• Latest

Sebait Puisi, Secangkir Kopi

Agustus 11, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Sebait Puisi, Secangkir Kopi

Anies Septivirawanby Anies Septivirawan
Agustus 11, 2025
Reading Time: 2 mins read
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh: Anies Septivirawan
‎
‎
‎Di suatu pagi, Agustus 2025, pada awal bulan kemerdekaan negeri kita, ada seorang teman sekolah mengirim puisi pendek via layanan WhatsApp. Puisinya begini:  “Merdeka hanya kata. Merdeka hakiki, hanya ngopi”.  Itu artinya sebuah ajakan, suatu undangan dari produsen kepada pelanggan rasa sahabat, namun ujungnya ada transaksi finansial kecil – kecilan alias membayar untuk secangkir kopi.
‎
‎Aku membacanya tanpa membalas dan langsung menggeber gas motorku ke rumahnya yang kini disulap menjadi sebuah warung kopi.
‎
‎Agustus 2025  selalu akrab dengan angin, dengan dingin. Negeri kita sudah merdeka selama 80 tahun. Merdeka dari penjajahan fisik: dari penjajah Belanda, dari penjajah Jepang.
‎
‎Tapi belum juga merdeka dari segudang persoalan hidup kelam yang pelik, yang dialami sebagian penduduk berekonomi kelas menengah ke bawah yang ada di kota – kota kecil. Mungkin seperti di Situbondo. 
‎
‎Mungkin juga aku belum merdeka dari penjajah yang bernama kemiskinan, kelaparan, dan bahkan kematian. Yah… semua makhluk bernyawa ciptaan tuhan pasti tidak merdeka dari cengkeraman ketiga hal menakutkan itu.
‎
‎Ketiga hal menakutkan itu adalah penjajah bagi makhluk hidup berkaki dua  yang berakal dan punya rasa bernama manusia.
‎
‎Untuk bisa terbebas dari cengkeraman ketiga penjajah itu, manusia selalu berjuang, bekerja untuk “melawan” /”memerangi” kemiskinan dan kelaparan dengan tingkat kekuatan fisik dan daya nalar/pikir masing -masing.
‎
‎Dan ketika kemiskinan serta kelaparan musnah dari gelanggang kehidupan manusia, mereka sudah merasa aman dan merasa benar dalam mempertahankan keberlangsungan hidupnya.
‎
‎Mereka sudah merasa kuat dalam hal fisik (badan), kuat dalam hal finansial. Merasa paling modern. Berkuasa atas dirinya. Berkuasa atas kelompok dan masyarakat. Namun mereka masih terjajah. Terjajah oleh rasa selalu kurang.
‎Dan penjajah itu bernama keserakahan.
‎
‎”Penjajah keserakahan” , selalu menjajah untuk berkuasa atas diri dan orang lain. Menjajah untuk berkuasa atas bangsa dan negara.
‎
‎Maka terjadilah perkelahian antar individu manusia, maka terjadilah peperangan antar suku, golongan, bahkan antar negara demi merebut dan mempertahankan siapa yang paling benar. 
‎
‎Maka, terjadilah perang energi negatif dan positif di dalam diri manusia yang lazim disebut konflik batin. konflik batin manusia, konflik batin negara tidak akan pernah berhenti atau berakhir selama masih ada bercokol penjajah bernama “Keserakahan”: Itu artinya tidak ada kemerdekaan yang sebenar- benarnya di atas panggung kehidupan yang penuh senda- gurau ini.
‎
‎Syahdan, aku membaca lagi, kuulangi puisi pendek kiriman teman sekolah yang rumahnya dijadikan warung kopi: “Merdeka hanya kata. Merdeka hakiki, hanya ngopi”. Mari, merdekakan diri saja, dengan menghisap tembakau dan menyeruput secangkir kopi. Setiap pagi.
‎
‎
‎
‎Situbondo, 10 Agustus 2025
‎
‎

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 347x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 309x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 261x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 252x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 198x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Baca Juga

a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
Di Antara Takbir dan Keranda

Di Antara Takbir dan Keranda

Maret 23, 2026
Siapa  yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Siapa yang Tega Membunuh 180 Anak-Anak Sekolah

Maret 14, 2026

Discussion about this post

Next Post
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah

Tradisi dan Inovasi: Jalan Tengah yang Terlupakan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com