POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kuliner Tradisional Situbondo, “Nasek Sodu” dan Negeri di Ambang Krisis

Anies SeptivirawanOleh Anies Septivirawan
October 30, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

‎
‎
‎Oleh Anies Septivirawan|

Penulis
‎
‎
‎Langit siang di kecamatan Asembagus, Situbondo, Jawa Timur cerah. Cuaca panas. Angin kencang nan kering menghempas sebagian sampah plastik di jalanan aspal berlubang.
‎
‎Di suatu siang, akhir bulan September. Panas menyengat. Panas matahari membakar aspal badan jalan, panasnya memantul dan memanggang wajahku. Perutku kosong.  Udara tidak bersahabat.
‎
‎Aku menghentikan laju motor, menepi ke pinggir jalan di sebuah kecamatan di kabupaten Situbondo sebelah timur.  Kugeletakkan motor di bawah pohon Cemara yang di sebelahnya terparkir sebuah gerobak berisi makanan khas Asembagus. Makanan khas itu bernama “Nasek Sodu”.
‎
‎Aku memesan secangkir kopi pahit dan sepiring makanan khas Asembagus, “Nasek Sodu” kepada sang pria setengah baya yang baru bangun dari tidurnya di atas lincak kayu setengah reot. 
‎
‎Sejak tadi, dari jauh kulihat pria itu tampaknya tertidur pulas, damai dan tidak peduli pada dagangannya yang sepi karena tidak ada pembeli.
‎
‎Hanya aku saja yang kini duduk sebagai pembeli yang lapar. Duduk di hadapan gerobak berisi dagangan kuliner khas Asembagus itu. 
‎
‎Tempat dagangan pria itu sejuk karena dipayungi pohon Cemara meskipun sedikit bising suara kendaraan jurusan Surabaya – Banyuwangi dan sebaliknya.
‎
‎Di kecamatan Asembagus ini, tempat lahirnya kuliner khas bernama Nasek Sodu. Dan para penjualnya bertebaran di seluruh antero Asembagus, bahkan sebagian ada juga di Situbondo kota. Namun aku tidak tahu persis, sejak kapan kuliner khas Asembagus ini booming dan digandrungi banyak orang dari berbagai daerah luar Situbondo.
‎
‎Yang hanya aku tahu dan aku rasakan Nasek Sodu ini sudah sejak ada ketika aku masih bersekolah. Meskipun rumahku di kota, aku sering mencicipi di warung – warung kecil saat aku bolos sekolah. Sampai hari ini, sampai saat ini, sampai usiaku menginjak 56 tahun, aku tidak pernah lupa pada rasa Nasek Sodu.
‎
‎Aku bertanya kepada sang pria penjual Nasek Sodu yang baru terbangun dari tidur lelapnya itu,
‎
‎”Sudah berapa lama berjualan Nasek Sodu, mas?”  tanyaku.
‎
‎”Sudah agak lama juga, ” jawabnya.
‎
‎”Dulu, saya sering makan nasek sodu di sebelah gerobak ini,” ujarku sembari jemariku menunjuk ke arah sebelah gerobak.
‎
‎”Oh…iya …itu dulu yang jualan adalah paman saya dan istrinya. Tapi mereka berdua sudah lama pergi dan bekerja di negeri Jiran, Malaysia sepuluh tahun lalu. Dan setelah itu saya tidak mendengar kabarnya lagi tentang paman dan istrinya,”  ujar sang pria setengah gondrong seraya matanya menyapu pandang pada sebuah benda berupa meja panjang dan deretan kursi kayu usang nan lapuk.
‎
‎Ekspresi wajah sang pria seolah memaparkan gambaran berpuluh tahun lalu saat pamannya berjualan kuliner khas yang kini sudah jadi ikon Situbondo.
‎
‎”Paman saya dan istrinya adalah orang pertama yang berjualan Nasek Sodu di kecamatan ini, setelah itu semakin banyak orang yang ikut – ikutan membuka warung  dan menjual Nasek Sodu yang harganya bervariasi, dan warungnya semakin hari semakin banyak saingan akhirnya sepi pengunjungnya, sementara mereka berdua menanggung beban kedua putranya yang kuliah dan yang bungsu masih SMP kala itu.
‎
‎Warung itu pun tutup, ditinggal bekerja ke luar negeri,” papar pria itu dengan suara lirih yang dilumat suara bising kendaraan di jalan raya provinsi jurusan Banyuwangi – Surabaya. 
‎
‎Meskipun sudah banyak para penjual Nasek Sodu yang bermuara pada persaingan dan faktor adu keberuntungan, gerobak Nasek Sodu milik sang pria gondrong itu tampaknya masih berdiri kokoh setiap hari di tempat itu. Di bawah pohon Cemara berdaun hijau. Di sisi selatan jalan lampu merah, simpang tiga menuju pelabuhan Jangkar.  .
‎
‎Kokoh dan masih berdiri, tampak berjualan.  Gerobak itu terbukti setiap pagi kulihat saat aku melintas di jalan itu. Kendati hanya satu atau dua orang saja yang membeli. Produk dagangan si pria itu masih bertahan. Meski negeri ini katanya sudah diambang krisis parah, namun daya beli penikmat Nasek Sodu masih kurasa kuat.  
‎
‎
‎Situbondo, 30 Oktober 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 58x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 53x dibaca (7 hari)

📚 Artikel Terkait

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Hujan

Kenapa Amerika Sangat Ditakuti?

Kesehatan Mental

📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Anies Septivirawan

Anies Septivirawan

Anies Septivirawan adalah penikmat tulisan seni sastra dan budaya. Ia gemar menulis puisi sejak tahun 1995 sampai saat ini. Ia bergabung dengan himpunan penulis penyair dan pengarang nusantara (HP3N) Kota Batu dan SATUPENA Jawa Timur. Anies Lahir di kelurahan Dawuhan, Situbondo, Jawa Timur. Aktivitasnya sehari-hari sebagai wartawan media online. Baginya, menulis adalah upaya mengusir ion -ion negatif di dalam tubuh agar tetap sehat dan panjang umur. Ia sudah menulis 3 buku antologi puisi tunggal dan puisi-puisinya juga menyemarakkan sejumlah buku antologi bersama. Puisinya dan tulisan lainnya juga pernah satu buku dengan Gol A Gong. Buku antologi puisi tunggalnya yang pertama berjudul "Luka dan Kota Sepi Literasi", yang kedua adalah "Menimang Rindu Senja Kala" dan buku yang ketiga berjudul "Dua Senja Menyulam Damai"

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Politik Token Listrik

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00