagu Suara Perdamaian
Pencipta lagu : Gede Jerson
Berdasarkan puisi Novita sari yahya
o
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





