POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Independen atau Terkendali: Catatan tentang Kekuasaan yang Diawasi

RedaksiOleh Redaksi
February 8, 2026
Ketika Demokrasi Bercermin: Antara Efisiensi, Ingatan dan Hak untuk Memilih
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Aswan Nasution

Negara modern selalu hidup dalam ketegangan. Di satu sisi, ia dituntut bekerja cepat dan rapi. Di sisi lain, ia harus menahan diri agar kekuasaan tidak berubah menjadi kebiasaan yang tak pernah dipertanyakan. Ketegangan itu terasa paling nyata ketika kita membicarakan posisi lembaga negara: apakah harus berada di bawah kendali Presiden, atau berdiri dengan jarak yang cukup untuk menjaga independensi?

Pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan satu kalimat. Ia perlu dibaca dari beberapa arah, sebab negara bukan hanya mesin administrasi, tetapi juga ruang hukum, kehidupan sosial, dan arena politik.

Dari sudut pandang administrasi negara, ukuran pertama selalu kinerja. Negara yang lamban adalah negara yang gagal, kata para teknokrat. Maka lembaga yang berada langsung di bawah Presiden sering dianggap ideal: rantai komando jelas, koordinasi lintas sektor mudah, dan keputusan bisa diambil tanpa berputar-putar.

Dalam situasi krisis—kerusuhan, bencana, ancaman keamanan—model ini terasa masuk akal. Negara tidak punya kemewahan untuk berdebat terlalu lama. Kecepatan adalah bentuk tanggung jawab.

Namun administrasi negara juga mengenal istilah klasik: over-centralization ( sistem pemerintahan atau manajemen di mana kewenangan pengambilan keputusan berada pada otoritas pusat dengan cara sangat berlebihan ). Ketika terlalu banyak kendali bertumpu di satu titik, birokrasi kehilangan otonomi profesional. Aparat menjadi lebih sibuk membaca sinyal politik ketimbang membaca kebutuhan publik. Akuntabilitas pun bergeser: bukan lagi ke warga negara, melainkan ke atasan struktural.

Administrasi yang sehat sesungguhnya tidak hanya cepat, tetapi juga terkendali oleh sistem evaluasi dan pengawasan yang bekerja diam-diam, tanpa perlu sorak-sorai kekuasaan.

Jika administrasi berbicara tentang efisiensi, hukum berbicara tentang jarak. Hukum membutuhkan ruang untuk berdiri tegak, tidak condong ke mana pun. Itulah sebabnya sudut pandang hukum selalu sensitif terhadap kedekatan lembaga dengan kekuasaan eksekutif.

Ketika lembaga penegak hukum berada terlalu dekat dengan Presiden, muncul risiko laten: konflik kepentingan. Bahkan jika intervensi tidak pernah terjadi, persepsi publik sudah cukup untuk merusak kepercayaan. Dalam hukum, keadilan bukan hanya harus ditegakkan, tetapi juga harus tampak ditegakkan.

Lembaga independen menawarkan harapan: netralitas, objektivitas, dan perlindungan terhadap due process of law ( proses hukum yang benar atau adil yang merupakan prinsip Hukum Acara Pidana di Indonesia ). Namun hukum juga tidak naif. Independensi tanpa akuntabilitas adalah masalah lain. Lembaga yang merasa “bebas” tanpa pengawasan berisiko menciptakan kekuasaan baru yang tak kalah berbahaya.

Bagi hukum, yang terpenting bukan siapa atasan lembaga, melainkan jaminan bahwa keputusan diambil berdasarkan norma, bukan tekanan.

📚 Artikel Terkait

Melayarkan Kembali Kapal Kebanggaan

Revolusi Gen Z Dari Nepal

Aku Lelah, Aku Kuat

BERAGAMA SEPERTI UMAR

Masyarakat tidak menilai negara dari bagan organisasi atau pasal undang-undang. Mereka menilai dari pengalaman sehari-hari. Dari cara laporan ditangani. Dari siapa yang ditangkap dan siapa yang dibiarkan.

Jika lembaga negara dipersepsikan terlalu dekat dengan kekuasaan, lahirlah kecurigaan klasik: hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas. Di titik ini, persoalan bukan lagi legal, tetapi sosial. Kepercayaan runtuh pelan-pelan, digantikan sinisme.

Sebaliknya, lembaga yang dipercaya akan lebih mudah menjalankan tugasnya. Kepatuhan masyarakat tidak lahir dari rasa takut, melainkan dari keyakinan bahwa sistem bekerja adil. Dalam masyarakat yang percaya, konflik lebih mudah diredam, hukum lebih dihormati.

Sudut pandang sosial mengingatkan kita bahwa legitimasi sejati tidak diberikan oleh presiden atau parlemen, tetapi oleh publik yang merasa diperlakukan setara.

Politik membaca semua ini sebagai persoalan kekuasaan. Menempatkan lembaga di bawah Presiden memperkuat eksekutif dan menjanjikan stabilitas jangka pendek. Namun sejarah menunjukkan: kekuasaan yang terlalu terkonsentrasi selalu tergoda untuk melampaui batasnya sendiri.

Lembaga independen, sebaliknya, adalah alat checks and balances. Ia memperlambat, tetapi juga mencegah dominasi. Demokrasi yang matang justru lahir dari ketidaknyamanan ini—dari proses saling mengawasi yang kadang terasa merepotkan.

Politik yang dewasa tahu bahwa stabilitas tanpa kontrol hanyalah ketenangan semu.

Maka solusi cerdas bukan sepenuhnya di bawah Presiden, bukan pula independensi yang tanpa arah. Yang dibutuhkan adalah kepemimpinan politik yang sadar batas: tahu kapan memimpin, kapan menahan diri. Pengawasan independen yang kuat dan nyata, bukan sekadar nama dalam undang-undang. Profesionalisme aparatur yang dibangun lewat etika, bukan hanya disiplin struktural. Dan transparansi kepada publik, sebab cahaya adalah pengawas paling jujur.

Pada akhirnya, negara bukan soal siapa yang mengendalikan siapa, melainkan apakah kekuasaan masih bersedia dikoreksi. Di sanalah demokrasi diuji—bukan di pidato, melainkan dalam kesediaan untuk dibatasi.

Namun ada satu hal yang sering luput dibicarakan yaitu di mana Struktur bisa dirancang seideal apa pun, undang-undang bisa ditulis seteliti mungkin, tetapi pada akhirnya keputusan selalu jatuh ke tangan manusia—dengan ketakutan, ambisi, dan nurani yang tidak selalu sama. Di sinilah negara diuji pada level yang paling sunyi.

Seorang aparat yang profesional akan tetap tegak meski berada di bawah tekanan kekuasaan. Sebaliknya, aparat yang rapuh akan menyimpang bahkan ketika diberi kebebasan penuh. Maka pembicaraan tentang posisi lembaga negara sesungguhnya adalah pembicaraan tentang watak institusi: apakah ia mendidik keberanian moral, atau justru melanggengkan kepatuhan tanpa tanya.
Negara yang sehat tidak hanya membangun sistem pengawasan ke luar, tetapi juga menumbuhkan disiplin etis ke dalam. Sebab hukum, pada akhirnya, bukan hanya teks yang ditegakkan, melainkan sikap batin yang terus diuji—setiap hari, dalam keputusan-keputusan kecil yang jarang masuk berita, tetapi menentukan wajah keadilan itu sendiri.

Penulis :

Aswan Nasution, Alumni Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Saat ini masih bertempat tinggal di Serbelawan ni Huta, Sebuah kota kecil di Kabupaten Simalungun , Sumatera Utara. Di mana Semua lelaki dewasa di panggil “Ketua”. Apabila ingin menghubunginya bisa di nomor Whatshaapnya : 083163237234 atau kirimkan ke emailnya aswannasution09@gmail.com.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 190x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 188x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 142x dibaca (7 hari)
Pendidikan Agama dan Paradoks Korupsi di Negeri Religius
Pendidikan Agama dan Paradoks Korupsi di Negeri Religius
3 Feb 2026 • 133x dibaca (7 hari)
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
25 Jan 2026 • 119x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
POTRET Budaya

Memerangi Sampah, Membangun Gerakan Indonesia ASRI

Oleh Tabrani YunisFebruary 6, 2026
digital

Doom Scrolling: Perilaku Baru di Era Digital

Oleh Tabrani YunisJanuary 31, 2026
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    160 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
191
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
97
  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00