POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Menjaga Matahari Iman dalam Arus Zaman: Pendidikan, Peradaban Islam, dan Nafas Aceh

Nyakman LamjameOleh Nyakman Lamjame
January 31, 2026
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Nyakman Lamjame

Pendidikan sejati bukanlah pekerjaan mekanis yang sekadar JM memindahkan data dari buku ke kepala, melainkan proses menghidupkan cahaya dalam diri manusia. Ia adalah perjalanan batin yang pelan, namun menentukan, seperti menyalakan pelita kecil di tengah ruang gelap. 

Di zaman ketika kemajuan teknologi dipuja dan keberhasilan diukur dari angka serta gelar, pendidikan kerap direduksi menjadi alat produksi tenaga kerja. Orientasinya menjadi ekonomis, bukan eksistensial. Kita sibuk mengejar prestise duniawi, sementara kompas moral yang seharusnya menjadi pusat orientasi hidup perlahan kehilangan daya pijarnya.

Peradaban Islam sejak awal tidak pernah memisahkan ilmu dari iman. Wahyu pertama yang turun adalah perintah membaca, namun membaca dalam kesadaran ketuhanan. Tradisi keilmuan yang tumbuh di Madinah, berkembang di Damaskus, mencapai puncaknya di Baghdad, Kairo, hingga Andalusia, selalu berdiri di atas kesatuan antara akal dan ruh. 

Para ilmuwan muslim bukan sekadar cendekiawan rasional, mereka adalah pribadi yang melihat ilmu sebagai amanah. Al Ghazali menegaskan pentingnya penyucian jiwa sebelum memperdalam logika. Ibnu Sina memahami kedokteran bukan hanya sebagai teknik penyembuhan, tetapi sebagai bentuk tanggung jawab terhadap kehidupan. Dalam khazanah Islam, adab mendahului ilmu, karena tanpa adab, ilmu kehilangan arah dan maknanya.

Aceh pernah berdiri dalam arus besar peradaban itu. Kesultanan Aceh Darussalam bukan hanya pusat kekuatan politik, tetapi juga simpul intelektual yang terhubung dengan dunia Islam yang luas. Masjid Raya, dayah dayah, dan balai pengkajian menjadi ruang tumbuhnya pemikiran dan spiritualitas. Ulama seperti Syamsuddin as Sumatrani dan Nuruddin ar Raniri menulis, berdialog, dan membangun kesadaran teologis sekaligus sosial.

Aceh memandang pendidikan sebagai fondasi martabat. Ilmu tidak dilepaskan dari tanggung jawab menjaga iman dan negeri. Dari tanah Serambi Mekkah ini lahir generasi yang mampu memadukan keteguhan akidah dengan keterbukaan terhadap dunia.

📚 Artikel Terkait

Mengenal Kampung Pembuat Senjata Ilegal, Darra Adam Khel

Tradisi Arak-Arakan Pengantin Dengan Iringan Rebana Dalam Pernikahan Adat Jawa Di Gampong Lengkong

Komisi III DPR RI Apresiasi Dedikasi Polres Barru di Lapangan

Bencana dalam Perspektif Islam

Kini kita berada dalam lanskap yang berbeda. Informasi mengalir tanpa henti, layar menyala hampir sepanjang waktu, dan perhatian manusia terpecah dalam fragmen fragmen singkat. Pendidikan menghadapi tantangan yang lebih halus namun lebih dalam. Bukan lagi soal akses pengetahuan, melainkan krisis makna. Murid dapat menguasai teknologi mutakhir, tetapi belum tentu memahami nilai kemanusiaan yang harus membimbing penggunaannya. Jika pendidikan hanya menekankan kompetensi teknis tanpa membangun kesadaran etis, maka kemajuan justru berpotensi melahirkan kerusakan.

Sejarah modern telah memperlihatkan bagaimana ilmu tanpa nurani dapat berubah menjadi alat eksploitasi dan kehancuran.

Karena itu pendidikan harus kembali menjadi ruang pembentukan batin. Ia perlu menghadirkan keheningan di tengah kebisingan. Ia perlu memberi tempat bagi refleksi, tafakur, dan kesadaran diri.

Seorang pelajar tidak cukup hanya tahu bagaimana cara mencipta, tetapi juga harus memahami untuk tujuan apa ia mencipta. Dalam konteks Aceh, pendidikan yang berakar pada tradisi dayah dapat berdialog dengan sains dan teknologi modern tanpa kehilangan jati diri. Kearifan masa lalu bukan untuk dikenang sebagai nostalgia, melainkan dihidupkan kembali sebagai fondasi moral dalam menghadapi masa depan.

Peran guru dalam kerangka ini menjadi sangat mulia. Guru bukan sekadar penyampai materi pelajaran, melainkan penjaga api kesadaran. Ia memastikan bahwa rasa ingin tahu tidak berubah menjadi kesombongan, bahwa kecerdasan tidak menjauhkan murid dari empati. 

Pendidikan yang hidup adalah pendidikan yang melahirkan manusia yang utuh, yang pikirannya tajam, namun hatinya lembut, yang langkahnya mantap, namun tetap rendah hati di hadapan Tuhan.

Pada akhirnya tujuan pendidikan bukan hanya keberhasilan karier atau pencapaian sosial. Ia adalah pembentukan manusia yang mampu menjaga Matahari Iman tetap bersinar di dalam dadanya. Dari Aceh yang pernah menjadi mercusuar peradaban Islam, kita belajar bahwa kejayaan tidak dibangun semata oleh kekuatan materi, tetapi oleh kejernihan hati dan kedalaman ilmu yang berpadu dengan adab. 

Jika cahaya itu tetap terjaga, maka generasi yang lahir hari ini tidak akan terombang ambing oleh perubahan zaman. Mereka akan menjadi cahaya itu sendiri, menerangi jalan sejarahnya dengan kesadaran, iman, dan tanggung jawab kemanusiaan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 132x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 114x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 108x dibaca (7 hari)
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
Dunia di Ambang Krisis dan Perang Dunia Ketiga
25 Jan 2026 • 92x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 79x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Nyakman Lamjame

Nyakman Lamjame

Please login to join discussion
digital

Doom Scrolling: Perilaku Baru di Era Digital

Oleh Tabrani YunisJanuary 31, 2026
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
168
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00