POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home #Menteri Prabowo

Prabowo Tetap Bersikukuh Tak Mau Status Bencana Nasional

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Desember 16, 2025
in #Menteri Prabowo, #Prabowo, #Sumatera Utara, Aceh, Bencana, Kabinet Prabowo, Kebencanaan, Mitigasi bencana, Sumatera Barat
0
Prabowo Tetap Bersikukuh Tak Mau Status Bencana Nasional - d9675340 2db1 4aa2 a553 b4e41f43a520 | #Menteri Prabowo | Potret Online

Oleh Rosadi Jamani

Walau Gubernur Aceh sudah minta bantuan dunia internasional, Presiden Prabowo bergeming. Ia tetap bersikukuh tak mau status bencana nasional. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Prabowo dengan dada dibusungkan menyatakan situasi terkendali. Ini “baru” tiga provinsi dari 38 dan Indonesia “mampu sendiri” tanpa status bencana nasional. Pernyataan itu langsung bertemu realitas yang tidak ikut sidang kabinet. Karena tiga provinsi yang disebut “masih bisa di-handle” itu, per 16 Desember 2025 menurut data resmi BNPB, telah menelan 1.030 korban jiwa. Aceh menyumbang duka paling dalam dengan 431 orang meninggal, disusul Sumatera Utara 355 orang, dan Sumatera Barat 244 orang. Cerita belum selesai, sebab 206 orang masih dinyatakan hilang, menggantung di antara harapan keluarga dan kemungkinan terburuk.

Baca Juga
  • 01
    Aceh
    Meriam Portugis di Anjungan Aceh Timur
    09 Agu 2018
  • Prabowo Tetap Bersikukuh Tak Mau Status Bencana Nasional - 2bfe81c6 16f8 466d a036 44cbcd9554bb | #Menteri Prabowo | Potret Online
    #Ulama Kharismatik Aceh
    Menjadi Insan Bertasawuf
    12 Mar 2026

Di titik inilah kata “terkendali” mulai terdengar seperti istilah teknis yang kehilangan rasa. Sebab selain korban meninggal, tercatat sekitar 7.000 orang luka-luka, lebih dari 624.000 jiwa mengungsi, dan 186.488 rumah rusak—angka yang cukup untuk membangun satu kota baru, andai kota itu tidak dibangun dari puing dan trauma.

Negara memang mengerahkan sumber daya, tapi sendi-sendi pelayanan publik ikut roboh. Ada 219 fasilitas kesehatan terdampak, ironis di saat warga paling membutuhkan pengobatan. Ada 967 fasilitas pendidikan rusak, membuat anak-anak belajar langsung dari silabus bencana. Ada 434 rumah ibadah ikut terdampak, seolah doa pun harus antre. Ditambah 290 gedung perkantoran dan 145 jembatan yang ambruk, memutus bukan cuma akses jalan, tapi juga ritme hidup masyarakat.

Baca Juga
  • Prabowo Tetap Bersikukuh Tak Mau Status Bencana Nasional - cf9783f3 f060 4def 9401 8d275b9bc1ab | #Menteri Prabowo | Potret Online
    #Hari Buruh
    Koeli Kontrak (Contractarbeider)
    17 Mar 2026
  • 02
    Aceh
    Destinasi Wisata Bahari Juga Dipamerkan di PKA VII
    10 Agu 2018

Di tengah angka-angka inilah muncul kontras yang sulit ditutupi. Saat pusat bicara tentang kemandirian nasional dan menolak bantuan luar demi martabat negara, Gubernur Aceh justru secara terbuka meminta bantuan internasional, menyurati UNDP dan UNICEF dua lembaga PBB yang bagi Aceh bukan sekadar nama, tapi penyelamat yang pernah hadir nyata pascatsunami 2004. Permintaan itu bukan drama politik, melainkan refleksi lapangan. Infrastruktur hancur, pengungsi menumpuk, logistik dan layanan dasar kewalahan. Bahkan bantuan dari Malaysia dan China sudah mulai masuk, sementara relawan internasional bersiap turun.

Maka di sinilah dua narasi berdiri berhadapan. Dari Jakarta terdengar suara, kami mampu sendiri. Dari Aceh terdengar gema, kami butuh bantuan. Yang satu bicara kapasitas negara, yang lain bicara daya tahan rakyat. Keduanya sama-sama benar, tapi tidak berada di level penderitaan yang sama.

Baca Juga
  • Prabowo Tetap Bersikukuh Tak Mau Status Bencana Nasional - 2025 06 03 16 46 49 | #Menteri Prabowo | Potret Online
    # Ironi
    BENGKEL OPINI RAKyat
    03 Jun 2025
  • 02
    Aceh
    Narkoba di Negeri Bersyariah
    07 Nov 2016

“Tidak menetapkan status bencana nasional” mungkin sah secara administrasi, mungkin juga strategis secara politik. Tapi data BNPB menunjukkan satu hal telanjang, kemampuan negara untuk menolak bantuan luar tidak otomatis berarti penderitaan di lapangan sudah tertangani. Kemandirian nasional sedang diuji bukan oleh dunia internasional, melainkan oleh 1.030 nyawa yang sudah hilang, 206 orang yang belum ditemukan, dan ratusan ribu warga yang sampai hari ini masih hidup sebagai pengungsi.

So, ketika kita mendengar kata “terkendali”, pertanyaannya sederhana, terkendali menurut siapa? Menurut meja rapat, atau menurut lumpur yang masih setinggi dada di kampung-kampung Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat?

“Banjir biasanya, seminggu sudah surut, rumah bisa ditempati lagi. Lah, ini banjir lumpur setinggi dada, bahkan ada rumah terlelap lumpur. Tak bisa bisa lagi ditempati,” teriak pengungsi Aceh.

Pada akhirnya, perdebatan ini bukan soal siapa paling nasionalis atau siapa paling percaya diri berdiri sendiri. Ini soal waktu, nyawa, dan skala luka. Data BNPB tidak sedang beropini, 1.030 orang meninggal, 206 hilang, lebih dari 624.000 mengungsi, 186.488 rumah rusak, ratusan fasilitas publik lumpuh. Angka-angka ini tidak mengenal pidato, tidak peduli jargon kemandirian, dan tidak tunduk pada status administrasi. Ia hanya mencatat siapa yang selamat dan siapa yang tidak.

Maka kemandirian sejati bukan diukur dari seberapa tegas menolak bantuan dunia, melainkan dari seberapa cepat negara memastikan warganya tidak dibiarkan terlalu lama sendirian. Jika pusat berkata “kami mampu sendiri”, sementara daerah, seperti Aceh, terpaksa mengetuk pintu internasional demi menyelamatkan rakyatnya, maka yang perlu diselaraskan bukan semangatnya, melainkan kenyataannya.

Karena negara besar bukan negara yang malu dibantu, dan juga bukan negara yang gagah di podium tapi lambat di lumpur. Negara besar adalah yang berani berkata: kami kuat, kami bekerja, dan bila perlu, demi nyawa manusia, kami tidak gengsi menerima uluran tangan. Di situlah martabat sebenarnya berdiri, bukan pada penolakan, tapi pada keberpihakan yang paling cepat sampai ke korban.

Tutup buku. Matikan mikrofon. Turun ke lapangan. Karena di sana, di antara air keruh dan rumah yang hilang, satu pertanyaan terus mengendap, bukan lagi apakah negara mampu sendiri, melainkan apakah negara cukup cepat untuk mereka yang hampir habis harapannya.

Foto Ai hanya ilustrasi

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Previous Post

Doa Di antara Lumpur dan Longsor

Next Post

Rangkaian Puisi Alkhair Aljohore

Next Post
Prabowo Tetap Bersikukuh Tak Mau Status Bencana Nasional - 2025 07 31 20 50 09 | #Menteri Prabowo | Potret Online

Rangkaian Puisi Alkhair Aljohore

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah