• Latest

Kuliner Tradisional Situbondo, “Nasek Sodu” dan Negeri di Ambang Krisis

Oktober 30, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Kuliner Tradisional Situbondo, “Nasek Sodu” dan Negeri di Ambang Krisis

Anies Septivirawanby Anies Septivirawan
Oktober 30, 2025
Reading Time: 3 mins read
590
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

‎
‎
‎Oleh Anies Septivirawan|

Penulis
‎
‎
‎Langit siang di kecamatan Asembagus, Situbondo, Jawa Timur cerah. Cuaca panas. Angin kencang nan kering menghempas sebagian sampah plastik di jalanan aspal berlubang.
‎
‎Di suatu siang, akhir bulan September. Panas menyengat. Panas matahari membakar aspal badan jalan, panasnya memantul dan memanggang wajahku. Perutku kosong.  Udara tidak bersahabat.
‎
‎Aku menghentikan laju motor, menepi ke pinggir jalan di sebuah kecamatan di kabupaten Situbondo sebelah timur.  Kugeletakkan motor di bawah pohon Cemara yang di sebelahnya terparkir sebuah gerobak berisi makanan khas Asembagus. Makanan khas itu bernama “Nasek Sodu”.
‎
‎Aku memesan secangkir kopi pahit dan sepiring makanan khas Asembagus, “Nasek Sodu” kepada sang pria setengah baya yang baru bangun dari tidurnya di atas lincak kayu setengah reot. 
‎
‎Sejak tadi, dari jauh kulihat pria itu tampaknya tertidur pulas, damai dan tidak peduli pada dagangannya yang sepi karena tidak ada pembeli.
‎
‎Hanya aku saja yang kini duduk sebagai pembeli yang lapar. Duduk di hadapan gerobak berisi dagangan kuliner khas Asembagus itu. 
‎
‎Tempat dagangan pria itu sejuk karena dipayungi pohon Cemara meskipun sedikit bising suara kendaraan jurusan Surabaya – Banyuwangi dan sebaliknya.
‎
‎Di kecamatan Asembagus ini, tempat lahirnya kuliner khas bernama Nasek Sodu. Dan para penjualnya bertebaran di seluruh antero Asembagus, bahkan sebagian ada juga di Situbondo kota. Namun aku tidak tahu persis, sejak kapan kuliner khas Asembagus ini booming dan digandrungi banyak orang dari berbagai daerah luar Situbondo.
‎
‎Yang hanya aku tahu dan aku rasakan Nasek Sodu ini sudah sejak ada ketika aku masih bersekolah. Meskipun rumahku di kota, aku sering mencicipi di warung – warung kecil saat aku bolos sekolah. Sampai hari ini, sampai saat ini, sampai usiaku menginjak 56 tahun, aku tidak pernah lupa pada rasa Nasek Sodu.
‎
‎Aku bertanya kepada sang pria penjual Nasek Sodu yang baru terbangun dari tidur lelapnya itu,
‎
‎”Sudah berapa lama berjualan Nasek Sodu, mas?”  tanyaku.
‎
‎”Sudah agak lama juga, ” jawabnya.
‎
‎”Dulu, saya sering makan nasek sodu di sebelah gerobak ini,” ujarku sembari jemariku menunjuk ke arah sebelah gerobak.
‎
‎”Oh…iya …itu dulu yang jualan adalah paman saya dan istrinya. Tapi mereka berdua sudah lama pergi dan bekerja di negeri Jiran, Malaysia sepuluh tahun lalu. Dan setelah itu saya tidak mendengar kabarnya lagi tentang paman dan istrinya,”  ujar sang pria setengah gondrong seraya matanya menyapu pandang pada sebuah benda berupa meja panjang dan deretan kursi kayu usang nan lapuk.
‎
‎Ekspresi wajah sang pria seolah memaparkan gambaran berpuluh tahun lalu saat pamannya berjualan kuliner khas yang kini sudah jadi ikon Situbondo.
‎
‎”Paman saya dan istrinya adalah orang pertama yang berjualan Nasek Sodu di kecamatan ini, setelah itu semakin banyak orang yang ikut – ikutan membuka warung  dan menjual Nasek Sodu yang harganya bervariasi, dan warungnya semakin hari semakin banyak saingan akhirnya sepi pengunjungnya, sementara mereka berdua menanggung beban kedua putranya yang kuliah dan yang bungsu masih SMP kala itu.
‎
‎Warung itu pun tutup, ditinggal bekerja ke luar negeri,” papar pria itu dengan suara lirih yang dilumat suara bising kendaraan di jalan raya provinsi jurusan Banyuwangi – Surabaya. 
‎
‎Meskipun sudah banyak para penjual Nasek Sodu yang bermuara pada persaingan dan faktor adu keberuntungan, gerobak Nasek Sodu milik sang pria gondrong itu tampaknya masih berdiri kokoh setiap hari di tempat itu. Di bawah pohon Cemara berdaun hijau. Di sisi selatan jalan lampu merah, simpang tiga menuju pelabuhan Jangkar.  .
‎
‎Kokoh dan masih berdiri, tampak berjualan.  Gerobak itu terbukti setiap pagi kulihat saat aku melintas di jalan itu. Kendati hanya satu atau dua orang saja yang membeli. Produk dagangan si pria itu masih bertahan. Meski negeri ini katanya sudah diambang krisis parah, namun daya beli penikmat Nasek Sodu masih kurasa kuat.  
‎
‎
‎Situbondo, 30 Oktober 2025

Baca Juga

a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
Di Antara Takbir dan Keranda

Di Antara Takbir dan Keranda

Maret 23, 2026
Siapa  yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Siapa yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Maret 14, 2026

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Politik Token Listrik

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com