• Latest

IKN: Mimpi Besar Indonesia di Hutan Kalimantan dan Ancaman Ekologis Flora dan Fauna

Agustus 26, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

IKN: Mimpi Besar Indonesia di Hutan Kalimantan dan Ancaman Ekologis Flora dan Fauna

Siti Hajar by Siti Hajar
Agustus 26, 2025
in #Kalimantan, #Kritik, Artikel, Opini
Reading Time: 4 mins read
0
588
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Siti Hajar

Bayangkan kita menonton trailer film blockbuster: adegan pembukaan menampilkan Presiden Jokowi pada 2019 dengan lantang mengumumkan pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur. Tempo media, wacana publik, dan segala rencana terdengar seperti “besok juga kita pindah, bawa semua aset Jakarta ke hutan Kalimantan”. Ambisi Ibu Kota Nusantara (IKN) lahir dengan jargon pemerataan pembangunan, kota pintar, dan ramah lingkungan.

Nyatanya saat itu banyak orang mengernyit. Mengapa harus pindah dari Jakarta? Apa tidak terlalu ambisius? Namun, ide besar ini lahir bukan tanpa alasan. Jakarta sudah lama menghadapi masalah pelik: kemacetan, penurunan muka tanah, banjir tahunan, dan beban populasi yang luar biasa. Lalu muncullah visi IKN Nusantara, ibu kota baru yang diharapkan menjadi kota modern, hijau, dan berkelanjutan di Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara.

Menurut data Kementerian PPN/Bappenas, pemindahan ibu kota ini tak hanya sekadar memindahkan kantor pemerintahan. “IKN Nusantara dirancang sebagai kota pintar yang 70% wilayahnya adalah ruang hijau, sehingga mampu mendorong pemerataan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan,” ujar Suharso Monoarfa, Menteri PPN/Kepala Bappenas (Kompas, 2022).

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, alokasi anggaran IKN dimulai sejak 2022 dengan rincian: tahun 2022 sebesar Rp5 triliun, 2023 sebesar Rp20 triliun, 2024 sebesar Rp30 triliun, 2025 sebesar Rp40 triliun, dan diproyeksikan terus meningkat hingga rampung di tahap awal pada 2029. 

Anggaran ini tidak hanya bersumber dari APBN, tetapi juga dari investasi swasta dan skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha.

IKN bukan hanya soal gedung megah. 

Rencana besar ini juga bertujuan membangun pemerataan pembangunan di luar Jawa. Selama ini, lebih dari 57% PDB Indonesia berasal dari Pulau Jawa (BPS, 2022). Dengan memindahkan pusat pemerintahan ke Kalimantan, diharapkan muncul “gravitasi ekonomi” baru yang memacu pertumbuhan di kawasan timur Indonesia.

Meski demikian, proyek ini tidak bebas kritik. Biaya yang sangat besar menuai perdebatan, apalagi di tengah isu ketimpangan sosial. Namun, pemerintah berargumen bahwa dampak jangka panjangnya akan lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan. “IKN ini bukan proyek 5 tahun, tapi proyek peradaban 100 tahun,” kata Jokowi pada pidato di DPR (Detik, 2023).

Bagaimanapun, mimpi besar selalu butuh keberanian. Apakah IKN akan sukses seperti rencana? Atau bernasib seperti ibu kota baru di negara lain yang sepi penghuni? Jawabannya tergantung konsistensi kebijakan dan keterlibatan semua pihak. Satu hal yang pasti, IKN Nusantara akan terus menjadi sorotan dunia sebagai eksperimen besar pemindahan ibu kota di era modern.

Ancaman Ekologis

Di balik narasi gemerlap kota pintar dan modern, ada satu pertanyaan besar: bagaimana nasib lingkungan, flora, dan fauna Kalimantan Timur? Kita semua tahu Kalimantan adalah paru-paru dunia. Hutan tropisnya rumah bagi orangutan, bekantan, hingga ribuan spesies tumbuhan endemik. 

Pembangunan skala besar seperti IKN tentu punya konsekuensi ekologis. Data WALHI (2023) menyebut, kawasan inti IKN mencakup area hutan sekunder dan bekas konsesi tambang yang sudah terdegradasi, tapi sebagian besar masih punya fungsi ekologis penting. “Pembangunan IKN berpotensi memperparah fragmentasi habitat satwa langka, kecuali dilakukan dengan perencanaan ekologis yang ketat,” kata Dwi Sawung, Manajer Kampanye WALHI (Mongabay, 2023).

Ancaman lain adalah deforestasi dan alih fungsi lahan. Meski pemerintah berjanji 70% kawasan IKN akan menjadi ruang hijau, implementasi di lapangan belum tentu semulus rencana. Kajian Forest Watch Indonesia (2022) memperkirakan, jika tak hati-hati, pembangunan infrastruktur bisa memicu pembukaan hutan lebih luas dari perkiraan awal. Padahal, hutan Kalimantan adalah benteng utama penyerapan karbon. Kehilangannya bisa memperburuk krisis iklim global.

Di sisi lain, pemerintah menegaskan bahwa IKN akan menjadi “kota hutan” dengan konsep berkelanjutan. Proyek restorasi lahan bekas tambang dan penanaman kembali (reforestasi) sedang dijalankan. 

Ada juga rencana pembangunan koridor satwa untuk memastikan orangutan dan bekantan tidak terisolasi. Bahkan, dana APBN yang dikucurkan tiap tahun (mulai Rp5,4 triliun di 2022 hingga hampir Rp30 triliun di 2024 – Bappenas, 2023) sebagian dialokasikan untuk memastikan infrastruktur hijau dan pengelolaan lingkungan.

Tentu semua ini kembali pada komitmen. Apakah konsep kota hijau akan benar-benar terwujud, atau hanya menjadi jargon manis? Sejarah menunjukkan banyak proyek besar yang abai pada lingkungan, lalu menyesal di kemudian hari.

Namun, kita juga bisa optimistis. Jika IKN sukses menjadi contoh kota ramah lingkungan, dunia akan belajar dari Indonesia. 

Bayangkan sebuah ibu kota modern dengan transportasi publik tanpa emisi, dikelilingi hutan tropis, di mana orangutan tetap berkeliaran bebas di habitatnya. Itu bukan mimpi yang mustahil, asalkan pengawasan ketat dan partisipasi publik terus berjalan.

Seperti yang dikatakan oleh aktivis lingkungan Kalimantan, Rahmad Ramadhan (Tempo, 2023), “Masa depan IKN adalah masa depan hutan kita. Kalau gagal menjaga lingkungan, kita bukan hanya kehilangan ibu kota baru, tapi juga paru-paru dunia.

Kondisi Terkini IKN

ADVERTISEMENT

Beberapa waktu lalu, linimasa media sosial sempat riuh oleh video dari kawasan IKN. Pemandangan yang terekam cukup kontras dengan jargon kota masa depan: semak merambat liar, beberapa bangunan terlihat mangkrak, dan kawanan soang berkeliaran di taman-taman yang seharusnya megah. Wajar jika publik mulai resah—benarkah proyek ambisius ini mulai diabaikan? 

Pemerintah buru-buru memberi penjelasan, menyebut IKN adalah proyek jangka panjang yang butuh waktu 10 hingga 20 tahun untuk rampung, dengan perpindahan ibu kota yang dilakukan bertahap dan penuh persiapan infrastruktur.

Baca Juga

20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026

Namun, di balik penjelasan itu, muncul pertanyaan-pertanyaan yang tak kalah penting: sudah berapa banyak anggaran yang terserap ke sana? Apakah belum cukup? Mau berapa banyak lagi yang akan digelontorkan? 

Setiap perpanjangan proyek bukan hanya menambah waktu, tapi juga membuka potensi korupsi baru. Seakan kita tak pernah belajar dari puluhan kasus rasuah yang mencoreng negeri ini. Sementara itu, rakyat miskin di banyak sudut Indonesia masih bergulat dengan lapar dan hidup di bawah garis layak. Sampai kapan lakon ini akan dipertontonkan? Apakah kita menunggu sampai rakyat benar-benar hilang sabar dan menabuh genderang perlawanan terhadap pemimpinnya sendiri?[]

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 329x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 289x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 245x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 234x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 188x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Siti Hajar

Siti Hajar

Siti Hajar adalah seorang perempuan lahir di Sigli pada 17 Desember. Saat ini tinggal di Banda Aceh dan bekerja sebagai tenaga kependidikan di Fakultas Pertanian USK. Menggemari dunia literasi karena baginya menulis adalah terapi dan cara berbagi pengalaman. Beberapa buku yang sudah cetak, di antaranya kumpulan cerpen, “Kisah Gampong Meurandeh” Novel, Sophia dan Ahmadi, Patok Penghalang Cinta, Beberapa novel anak, di antaranya The Spirit of Zahra, Mencari Medali yang Hilang, Petualangan Hana dan Hani. Ophila si Care Taker. Dan buku Non Fiksi, Empati Dalam Dunia Kerja (Bagaimana Menjadi Bos dan karyawan yang Elegan) Ingin berkomunikasi lebih lanjut bisa menghubungi nomor WhatsApp 085260512648. Email: sthajarkembar@gmail.com

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

Pencipta Keteduhan di Sekolah Itu Sudah Ditebang Untuk Kepentingan Makhluk Sempurna yang Berakal‎

HABA Mangat

Kabar Redaksi

Kabar Redaksi

Februari 2, 2025

Tema Lomba Menulis November 2025

November 10, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com