Dengarkan Artikel
Oleh Aprinus Salam
Awal tahun 2025, para penyelenggara kekuasaan sempat kebakaran jenggot ketika Indonesia dinilai mahasiswa sebagai Indonesia gelap. Bahkan seorang pejabat tinggi menanggapi, “Mana Indonesia yang gelap itu? Hidupmu saja (maksudnya ditujukan kepada mahasiswa) yang gelap.”
Waktu itu secara spontan saya membatin, memang, bukan saja mahasiswa yang hidupnya gelap. Sangat banyak manusia hidup dalam kegelapan. Sangat banyak kejadian di dunia ini yang tidak diketahui karena berjalan dalam kegelapan atau tersembunyi atau dirahasiakan.
Terbongkarnya dokumen Epstein menyegarkan pemahaman bahwa sebenarnya dunia gelap telah beroperasi lama dan bergerak secara sistematis di berbagai belahan dunia. Tentu, Esptein tidak berjalan dan bergerak sendirian.
Tentu, Epstein bukan pioner dalam melakukan berbagai aktivitas atau pun berbagai keputusan politik, ekonomi dan berbagai keputusan lainnya yang perlu dan harus disembunyikan, dirahasiakan, dan dipendam. Kenapa harus digelapkan, karena aktivitas dan berbagai keputusan tindakan tersebut tentulah sesuatu yang tidak benar, haram, manipulatif, dan memalukan.
Soal terminologi gelap, di Eropa ada zaman kegelapan yang dimulai dari awal abad ke-5 dan berjalan selama lebih-kurang 1000 tahun, yakni hingga abad ke-15. Situasi itu untuk menggambarkan bagaimana Eropa berjalan tiarap dan sembunyi-sembunyi karena merasa kalah berhadapan dengan peradaban Islam.
Tapi, tentu hal gelap sudah berlangsung sejak ada kehidupan manusia. Tidak semua aktivitas dan keputusan kehidupan itu boleh diketahui manusia lain. Apalagi jika aktivitas dan keputusan tindakan tersebut sesuatu yang berniat jahat, memalukan, tidak pantas, dan sebagainya.
Penting dan perlunya kasus dokumen Epstein dibongkar paling tidak mencambuk kembali kesadaran bahwa demikian banyak aktivitas dan keputusan tindakan, dalam berbagai level dan ruang kehidupan itu justru beroperasi terus dan berjalan berdampingan dalam kehidupan yang terbuka/terang.
📚 Artikel Terkait
Berdasarkan itu, kita bisa membayangkan bahwa masih ada Epstein-Epstein lain yang telah dan tengah berlangsung dalam berbagai teknik dan terobosan kegelapan. Semakin canggih teknik dan ilmu menyelubungi kegelapan tersebut, semakin kita tidak mengetahuinya.
Operasi kegelapan itu butuh modal besar. Karena perlu punya kemampuan dan cara yang canggih untuk menutup semua saluran yang berpeluang bocor. Epstein memiliki itu semua. Para orang kaya, penguasa, dan pengusaha besar memiliki modal yang lengkap untukberoperasi dalam kegelapan.
Jadi, tidak perlu tersinggung jika dikatakan dan dinilai Indonesia hidup dalam kegelapan. Banyak keputusan politik, ekonomi, sosial dan sebagainya, berhimpit dan tumpang tindih secara kacau dengan kepentingan pribadi, kepentingan partai, kepentingan golongan; bukan kepentingan rakyat.
Sebagai akibat banyak keputusan gelap tersebut, kita tahu Indonesia gagal hidup dalam dunia yang terang, hidup dalam transparansi, hidup tidak dalam kasak-kusuk kecemasan dan ghibah-ghibah. Hidup dalam ketakutan terhadap kegelapan.
Persoalannya, apakah semua aktivitas dan keputusan tindakan harus terbuka. Kalau itu menyangkut nasib bangsa dan negara harus transparan dan terbuka secara publik. Bahkan negara harus membuka secara terang-benderang bagaimana operasi-operasi gelap global ikut berpengaruh dan menentukan arah kegelapan di Indonesia.
Kita tahu, pemerintah juga terstrukturasi oleh berbagai kepentingan kegelapan global tersebut. Paling tidak, itu juga cara pemerintah untuk menginformasikan kesulitan dan keterbatasan kekuasaan internal bernegara dalam menghadapi kekuasaan kegelapan dunia.
Tentu, rakyat tetap maklum terkait rahasia-rahasia tertentu yang secara spesifik berurusan dengan perlindungan dan strategi keamanan negara. Atau bagaimana polisi harus punya rahasia bekerja untuk mengatasi kejahatan. Rahasia tersebut perlu disembunyikan, dipendam, sebagai strategi. Itu bukan kegelapan.
Rahasia tersebut menjadi gelap bila secara internal ada motif-motif, kasak-kusuk, manipulasi-manipulasi untukkepentingan, keuntungan sepihak, dan merugikan pihak lain. Jadi, dalam dunia yang harus dirahasiakan, disembunyikan, tetap tidak boleh atau motif kepentingan dan keuntungan sepihak. Kenyataannya, kegelapan seperti itulah yang menyelubungi kehidupan dunia.
Aprinus Salam, Guru Besar FIB UGM
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






