POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Cermin Retak Pendidikan Kita

RedaksiOleh Redaksi
September 5, 2025
Sekolah Rakyat
🔊

Dengarkan Artikel

Catatan Paradoks: Wayan Suyadnya

Mantan Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim, tersangka korupsi. Kalimat itu saja sudah cukup membuat dada sesak. 

Bagaimana mungkin seorang menteri pendidikan—yang semestinya menjadi teladan moral, yang mengajarkan kejujuran, disiplin, dan kecerdasan—justru menjadi simbol kebusukan kekuasaan?

Pendidikan yang mestinya menumbuhkan generasi jujur, dipimpin oleh sosok yang gagal menjaga dirinya sendiri.

Tetapi inilah wajah telanjang bangsa kita. Korupsi bukan lagi aib, ia telah menjadi budaya. 

Ia tak hanya tumbuh di gedung-gedung kementerian, tetapi juga di ruang kelas, di pasar, di jalanan. 

Dari jatah pembangunan desa yang digerogoti, hingga uang saku anak sekolah yang dikorupsi warung kecil dengan timbangan tak adil. 

Korupsi nyaris ada di mana-mana, seperti jamur yang tumbuh di tanah becek kebiasaan buruk.

Dulu, di era Orde Baru, wajah menteri pendidikan adalah simbol yang ditempel di dinding kelas. Ia adalah guru walau tak pernah mengajar di kelas.

Kita mengenal Daoed Joesoef, Nugroho Notosusanto, Fuad Hassan, Wardiman Djojonegoro.  Mereka selalu tampil gagah dengan jas, dasi, dan rambut tersisir rapi.

Nama-nama itu kita hafal, bahkan dijadikan teladan diam-diam. Banyak anak sekolah ketika itu bercita-cita menjadi menteri, karena menteri adalah simbol kehormatan.

Kini, di era reformasi, wajah menteri lebih sering menghiasi layar televisi bukan karena prestasi, melainkan karena status “tersangka.” KPK menjadi hakim moral baru yang mengejar mereka satu per satu. 

📚 Artikel Terkait

Beasiswa, Stigma, dan Keadilan Sosial di Kampus

Laboratorium Rasa Takut

Syarifuddin Aliza

Menapak Jejak Literasi di Bireun

Menteri kehilangan kehormatan. Jabatan tak lagi melahirkan teladan, melainkan daftar tunggu menuju jeruji besi.

Di Bali, daftar itu panjang. Mantan Bupati Jembrana Winasa, mantan Bupati Buleleng Putu Bagiada, mantan Bupati Klungkung Wayan Candra, mantan Bupati Tabanan Eka Wiryastuti, mantan Bupati  Bangli Arnawa, hingga mantan  Bupati Karangasem Sumantara—satu per satu dijebloskan ke jeruji besi. Semua di era reformasi.

Reformasi yang dulu dijanjikan sebagai jalan keluar dari tirani, justru membuka ruang luas bagi korupsi berjamaah. 

Apa yang dulu dianggap penyakit Orde Baru, kini menjelma epidemi di era reformasi.

Paradoksnya, kita bangsa yang gemar bicara tentang moral, tapi seakan menikmati pesta korupsi.

Kita marah sebentar saat membaca berita, lalu lupa. Kita menyalahkan pejabat, tetapi diam-diam menutup mata ketika praktik kecil korupsi terjadi di sekitar kita. 

Kita mencaci menteri yang korup, tapi dengan ringan membenarkan kebiasaan sekolah melakukan pungutan, sumbangan atau iuran atas nama komite sekolah.

Seakan korupsi itu tak lagi kotor, melainkan hanya biaya tambahan hidup di negeri ini, bahkan dianggap “rezeki”.

Maka, ketika menteri pendidikan menjadi tersangka, sesungguhnya itu bukan hanya salah dia. Itu juga cermin kita. Cermin bangsa yang membiarkan pendidikan kehilangan rohnya. 

Pendidikan direduksi jadi proyek, jadi program, jadi angka-angka statistik—bukan lagi perjuangan membentuk manusia berintegritas.

Apalah artinya “Merdeka Belajar” jika sang menterinya terpenjara karena rakus? 

Apalah artinya kurikulum baru jika di baliknya hanya jadi ladang basah korupsi?

Apalah artinya jargon moral jika kita sendiri, sebagai bangsa, tak pernah benar-benar jujur pada diri sendiri?

Korupsi menteri pendidikan bukan sekadar skandal, ia adalah tragedi. 

Tragedi bangsa yang gagal menjadikan pendidikan sebagai benteng moral, dan malah membiarkannya jadi pasar proyek yang penuh kerakusan.

Denpasar, 5 September 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Belajar Dari Kasus Nadiem Makarim

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00